Keraton Surakarta dari Persepktif Akar Rumput


Menikmati lingkungan baluwarti atau sisi dalam benteng istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat seiring condongnya mentari di sisi barat merupakan sebuah sensasi keindahan tersendiri. Kala itu di hari ke dua pelaksanaan ASEAN Blogger Festival Indonesia (ABFI 2013), saya dan seorang sedulur Balatidar menyempatkan diri melakukan ritual mubeng beteng. Memang berbeda dengan ritual mubeng beteng yang dilaksanakan pada setiap Malam Satu Suro, mubeng beteng yang kami lakukan tidak diiringi dengan arak-arakan yang dipimpin oleh Kebo Kyai Slamet. Kamipun tidak melakukan laku lampah alias jalan kaki, tetapi kami justru naik becak istimewa.

Kasunanan SurakartaBerawal dari sekedar ngobrol dengan seorang bapak tukang becak di sisi Kori Kemandungan, kami jadi sedikit tahu mengenai alternatif paket wisata yang ditawarkan berkaitan dengan Keraton Surakarta Hadiningrat. Berkenaan dengan kedatangan kami yang kebetulan pada Hari Jum’at, ternyata di hari tersebut istana ditutup untuk umum seharian penuh. Sedangkan di hari-hari lain, istana terbuka untuk kunjungan umum dari jam 08.30 hingga 14.00. Khusus untuk Hari Minggu hanya dibuka hingga pukul 13.00 WIB. Harga tiketpun sangat terjangkau, hanya 10 ribu rupiah setiap pengunjung. Namun demikian, kita masih dapat menikmati paket keliling alias mubeng beteng dengan mengendarai becak. Dengan sekaligus panduan oleh para tukang becak yang juga memahami sejarah keraton, harga paket wisata yang ditawarkan relatif terjangkau. Apalagi jika kita bisa menawarnya, mereka sangat terbuka dan fleksibel.

Dados! Jadilah kami keliling naik becak, mubeng beteng dengan arah berlawanan jarum jam. Berawal dari halaman Kemandungan, becak bergerak ke sisi timur. Di sudut halaman Kemandungan di mana perjalanan berawal nampak menjulang sebuah menara bertingkat lima yang disebut sebagai Panggung Sangga Buwono. Di sinilah konon Kanjeng Sunan menyepi untuk bersemadi ataupun berkontemplasi. Bahkan ada keyakinan diantara sebagian masyarakat bahwa di tempat ini pulalah Ingkang Sinuwun bertemu dengan Kanjeng Nyi Rara Kidul. Di sini pula, konon dulu Kanjeng Sunan juga melakukan pengamatan dan pengawasan terhadap benteng Vastenberg yang tidak jauh dari gapuro Gladag.

Baluwarti1 Alun-alun Kidul1

Dalam perjalanan kami, di sisi kanan jalan nampak menjulang tinggi beteng keraton setinggi 3-5 meter yang konon memiliki ketebalan 1-2 meter. Beteng tersebut dirancang sebagai pertahanan lapis dalam terhadap bangunan inti keraton. Di sisi kiri jalanan nampak berjejal rumah-rumah kampung yang dihuni oleh para abdi dalem dan keturunannya. Mereka mendapatkan keistimewaan untuk bertempat tinggal di njero beteng selama masih mengabdi di keraton. Jalanan di seputaran beteng njero tersebut cukup lebar dan dialasi dengan lapisan paving atau konblok yang tertata rapi. Jalan satu arah yang tidak begitu ramai tersebut akhirnya tembus hingga di pelataran Alun-alun Selatan.

Ada hal yang sangat istimewa di seputaran Alun-alun Kidul ini. Tepat di sisi selatan, terdapat deretan kandang yang dikhususkan untuk memelihara kerbau berkulit bule atau albino. Kerbau inilah yang dikenal sebagai Kebo Kyai Slamet. Kepercayaan masyarakat Solo, kerbau tersebut merupakan jelmaan atau perwujudan pusaka keraton sebagai sebuah simbol wahyu untuk setiap raja yang memerintah. Kebo inilah yang setiap acara di Malam Satu Suro, tepat pada saat memperingati Tahun Baru Jawa, menjadi cucuk lampah dalam kirap ritual Mubeng Beteng.

Alun-alun Kidul Kebo Bule

Dalam kesempatan mengamati Kebo Kyai Slamet dari dekat, penarik becak yang kami tumpangi banyak berbagi cerita seputar Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam pandangannya, keraton sudah mengalami banyak perubahan dari masa ke masa. Raja-raja atau Sunan yang memerintah kian haripun berganti dengan sosok-sosok yang berbeda. Bagi sebagian warga, sosok  sunan yang paling berpengaruh dari sisi kewibawaan, kesaktian maupun kamuktennya adalah Sunan Paku Buwono VI. Sunan ini memerintah bersamaan dengan kejadian Perang Diponegoro (1825-1830).

Pada akhir pemerintahan PB II, atas hutang budinya terhadap bantuan Kompeni Belanda dalam menumpas pemberontakan Pecinan, ia menyerahkan kedaulatan kerajaan kepada Belanda. Sejak itulah, setiap penobatan raja selalu dilantik oleh Belanda. Semenjak terpecahnya Kasultanan Mataram melalui Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) menjadi Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat, pengaruh Belanda di dalam urusan pemerintah semakin menjadi-jadi. Tatkala Pangeran Diponegoro melancarkan perlawanan, diam-diam PB VI sering memberikan bantuan. Ia bahkan dikatakan melakukan semadi di puncak gunung Merbabu, padahal ia tengah menemui Diponegoro untuk mengatur strategi perlawanan. Akhirnya PB VI diturunkan dari tahta dan dibuang ke Ambon hingga akhir hayatnya. PB VI kemudian dianugerahi sebagai Pahlawanan Nasional pada masa pemerintahan Bung Karno.

Masih menurut tukang becak tersebut, sunan-sunan yang memerintah selanjutnya kurang memiliki pengaruh dan kewibaan karena mereka terlena dengan fasilitas yang diberikan Belanda. Bahkan pada masa PB X (1893-1939), ia banyak mendapat dana anggaran dari Belanda. Pada masa inilah banyak dilakukan pembangunan bangunan baru maupun pemugaran bangunan lama. Gapuro Gladag, Masjid Agung, Siti Hinggil, Kori Kemandungan, hingga beberapa titik di istana direnovasi. Bahkan di dalam keraton mulai hadir patung-patung dan mebeler gaya eropa. Intinya, pengaruh kekuasaan Belanda di dalam istana semakin mencengkeram kuat. PB X dikenal sebagai sunan yang paling kaya raya.

Pada saat kepindahan keraton Kartosuro ke Surokarto (1745), konon sudah diramalkan bahwa istana yang baru hanya akan memiliki kekuasaan selama 200 tahun. Setelah itu istana hanya akan memiliki kewibawaan dan pengaruh sak megaring payung, wilayah pengaruh yang sangat terbatas. Sejarah nampaknya membuktikan, pada saat Sunan Merdiko (PB XII) memerintah, bersamaan dengan peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945. Sebagaimana Sultan HB IX dan PA VIII yang membuat maklumat menyatukan diri dengan RI, PB XII dan Mangkunegara VIII juga melakukan hal yang sama. Maka untuk selanjutnya, baik Jogja maupun Solo mendapatkan status Daerah Istimewa setingkat provinsi.

Baluwarti3 Baluwarti4

Belum genap satu tahun keberlangsungan Daerah Istimewa Surakarta, muncul gerakan anti swapraja yang konon dimotori Tan Malaka dengan Partai Murbanya. Mereka menuntut dihapuskannya kekuasaan feodal dan semua tanah kekuasaan Kasunanan serta Mangkunegaran dibagi-bagikan untuk rakyat sesuai kebijakan landreform. Terjadilah kekacauan stabilitas keamanan. Sempat terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap dua orang Patih Dalem berturut-turut. Akhirnya status keistimewaan Surakarta dicabut dan dijadikan wilayah karesidenan. Inilah akhir pengaruh keraton secara politis.

Setelah keraton tidak lagi memiliki kekuasaan politik, maka aset-aset dan sumber pendanaan istana otomatis hilang. Keraton hanya menjadi simbol penjaga adat dan tradisi, serta pilar budaya. Hal inilah yang membawa keterpurukan dan kemunduran keraton. Bahkan untuk sekedar pemeliharaan bangunan saja, keraton mengalami kesulitan dana yang sangat berarti. Hanya mengandalkan pemasukan dari tiket wisatawan yang berkunjung jelas sangat minim. Beberapa waktu lalu dilakukan pengecatan ulang di beberapa tempat, termasuk Masjid Agung, juga atas bantuan dana dari luar negeri.

Berbagai sumber penggalian dana juga diupayakan pihak keraton. Bahkan, menurut tukang becak tersebut, pangkat, jabatan, dan gelar keningratan saat ini juga “diperjual-belikan” setiap tahunnya. Mohon maaf, saya agak kurang enak menuliskan hal yang terakhir ini. Namun sebagai sebuah fakta, nampaknya hal ini harus menjadi keprihatinan kita bersama. Perhatian pemerintah terhadap aset yang sangat berharga bagi tegaknya peradaban dan budaya bangsa ini masih sangat memprihatinkan. Keraton seolah hanya dianggap sebagai aset ekonomi untuk mendatangkan wisawatan yang dapat menambah PAD maupun devisa negara, tetapi tanpa dukungan yang berarti dari pemerintah. Sementara di sisi lain, keraton dituntut menjadi gerbang pelestari budaya. Apakah hal ini bukan menjadi sebuah tindakan pengeksploitasian atau bahkan “penjajahan” negara atas keraton? Monggo kita renungkan bersama.

Ngisor  Blimbing, 26 Mei 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

8 Balasan ke Keraton Surakarta dari Persepktif Akar Rumput

  1. Ping balik: Solo, So Pasti Istimewa di Hati | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s