Menikmati Mangkunegaran Performing Arts


Apabila sesekali mengunjungi Kota Solo dan menelusuri Jln. Slamet Riyadi, sempatkanlah berbelok di perempatan Ngarsopuro. Ruas Jln. Diponegoro yang lurus akan mengantar ke sebuah pelataran rumput luas dengan pagar mengelilinginya. Masuk membelah lapangan rumput, kita akan disambut dengan sebuah pintu gerbang besi pada sisi muka rangkaian tembok benteng setinggi sekitar 5 m. Dengan melewati gerbang tersebut, nampaklah sebuah bangunan bergaya joglo khas yang sangat megah dan anggun. Dengan empat soko guru utama dan dikelilingi soko pendamping semakin menambah kokoh bangunan pendopo agung tersebut. Warna parianom, atau hijau tanaman padi menambah kesan teduh kompleks bangunan yang berupa istana itu. Itulah Istana atau Puro Mangkunegaran.

Puro Mangkunegaran
Istana atau Puro Mangkunegaran merupakan sisi lain dari sejarah Surakarta, di samping Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berawal dari peristiwa geger Pecinan yang dipimpin Sunan Kuning atau Raden Mas Garendi, Raden Said yang merasa bersimpati atas nasib masyarakat China yang dibantai Kompeni Belanda, turut bergabung di barisan pemberontak. Benteng Keraton Kartosura berhasil dijebol, sedangkan Sunan Pakubuwono II mengungsi hingga ke Ponorogo.
Sunan PB II yang sudah sedemikian dipengaruhi Belanda, meminta perlindungan kepada penjajah tersebut. Dengan bala bantuan pasukan Kompeni, kaum pemberontak berhasil diusir dari Kartosuro. Namun demikian, kondisi keraton yang hancur menjadikan Sunan PB II memutuskan untuk memindahkan istana ke desa Sala, kini menjadi Surakarta. Bantuan Kompeni Belanda yang licik itupun menjadikan Mataram kehilangan wilayah kekuasaan di negara manca yang terdiri dari daerah pesisiran, mulai dari Rembang, Tuban, Surabaya, hingga Pasuruan dan Madura.

Penari Srikandi2  Penari Srikandi

Semula Pangeran Mangkubumi diutus untuk memadamkan gerakan RM Said. Namun yang terjadi justru ia turut bergabung dengan RM Said, bahkan menjadikan RM Said sebagai menantunya. Panjang kisahnya hingga kemudian di masa Sunan PB III terjadilah kesepakatan palihan negara yangg dikenal sebagai Perjanjian Giyanti. Melalui perjanjian tersebut, Kerajaam Mataram dibagi menjadi dua. Keraton Surakarta Hadiningrat dibawah Sunan PB III, sedangkan Keraton Ngayojakarta Hadingrat diperintah oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I.
Sembilan tahun RM Said dan Sultan HB I bahu-membahu melawan kekuasaan Surakarta yang didukung Kompeni Belanda. Akhirnya keduanya berselisih paham dan menempuh perjuangan masing-masing. RM Said melancarkan perlawanan secara bergerilya dengan berpindah-pindah tempat. Taktik tersebut ternyata sangat merugikan Kompeni. Dalam setiap pertempuran yang terjadi, pasukan RM Said mendapatkan kemenganan yang gemilang. Selalu saja terdapat banyak korban nyawa  di pihak pasukan Kompeni. RM Said seolah menjelma menjadi algojo pencabut nyawa. Ia dan pasukannya memiliki semboyan “tiji tibeh”, mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh. Mati satu mati semua, mulia satu mulia semuanya. Maka kemudian ia dijuluki sebagai Pangeran Sambernyawa.

Penari Janoko Penari Sodrat Penari Buto

Akhirnya Kompeni menjalankan taktik perundingan dan pecah belah. Pangeran Sambernyawa mau berunding asalkan ia berunding langsung dengan PB III dan tanpa campur tangan Kohmpeni. Dari perundingan inilah disepakati Perjanjian Salatiga pada 13 Maret 1757 yang memecah Surakarta Hadiningrat menjadi dua wilayah pemerintahan. Keraton Surakarta tetap diperintah oleh Sunan PB III, sedangkan Pangeran Sambernyawa diangkat menjadi adipati dengan gelar Kanjeng Gusti Pangerang Adipati Arya Mangkunegara I dan membawahi wilayah Mangkunegaran.

Mangkunagara I bukan saja dikenal sangat piawai dalam tata keprajuritan dan seni perang, lebih dari itu ia juga seorang yang memiliki kreativitas dan jiwa seni yang tinggi. Aneka tembang, geguritan, hingga beberapa kitab falsafah hidup. Jiwa dan darah keutamaan itupun kemudian terwariskan kepada para penerus Dinasti Mangkunegara hingga kini. Aneka karya cipta trah Mangkunegaran dari masa ke masa, kini dapat dinikmati oleh masyarakat umum pada gelaran Mangkunegaran Performing Arts yang menjadi agenda tahunan Puro Mangkunegaran.

Bersamaan dengan agenda ASEAN Blogger Festival Indonesia (ABFI 2013) yang digelar di Solo, 9-10 Mei 2013 yang lalu, para perwakilan blogger dari penjuru Nusantara dan negara ASEAn yang lain berkesempatan menikmati suguhan aneka ragam tarian khas Mangkunegaran.

Tari Sodrat Tari Kupu

Pada Jum’at malam, 10 Mei 2013, selepas Maghrib terlihat aliran massa mengarah ke Puro Mangkunegaran. Khusus untuk event Mangkunegaran Performing Arts, ketiga gerbang, masing-masing gerbang pintu utama, dan dua gerbang samping dibuka untuk memasuki area Pendopo Agung, tempat dimana pentas tari dilaksanakan. Tua-muda, anak-anak, remaja hingga orang dewasa, warga Solo maupun pendatang, dan para wisatawan tumpah ruah di dalem Mangkunegaran. Sekitar pukul 20.00 WIB acara dimulai dengan kata sambutan dari perwakilan Puro Mangkunegaran. Pembukaan acara dilakukan oleh Wakil Walikota Surakarta beberapa saat kemudian.

Dalam kesempatan malam pertama tersebut, ditampilkan beberapa tarian karya Trah Mangkunegara, diantaranya Tari Golek Sukoreno, Kupu-kupu, Sobra, dan ditutup dengan Opera Anak Timun Mas. Tari Golek Sukoreno menggambarkan keceriaan beberapa anak gadis yang tengah memasuki usia remaja yang diungkapkan dengan permainan menggunakan golek atau boneka kayu. Adapun Tari Kupu-kupu menampilkan kebebasan kawanan kupu-kupu yang hidup lepas merdeka di alam raya. Mereka bebasterbang kemana saja dan menikmati aneka warna keindahan bunga-bungaan.

Penari Srikandi1 Penari Retno

Sedangkan Tari Sobra merupakan perpaduan gerak seni tari, oleh keprajuritan, dan dakwah. Tarian ini memang sangat dipengaruhi jenis Tari Kobra Siswa dan Ndolalak yang menggabungkan nuansa Jawa dan Timur Tengah. Semua tarian yang dipentaskan di malam tersebut dilakukan oleh para anak, remaja dan dewasa secara berkelompok. Perpaduan keindahan kostum dengan kekompakan penari merupakan suguhan yang mengundang decak kagum para hadirin.

Perang JanokoDi malam ke dua dalam rangkaian Mangkunegaran Performing Arts disuguhkan Tari Bedhoyo Bedah Madiun, Harjuna Newata Kawaca, Mandrarini dan Fregmen Tari Topeng Sekar Taji. Tari Bedhoyo Bedah Madiun mengisahkan pertempuran yang terjadi antara Pasukan Pangeran Sambernyawa dengan gabungan pasukan Kasunanan dan Kompeni. Di dalam barisan Sambernyawa terdapat pasukan perempuan yang mewarisi jiwa Sri Kandi. Mereka bertempur dengan sangat trampil menggunakan berbagai senjata, mulai panah, pedang, keris hingga tombak. Kegigihan dan semangat prajurit wanita tersebut tidak kalah dengan barisan prajurit pria. Tari Newata Kawaca menggembarkan pertempuran sengit antara Raden Arjuna dan seekor Buto Raksasa jelmaan Prabu Newata Kawaca. Dalam perang tanding, antara hidup dan mati, akhirnya ditunjukkan bahwa setiap kebenaran akan senantiasa mengalahkan perbuatan jahat.

Penabuh Gong Onthel Mangkunegaran

Menikmati sajian pementasan Mangkunegaran Performing Arts dua malam berturut-turut membawa nuansa romantika tersendiri. Setidaknya di tempat yang sungguh anggun tersebut, benak dan angan kita dibawa untuk mengembara ke beberapa abad silam tatkala Puro Mangkunegaran berada di puncak keemasannya. Bagaimana setiap sajian tari yang diperankan oleh para gadis perawan tersebut hanya dapat dinikmati oleh Raja dan kalangan ningrat yang sangat terbatas. Rakyat jelata, mungkin mimpipun tidak akan kesampaian. Kini, di masa modern peranan keraton tidak lagi memiliki kekuasaan politik. Namun demikian mereka tetap memerankan pilar yang sangat penting bagi keberlangsungan sebuah tata nilai dan peradaban bangsa. Maka sebagai bagian dari anak bangsa, kitapun harus terus mendukung upaya pelestarian budaya bangsa.

Lor Kedhaton, 21 Mei 2013

Foto Puro Mangkunegaran dari sini.

Artikel terkait:

1. Sepur Kluthuk Kota Solo

2. Dari ABFI, Menggali Jati Diri Menuju Bangsa Mandiri

3. .id dan ABFI 2013

4. Blogger ASEAN Berpadu di ABFI 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Menikmati Mangkunegaran Performing Arts

  1. Agus Mulyadi berkata:

    Geli nek kelingan ro cah gendut sing nari Ndolalakan sufi, rek muter tangan we ngrekoso, kudune bayaran’e ndobel kae….. wkwkwk

    Suka

  2. Ping balik: Solo, So Pasti Istimewa di Hati | Sang Nananging Jagad

  3. Ping balik: Menikmati Kembali Mangkunegaran Performing Arts | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s