Dari ABFI, Menggali Jati Diri Menuju Bangsa Mandiri


Patung Gupolo“Wong kang kélangan bandha ora kélangan apa-apa. Wong kang kélangan nyawa mung kélangan separo. Nanging wong kang kélangan jati dhiri padha karo kélangan sak kabèhé.” Ungkapan tersebut menyiratkan bahwa di atas harta benda, bahkan nyawa, harga diri, identitas serta jati diri adalah jauh lebih berharga. Sebuah pesan bijak para sesepuh nenek moyang kita yang mungkin kini sudah sangat tidak dipahami, apalagi diamalkan oleh kalangan generasi muda kita.

Globalisasi perjalanan roda jaman telah mengantarkan manusia kepada era modernisasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Nilai modernitas dihadapkan secara face to face dengan nilai tradisionalisme. Di tengah alam modern, manusia justru semakin merasa mengalami keterasingan diri dalam hiruk pikuk pergolakan hidup. Manusia terhanyut dalam kemanjaan dengan hadirnya segala bentuk kemudahan. Walhasil, manusia seolah terprogram sekedar seperti mesin hidup. Sebuah perjalanan proses menjadi sulit dihayati. Akal lebih mengedepan dibandingkan hati nurani. Manusia sekedar mem-fisik tanpa ruh kejiwaannya. Maka yang terjadi kemudian adalah krisis jati diri. Manusia menjadi bukan manusia lagi.

Kasunanan Surakarta  Gapuro Gladag

Jika demikian yang sudah terjadi, maka manusia menyerukan untuk kembali ke alam, back to nature, ataupun kembali ke fitrah, ke dasar, alias back to basic. Memundurkan langkah, menata diri kembali untuk memperbaiki diri. Sejatinya bukan persoalan mana yang lebih baik antara modernitas dan tradisionalitas. Keduanya sama-sama baiknya asal ditempatkan dalam konteks ruang dan waktu yang seproporsional mungkin. Dua-duanya saling melengkapi kebutuhan jasmani dan rohani manusia. Maka manusia harus pandai-pandai mendialektikakan keduanya, sehingga kita bisa empan papan dan angon mangsa, hidup damai berdampingan dengan keduanya dalam rangka hamemayu hayuning bawana.

Balai Kota Solo  LojiGandrung

Beberapa saat lagi, tepatnya di akhir tahun 2015, bangsa kita secara suka tidak suka, siap ataupun tidak siap harus masuk dan berbaur dalam ASEAN Community 2015. Sebagai sebuah kesepahaman yang telah dibangun bersama, hubungan antar bangsa ataupun antar warga negara-negara di ASEAN ke depan akan semakin bebas melampaui batasan-batasan wilayah maupun administrasi kewarganegaraan. Hubung Goverment to Government yang lebih bersifat kaku, vertikal dan sangat formal akan berganti dengan dominasi hubungan Poeple to People yang lebih egaliter, horisontal, sangat informal dan cair. Maka peranan hubungan antar warga negara atau kelompok masyarakat akan menjadi penentu warna dunia di masa depan, wabil khusus di kawasan Asia Tenggara.

Selamat Datang ABFI  Sugeng Rawuh ABFI

Sebagai salah satu jembatan antar bangsa, blogger bisa memerankan diri dalam menegakkan pilar ASEAN Community, terutama pilar bidang sosial budaya. Untuk itu ASEAN Blogger Community chapter Indonesia, dengan dukungan penuh Kementerian Luar Negeri, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Pemerintah Kota Solo menyelenggarakan ASEAN Blogger Festival Indonesia (ABFI 2013) mulai 9-12 Mei 2013 di Kota Solo.  

Manggung ABFI  Petani

ABFI 2013 dihadiri lebih dari 250-an blogger. Mereka mewakili berbagai komunitas blogger yang tersebar di seluruh tanah air. Bebera diantara mereka, sebut saja Komunitas Bertuah Pekanbaru, Wongkito Palembang, Blogger Banteng, Benteng Cisadane Tangerang, Kopdar Jakarta, Blogger Bekasi, Blogor Bogor, Blogger Cilacap, Canting Jogja, Pendekar Tidar Magelang, Lunpia Semarang, Warok Ponorogo, TPC Surabaya, Ngalam Malang, Plat-M dan Puma Madura, Blogger Lamongan, Blogger Bojonegoro, Blogger Bali, Kaltim, Anging Mamiri, Ambon, hingga NTT hadir mempersaudarakan sebagai anak bangsa. Kemeriahan jumpa off line juga diramaikan dukungan penyediaan koneksi internet yang lancar jaya atas dukungan PT Telkom Indonesia.

Masjid Agung Solo  Pasar Klitikan

Tema Reinventing the Spirite of Cultural Heritage in Southeast Asia nampaknya sangat senafas dengan Solo sebagai sebuah situs warisan dunia yang sangat kaya raya dengan nuansa seni dan tradisi adiluhung semenjak kota tersebut dirintis oleh trah Dinasti Mataram Islam, baik Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat maupun Puro Mangkunegaran.

Prajurit Kasunanan  Prajurit Kasunanan1

Bukan tanpa sebab dan tanpa alasan jika Solo the Spirit of Java, mampu memberikan wahana refleksi perjalanan sejarah hidup manusia. Solo dan sekitarnya memberikan banyak tempat maupun torehan catatan perjalanan sejarah yang sangat panjang. Jejak manusia purba prasejarah dapat digali dan dipelajari di sekitar Solo. Situs Sangiran yang membentang seluas 56 km persegi di Sragen, merupakan kawasan dimana peradaban manusia berawal. Berbagai fosil manusia purba dengan kesederhaan kehidupannya yang memanfaatkan kapak batu dan tobak kayu telah banyak dikoleksi di Museum Sangiran. demikian halnya dengan aneka ragam kerangka binatang purba, seperti gajah raksasa, buaya hingga kerang dan siput telah menjadi petunjuk yang sangat berharga untuk mengenali kehidupan di masa awal pembentukan bumi.

Tari Sodrat Tari Kupu Penari Srikandi

Keberadaan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang merupakan salah satu pewaris Kerajaan Mataram yang didirikan oleh Panembahan Senopati di awal abad 17 juga menyimpan berbagai warisan seni dan budaya tingkat tinggi. Tidak hanya saja bangunan keraton secara fisik, Kasunanan juga telah menorehkan berbagai seni dan tradisi, mulai batik, wayang, seni tari, seni tembang, pedalangan, hingga nilai-nilai falsafah hidup yang sangat mengagumkan. Grebeg Mulud, Syawal, dan Besar yang digelar di Alun-alun Utara merupakan sarana pemersatu dan hiburan bagi rakyat di akar rumput. Tradisi Mubeng Beteng, Jamasan Pusaka, Tingalan Jumenengan Dalem, hingga persembahan Mahesa Lawung senantiasa menari perhatian jutaan manusia, bahkan dari mancanegara.

Penari Janoko Penari Sodrat Penari Buto

Puro Mangkunegaran sebagai sebuah wilayah kadipaten pecahan Kasunanan yang terbentuk melalui Perjanjian Salatiga pad tahun 1757 juga menyimpan berbagai peninggalan seni budaya yang sangat luar biasa. Semenjak Pangeran Sambernyawa yang bergelar KGPAA Mangkunegara I memerintah, kebanyakan para penggantinya adalah tokoh-tokoh penggulat kreativitas yang menelurkan berbagai produk seni, tradisi, dan budaya yang masih lestari hingga masa kini. Sebagai bukti pelestarian yang dilakukan puro ini adalah persembahan acara Mangkunegaran Performing Arts yang mementaskan berbagai seni tari, mulai tari Golek Sukorena, Kupu-kupu, Sodrat, Sri Kandi, hingga pementasan teater anak Timun Emas.

Bis Werkudoro Jaladara2

Solo di masa kini, di bawah pemerintahan Walikota FX Hadi Rudyatmo yang meneruskan kiprah Joko Widodo, juga memiliki kesadaran yang sangat tinggi untuk menyandingkan dimensi kehidupan masa lalu dan masa kini dalam sebuah tatanan yang harmonis. Keberadaan pasar tradisional dikembangkan dengan manajemen yang modern hingga mengesankan pasar yang tertib, asri, bersih, namun sangat guyub dengan keramah-tamahan para pedagang yang nguwongke pelanggannya. Kereta Kluthuk Jaladara juga dihidupkan dalam rangka memberikan nuansa jadul yang membuat para pengunjung senantiasa kangen dengan Solo. Tidak terhenti di situ, aneka ragam festival seni dan budaya digelar rutin selama setahun penuh untuk mendatangkan ribuan wisatawan Nusantara maupun mancanegara. Untuk sekedar menyebut beberapa agenda festival di Solo, sebut saja Solo Batik Carnival, Festival Kethoprak, Solo Carnaval, Festival Jenang Solo, Solo Menari, Festival Film Solo, Festival Dolanan Bocah, Keraton Arts Festival, Java Expo, Wayang Bocah, Solo Keroncong Festival hingga Rock in Solo.

 Urban Forest  Tanam Pohon

Kembali kepada masalah jati diri bangsa, hanyalah bangsa yang mampu menggali kembali dan mempertahankan jati dirinyalah yang akan unggul dalam persaingan global. Bangsa dengan jati diri yang tangguh akan memiliki tradisi dan pandangan hidup yang kokoh sebagai pondasi dalam kehidupan modern. Jati diri sebuah bangsa akan mendorong terlahirnya kreasi-kreasi karya cipta yang baru dengan akar tradisi yang kuat. Hal ini akan membentuk sebuah peradaban bangsa yang unik dan mungkin antik, sehingga mampu menjadi daya tarik yang sangat luar biasa untuk mendatangkan wisatawan ataupun investasi pembangunan. Jika pola pikir dan wacana ini yang terus kita bangun, maka Kekayaan Khasanah Warisan Budaya Bangsa sebagaimana yang dimiliki Solo akan menjadi modal yang sangat berharga dalam rangka melakukan Upaya Konstruktif Menuju Komunitas ASEAN 2015. Dan percayalah dengan itu semua, bangsa Indonesia akan mampu mengungguli kebesaran bangsa-bangsa lainnya.

Sangiran  Sangiran

Sekali lagi semua itu adalah tantangan sekaligus peluang. Yakinlah kita bisa mewujudkannya dengan semangat guyub rukun dan kegotong-royongan. Jadilah pelopor perubahan konstruktif di lingkungan masing-masing. Bangsa ini menunggu karya nyata tunas muda penerus bangsa. Blogger for the Future of Indonesia.

Ngisor Blimbing, 17 Mei 2013

 

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

8 Balasan ke Dari ABFI, Menggali Jati Diri Menuju Bangsa Mandiri

  1. Agus Mulyadi berkata:

    Majunya teknologi seakan makin mengikis identitas masyarakat kita yang sangat identik dengan sosialisasi… peranti telekomunikasi makin membatasi pergaulan hanya pada ranah maya, menjadikan interaksi sosial secara langsung makin terpinggirkan… diperlukan banyak upaya untuk membangkitkan kembali semangat kebersamaan dan kegotong-royongan khas nusantara, agar di 2015 nanti, kita sudah kuat menghadapi pergolakan interaksi sosial yang lebih luas, tanpa kehilangan jati diri kebersamaan di masyarakat kita…. semoga kita bisa….

    Ayo yang muda mendekat, yang tua merapat

    Suka

  2. Ping balik: Sepur Kluthuk Kota Solo | Sang Nananging Jagad

  3. Ping balik: Menikmati Mangkunegaran Performing Arts | Sang Nananging Jagad

  4. rialyzara berkata:

    mantab ketemu pak nanang lagi :))

    Suka

  5. Ping balik: AEC2015, Kopdaran Pasca Lebaran | Sang Nananging Jagad

  6. Ping balik: Solo, So Pasti Istimewa di Hati | Sang Nananging Jagad

  7. Ping balik: Jejak Balatidar 2013 | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s