Bambu Penopang Hidup


Bambu AntenaBeberapa bulan tidak berkesempatan menengok Ndalem Peniten, ternyata tiang bambu penopang antena televisi yang ada sudah rubuh karena keropos dan terjangan angin. Hidup di jaman sekarang memang sudah tidak bisa dilepaskan lagi dari akses informasi maupun hiburan, meskipun hanya sekedar dari sebuah kotak ajaib yang bisa mentransfer suara dan gambar bergerak tersebut. TV seolah sudah menjadi sebuah kebutuhan yang wajib hadir di setiap rumah tangga. Jika di era tahun 80-an, dari sekian penduduk di suatu kampung mungkin baru satu-dua rumah yang memiliki TV hitam putih. Kini satu rumah satu TV sudah bukan barang langka lagi. Namun justru di masa itu kebersamaan dan keguyuban antar warga justru bisa dibentuk di muka TV pada saat menonton tayangan secara bersama-sama.

Untuk wilayah dataran tinggi sebagaimana Magelang, pesawat TV tentu sulit dapat menerima pancaran gelombang dari sebuah pemancar maupun antena transmisi jika tanpa menggunakan antena penerima yang dipasang tinggi di luar rumah. Hal ini tentu saja terkecualikan untuk saluran TV kabel yang juga sudah merambah pelosok kota kecil maupun daerah padukuhan. Maka tidaklah mengherankan jika terlihat hampir di setiap rumah penduduk terdapat antena TV yang dipasang menjulang tinggi di atas masing-masing rumah.

Tahu tidak bisa nonton TV karena antenanya sedang “mendarat”, sudah pasti si Ponang protes keras. Maka mau tidak mau, suka tidak suka, antena TV harus sesegera mungkin “diudarakan” kembali. Mengingat jika membeli bilah tabung besi sebagai penyangga antena relatif masih cukup malah, maka plihan masih tetap menggunakan batang bambu. Dari pertimbangan ketahanan dan keawetannya, tentu saja bambu kalah jika dibandingkan besi. Namun lagi-lagi pertimbangan harga menjadi hal yang utama, di samping meskipun hanya menggunakan batang bambu tetapi bisa bertahan untuk dua hingga tiga tahun.

Akhirnya dengan nuntun si Ponang, saya menuju ke sudut kampung dimana biasa dijadikan pangkalan “simbah-simbah” penjual batang bambu. Agak siangan, menjelang jam delapan pagi, rupanya si Simbah baru datang menunggui onggokan batang bambu yang senantiasa diinapkannya di tepian selokan itu. Tatkala saya mendekatinya, si Simbah sedang mbongkok atau mengikat beberapa batang bambu pendek menjadi satu ikatan.

Sejenak saya berjongkok di dekatnya dan bertanya, “ Mbah nyuwun bambune. Setunggale pinten? ajeng kangge cagak antena TV. (Mbah mau beli bambu. Satunya berapa? Mau dipakai untuk tiang antena TV)” Sengaja saya menggunakan bahasa madya (tengahan) agar suasana komunikasi lebih cair dan tidak berjarak dibandingkan bila saya menggunakan unggah-ungguh bahasa krama inggil.

Si Simbah menjawab penuh keramahan dan ia nampak sumringah gembira, “Lha monggo, milih piyambak. Mangkeh regane nuruti pringe mawon. Saestu lho nggih?” (Lha silakan memilih sendiri. Nanti harganya tergantung besar-kecilnya bambu. Benar lho ya?)

Sayapun kemudian mencoba memilah dan memilih bambu yang lurus dan cukup besar. Simbah beberapa saat juga mendekat. Sambil turut memilihkan bambu, ia bercerita bahwa hatinya sebenarnya sering sedih. Ia sering mendapatkan order permintaan bambu dari seseorang. Ia bersusah payah membawa bambu tersebut dari kampung halamannya, tetapi seringkali orang ingkar janji dan tidak mengambil bambu pesanannya. Akhirnya bambu tersebut layu, kering dan lapuk karena panas dan hujan. Bambu-bambu yang sudah susah payah dibawanya tersebut akhirnya “nganggur” alias tidak laku dan menguaplah rejeki si Simbah.

Ketika saya tanyakan dimana rumahnya dan dengan apa bambu-bambu tersebut dibawanya hingga di pangkalan ini, apakah dengan gerobak dorong ataukah menggunakan truk. Ia menceritakan bahwa ia tinggal di sebuah dusun di wilayah Kecamatan Windusari, di sekitar lereng gunung Sumbing (kurang lebih 20 km dari pangkalan itu). Bukannya menggunakan gerobak apalagi menyewa truk, Simbah membawa bambu-bambu itu dengan cara dipikul dan berjalan kaki. Masya Allah! Sebuah kegigihan perjuangan hidup yang sangat luar biasa dipertunjukkan oleh Tuhan kepada saya di pagi itu. Seorang Simbah yang sudah kian renta tulang-tulangnya, masih perkasa menjemput rejekinya. Sebuah tingkat kesabaran yang sangat luar biasa.

Sambil masih terus mencari bambu yang sekiranya paling lurus, ia memberikan nasehat, “Mas, jadi orang di jaman sekarang itu harus jujur. Banyak orang sudah tidak lagi takut dengan dosa. Bicara dan janji diingkarinya seenaknya saja. Orang tidak mau tahu dengan susahnya orang lain. Takutlah dosa, berarti kita masih taat kepada Tuhan. Semua pasti akan ada balasannya kelak di alam akhirat.”

Saya hanya diam sambil diam-diam mrindhing mendengarkan beberapa penggal nasehat sucinya. Bagi saya Simbah satu ini adalah manusia luar biasa. Di tengah kerasnya roda jaman, ditipu orang dengan janji-janji palsunya, namun ia tetap tegar dan tawakal menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Meskipun tidak bersorban, berjubah dan juga tidak memiliki potongan seorang kyai, ataupun ustadz, namun sosoknya terasa memancarkan aura kesucian jiwa dan batin yang sangat dalam. Ia bagi saya adalah seorang muslim sejati, seorang mukmin sejati, seorang mukhlisin sejati. Ia adalah manusia sejati.

Akhirnya dengan penuh kerendahan ia menawarkan sepotong bambunya yang cukup besar dengan harga Rp. 50.000,-. Sayapun tanpa membantah sama sekali tidak berani menawar. Mungkin uang saya itu menjadi satu-satunya rejeki yang dibawanya untuk keluarga, anak istri atau mungkin para cucunya nun jauh di lereng gunung Sumbing sana.

Dengan sisa tenaga rentanya, ia ngotot untuk mengantarkan bambu yang saya beli hingga di halaman samping Ndalem Peniten. Meskipun sebenarnya saya berkeras untuk membawanya sendiri. Dan tatkala ia sampai di samping rumah dan meletakkan batang bambu di atas tanah, saya menawarinya untuk singgah dan sekedar minum teh anget. Dengan penuh kelembutan ia menolak dan berkeras untuk sekaligus minta pamit. Saya tidak kuasa menahannya. Saya terlalu rendah untuk “menahan” manusia agung itu. Di balik punggungnya yang meninggalkan saya, saya hanya bisa mbatin pengharapan semoga si Simbah diberikan panjang umur, kesehatan dan kelapangan rejeki di sisa usianya yang semakin menjelang senja. Sebatang bambun bukan sekedar tiang penopang antena semata. Lebih dari itu, batang bambu yang sama bahkan telah menjadi penopang hidup para simbah-simbah.

Akhirnya siang itu, antena TV kami berhasil “mengudara” kembali dengan ketinggian kurang lebih 15-an meter. Si Ponangpun riang gembira kembali.

Ngisor Blimbing, 5 Mei 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Bambu Penopang Hidup

  1. Agus Mulyadi berkata:

    Pelajaran berharga dari mbah-mbah penjual bambu…. Bahwa dalam hidup jangan sekali-kali pernah ingkar janji, sebab janji sepele yang sering kita ingkari, terkadang merupakan perkara serius bagi orang yang kita janjikan…..

    Btw, kok mbah’e ora difoto sisan kang? ben tambah menghayati anggone moco kisah’e… (opo ndilalah pas ora nggowo sotretan?)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s