Nglindur Wala Yaa Uduhu


Koripan2Meskipun jaman sudah modern, namun tidak semua tradisi yang diwariskan para simbah menjadi kuno dan tidak kontekstual dengan dinamika jaman. Tradisi nderes Qur’an, yang dulu menjadi warna irama kehidupan yang sangat khas di waktu ba’da Maghrib hingga Isya’, khususnya di lingkungan pedesaan, kini sedikit demi sedikit telah memudar. Waktu keramat tersebut kini telah banyak tergantikan dengan tayangan tivi dari berbagai stasiun yang kian menjamur.

Mungkin mayarakat muslim jaman kini sudah menganggap nderes Qur’an sebagai sebuah kegiatan yang hanya sebatas membuang waktu. Tokh pada saat membacapun, kita tidak paham artinya karena memang mayoritas diantara kaum muslimin kita hanya bisa baca tulis huruf Arab tanpa mengetahui dan paham bahasa Arab. Seringkali kita juga termakan pernyataan bahwa mengaji dengan membaca tafsir, atau mengikuti pengajian dari ustadz atau kyai yang menguraikan dalil dari Al Qur’an atau Al Hadist jauh lebih baik daripada sekedar nderes, membaca, rangkaian tulisan Al Qur’an. Kelompok lain mengatakan yang terpenting adalah mengamalkan ayat-ayat Al Qur’an, soal membacanya urusan nomor sekian. Lagian kebanyakan dari kita merasa tidak memiliki waktu untuk pekerjaan nderes Al Qur’an.

Namun demikian, sebagai pewaris dan penganut paham tradisionalisme, Romo Agung senantiasa berupaya sesering mungkin nderes Qur’an selepas sholat Maghrib. Dengan demikian, waktu antara sholat Maghrib dan Isya’ adalah jamnya nderes Qur’an. Bukan karena apa-apa, Romo Agung percaya sebagai sebuah anjuran Kanjeng Nabi Muhammad, membaca ayat-ayat suci Al Qur’an, baik paham ataupun tidak artinya, baik tartil ataupun tidak bacaan, akan membawa faedah dan keberkahan yang sangat besar. Belum lagi mengenai pahala yang disabdakan dihitung dari huruf per huruf ayat yang dibaca. Betapa sangat pemurah Allah kepada hambanya, dan betapa ummat Islam sangat menyia-nyiakan amalan indah tersebut.

Romo Agung jelas bukan seorang muslim santri yang jebolan dari sebuah pondok pesantren. Pun dia bukan pula seorang lulusan IAIN yang tahu mendalam persoalan agama. Ia hanya sekedar mengamalkan apa yang pernah didengarnya dari pengajian di masa kecilnya ketika masih tinggal di tepi Merapi. Iapun pernah mendengar nasehat bahwa semua rahasia ilmu dunia akhirat tersimpan di dalam kandungan ayat-ayat suci Al Qur’an. Al Qur’an adalah kunci ilmu pengetahuan. Dengan demikian, siapa yang gemar nderes, dedhepe, maka ia diberikan kemudahan di dalam menguak tabir rahasia ilmu pengetahuan. Pintu-pintu rahasia pemahaman pengetahuan akan dibukakan lebar-lebar oleh Allah melalui hal-hal ataupun kejadian-kejadian yang tidak pernah terduga-duga. Maka jaman dulu menghadapi Ebtanas, yang kini disebut UN, anak sekolah tidak pernah stress, karena mereka memiliki sikap mental yang tangguh yang salah satunya didapatkan dari kebiasaan nderes Qur’an tadi.

Barangkali karena sikap hidup yang ingin istiqomah selalu dalam melestarikan tradisi nderes Qur’an ini membuat sikap Romo Agung tersebut menurun kepada si Kenyung, anak laki-lakinya. Semenjak umur 2-3 tahun, si Kenyung sudah mulai ikut-ikutan menghafalkan Surat Al Fatihah maupun Al Ikhlas. Akhirnya semenjak memasuki bangku PAUD dan TK, seiring pengajaran ngaji iqro’ yang diberikan para gurunya, si Kenyung mulai ikut-ikutan ingin menghafalkan beberapa surat pendek. Dengan tekad sukarela, bahkan kemudian ia memilih jalan untuk sorogan atau setoran hafalan surat pendek tersebut kepada Kanjeng Romonya setiap hari selepas Maghrib.

Tak terasa kini di usia si Kenyung yang telah melewati angka 5, iapun sudah lancar menghafalkan beberapa surat dari Juz ‘Amma, mulai Al Fatihah, Al Ikhlas, An Nas, Al Falaq, Al Asr, Al Kautsar, Al Lahab, Al Quraisy, Al Kafirun, At Takatsur, Al Qodar, bahkan ayat Kursi. Metode yang dipraktikan adalah dengan menirukan pelafalan dan mengulang-ulangnya. Setiap bulan baru akan ditambah dengan hafalan surat baru. Tentu tidak perlu berlama-lama, cukup 5-10 setiap hari sudah sangat efektif dan tanpa meninggalkan waktu untuk belajar membaca tulisan Arabnya.

Suatu ketika di malam Jum’at Kliwon. Selesai menunaikan sholat Maghrib di mushola Al Jihad, si Kenyung sambat kelelahan dan kepalanya terasa sakit. Namun demikian, ketika pulang ke rumah ia tetap “setor” hafalan sebagaimana hari-hari yang lain. Merasa kasihan dengan anaknya, Romo Agung memangku si Kenyung yang tengah melafalkan hafalan sampil ngunyek-unyek pilingan atau pelipis si Kenyung. Tepat saat selesai semua hafalan yang telah dihafalnya, si Kenyung angles tertidur.

Waktupun bergulir hingga menapaki penggalan ba’da Isya’. Selepas Romo Agung menunaikan sholat Isya’, ia melihat si Kenyung terduduk dengan mata terbuka seolah sedang tidak tertidur. Meskipun demikian, ternyata ia memang masih dalam keadaan tertidur. Terdengar samar-samar si Kenyung nglindur alias mengigau. Karena penasaran didekatilah si Kenyung untuk ngemat apa yang diucapkannya. “Wala…wala….wala…..,” si Kenyung komat-kamit seolah sedang berusaha keras menghafalkan sesuatu.

Spontan Romo Agung menimbali, “Wala yaa uduhu……”. Hanya sedikit sambungan kalimat tersebut ternyata telah menstimulus ingatan si Kenyung. Dengan lantang dan lancar ia kemudian meneruskan, “ ……..hifdzuhuma wa huwal ‘alaiyyul ‘adziiim”. Selesai itupun ia memejamkan mata dan merebahkan diri kembali. Ia melanjutkan tidurnya yang sempat terpotong. Romo Agung hanya melongo dan gedheg-gedheg nggumun di hati. Bagaimana seorang anak sekecil Kenyung mampun nglindur lucu bin sakti. Bagaimana tidak menakjubkan, ing atase hanya nglindur tetapi yang diucapkan justru penghujung ayat Kursi yang maha sakti itu. Adakah memang itu semua adalah bisikan malaikat hikmah atau bahkan wisikan Tuhan sendiri? Ah, Romo Agung terlalu berpikir ngelantur barangkali. Tetapi semua rahasia kejadian memang hanya Yang Maha Rahasia sajalah yang paling tahun.

Ngisor Blimbing, 24 April 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s