Tradisi Sunatan


Sunatan atau khitanan atau supitan, bagi anak laki-laki memiliki beberapa dimensi pemaknaan. Secara medis, khitanan merupakan tindakan operasi kecil dengan memotong “sang kulup” alias kulit penutup alat kelamin pria. Dari sudut pandang kesehatan, keberadaan kulit kulup ini justru bisa menghalangi proses pembersihan alat vital setelah bebuang atau kencing. Pembersihan yang tidak tuntas pada bagian tersebut jelas akan menjadi sumber penyakit yang sangat membahayakan alat vital.

RadyaSunatan

Secara sosioreligi, khususnya bagi ummat Islam, proses sunatan merupakan sebuah amalan agama sebagaimana telah dicontohkan semenjak Nabi Ibrahim AS. Penghilangan kulit skortum berhubungan langsung dengan pensucian badan sebagai syarat mutlak pelaksanaan ibadah, terutama sholat. Sebagaimana kita ketahui, air kencing termasuk najis yang dapat membatalkan wudhu seseorang. Oleh karena itu selepas buang air kecil, alat vital harus dibersihkan secara tuntas dari sisa-sisa air seni. Dengan disunatnya si kulup, maka pelaksanaan pembersihan alat vital lebih mudah dan kebersihannyapun lebih terjamin.

Sunatan juga bisa dimaknai sebagai garis batas peralihan antara dunia bocah menuju kepada dunia remaja atau usia baligh. Dalam hukum Islam, baligh merupakan salah satu persyaratan bagi seseorang yang terkena hukum dan aturan agama. Usia baligh dipahami sebagai usia dimana seseorang sudah memiliki kesadaran pemikiran secara penuh maupun pengetahuan mengenai perbuatan yang haq dan bathil, bisa membedakan yang benar dan salah. Hal inilah yang menjadikan manusia Jawa secara sosiokultural memaknai sunatan sebagai prosesi pengislaman, maka sunatan atau supitan sering dijawakan dengan ngislamake.

Bagi masyarakat Jawa, ngislamake bukanlah sebuah prosesi main-main. Maka untuk ngislamake diperlukan ewuh alias hajatan. Inti dari hajatan khitanan sesungguhnya adalah selamatan pengikraran doa yang dipanjatkan kepada Gusti Allah agar prosesi pengkhitanan diberikan kelancaran, luka sunnat lekas mengering dan sembuh, sehingga si bocah bisa segera beraktivitas sebagaimana biasanya. Namun secara lebih mendalam juga termuat harapan, bahwa si bocah yang telah memasuki usia baligh dapat menjadi anak yang taat beribadah, turut mituhu dan menjadi anak sholeh bagi kedua orang tuanya, serta kelak dapat menjadi manusia yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, negara, khususnya agama Islam. Doa inilah yang biasa dipanjatkan oleh Pak Kaum yang ngruusi doa pada saat kenduri diselenggarakan di awal hajatan untuk memohonkan keselamatan.

Sebagaimana acara hajatan yang lain, kenduri merupakan selamatan pembuka sebelum sebuah hajatan dimulai. Uba rampe atau kelengkapan kenduri tidak berbeda dengan selamatan yang lain, nasi tumpeng atau ambeng, sayur, mihun, thontho, peyek, keper, srundeng, dan krupuk. Ada juga ketan, apem, jenang gurih, hingga beberapa jenis jajanan pasar. Semua perlengkapan kenduri tersebut biasa di tempatkan di atas ancak atau anyaman bambu yang dimasa kini telah banyak digantikan dengan besek atau bakul plastik kecil. Penggunaan ancak di masa lalu inilah yang menjadikan sebagian orang mengistilahkan kenduri dengan bancakan.

Melalui undangan secara lisan langsung ke rumah warga oleh seorang utusan yang bertugas undang-undang genduren, maka berkumpullah perwakilan dari keluarga para tetangga. Pada saat yang telah ditentukan, bisa ba’da Ashar, Maghrib ataupun Isya’ kendurian dilaksanakan. Semua hadirin berkumpul di ruang utama sambil ngepung atau melingkari perlengkapan kenduri, hal inilah yang menjadikan kenduri juga disebut sebagai acara kepungan.

Dalam hajatan khitanan yang diselenggarakan secara besar-besaran, diundanglah semua tetangga dan kerabat melalui undangan yang disebarkan. Sangat tergantung seberapa banyak undangan yang disebar, maka hajatab khitanan bisa berlangsung selama 4-5 hari. Acara lebih meriah lagi jika disertai dengan tanggapan tontonan atau pertunjukan seni tradisional seperti wayang kulit, janthilan, kubro siswo, campur, ataupun kethoprak.

Malam pelaksanaan khitanan disebut sebagai malem pegasan. Megas atau meges memiliki arti memotong atau mengiris. Malam pegasan merupakan malam puncak hajatan khitanan. Khitanan di masa lalu lebih banyak dilakukan oleh tukang khitan yang disebut Bong Supit. Profesi ini bagi orang Betawi lebih dikenal sebagai tukang bengkong. Di malam pegasan, Pak Bong datang ke rumah pemilik hajatan. Proses pegasan dilaksanakan di dalam ruang atau kamar tertentu dengan disaksikan kerabat dekat. Pada saat yang bersamaan, para bapak-bapak satu dusun njagong atau berkumpul sambil lek-lekan, bergadang hingga tengah malam.

Peralatan khitan yang masih serba tradisional di masa lalu menjadikan luka bekas khitan harus menunggu beberapa hari untuk kering dan sembuh. Hal inilah yang menjadikan gerak dan aktivitas si bocah yang dikhitankan menjadi sangat terganggu. Bahkan agar rasa sakit akibat gesekan terhadap “bungkusan perban”, si bocah harus senantiasa mengenakan kain sarung. Obat luka khitan andalan di masa lalu hanyalah serbuk putih yang dikenal sebagai obat supit dengan merk “sulfatilamit”. Dengan demikian, khitan merupakan sebuah ujian yang tidak ringan bagi kelulusan seorang bocah untuk menginjak usia akil baligh.

Lain dulu memang jelas lain sekarang. Pelaksanaan khitan tidak sesakral dan sesuci di masa lalu. Memang khitanan masih dimaknai sebagai pelaksanaan ibadah agama, tetapi tradisi dan pemaknaan sosial budayanya telah mengalami pergeseran bahkan pendangkalan sehingga unsur pendidikan moralitas dalam peristiwa khitanan tidak lagi diketahui oleh generasi masa kini. Pragmatisme kehidupan memang menggiring manusia untuk melakukan sesuatu lebih kepada pertimbangan keenomisan dan kepraktisan semata. Khitanan cukup dilakukan dengan selamatan dan doa sederhana dengan persaksiaan 5-8 tetangga dan si bocah langsung diantar ke dokter, gresss, dan selesai sudah prosesi khitanan. Demikian halnya peralatan dan metode khitan yang telah canggih tidak menimbulkan luka yang berkepanjangan, sehingga khitan bukan lagi menjadi sebuah ujian yang maha berat bagi seorang bocah untuk dapat memasuki dunia akil baligh yang menuntut kedewasaan yang lebih tinggi sebagai anak manusia. Beginilah sebuah keniscayaan roda jaman yang harus terus berputar.

Ngisor Blimbing, 16 Maret 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Tradisi Sunatan

  1. Bahtiar NDT berkata:

    mas radya kok katon nguya guyu …
    ora mringis loro … 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s