Poros Filosofis Energi Magis Kota Magelang


Magelang merupakan sebuah kota yang berkembang pada suatu dataran tinggi yang dibatasi Kali Progo di sisi barat dan Kali Elo di sisi timur. Karena keberadaannya memanjang yang diapit dua alur sungai yang mengalir dari utara ke selatan, maka sangat logis bila perkembangan tata kota berkembang secara sentris menurut sumbu utara – selatan. Sebagaimana sebuah tata kota khas peninggalan kerajaan Jawa, alun-alun adalah pusat perkembangan sebuah wilayah. Di sanalah pusat akumulasi kekuatan makrokospis dan mikrokospis, jagad besar dan jagad kecil, atau  tempat sekawan keblat gangsal pancernya energi dunia. Kesatuan kekuatan bumi, air, udara, dan api.

KaliElo KaliProgo

Nah bila sekarang kita memasuki kota Magelang, apakah poros energi tersebut dapat kita kenali? Ya, masuklah kota Magelang dari arah utara. Gerbang kota di sebelah utara berbatasan langsung dengan kecamatan Secang yang secara administrasi termasuk ke dalam pemerintahan Kabupaten Magelang. Selepas Payaman, maka kita akan memasuki daerah Sambung, inilah tapal batas kota Magelang sebelah utara. Jalur lurus dan lebar gilar-gilar inilah yang dinamakan jalan Ahmad Yani.

Jalan Ahmad Yani membujur mulai dari titik tapal batas kota di ujung utara, terus lurus melintasi Yon Armed Nagapakca, RSJ, kompleks ruko New Armada, Kedungsari, Menowo, Kebonpolo, Poncol, hingga berakhir di sudut alun-alun kota Magelang. Ruas jalan ini barangkali merupakan ruas jalan terpanjang di kota Magelang. Bila diukur dari ujung tapal batas hingga sudut alun-alun tentu tak kurang dari panjang 5 km.

Poros ini terus menembus pusat kota di Pecinan dengan nama jalan Pemuda. Sampai di batas pasar Rejowinangun atau Pasar Gede, berimpit dengan selokan kota menjadi jalan Sudirman. Terus semakin menurun hingga di pertigan Soka yang berada di sudut karoseri New Armada, sekaligus pada titik pertemuan jalur Jogja dan Purworejo.

Menowo1 Menowo2

Gabungan ruas jalan Sudirman, Pemuda, dan Ahmad Yani sebut saja sebagai poros kota Magelang. Maka bila kemudian arah penelusuran kita balik dari selatan menuju utara, kita akan rasakan sebuah tanjakan jalan yang semakin menaik, meskipun kenaikan cukup landai dan tidak begitu terasa. Bila kemudian kita refleksikan kondisi ini dengan konsep Tri Hita Karana sebagaimana yang diterapkan oleh Pangeran Mangkubumi pada tata kota keraton Ngayojakarta Hadiningrat, nampak sekali ada sebuah benang merah keserupaan yang sangat nyata.

Dari selatan menuju utara, manusia menjalani perjalanan dari titik rendah menuju ke titik yang lebih tinggi. Titik terendah di ujung selatan merupakan pralambang jagad Palemahan. Titik tengah perjalanan yang disimbolkan oleh alun-alun yang dilengkapi ringin kurung, merupakan pralambang dunia Pawongan. Adapun titik tertinggi di ujung perjalanan sebelah utara merupakan perwujudan jagad nduwur yang disebut Parahyangan.

Jagad Palemahan merupakan tataran hidup yang masih dipenuhi dengan hawa nafsu. Syahwat kebinatangan masih nampak jelas dalam tindakan dan tingkah laku seorang titah. Manusia masih sangat dipengaruhi amarah dan keserakahan. Apabila manusia pada tataran ini tidak mampu menemukan pijakan nalar dan akal budi, maka ia akan terperosok ke dalam sebuah keadaan yang hina dina. Ia akan menjadi seburuk dan serendah-rendahnya makhluk, bahkan lebih rendah daripada binatang. Lihatlah betapa sebentar lagi di titik ini akan hadir sebuah mall mewah lambang kehedonismean dan kapitalisme kehidupan di mana orang hanya bisa bicara dengan bahasa uang.

AlunTataran tengah adalah jagad Pawongan. Pada keadaan ini manusia telah berjalan dengan pijakan nalar dan akal budi yang luhur. Manusia telah mampu mengendalikan dan menguasai hawa dan nafsu kebinatangannya. Manusia telah menemukan keluasan makna kehidupan yang disimbolkan dengan kelapangan tanah lapang yang disebut alun-alun. Di titik ini manusia telah menemukan unsur kekuatan sejati, energi jagad ageng dan jagad alit, sekaligus daya mekrokosmis dan mikrokosmis. Kekuatan itu telah ajur ajer, manjing dalam diri sanubari manusia sejati sehingga hidupnya akan senantiasa terayomi dengan kesejukan dan kerindangan pohon beringin kurung. Inilah tataran kesejatian manusia, sebenar-benarnya menusia sebagaimana yang dititahkan Ilahi Rabbi. Dialah makhluk insan kamil.

Nampaknya bukanlah sebuah kebetulan bila di Alun-alun kota Magelang berdiri dengan gagah perkasa patung Diponegoro. Sosok Sang Herucokro, manusia linuwih dengan baju dan kuda putih lambang kesucian. Dialah contoh suri teladan manusia yang rela melepaskan diri dari kemewahan nafsu keduniaan dengan meninggalkan kegemerlapan kehidupan istana. Ia memilih menyatu dengan rakyat, ngayomi kawulo dalam suka dan duka. Dialah manusia yang memilih kesejatian daripada kefanaan.

Tataran ke tiga adalah puncak revolusi manusia yang telah menggapai kesejatian. Dalam kesejatian ini tidak ada lagi aku, tidak ada lagi kamu, karena yang ada hanyalah kita. Di sinilah manusia akan memisahkan diri antara unsur kewadagan dan keruhaniahannya sebagaimana para penghuni RSJ yang dibahasakan manusia sebagai orang gila. Manusia yang telah lepas dari unsur nafsu keduniawian. Manusia kemudian akan melesat, bagaikan hempasan roket Nagapakca menuju ke langit tujuh. Inilah tingkatan di mana manusia telah menyatukan akal budinya dengan Sang Hakarya Jagad. Manunggaling kawula lan Gusti!

KotaBunga

Apakah sampeyan sependapat dengan saya? Tulisan ini bukanlah dimaksudnya sebagai sebuah pemitosan dan pengklenikan apa yang maujud menjadi yang tanpa ujud. Namun inti sasmita adalah sebagai sebuah cermin bagi segenap warga untuk menemukan kesejatian hidup dan tidak tenggelam dalam arus energi negatif yang kian sulit dibendung. Moga dengan ini semua kita bisa semakin mawas diri, mulat sarira hangrasa wani untuk mengkoreksi diri sendiri bagi sebuah langkah hidup yang lebih bermakna. Langkah hidup yang lebih dekat kepada kesejatian sebagaimana sejatinya Yang Maha Sejati.

Ngisor Blimbing, 17 Mei 2011

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s