Tuhan Dibuat Oleh Siapa?


BlimbingSore menjelang senja itu memang angin bertiup sepoi-sepoi. Semilir angin justru membuat si Kenyung cengar-cengir. Entah apa yang tengah mampir di dalam otak mungilnya. Diamatinya dengan cermat buah blimbing segi lima yang jelas-jelas berbeda dengan cengkir, si calon kelapa muda.

Pakdhe Blongkang yang sedang ongkang-ongkang di kursi goyang menjadi bertanya-tanya dalam hati. Dengan penuh kelembutan, seolah tidak ingin mengusik kekhusukan prunannya, Pakdhe Blongkang menepuk pelan bahu si Kenyung. Dengan setengah berbisik ia bertanya, “Sedang mikir apa to Le?”

Ngaten Pak Dhe! Buah blimbing itu asalnya dari mana?” tanya si Kenyung sambil mengerutkan kening jembarnya.

Pakdhe Blongkang menjawab singkat, “Buah blimbing ya asalnya dari maya (baca: moyo).”

Maya? Hmmmm…….maya apa to? Lha maya itu asalnya dari mana?” si Kenyung menjadi penasaran.

Maya itu artinya kembang blimbing itu lho. Maya ya asalnya dari sari pati bumi yang dimakan oleh pohon blimbing itu”, Pakdhe Blongkang sareh menjelaskan.

Si Kenyung belum tuntas penasarannya, “Nah kalau pohon blimbing siapa yang membuatnya?”

“Pohon blimbing berasal dari bibit pohon blimbing. Bibit itu asal muasalnya dari biji buah blimbing”, Pakdhe beruhasa menjelaskan dengan runut.

Si Kenyung cemberut, “Iya, iya,…….tetapi buah blimbing, bunga blimbing, pohon blimbing, bibit pohon blimbing itu siapa yang membuatnya?”

Hmmmm…..Pakdhe Blongkang unjal ambegan, menarik nafas panjang. Ia mencoba berpikir panjang untuk memberikan penjelasan yang gamblang. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia merasa takjub dengan daya kritis nalar si Kenyung. Namun demikian, akal sehatnya sebenarnya sedang mengalami kebingungan bagaimana ia harus menjawab pertanyaan yang sebenarnya sangat dalam itu. Sekilas memandang kursi goyang di sampingnya, Pakdhe Blongkang merasa mulai mendapatkan titik ide cemerlang.

Maka kemudian ia berkata, “ Le, kamu lihat kursi goyang Pakdhe ini? Lihatlah! Kursi ini dibuat dari kayu. Siapa yang membuatnya? Kursi ini terbuat dari kayu jati. Yang membuat kursi dari kayu jati ini adalah tukang kayu. Kamu mungkin akan terus bertanya mengenai siapa yang membuat tukang kayu. Tukang kayu, kayu jati, termasuk buah blimbing, bunga blimbing, pohon blimbing, bibit pohon blimbing, semua itu juga kita, adalah makhluk Tuhan. Makhluk itu artinya ciptaan Tuhan. Tuhan yang menciptakan makhluk disebut sebagai khalik. Tuhanlah yang telah menciptakan semua alam semesta raya beserta semua isinya.

Dasar si Kenyung bocah gemblung dan masih cupet dalam berpikir, maka ia semakin penasaran, “Lha terus kalau Tuhan itu yang membuat siapa Dhe?”

Jagad dewa batara, Pakdhe Blongkang serasa terkena skak mat dari prunannya. Ia merasa tersudut, terjebak di pojokan ruang gelap tanpa bisa bergerak lagi. Jangankan bergerak, sekedar menarik nafas saja ia seolah tidak punya kuasa lagi. Roda waktu seakan berhenti bergerak. Dunia gelap. Ia seperti kehabisan akal untuk memberikan jawaban apalagi yang masuk akal menurut nalar si Kenyung yang masih nglegeno, lugu tanpa dosa itu.

Tetapi bukan namanya Pakdhe Blongkang jika ia tidak bisa menjawab dengan tatas, titis dan tuntas. Sekian lama menjalani hidup yang penuh dengan pergulatan pikir yang panjang tentu saja menjadikan pengalamannya telah teruji hingga mampu menata pikir dengan cekatan. Ia sangat tahu bagaimana harus menyikapi rasa ingin tahu dan daya kritis seorang bocah. Meskipun demikian, ia tidak ingin terjebak dengan memberikan jawaban yang asal apalagi sekedar asal-asalan dan bohong-bohongan. Sangat berbahaya memberikan kebohongan kepada anak kecil, karena apa yang tertanamkan dalam otak anak kecil akan teringat sepanjang masa.

Maka Pakdhe Blongkang kemudian berkata, “Wo Le, kalau soal Tuhan siapa yang membuatnya Pakdhemu ini jelas tidak tahu. Soalnya Pakdhe kan belum pernah bertemu dengan Tuhan. Nanti kalau suatu saat Pakdhe sudah ketemu dengan Tuhan, Pakdhe tak bertanya soal siapa sebenarnya yang telah menciptakannya”.

Perdebatan selesai. Si Kenyung nampak manggut-manggut. Mungkin ia baru saja mendapatkan sebuah pengetahuan baru yang logis dari sudut pandang kepolosan otaknya.

Bocah seumur Kenyung tentu saja cara berpikirnya masih datar dan linear. Dunia baginya adalah serangkaian benda ataupun peristiwa mata rantai yang satu sama lain saling terkait secara langsung. Ia masih dalam tahapan mengembarai luasnya cakrawala pikir yang dianggapnya tanpa batas. Ia sangka semua hal yang membuat otaknya menjadi penasaran harus bisa dijelaskan secara nalar dan semua orang yang lebih dewasa darinya pasti tahu tentang semua hal itu.

Si Kenyung tentu masih belum bisa diajak berpikir menurut nalar orang dewasa. Ia tentu saja belum memiliki frekuensi pengetahuan mengenai prima causa, sebab asal usul yang tidak lagi bisa dijelaskan dari mana asal usulnya oleh pengetahuan manusia. Ia masihlah seorang bocah yang terus membaca alam untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan pengetahuan baru. Ia sesungguhnya sedang menyuarakan suara Tuhan kepada orang-orang yang lebih dewasa. Seorang bocahlah sejatinya guru bagi para orang tua mereka. Maka senantiasa jujurlah dalam berdialektika kepada kepolosan dan ketulusan seorang bocah. Dalam dirinyalah Tuhan sedang medhar sabda.

Ngisor Blimbing, 19 Maret 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Tuhan Dibuat Oleh Siapa?

  1. Agus Mulyadi berkata:

    Welha, judulnya menarik, agak kontoversi lagi liberal… Tapi mantep, mocone sinambi manggut2…. Si kenyung’e pinter, Pakdhe’ne yo ora kalah pinter. Tapi yo kuwi, sapinter-pinter’e. nek wis tekan urusan Gusti, mbalike mesti yo “Wallahualam”, mentok

    Suka

  2. juugo berkata:

    orang sering lupa kalau anak kecil itu lebih suci dari orang yang merasa dewasa.

    Suka

  3. Airul berkata:

    Gak tau kenapa bisa nyasar di blog ini, tapi tulisannya sangat menarik untuk di baca.

    Salam kenal mas Nanang

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s