Salah Sangka Bulan Purnama


YuGindulMasih ingat tentang sosok Yu Gindul yang pernah saya ceritakan di sini? Kisah kali inipun masih berhubungan dengan Yu Gindul. Kisah ini memang sudah lama saya dengar melalui Pakdhe Nur, tatkala suatu malam menjelang dini hari di pos ronda dusun kami, Pakdhe Nur bertutur.

Dikisahkan bahwa Mbok War suatu sore mempersiapkan beberapa hasil panenan sawahnya untuk dibawa ke pasar pada keesokan harinya. Karena barang panenan yang akan dibawa ada dua tenggok, sudah pasti ia memerlukan bantuan Gindul untuk membantu membawakannya. Maka semua hasil panenan dari sawah di alas bendho itupun dikemas rapi dalam dua tenggok dan ditempatkan pada amben kecil di tritikan atau teras depan rumah.

Malampun datang menjelang. Di kala itu memang dusun kami belum kebagian kencar-kencarnya gebyar listrik. Sekedar lampu senthir atau gembreng menjadi alat penerang utama bagi setiap rumah warga. Masih sangat jarang dan bisa dihitung dengan jari, warga dusun yang memiliki lampu petromaks yang lebih modern. Setahu saya, di samping langgar wetan dan rumahnya Pak Bayan, hanya di rumah Mbah Remo-lah yang selalu menyalakan lampu petromaks untuk ngaji bocah-bocah dusun. Itupun lampu tersebut hanya dinyalakan hingga ba’da Isyak. Selepas itu otomatis seluruh wilayah dusun tenggelam dalam kelamnya malam.

Lalu bagaimana jika seseorang ingin bepergian di malam hari? Memang seperti pada umumnya keadaan malam hari di sebuah dusun yang tanpa aliran listrik, di dusun kamipun sangat minim dengan lampu penerangan jalan. Dulu sekali memang pernah ada bantuan lampu enting untuk setiap warga di setiap sudut pinggiran jalan. Namun sangat jarang warga yang menyalakan lampu entingnya secara teratur. Minyak tanah memang masih menjadi barang yang cukup mahal di kala itu.

Akan tetapi untuk bepergian di malam hari, apalagi jika harus menengok air di sawah, maka sangat umum para lelaki di dusun kami memiliki lampu senter. Lampu senter yang terkenal adalah merek cap “macan” yang sering dipasangkan dengan baterai everaday atau ABC. Adapun para simbok dan kaum putri, mereka justru lebih umum menggunakan oncor untuk penerangan. Oncor pada umumnya terbuat dari ruas batang bambu apus yang diisi dengan minyak tanah dan di ujungnya dipasang sumbu terbuat dari kain. Sumbu inilah yang menjadi titik nyala api yang menjadi penerang malam.

Lain para bapak, para simbok dan kaum putri, tentu lain pula bagi para bocah. Khususnya bocah laki-laki yang pergi ke langgar atau mengaji, mereka lebih suka menggunakan kayu pinus untuk penerangan. Dikarenakan keberadaan dusun kami di bawah gunung Merapi yang lebat dengan hutan pinus, menjadikan beberapa diantara warga dusun sering merambah hutan Merapi untuk sekedar mencari ranting, bunga pinus, ataupun ndongklak pokok pohon yang sudah ditebang. Beberapa warga yang menjadi perajin gula jawa, sering menggunakan kayu pinus untuk bahan bakar memasak badhek. Sisa serpihan kayu pinus yang dibelah inilah yang banyak dimanfaatkan oleh para bocah untuk disulet menjadi lampu pelita di malam hari.

Jika purnama diterangi temaramnya cahaya bulan, tentu saja suasana dusun sedikit lebih terang. Wargapun jika ingin bepergian di malam hari menjadi tidak terlalu mengandalkan lampu senter ataupun oncor. Cahaya temaramnya rembulan sudah cukup menjadi penerang jalan.

Malam ketika Mbok War berencana untuk keesokan harinya pergi ke pasar Srumbung itupun sangat kebetulan bertepatan dengan malam bulan purnama. Bulan bulat penuh dengan cahaya keemasannya. Adalah sebuah hal yang umum, rumah warga di dusun kami terbuat dari anyaman bambu atau gedhek. Anyaman yang tidak seratus persen rapat ini menjadikan cahaya dapat masuk ataupun keluar rumah melalui celah antar anyaman gedhek tersebut. Maka tatkala malam di bulan purnama, cahaya rembulanpun dapat masuk ke dalam rumah, seolah menggantikan cahaya matahari.

Ketika waktu lingsir wengi, tiba-tiba Mbok War terbangun dari tidurnya. Ia melihat cahaya terang telah masuk melalui celah-celah gedhek di rumahnya. Tentu saja ia segera berkesimpulan bahwa hari telah terang alias pagi. Merasa ia sudah berencana pergi ke pasar Srumbung, maka ia segera membangunkan Yu Gindul. Selepas bebersih di sumur belakang, dua simbok anak inipun segera menggendong tenggok yang berisi penuh panenan dari sawah. Berjalan beriringan, keduanya segera  menyusuri jalan tanah yang masih basah oleh titik-titik embun malam.

Namun ada sedikit kejanggalan yang dirasakan Mbok War. Jalanan terlalu amat sepi dibandingkan hari-hari pasaran biasanya. Biasanya pada hari pasaran, selepas jago kluruk para ibu-ibu sudah langsung menggendong berbagai hasil sawah untuk dijual ke pasar. Jarak antara dusun kami ke pasar yang kurang lebih tarpaut 3 km tersebut, biasa ditempuh dengan jalan kaki. Dengan demikian, bisa dipastikan jalan utama menuju pasar akan dipenuhi rombongan para simbok dengan gendongan tenggok di punggungnya. Namun pagi itu terasa begitu sepi. Tak satupun rombongan para simbok dari dusun lain bergabung menempuh jalan tanah itu. Hanya Mbok War dan Yu Gindul yang menyusuri jalanan sepi di bawah temaram cahaya pagi.

Selepas melewati kuburan Gondangan yang terkenal angker dengan pohon “raksasanya”, barulah keduanya menjumpai seorang bapak yang kemulan sarung sambil membenahi saluran air di tepi sawahnya. Dengan ramah sang bapak bertanya, “Kok tindake peken gasik sanget to Mbakyu?”

Mbok War menjawab, “Lha niki malah mpun padhang njingglang kawanen ngoten kok dikandake gasik!”

Lha nggih, biasane tiyang budhal pasar lak wayahe jago kluruk. Niki nembe lingsir ndalu kok mpun mruput teng peken”, sambung si bapak.

Si Bapak Tani itupun kemudian menjelaskan bahwa waktu itu masih tengah malam, baru jam 12 lewat setengah jam. Betapa kemudian Mbok War dan Yu Gindul hanya mlongo penuh rasa pasrah. Ternyata mereka bangun terlalu malam karena mengira cahaya bulan adalah cahaya matahari pagi. Pagi memang masih cukup jauh menjelang. Mereka memang sama sekali tidak pernah mengenal aturan jam yang “menjalankan” roda waktu.

Apa daya nasi sudah menjadi bubur, terlanjur njegur banyu, tentu tidak ada pilihan lain selain ambyur. Sudah di tengah jalan, sangat tidak mungkin untuk berjalan pulang kembali ke rumah. Jarak ke pasar memang tinggal sejengkal lagi. Maka pilihan keduanya kemudian adalah mampir di emperan sebuah rumah di pojokan dusun Gondangan. Tanpa ba-bi-bu kepada tuan rumah yang tentu masih terlelap, Mbok War dan Yu Gundul yang cukup lelah dengan gendongan tenggoknya, segera ndlosor di tumpukan kawul yang ada di emperan rumah tersebut. Tak seberapa lama kemudian, merekapun tidur mendengkur sambil menunggu pagi yang sejati.

Tatkala fajar benar-benar mendatangkan sang mentari, justru giliran sang tuan rumah yang kaget setengah mati. Pagi-pagi buta, ia dikejutkan oleh dua sosok tubuh yang tergeletak pada tumpukan kawul di emperan depan rumahnya. Antara yakin dan ragu, apakah dua sosok itu manusia atau hantu, atau barangkali mayat yang dibuang, ia mengendap pelan dan mendekati tumpukan kawul. Setelah yakin bahwa yang tergeletak itu manusia yang tengah tidur, ia kemudian dengan sedikit ragu memberanikan diri untuk membangunkan keduanya.

Sambil ucek-ucek mripat, Mbok War dan Yu Gindul setengah sadar bercampur heran kenapa sepagi ini ia sudha berada di tumpukan kawul rumah orang. Usut punya usut ternyata keduanya “nglindur” semalaman. Tanpa kesaran penuh mereka telah berjalan lebih dari 2 km meninggalkan rumah mereka. Jika sadar berjalan di tengah malam, mungkin mereka berdua justru tidak akan berani menembus bulak dan tegalan yang kala itu masih terkenal sangat angker dan wingit.

Saya hanya geleng kepala dan merasa lucu bin kasihan mendengarkan kisah ini.

Ngisor Blimbing, 2 Maret 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Raya dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s