Angon Bocah ke Candi Pawon


CandiPawon1Andaikan sampeyan mengunjungi Candi Borobudur dari arah Jogjakarta melalui kota Muntilan, sampeyan pasti akan menjumpai Candi Mendut. Diantara Borobudur dan Mendut sesungguhnya terhubung sebuah garis imajiner linear yang mengubung tiga titik candi sekaligus, Candi Mendut, Candi Pawon, dan Candi Borobudur yang termasyhur. Nah Candi Pawon inilah yang bisa jadi jarak dilirik pengunjung karena memang letaknya yang sedikit menjorok dari jalan utama.

Pawon, dalam bahasa Jawa memiliki arti dapur. Bisa jadi candi ini di masa lalu memang merupakan dapur atau pusat logistik, baik pada saat pelaksanaan pembangunan megaproyek Candi Borobudur, ataupun untuk melayani peziarah yang datang serta turut melakukan ritual pindapata dengan jalan kaki antara Candi Mendut ke Candi Borobudur. Namun sumber sejarah yang lain, sebagaimana pernah dituliskan oleh Wiratna Sujarweni dalam Jelajah Candi Kuno Nusantara, menyatakan bahwa kata pawon berasal dari “pawuan” yang berarti tempat persemayaman abu jenazah para raja di masa itu.

Candi Pawon yang merupakan candi peninggalan bercorak Budha ini juga dikenal sebagai Candi Brajanalan. Nama kedua ini sekaligus merupakan nama desa dimana Candi Pawon terletak. Brajanalan konon berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri atas dua akar kata, yaitu “vajra” yang berarti halilintar, dan “anala” yang berarti api. Vajranala merupakan senjata andalan Raja Indra, salah seorang keturunan Dinasti Syailendra. Konon di candi inilah pusaka tersebut disimpan.

Jika diukur dari Candi Mandut, Candi Pawon berjarak sekitar 1,5 km. Sedangkan jarak Candi Pawon ke induk Candi Borobudur sekitar 1,7 km. Jadi sangat dimungkinkan Candi Pawon justru berfungsi sebagai tempat peristirahatan para peziarah dari Candi Mendut yang akan naik ke Borobudur. Proses istirahat ini sekaligus merupakan tahapan penyucian diri sebagai persiapan untuk menuju Mandala Agung Swambara Budhura.

CandiPawon2

Dari arah Mendut, selepas jembatan Kali Progo kita akan menjumpai percabangan jalan menuju tiga arah. Arah kanan merupakan jalur menuju ke Salaman. Arah lurus ke depan langsung menuju kompleks Taman Wisata Candi Borobudur. Sedangkan cabang jalan paling kiri, dimana merupakan jalan yang paling sempit dan sepi akan mengarah ke Candi Pawon. Meskipun keberadaan Candi Pawon saat ini seolah tenggelam di kerapatan pemukiman penduduk, namun penataan tempat parkir dan beberapa kios pedagang di samping candi membuat keindahan panorama candi memiliki landscap yang cukup lebar.

Sebagaimana bangunan candi di Jawa Tengah yang lain, Candi Pawon juga tersusun dari struktur batuan vulkanik gunung berapi dengan perpaduan gaya bangunan Hindu Jawa Kuno  dan India dengan pola dasar bangunan berupa struktur punden berundak. Corak ragam hias pada dinding sekeliling candi ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Candi Mendut maupun Borobudur. Pada dinding candi terdapat relief makhluk kayangan, seperti kinara-kinari (burung berkepala manusia), relief pundi-pundi, serta pohon kalpataru sebagai pralambang pohon keabadian. Konon dulunya di ruang dalam Candi Pawon terdapat patung Bodhisattwa sebagai penghormatan terhadap Raja Indra.

CandiPawon4 CandiPawon3 CandiPawon5

Dibandingkan dengan Candi Mendut, pengunjung Candi Borobudur yang mampir sejenak di Candi Pawon terhitung jauh lebih sedikit. Di samping letak bangunan candi yang nylempit dari jalur utama, bangunan candi yang lebih kecil, hal tersebut bisa juga disebabkan karena ketidaktahuan pengunjung mengenai keberadaan Candi Pawon. Namun satu-dua turis asing justru sering terlihat di candi ini. Mungkin bagi mereka, atau pengunjung yang benar-benat ingin mempelajari sejarah percandian, Candi Pawon justru merupakan sebuah bonus kunjungan dari Borobudur dikarenakan pengunjung sama sekali tidak dikenakan tarif masuk.

Dulu sewaktu saya masih kecil, di setiap Lebaran Bapak senantiasa mengajak sowan ujung ke para simbah di dusun Dipan, sebelah selatan kompleks Candi Borobudur. Di saat berangkat atau pulang, kami selalu diplipir-kan untuk melewati Candi Pawon. Ketika Bapak berujar bahwa candi yang kami  lewati bernama Candi Pawon, saya selalu berbikir apanya yang mirip dengan pawon? Kenapa candi tersebut diberi nama demikian. Nah pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah jelas jawabannya tersebut beberapa waktu yang lalu juga terulang dipertanyakan oleh anak dan para keponakan. Angon bocah ke Candi Pawon ternyata memang memompa energi penasaran dan rasa ingin tahu bagi para bocah.

CandiPawon6Sebagai sebuah pembelajaran untuk anak-anak maupun generasi muda, candi menyimpan sejuta misteri kahidupan yang dapat menjadi pondasi dasar jatidiri pribadi dan karakter yang kuat. Dengan jatidiri dan karakter yang kuat, bangsa Indonesia akan mampu melangkah ke depan dengan percaya diri dan sanggup menantang segala perubahan jaman. Hanya bangsa yang besarlah yang akan senantiasa menggali nilai sejarah para leluhur pendahulunya sebagai titik pijak untuk menyongsong hari esok yang lebih cerah.

Ngisor Blimbing, 16 Maret 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Angon Bocah ke Candi Pawon

  1. Yuddy TH Achsan berkata:

    Ulasan dan paparan yang teramat bagus. Suka sekali saya…..

    Suka

    • sang nanang berkata:

      matur nuwun Pak Yuddy sudah kerso mampir, kados pundi kabaripun semenjak perjumpaan yang masih menjadi perjumpaan yang pertama kali itu?

      Suka

  2. Amat Sukandar berkata:

    Di sebelah selatan Candi Pawon, ada sebuah keluarga penyadap dan pembuat gula jawa. Namanya Pak Bilal, usia sekitar 75 tahun, yang setiap hari menyadap bunga kelapa untuk diambil niaranya. Nira hasil sadapan yang tidak seberapa banyak itu, diolah mBok Bilal menjadi gula kelapa, tanpa campuran bahan pengawet dan sejenisnya.
    Kegiatan keluarga Pak Bilal ini menjadi “objek wisata” tak resmi yang sering disinggahi wisatawan, terutama wisatawan mancanegara. Mereka, turis manca, ternyata sangat tertarik dengan “objek wisata” ini. Karena di sini, keadaan rumah pak Bilal masih “asli ndesa”. Artinya, rumah bagian dapurnya masih berlantai tanah, berdinding gedhek bambu, ada luweng, para-para dengan segala piranti dapur “tempo doeloe”. Di halaman dapur ada sebuah “sumur senggot” dengan padasan (tempat air) dari sebatang bambu petung. Di dinding dapur juga terselip “ani-ani”, sabit, dan piranti lainnya.
    Yang menarik, ada beberapa wisatawan mancanegara yang kebetulan menginap di Hotel ‘Aman Jiwo’ Borobudur, mengadakan acara “dinner” (makan malam) di dapur rumah pak Bilal. Tentu saja, makanannya dibawa dari hotel dan digelar di sini. Manakala ada acara dinner seperti ini, lampu-lampu listrik di rumah ini dimatikan, diganti dengan nyala lampu teplok. Kadangkala, acara ini disemarakkan dengan iringan gending2 Cokekan, yang khusus dihadirkan ke sini, yang menambahkan nikmatnya makan malam.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s