Ambisi demi Gengsi


Gengsi merupakan sisi ego dari harga diri. Meskipun sebuah ego senantiasa melekat secara manusiawi kepada setiap jiwa manusia, namun pemenuhan ego yang dipaksakan tentu akan dapat menyinggung hak orang lain dan menyebabkan suatu disharmoni pergaulan hidup. Mau tidak mau, suka ataupun tidak suka, suatu ego harus dikendalikan dan diposisikan secara proporsional dalam konteks ruang waktu yang tepat, sehingga sebuah ego justru dapat menjadi energi positif untuk memacu prestasi dan mengukirkan nilai kebaikan.

Ada sebuah kisah dari teman seorang teman. Teman dari seorang teman tersebut, suami istri, sebenarnya pekerja karir yang telah memiliki pekerjaan tetap dan cukup menjanjikan. Keduanya tercatat sebagai abdi negara di salah satu lembaga pemerintah non kementerian yang masing-masing berbeda instansi. PNS di masa kini, mungkin sudah menjadi rahasia umum, kembali menjadi “idola”. Gaji jelas, jenjang karir mantap, terlebih adanya berbagai fasilitas dan tunjungan kerja, serta jaminan pemasukan di masa pensiun yang semakin menaikkan prestisiusitas pegawai pemerintah.

Angin reformasi yang telah bertiup lebih dari 15 tahun, mengharuskan instansi pemerintah beserta segenap pegawainya untuk juga mereformasi diri. Reposisi peran pegawai pemerintah yang semula seringkali menempatkan diri sebagai pejabat yang harus serba dilayani dan mendapatkan perlakuaan khusus, bahkan istimewa, mau tidak mau juga harus diubah. Sebagai sebuah konsekuensi demokratisasi di mana rakyat adalah pemegang kedaulatan negara tertinggi, maka aparatur pemerintah sesungguhnya justru harus menjadi pelayan rakyat yang melayani rakyat. Rakyat adalah tuan bagi aparat pemerintah. Nafas inilah yang menjadi ruh utama dilakukannya reformasi birokrasi pada setiap instansi pemerintah, baik di pusat maupun daerah.

Ada prestasi tentu saja ada rewards. Sebaliknya, ada pelanggaran, ada penyalahgunaan wewenang, terlebih tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme harus disertai dengan panishment yang tegas dan keras. Lalu rewards apakah yang diberikan kepada aparatur pemerintah yang berprestasi dalam melakukan perubahan untuk menjadi lebih baik? Salah satu rewads yang diberikan adalah pemberian tunjangan kinerja. Bagi para aparatur pemerintah yang selama ini berprestasi dan memberikan kontribusi terhadap lingkungan kerjanya, memiliki kesetian, sikap amanah dan dedikasi tinggi terhadap tugas, keberadaan tunjang kinerja merupakan angin segar penegakan rasa keadilan yang selama ini tidak pernah dipikirkan. Sudah menjadi rahasia umum, dalam karir aparatur pemerintah ada pameo PGPS, pintar goblok pendapatan sama. Kondisi inilah yang ingin dibenahi dengan reformasi birokrasi yang menggariskan pemberian tunjangan berdasarkan “kinerja” atau prestasi ataupun konribusi yang diberikan terhadap negara.

Meski belum sepenuhnya diberikan, bagi temannya seorang teman yang satu ini, juga bagi PNS yang lainnya, pemberian tunjungan kinerja merupakan rejeki nomplok yang memberikan durian runtuh dari nlangit, terlebih jika di masa awal tunjangan ini dibayarkan secara rapelan. Maka, meskipun tunjangan kinerja belum cair hingga saat ini, tetapi temannya teman tersebut sudah memiliki berbagai rencana dan ambisi untuk membeli sesuatu sebagai bukti keberhasilan atau kesuksesan karir yang diraih. Di lingkungan temannya teman, rata-rata para pegawai sudah ancang-ancang untuk memiliki mobil pribadi.

Bagi sebagian besar rakyat Indonesia, mobil pribadi adalah sebuah kemewahan. Hanya orang yang berduit, kaya raya, atau paling golongan menengah ke atas yang mampu untuk memiliki mobil. Sebuah mobil, di luar fungsionalitas terhadap pemiliknya, juga menjadi ikon atau simbol prestisius untuk menunjukkan harga diri seseorang yang telah sukses meniti jenjang karir. Jika pemikiran seseorang sudah dilandasi masalah eksistensi harga diri, maka pertimbangan kebutuhan menjadi di-nomorsekian-kan.

Temannya teman saya itupun sesungguhnya belum menerima rapelan tunjangan kinerja. Terlebih lagi, sesungguhnya mengenai hal ihwal yang terkait dengan reformasi birokrasi di instansinyapun sebenarnya juga belum ada kejelasan, wabil khusus tentang kapan pembayaran rapelan tunjangan konerja tersbeut akan cair. Namun demikian, dengan penuh keyakinan tinggi, ia telah memarkir sebuah mobil baru di garasi rumahnya yang sebenar tidaklah terlalu luas untuk mengkandangkannya.

Mobil tersebut, konon katanya dibeli secara cash ke dealer seharga 120 juta. Biaya tersebut dibayarkan sebesar 65 juta diambilkan dari tabungan keluarganya, sedangkan sisanya ngutang ke suatu bank pemerintah. Pikiran gengsi emlihat mayoritas teman-teman di lingkungannya sudah memiliki mobil, maka temannya teman saya itupun tidak mau kalah dan ketinggalan. Demi gengsi, berapapun biayanya memang harus diragati alias dibiayai.

Gengsi ya gengsi, namun cilakanya, baik temannya teman saya maupun suaminya ternyata jelas-jelas secara cetha wela-wela kethok mata, sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menyetir mobil. Wal hasil, semenjak kedatangannya, mobil baru untuk penutup gengsi itupun hanya nganggur di garasi. Jangankan keluar jalan-jalan untuk sekedar reyenan, bahkan mobil baru yang masih kinyis-kinyis dalam bungkusan busa dan plastik itupun tidak pernah dipanaskan mesinnya sekali-kali.

Yang hingga kini bagi saya tidak masuk akal adalah apa fungsi aatau kemanfaatan mobil tersebut bagi keluarga kecil temannya teman saya itu? Gengsi ya gengsi, tetapi apakah kemudian otak tidak diajak untuk berpikir realistis? Kenapa harus membayari angsuran mobil yang tidak pernah beranjak dari posisinya di garasi? Dimanakah akal sehat kemanusian kita? Demi ambisi, gengsipun harus dibayari dengan utangan kredit. Apakah ini bukan sebuah kesesatan logika, etika, estetika dan budaya manusia? Ataukah ini suatu bukti gegar otak waras manusia? Masihkan kita tetap layak disebut sebagai manusia? Akh…..manusia memang tidak pernah bisa diduga kedalaman isi hatinya. Semua kembali ke masing-masing dan Tuhan.

Ngisor Blimbing, 3 Maret 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Ambisi demi Gengsi

  1. Waduh kok kayak gitu ya pemikirannya..
    Gengsi yang berlebihan dan mengesampingkan manfaat.
    Terlihat memaksakan diri. Ini kalau saya bilang namanya mental miskin..

    Suka

  2. bahtiar berkata:

    wah …
    gawat tenan … iki 🙂

    Suka

  3. juugo berkata:

    Asik itu kang… kemewahan sudah dianggap surga di dunia. Yang sebenarnya semu. oleh repote ga oleh fungsine….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s