Kepentok Portal Peron Stasiun Kereta


Masih melanjutkan kisah Hilang di Negeri Jepang. Setelah mendapatkan miniatur kereta super cepat Shinkanshen di  Stasiun Shinosaka, sayapun memutuskan untuk kembali menuju Stasiun Omeda. Belajar dari pengalaman ketika membeli tiket kereta di mesin tiket, saya tidak lagi mengalami kesulitan untuk mendapatkan tiket kereta api. Sebagaimana ketika berangkat saya membeli harga tiket 230 yen. Peronpun kemudian saya masuki dengan lancar. Beberapa saat mengantri untuk menunggu, keretapun datang dan segera membawa saya kembali ke arah Stasiun Omeda.

SONY DSC

Setelah di dalam kereta saya kepikiran sesuatu hal. Hari memang belum terlalu sore, sekitar jam 17.00 waktu setempat. Alangkah sayangnya jika saya langsung kembali ke hotel tempat menginap. Kebetulan semalam sebelumnya sempat browsing mengenai tempat penjualan aneka macam souvenir khas Jepang di kawasan sekitar Stasiun Namba. Akhirnya saya memutuskan untuk menuju tempat tersebut.

Stasiun Omeda sengaja saya lewati. Dari arah Shinosaka, stasiun Namba memang terlebih dahulu melewati stasiun Omeda. Setelah melewati beberapa stasiun antara, tibalah kereta di stasiun Namba. Ketika kereta berhenti, sayapun bergegas keluar dari kereta mengikuti arus utama para penumpang yang juga turun di stasiun tersebut.

Jepang adalah negara yang sudah sangat maju dalam hal sarana dan prasarana pelayanan publik, termasuk layanan terhadap penumpang kereta api. Dengan kepadatan lalu lintas kereta yang sangat tinggi, untuk memberikan kehandalan pelayanan penumpang pelanggan maka berbagai layanan dilaksanakan dengan sistem otomatisasi menggunakan mesin-mesin canggih dan cerdas. Demikian halnya untuk layanan pembelian tiket kereta api. Penggunaan sistem otomatisasi dapat memberikan pelayanan lebih cepat, sehingga tidak ada antrian pembelian tiket.

Tiket yang dipegang penumpangpun terdiri beberapa jenis layanan. Ada layanan tiket transaksional yang sekali dibeli untuk satu kali perjalanan. Ada tiket yang dapat digunakan untuk menggunakan jasa kereta api dalam beberapa hari, bahkan satu minggu. Ada pula model tiket abondemen yang berlaku selama satu bulan penuh. Mengenai harga tiketnya, tentu saja bervariasi menurut jenis layanan yang diberikan. Tiket transaksional tentu saja paling murah karena hanya untuk satu kali perjalanan. Sedangkan tiket abondemen tentu saja lebih mahal.

Setelah memegang sebuah tiket, penumpang yang akan memasuki area peron tiket harus memindaikan barcode yang ada di lembaran tiket. Untuk jenis tiket transaksional, mesin pemindai akan “menelan” tiket yang ditempelkan di slot pemindai. Palang portal di gerbang masuk peron segera terbuka. Calon penumpang segera melintasi portal tersebut. Begitu portal telah dilintasi, maka lembar tiket yang sebelumnya telah ditelan oleh mesin pemindai akan dikeluarkan di ujung perlintasan portal peron. Calon penumpang harus menarik lembar tiket tersebut dan menyimpannya selama perjalanan. Lembar tiket tersebut nantinya akan digunakan untuk melintasi pintu portal keluar dari peron stasiun kereta api.

Nah ketika sore itu kereta api membawa saya tiba di stasiun Namba, sayapun bergegas untuk keluar dari kawasan peron stasiun dengan mengikuti arus penumpang yang turun. Tanpa ada rasa kekhawatiran apapun saya ikut ngantri keluar bersama penumpang lain. Satu per satu penumpang yang berada di depan saya memasukkan tiket yang masih dipegangnya ke alat pemindai di gerbang portal keluar peron stasiun.

Akhirnya sayapun mendapatkan giliran. Saya masukkan tiket yang saya pegang ke slot pemindai. Mesin itupun segera “menelan” tiket. Sayapun segera memegang palang portal yang harus saya lewati. Namun apa yang justru terjadi kawan? Ternyata palang portal keluar tersebut tidak bergeming ketika saya putar. Saya jadi penasaran. Dengan tenaga yang lebih kuat saya coba lagi pegang dan putar palang tersebut. Namun tetap tidak bergerak. Adakah ada kerusakan?

Perasaan saya pada waktu itu justru menjadi deg-degan. Ada rasa bingung dengan kejadian yang sedang saya hadapi. Mau nekat melompati portal? Jelas saya tidak berani melakukannya. Jika hal tersebut terjadi di tanah air, mungkin saya akan nekat melompati portal gerbang yang memang kurang dari satu meter tersebut. Tetapi ini di Jepang Mas Bro! Negeri yang menjunjung tinggi disiplin dan ketertiban umum, termasuk disiplin hukum. Jika saya nekat melompat dan orang-orang di sekitar meneriaki saya, atau justru perbuatan saya dilihat oleh petugas keamanan dan kemudian saya ditangkap, bukankah masalah akan bertambat ruwet. Kriwikan bisa jadi grojokan, perkara yang sepele bisa membawa masalah yang jauh lebih besar!

Akhirnya saya mundur beberapa langkah. Tiket yang sudah terlanjur “ditelan” mesin pemindaipun tidak mau mengeluarkan tiket untuk saya ambil kembali. Saya mencoba berpikir tenang di tengah kekalutan tersebut. Saya masih berprasangka bahwa telah terjadi sesuatu gangguan terhadap mesin cerdas yang bekerja otomatis di depan saya itu. Saya kemudian berpikir, biarlah orang lain di belakang saya melintasi gerbang portal yang sama. Jika ternyata orang lain juga mengalami hal yang sama dengan saya, berarti memang ada kerusakan pada mesin pemindai.

Saya mundur dan sedikit mencari tempat di pinggiran untuk tetap dapat mengamati “kinerja” alat pemindai yang telah menelan tiket saya.  Satu orang melintas, menempelkan tiket di slot pemindai. Tiket ditelan dan ketika orang tersebut memutar gagang besi si portal gerbang keluar tersebut…..kreek! si portal berputar dan orang tersebut segera melintas dengan tanpa ada masalah. Penumpang setelahnyapun lancar tanpa menghadapi persoalan. Setelah itu, penumpang-penumpang yang lain juga tidak “gagal keluar” sebagaimana saya. Berarti mesin tidak mengalami gangguan ataupun kerusakan. OK, saya menyerah dech, tidak tahu lagi apa yang telah terjadi.

Saya  menyimpulkan sayalah seorang penumpang yang bermasalah tidak bisa keluar dari peron. Mau lapor dan meminta bantuan kepada petugas, jelas saya ragu bagaimana memberikan penjelasan kepada mereka dengan komunikasi bahasa yang tidak bisa dipahami satu sama lain. Saya hanya mencoba menganalisa dan membuat sebuah hipotesis. Mungkin saya telah salah membeli tiket ketika di stasiun Shinosaka. Tidak sebagaimana tiket busway Transjakarta yang memiliki tarif sama untuk tujuan jauh dekat, mungkin tiket kereta di Jepang memiliki tarif yang berbeda-beda tergantung jarak stasiun tujuan. Semakin jauh tujuan, maka harga tiketnyapun semakin mahal. Inilah barangkali fungsi banyaknya pilihan harga tiket yang muncul pada menu di mesin tiket. Tiket seharga 230 yen hanya berlaku untuk perjalanan dari stasiun Shinosaka hingga Omeda. Jika perjalanan lebih dari stasiun Omeda yang sengaja saya lewati, berarti harga tiket yang harus dibayar lebih mahal. Dengan tiket yang murah inilah berakibat, mesin pemindai mau “menelan” tiket saya tetapi tidak mau membukakan palang portal keluar peron.

Akhirnya saya memutuskan untuk balik kembali ke stasiun Omeda dengan membeli tiket baru. Keinginan untuk dolan ke kawasan yang menjajakan souvenir khas Osakapun kandas tak berbekas. Kesimpulan “nakal” saya merumuskan kita dapat membeli harga tiket berapapun dan naik kereta apapun sepuas-puasnya di Jepang, tetapi belum tentu kita bisa keluar dari palang peron stasiun kereta. Bukankah demikian?

Ngisor Blimbing, 2 Februari 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s