Mendadak Kandang Sapi


Hidup dalam lingkungan tinggal yang asri, bersih, dan sehat tentu menjadi dambaan setiap orang. Papan merupakan kebutuhan primer ketiga, setelah pangan dan sandang yang menjadi hal yang mutlak harus dipenuhi. Tidak perlu luas, megah, dan mewah, tetapi yang kecil nan sederhana, namun bisa memberikan keteduhan dan  ketentraman jiwa raga para penghuninya sudah merupakan sebuah kenikmatan hidup yang tiada tara. Inilah sebuah rumah yang memenuhi fungsi tempat tinggal yang layak. Rumah yang membuat setiap penghuni di dalamnya merasakan sebuah surga di dunia nyata. Itulah makna baiti jannati, sebagaimana dicontohkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad lebih dari 7 abad silam.

KandangSapi

Di jaman modern saat ini, segala hal biasa diukur dengan uang. Ono rego ono rupo! Demikian halnya dengan rumah tempat tinggal. Rumah yang luas, lengkap dengan halaman dan pekarangan yang luas pula, tentu membutuhkan pengorbanan uang yang tidak sedikit pula. Walhasil, bagi keluarga baru dengan pendapatan pas-pasan ya harus terima dengan tipe rumah yang serba pas-pasan pula. Ukuran rumah pas-pasan. Ruangan rumah pas-pasan. Dapur pas-pasan. Kamar tidur pas-pasan. Kamar mandipun pasti pas-pasan. Soal halaman luas dan pekarangan luas, wis lupakan saja! Lha wong tinggal di perumahan sempit yang serba empet-empetan alias desak-desakan.

Masih mending jika tinggal di sebuah perumahan baru, syukur-syukur yang modern. Segalanya lebih teratur dan tertata dengan rapi. Ukuran dan tata letak masing-masing rumah biasanya seragam, memberikan kesan apik. Termasuk keberadaan jalanan atau akses gang masuk yang terenacana dengan lurus lengkap dengan sistem drainase yang bagus. Hal yang sama seringkali tidak dijumpai di lingkungan tinggal yang terletak di tengah perkampungan yang tumbuh kembang secara alamiah, tanpa sentuhan pengembang pembangunan perumahan. Kampung tumbuh sesuka-sukanya para penghuninya. Orang yang kaya dan memiliki pekarangan luas bisa saja membangun rumah yang besar, berhalaman luas, dengan lingkungan pekarangan yang asri dengan berbagai pohon buah-buahan.

Namun demikian, kondisi yang serba ideal menurut pandangan sebuah keluarga bisa saja tiba-tiba berubah karena tidak ada jaminan bahwa tetangga pemilik tanah di samping rumah akan mempertahankan kondisinya selalu. Setiap ada kepentingan dan keperluan dari orang lain, maka kondisi lapang, luas, lega, asri, rindang nan teduh tentu akan berubah tanpa ada yang bisa menghalangi karena semua berlangsung atas nama hak kepemilikan dan penggunaan tanah. Akhirnya, lama-kelamaan pemukiman yang luas itupun menjadi kian menyempit, padat dan bahkan mungkin menjadi perkampungan yang semrawut, tidak teratur, atau mungkin kumuh.

Apa yang kira-kira Sampeyan pikirkan jika tiba-tiba saja di pekarangan kosong samping rumah yang semula luas, rindang dan teduh  dijadikan sebuah pemakaman keluarga? Mimpi apa semalam jika dalam sekejap waktu kita jadi bertetangga dengan mayat.  Bahkan akses jalananpun kemudian berubah, atau malah tidak menyisakan jalan untuk para tetangga. Apakah hal ini sudah menjadi urusan mutlak pemiliki tanah untuk  menggunakan miliknya untuk kepentingan apapun, tanpa memikirkan perasaan dan kepentingan tetangganya? Tidak mustahil hal demikian memicu keresahan warga.

KandangSapi2Bagaimana pula seandainya di batas rumah Anda, tepat di sisi tembok rumah tiba-tiba saja berdiri kandang sapi? Anda bisa bayangkan seandainya kandang sapi tersebut kemudian tidak dipelihara kebersihannya dengan baik. Tlethong, alias kotoran sapi tercecer dan berserakan  dan menimbulkan aroma bau yang sangat tidak sedap dan mengganggu hidung, bahkan tatkala akan makan dan tidur beristirahat? Tidak hanya terhenti di situ, jika kemudian dari kandang itupun merembes cairan kotoran yang kemudian mencemari air  tanah hingga air sumur semua tetangga di sekitarnya? Ketidakyamanan akan menyebar ke seluruh kampung.

Sebagai ummat beragama, sebenarnya kita pasti diajarkan mengenai bagaimana bertengga yang baik. Masing-masing pihak sejatinya memiliki hak dan kewajiban yang harus dihormati satu sama lain. Bahkan dalam menggunakan dan memanfaatkan setiap harta benda yang kita miliki sendiripun, di sana selalu terdapat pertimbangan untuk tidak mengganggu hak orang lain. Membangun kandang sapi di samping rumah orang lain memang hak pemilik tanah pekarangan, akan tetapi adalah hak tetangganya itu pula untuk tidak menikmati bau tidak sedap dan pemandangan yang kumuh dan kotor, termasuk hak air sumur yang dimilikinya tidak tercemar.

Rumah yang layak memerlukan beberapa persyaratan, diantaranya konstruksi, fungsionalitas, estetika, kesehatan dan lingkungan sosial kemasyarakatan. Rumah harus dibangun dengan konstruksi yang kuat dan kokoh, sehingga dapat bertahan dari terpaan angin, hujan, sinar matahari, bahkan guncangan gempa. Rumah yang kuat dan kokoh tidak harus dibangun dengan teknologi dan bahan bangunan yang modern. Nenek moyang kitapun telah banyak memberikan contoh bangunan sederhana yang justru tahan terhadap guncangan gempa bumi dahsyat.

Rumah juga harus memiliki fungsionalitas dari bagian-bagian ataupun ruang-ruang untuk terselenggaranya kegiatan kerumahtanggaan. Paling tidak, sebuah rumah memerlukan adanya ruang tamu, ruang tidur, ruang dapur dan kamar mandi atau wc. Tentu akan jauh lebih baik lagi bila ditambah dengan ruang penunjang yang lain, seperti ruang keluarga, ruang ibadah, ruang gudang, atau mungkin sebuah garasi. Semakin banyak ruang di dalam suatu rumah tentu memberikan konsekuensi  luasan rumah yang semakin besar pula. Di jaman yang serba mahal sekarang tentu untuk memiliki rumah yang serba lengkap, sangat sulit untuk diwujudkan, kecuali oleh orang-orang yang memiliki kekayaan banyak untuk membangun rumah. Pilihan logis untuk orang pada umumnya di jaman kini adalah konsep rumah minimalis.

Meskipun sebuah rumah dibangun dengan serba minimalis, namun paling tidak persyaratan minimalis sebagaimana diuraikan di atas bisa dipenuhi. Bangunannya kokoh dan kuat. Memiliki ruang-ruang yang memenuhi kebutuhan pokok penghuninya. Dibangun dengan sentuhan seni dan arsitek yang membuat betah. Berada di lingkungan yang bersih dan sehat, serta tentu saja pada kawasan lingkungan sosial yang baik. Jika syarat ini terpenuhi, meskipun ukuran rumah sempit di perumahan yang serba sederhana, namun penghuni akan krasan dan merasakan keteduhan sebuah hunia yang dapat menginspirasi serta menyemangati para penghuninya untuk melakukan aktivitas keseharian dan berkarya.

 Ngisor Blimbing, 24 Januari 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Ngisor Blimbing dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s