Merayakan Perayaan Cap Go Meh


Imlek dengan rangkaian ritual Cap Go Mehnya mungkin baru bisa dikenal secara terbuka oleh masyarakat luas setelah masa reformasi. Semenjak pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, keberadaan komponen masyarakat yang berbeda etnis justru dipertajam dengan pengelompokan kelas masyarakat menjadi warga Eropa, Timur Jauh (China dan India), Arab, dan bumiputera. Pembagian kelas ini secara sengaja dilakukan untuk memudahkan pengawasan dan pengendalian, sesuai dengan prinsip politik pecah belah (devide et impera). Maka semenjak itu pula, masyarakat kita senantiasa terkotak-kotak dalam suku dan etnis, dimana satu sama lain saling tidak ada keterbukaan secara sosiologi budaya. Semua harus menjalani penyeragaman asas atas nama Pancasila dan NKRI di masa Orde Baru.

KlentengMgl KlentengMgl2 KlentengMgl1 KlentengMtl5

Adalah Abdurahman Wahid, begawan bangsa yang konon memang keturunan dari Putri Campa, membuka pintu pluralitas dengan secara formal mengakui keberadaan kaum China dengan segala keyakinan dan budayanya. Imlek dan Cap Go Meh kemudian diperingati secara lebih terbuka dan meluas hingga memunculkan suatu tradisi perayaan yang khas Nusantara. Imlek dan Cap Go Meh menjadi event budaya milik bersama. Perayaan ini menjadi pengikat kebersamaan. Bahwa kita berbeda itu sudah pasti, tetapi dalam perbedaan itu kita temukan keindahan.

Menyadari betapa pentingnya memperkenalkan keberagaman keyakinan dan budaya diantara anak bangsa kepada anak-anak, maka hampir pada setiap peringatan Imlek – Cap Go Meh, tak lupa saya giring si Ponang untuk ambyur, turut melebur dalam kemeriahan perayaan Cap Go Meh. Setelah beberapa tahun menikmati Go Xi Fhat Choi di Klenteng Liong Hok Bio Magelang, maka giliran tahun ini kami sengaja ingin mengenal detik-detik Cap Go Meh di daerah Tangerang Kota. Pilihan kami jatuh kepada Klenteng Boen Tek Bio yang berada di Jalan Bakti No.14 Kawasan Pasar Lama, Tangerang.

BoenTekBio2 BoenTekBio1

Konon klenteng ini merupakan salah satu klenteng tertua di Indonesia dengan usia melebihi empat abad. Pikiran saya langsung membayangkan, peringatan Cap Go Meh di klenteng ini tentu akan sangat meriah. Ada tarian barangsoi yang energik dengan kegesitan, keceriaan, serta kelucuannya. Ada pula si liong naga panjang yang beraksi meliuk-liuk diiringkan tabuhan genderang, pukulan gong datar dan kemerincing simbal yang beradu berisik. Pasti akan sangat luar biasa. Saya terus terang memiliki ekspetasi kemerihaan Cap Go Meh di Klenteng Boen Tek Bio pastinya jauh lebih meriah daripada Klenteng di Magelang.

Memasuki jalan serong di tepian Kali Cisadane yang merupakan gerbang utama Jalan Bakti, kami tidak menemukan tanda-tanda gemerlapnya sebuah persiapan perayaan. Tidak ada umbul-umbul, spanduk, aneka ukuran lampion gantung, apalagi pohonan sakura yang dihiasi ribuan amplop angpau ataupun lampu hias warna-warna. Semua nampak biasa-biasa saja. Bahkan Jalan Bakti yang memang sempit itu, nampak tidak dipoles atau dihias sama sekali, sekedar spanduk ucapan selamat tahun barupun sangat minim.

CapGoMehMgl1 CapGoMehMgl2

CapGoMehMgl3 CapGoMehMgl4

CapGoMehMgl5 CapGoMehMgl6

Dan memang benar, ternyata kami kecelik dengan ekpetasi yang terlalu muluk. Tepat di depan gerbang klenteng masih penuh sesak dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya. Kesan sempit, semrawut, semakin mempertegas bahwa tidak ada satu persiapan apapun akan adanya sebuah perayaan Cap Go Meh. Memang di dalam area klenteng penuh sesak dengan para jamaah, namun mereka memang secara khusus hanya melakukan ritual sembayangan. Sekali lagi tidak ada tanda persiapan sebuah perayaan apalagi suatu karnaval sebagaimana di klenteng lain.

Akhirnya kami serombongan hanya mengikuti arus jamaah yang tengah khusuk bersembahyang. Kami sekedar keliling ke bagian bangunan samping yang melingkari altar persembahyangan utama di bagian tengah. Di samping kanan dan kiri altar utama terdapat beberapa ruang dengan pintu berbentuk relung lingkaran yang di dalamnya terdapat patung para dewa. Saya sendiri sama sekali tidak paham, mana yang Dewa Bumi, Dewa Langit, Dewa Matahari, ataupun dewa-dewa yang lain. Yang jelas kami menyaksikan para jemaah melakukan persembahan dengan membakar hio merah yang menimbulkan aroma sangat khas, bahkan menusuk hidung setiap pengunjung.

BoenTekBio3 BoenTekBio4

Akhirnya kami mencukupkan kunjungan ke Klenteng Boen Tek Bio. Selepas keluar, kami sengaja menyusuri gang-gang di sekitar kawasan Pecinan atau yang lebih dikenal sebagai daerah Pasar Lama. Meskipun bangunan rumah di perkampungan sekitar klenteng umumnya merupakan bangunan tua, tetapi masih nampak terpelihara dengan baik. Namun ada pasar tumpah di gang atau jalan yang menghubungkan lokasi klenteng dengan Pasar Lama yang justru semrawut, kurang tertata, dan nuwun sewu, becek habis!

Keluar dari daerah Pasar Lama dengan menyusuri jalanan yang sejajar dengan jalur rel kereta api, petualangan berlanjut ke Pasar Anyar. Pasar yang terbesar dan menjadi pasar induk di Kota Tangerang ini nampak sangat padat dikunjungi warga masyarakat. Namun sebagaimana ciri khas pasar tradisional di kota-kota besar yang kotor, semrawut dan tidak tertata, kesan itupan nampak pula di Pasar Anyar ini. Selepas Pasar Anyar, perjalanan kami lanjutkan dengan becak menuju ke Masjid Raya Al Azhom di seputaran kompleks Balai Kota Tangerang.

AlAzhom BalaiKotaTangerang

Masjid Al Azhom merupakan masjid terbesar di wilayah Kota Tangerang. Keunikan masjid ini adalah mustoko atau kubah masjid yang bertingkat dan memiliki diameter lebih dari 50 m. Dengan dominasi warna krem hijau, sisi kanan-kiri dan depan masjid dipenuhi dengan pilar bulat yang memiliki dua fungsi ganda, sebagai penopang struktur bangunan dan sekaligus untuk penghias. Di halaman masjid yang cukup luas, terhampar dengan rindangnya beberapa pohon peneduh, mulai dari palem, kurma, hingga beberapa jenis pohon buah-buahan. Satu hal yang kini agak kami sayangkan adalah keberadaan bedug raksasa di sisi utara masjid yang kini sudah “dikerangkeng”, sehingga tidak ada lagi anak-anak yang datang mendekat dan bermain ria di sekitar bedug.

Selepas turut menjalankan sholat Dzuhur di Masjid Al Azhom, rombongan kecil kami melanjutkan petualangan ke Bale Kota mall. Di sanalah kami justru baru bisa menemukan aksi Barongsai dan Lion. Secara kebetulan, peringatan Cap Go Meh di mall yang masih baru ini, dirayakan dengan gelaran acara Festival Cap Go Meh. Dalam perayaan di mall ini turut hadir Ibu Hj. Sintia Abdulrahman Wahid yang merupakan tokoh penerus nilai pluralisme yang diwariskan suaminya.

MallBaleKota

Pluralitas adalah sebuah kasunyatan alias fakta kehidupan yang telah digariskan oleh Sang Pencipta. Ada Jawa, ada China, ada Eropa, Amerika, Afrika dan lainnya. Ada pula Islam, Kristen, Hindu, Budha, Kong Hu Chu, Shinto dan sebagainya. Urusan agama memang hal sangat privasi dan sering disebut sebagai hak asasi manusia yang paling asasi. Masing-masing orang memiliki kebebasan untuk menjalankan agama sesuai dengan kepercayaan yang diyakini. Namun demikian dalam mengekspresikan kebebasan tersebut secara eksternal, maka nilai saling menghormati, menghargai dan toleransi harus dijunjung tinggi dalam rangka menciptakan kehidupan sosial kemasyarakatan yang harmonis.

Ngisor Blimbing, 24 Februari 2013

Foto-foto Cap Go Meh Magelang dari Pak Widoyoko Magelang.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Merayakan Perayaan Cap Go Meh

  1. Agus Mulyadi berkata:

    Welha, Cap Go Meh’e versi plural nek iki, ono Jathilan lan Buto’ne barang.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s