Hilang di Negeri Jepang


Siang itu adalah hari terakhir saya di Osaka. Keesokan paginya harus mruput kembali ke tanah air melalui Osaka Airport. Kebetulan agenda kegiatan dalam rangka JENESYS Programme sudah berakhir, praktis masih ada waktu setengah harian untuk menikmati Osaka terakhir kalinya. Beberapa rekan memilih untuk pergi berkereta api ke Yokohama untuk berziarah ke peradaban tua Jepang pra kepindahan ibukota ke Tokyo. Sementara saya lebih memilih untuk menikmati sudut-sudut Osaka yang unik.

StasiunOsaka

Osaka adalah salah satu kota utama di Jepang. Osaka termasuk kota yang mengalami dampak parah akibat gempa dahsyat pada era tahun 90-an. Osaka bergerak dinamis menjadi kota yang sangat modern. Namun ada satu kebiasaan dan tradisi yang tidak pernah hilang seiring perubahan jaman. Jika di daerah Jepang yang lain, sebagaimana umumnya di seluruh penjuru dunia, orang yang berjalan di tempat umum selalu berada di jalur sebelah kiri, maka di Osaka justru orang berjalan di sebelah kanan. Setiap orang asing yang datang ke kota ini senantiasa menyesuaikan diri dengan kebiasaan tersebut. Dengan demikian justru orang luarlah yang selalu hormat dan respect terhadap kearifan lokal masyarakat Osaka tersebut dengan cara mematuhinya.

Hingga hari-hari terakhir di negeri Matahari, saya masih kepikiran untuk mendapatkan miniatur kereta Shinkanshen, si kereta supercepat. Saya pikir karena si Ponang sangat menyukai dunia kereta Thomas di pulau Sodhor, maka ia pasti akan sangat senang jika mendapatkan hadiah tersebut. Selama beberapa hari melanglang Jepang dari Tokyo hingga Kyushu, eee…. ternyata kok belum rejeki berjodoh ketemu dengan miniatur Shinkanshen tersebut. Maka berbekal informasi mengenai sebuah toko di dekat Stasiun Shinosaka yang diberikan oleh Hiro san, saya bulatkan tekad untuk memburunya seorang diri.

StasiunOsaka1Kereta api merupakan sarana transportasi massal yang sangat handal di negeri Sakura, termasuk tentunya di Osaka. Dari pusat kota, melalui jalur bawah tanah saya menuju Stasiun Omeda. Dengan tiket 230 yen, akhirnya saya sukses mengikuti kereta subway JR Line yang akan berhenti di stasiun akhir Shinosaka. Dengan bermodalkan sebuah alamat toko yang saya catat di sehelai kertas dan potongan kopian sebuah peta, saya mulai pengembaraan yang sedikit mendebarkan tersebut. Untuk lebih meyakinkan diri, sebelumnya tentu saya sempatkan untuk searching  melalui internet. Dengan demikian saya sudah memiliki gambaran tempat yang akan dituju.

Turun dari kereta saya ikuti jalur keluar stasiun. Untuk lebih meyakinkan diri, saya mencoba bertanya kepada petugas keamanan di pintu keluar stasiun. Saya tunjukkan kertas alamat yang saya tuju. Sayangnya tulisan tersebut menggunakan huruf latin, yang ternyata tidak banyak penduduk lokal yang terbiasa menggunakannya, termasuk Pak Satpam. Ketika saya mencoba berkomunikasi dengan bahasa Inggrispun, Pak Satpam tidak juga paham. Akhirnya ya pakai bahasa Tarzan, alias isyarat tubuh sekenanya.

Akhirnya Pak Satpam mengangguk-angguk. Saya pikir ia paham dengan alamat yang saya maksudkan. Dalam bayangan benak sayapun, alamat yang diberikan Hiro san tersebut masih berada di sekitar areal stasiun Shinosaka. Pak Satpam segera mengajak saya berjalan ke suatu tempat. Saya hanya mbatin, baik benar Pak Satpam mau repot-repot menunjukkan alamat yang saya tuju secara langsung. Mestinya cukup diberikan ancer-ancer arahnya saja sudah cukup.

Dari jalur tepian parkir di sisi stasiun, saya mengikuti langkah Pak Satpam yang bertubuh tinggi besar tersebut. Beberapa kelokan, saya dibawa masuk kembali ke dalam stasiun. Apa mungkin tokonya justru di dalam areal stasiun ya? Demikian pertanyaan yang berkecamuk di dalam dada.

StasiunOsaka2Setelah beberapa belokan lorong, sampailah kami di sebuah ruangan kotak besar berdinding kaca. Lho apa begini tokonya! Akhirnya saya dibawa memasuki ruang kotak kaca tersebut. Pak Satpam berbincang dengan seorang mbak-mbak petugas di situ. Dia langsung memasrahkan saya kepada mbak tersebut untuk kemudian segera keluar meninggalkan kami. Saya hanya bisa sekedar membungkukkan punggung untuk berterima kasih.

 Hmmm…..barulah saya sadar ternyata ruang kaca yang saya masuki ini bukannya sebuah toko mainan ataupun souvenir. Justru kini saya tengah berada di ruang informasi. Saya jadi merasa seperti orang yang tersesat. Dengan ramah dan bahasa Inggris sepotong-potong si Mbak berusaha membantu. Saya sodorkan secarik kertas yang berisi alamat tujuan yang saya cari, sebuah toko mainan atau souvenir yang menjual Shinkanshen mini. Diapun akhirnya membuka peta besar di atas meja. Dia mengatakan bahwa dia tidak mengerti secara detail alamat yang satu tuju. Akan tetapi ia dapat menunjukkan arah jalan yang harus saya tempuh, dan ancer-ancer gang dan perkampungannya.

Wuaduuh, saya menjadi sedikit pening. Berarti tempat tujuan itu berada di luar area stasiun. Saya mesti berjalan beberapa blok dari stasiun menuju sebuah area. Tanpa babibu saya mencoba mengingat petunjuk arah yang diberikan Mbak Inforwoman. Saya mohon diri dan mengucapkan arigato!

Sebenarnya saya justru menjadi semakin kurang yakin dengan keterangan si Mbak tadi. Saya berjalan di tempat asing seorang diri, tanpa tahu arah utara selatan, hanya bermodal sebuah alamat. Keraguan saya bertambah tebal dikarenakan suhu udara di luar sangat dingin kala itu, bahkan mencapai -10C. Tidak terbayangkan betada sangat dinginnya. Lha wong di area dalam stasiun yang memakai penghangat ruangan saja saya masih merasakan kedinginan. Padahal yang sudah krukupan jaket, menggunakan kaos tangan tebal dan bertopi. Namun kembali saya menguatkan tekad, demi si Thole! Masak saya harus menyerah! Sudah terlanjur basah, saya harus terus maju!

Akhirnya saya keluar dari area stasiun. Saya segera tengok kanan, tengok kiri untuk mengenali jalur-jalur yang mesti saya tempuh berdasarkan petunjuk si Mbak tadi. Perlahan saya langkahkan kaki menembus hawa udara dingin yang menusuk tulang. Beberapa gang saya masuki, beberapa blok saya lalui, namun kok tidak ada tanda-tanda hadirnya sebuah pusat pertokoan atau perbelanjaan, bahkan sekedar ruko-ruko kecilpun tidak saya temukan. Saya justru menjumpai area pemukiman dan perkampungan yang cukup padat.

Di sebuah tepian jalan saya lihat ada seorang pemuda sedang menunggu seseorang sambil menikmati sebatang rokok. Saya mencoba bertanya kepadanya dengan bahasa Inggris. Dengan terbata-bata ia hanya menjawab I’m sorry. Saya terus berjalan dan mengitari beberapa blok hingga beberapa kali. Seolah saya semakin tersesat di dunia asing. Tanpa  ada orang yang dapat saya andalkan untuk bertanya. Bahkan di sekeliling, di atas, sisi kanani dan kiri jalanpun tidak ada tulisan yang yang dapat saya kenali. Hanya gambar-gambar iklan dan juga gambar tulisan kanji. Jadi sekedar rambu ataupun petunjuk arah tidak dapat saya pahami.

Di seberang sebuah bangunan besar yang saya kira sebuah sekolah, saya melihat seorang nenek-nenek memasuki semacam sebuah pos perondaan. Para penghuni pos tersebut mengenakan seragam tertentu. Saya memang sama sekali tidak paham tentang seragam Polisi Jepang, kecuali Polisi lalu lintas yang mudah dikenali. Namun saya memperkirakan bahwa pos tersebut adalah pos kepolisian, dan si nenek adalah orang tua pikun yang tersesat jalan pulang ke rumahnya. Sayapun baru sadar, bahwa saya sama dengan si nenek tua, mejadi orang yang “tersesat”. Dan ini pertama kalinya saya masuk kantor Polisi karena “tersesat”.

Kurashiwa

Setelah keperluan si nenek tua selesai. Giliran seorang Polisi mulai “mengintograsi”. Saya tunjukkan secarik kertas yang bertuliskan alamat tujuan yang saya cari.  Saya mencoba menjelaskan dengan bahasa Inggris, sangat pelan sekali. Namun, duh Gusti, ia tidak paham! What’s going on? Seorang Polisi Jepang tidak paham bahasa Inggris! Luar biasa memang rasa nasionalisme bangsa Jepang terkait dengan bahasa ibu mereka dan juga soal tulisan kanjinya.

Akhirnya Polisi yang lain menengahi. Ia segera membawa saya mendekat ke sisi dinding. Di sana terpampang peta daerah tersebut yang berukuran sangat besar dan detail. Dengan pentungannya ia menunjuk-nunjuk peta. Kurang lebih yang bisa saya pahami, You’re here now. This address (sambil menunjuk ke kerta kecil saya), there! Jadi saya harus balik dua blok, belok kiri beberapa gang. Saya pun mencoba mengangguk-angguk berusaha paham. Ada secercah sinar petunjuk yang terang saat itu. Sayapun berterima kasih kepada dua Polisi itu dan segera keluar dari pos mereka.

Sesuai dengan petunjuk dari Pak Polisi, saya telusuri balik blok yang telah saya lewati. Saya belok kiri, melintasi beberapa gang sebagaimana ditunjukkan Pak Polisi. Saya  begitu yakin dengan petunjuk kedua petugas resmi yang memang bertugas membantu kepentingan masyarakat tersebut. Namun setelah sekian menit berjalan, bahkan hingga setengah jaman, saya kok tidak menemukan toko yang saya cari. Saya sendiri sudah tidak paham berapa blok, gang dan berapa kilo jalan yang telah saya susuri sambil menggigil kedinginan di bawah suhu yang sangat ekstrim menurut ukuran gunung Merapi.

Akhirnya dengan segala rasa berat hati, saya putuskan untuk menyerah kepada keadaan. Niat hati mencari oleh-oleh istimewa untuk si buah hati, namun apa daya Tuhan menggariskan hal lain. Yang terpenting bahwa saya telah berusaha hingga titik optimal. Saya yakin saya tidak akan menyesal dan si Ponangpun tidak akan terlalu merengek mempersalahkan bapaknya. Meskipun saya berada di daerah yang asing, tidak tahu arah utara-selatan, namun sesungguhnya saya tidak kehilangan orientasi untuk kembali ke arah stasiun. Jadi saya hanya mengalami  “tersesat” yang terbatas.

StasiunOsaka3Saya putuskan untuk kembali ke stasiun saja. Saya bergegas mengikuti jalur yang dapat saya kenali di peta. Beberapa blok menjelang stasiun, saya sudah dapat melihat gerbang menara stasiun yang memandu dan semakin memudahkan langkah kaki. Gerbang stasiun Shinosaka kembali saya masuki. Sambil menuju loket untuk membeli tiket kembali ke Omeda, saya tebarkan pandangan mata ke kanan dan ke kiri. Saya sudah tidak memikirkan lagi soal Shinkanshen mini.

Stasiun Shinosaka termasuk stasiun yang sangat ramai di Osaka. Ratusan ribu orang berlalu-lalang setiap saat hingga membuat stasiun tidak pernah tertidur sehari semalamnya. Di samping melayani transportasi lokal, stasiun tersebut juga menjadi titik kedatangan dan keberangkatan kereta antar kota di Jepang. Bahkan salah satu jalur kereta di stasiun ini dikhususkan untuk kereta supercepat Shinkansen. Maka tidak terbayangkan betapa sibuknya stasiun ini melayani semua pelanggannya.

Tengok kanan, tengok kiri saya menemukan sebuah toko souvenir yang banyak menjajakan souvenir mini khas Jepang, seperti gantungan kunci, tempelan magnet, sumpit kecil, kipas, dan lain-lain. Sayapun sempatkan mampir toko kecil tersebut. Saya bolak-balik ingin sekedar melihat. Siapa tahu ada barang unik yang murah dapat saya beli. Beberapa sudut toko saya amati. Jagad dewa batara! Saya melihat miniatur Shinkanshen! Eureka! Eureka! Demikian gejolak batin saat itu! Pucuk dicinta ulampun akhirnya tiba! Saya benar-benar merasakan bahwa Tuhan mengirimkan keajaibannya. Setelah blusukan yang membuat “tersesat”, justru Tuhan ngetokke mata dengan tiba-tiba dan melalui cara yang tidak terduga.

Tanpa ragu saya beli Shinkansen mini seharga 1.000 yen tersebut.

Ngisor Blimbing, 27 Januari 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , . Tandai permalink.

8 Balasan ke Hilang di Negeri Jepang

  1. Foto miniatur keretanya mana mas?

    Suka

  2. maemo berkata:

    ketemu tho akhire mas…

    Suka

  3. Agus Mulyadi berkata:

    Nek tukune Miniatur Shinkansen ng Osaka, Insya Alloh mesti oleh’e kang, tapi jajal nang Osaka sing meh dituku miniatur “Santoso”, nganti mribit ra bakal ono “Eureka”, hehehe

    Suka

  4. ikhsan berkata:

    Ponang mesti seneng yo mas 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s