Mampir ke Pinggir Lumpur Lapindo


Lapindo1Danau air, ada di banyak tempat. Danau lumpur? Mungkin yang terdekat dengan kita ya lumpur Lapindo di Sidoarjo. Kisah tragis itu berawal di pertengahan tahun 2006. Akibat entah karena kegagalan teknologi atau faktor kesalahan manusia, hingga kini masalah itu tidak pernah menjadi kian jelas. Namun yang jelas, ribuan kepala keluarga dan barangkali ratusan ribu warga Sidoarjo di tiga kecamatan kehilangan kehidupan dan penghidupannya. Mereka terpaksa terusir dari kampung halaman tercinta. Semua terkubur di dalam lautan lumpur. Rumah, sawah, kebun, pekarangan, toko, ruko, pabrik, sekolah, hingga kuburan dan segala kenangan mereka terkubur menjadi penghuni dasar danau lumpur. Lapindo adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang masih tetap belum berakhir.

Sekian lama mendengar kisah nestapa para sedulur yang menjadi korban tragedi teknologi ini, baru di paruh Februari tahun ini saya sempat mampir di pinggir tanggul danau lumpur Lapindo di sisi tepi Jalan Raya Porong. Hari masih pagi namun matahari telah terik memancarkan sinar emasnya. Tanggul itu hanya terbuat dari urukan tanah yang dipadatkan dan sewaktu-waktu dapat longsor ataupun ambrol. Bencana sebesar ini seolah hanya ditangani dengan cara-cara instan yang tidak memberikan solusi permasalahan yang lebih permanen.

Di sisi depan tanggul sengaja dibuat anak tangga dari papan dan kayu sebagai jalur naik-turun para pengunjung yang ingin menyaksikan secara langsung danau lumpur terbesar di Indonesia ini. Beberapa tokoh pemuda yang kampung halamannya tenggelam di tengah danau, seperti Siring, sengaja memungut sekedar uang parkir kendaraan kepada pengunjung untuk sedikit meringankan beban penderitaan yang mereka alami.

Lapindo3Tepat di atas tanggul, kita disuguhi pemandangan hamparan danau lumpur yang sangat luar biasa luasnya. Bayangkan, luasan areal hampir tiga kecamatan tenggelam di dasar lumpur. Bagi warga masyarakat asli Porong atau bahkan bagi para korban, lautan lumpur itu tentu saja memendam banyak kesedihan, kekecewaan, kekesalan, bahkan kemarahan. Bagaimana tidak, hingga kini proses ganti rugi lahan dan harapan mereka tidak kunjung segera tuntas. Semua masih mengambang dalam ketidakjelasan. Sejauh ini peran pemerintah untuk mengayomi dan melindungi mereka juga terasa kurang sungguh-sungguh. Mau tidak mau mereka harus bertahan dan berjuang untuk melanjutkan kehidupan dan masa depannya masing-masing.

Tanggul-tanggul rapuh itu seakan menjadi saksi entah hingga kapan tragedi Lapindo akan terus berlangsung. Tanggul selebar lima hingga delapan meter itu sekaligus dimanfaatkan sebagai akses jalan antar seberang danau. Sebentar-sebentar, dalam hitungan lima-sepuluh menit akan dijumpai motor ataupun sepeda onthel yang melaju di atas tanggul. Mereka seakan sudah membiasakan diri dengan kondisi itu, bahkan seakan tidak menghiraukan kemungkinan longsoran ataupun jebolnya tanggul padatan tanah yang rapuh itu.

Lapindo2Di samping memungut jasa parkiran dan sekedar karcis masuk, beberapa kelompok warga korban Lapindo dengan segala keterbatasan mencoba menggali kreativitasnya dengan membuat rekaman dan dokumentasi kisah tragedi Lapindo yang dikemas dalam CD. Sekedar nulung mbantu dan merasakan lebih dekat penderitaan sedulur kami Mas, demikian mereka mencoba meyakinkan pengunjung untuk membeli dagangan kecil mereka. Cara ini tentu saja lebih bermartabat dan terhormat dibandingkan apabila mereka menjadi peminta-minta di pinggiran jalanan. Di samping mereka enggan menjadi pengemis karena mental mereka memang bukan mental pengemis, mereka sadar bahwa cara itu akan memacetkan arus lalu lintas yang dapat merugikan kepentingan orang yang lebih banyak. Mereka memang manusia bermartabat.

Memandang ke sisi bawah tanggul, terhampar ribuan rumah suwung tanpa penghuni. Sepanjang jalan utama Porong memang telah menjadi kota ataupun desa mati. Rumah-rumah itu telah kosong karena sengaja dikosongkan oleh para penghuninya. Meskipun tanggul masih memagari kampung mereka tidak tenggelam ke dasar danau, akan tetapi perkampungan mereka menjadi titik-titik bocoran gas beracun dan berbahaya, seperti methana. Akibat bocoran gas itu, tidak saja ancaman keracunan dan kebakaran yang sangat mungkin timbul, mereka juga ditakutkan oleh kemungkinan amblesnya tanah di sekitar mereka. Banyak kejadian tanah dan bangunan ambles hingga kedalaman 1-2 meter.

Lapindo4Seperti apakah kondisi bawah tanah sekitar jalan Porong itupun tidak ada satu ahlipun yang bisa memastikannya dengan akurat. Jalanan dan rel kereta api yang telah ditinggikan hingga 1,5 – 2 meter masih terus mengalami instabilitas, bahkan jalanan raya sudah banyak lubang dan retakan yang diakibatkan terjadinya amblesan. Lambat laun kondisi tersebut tentu akan sangat membahayakan kendaraan dan para pengguna jalan. Mengantisipasi hal tersebut, pemerintah setempat dengan dukungan berbagai pihak kemudian menggagas pembangunan jalan alternatif yang melingkar di jauh sebalah sisi barat. Target para pelaksana proyek, pertengahan Maret jalan tersebut dapat dioperasionalkan. Mudah-mudahan jalan tersebut dapat sedikit memperlancar arus lalu lintas dan transportasi lintas Jawa Timur di sisi timur dan bagian selatan sebagai urat nadi perekonomian yang sangat vital itu.

Jauh di bagian tengah masih nampak asap mengepul dan membubung tinggi sebagai penanda titik utama semburan lumpur yang memiliki laju aliran lebih dari 100.000 meter kubik per harinya. Kepulan asap menggumpal dan bergulung-gulung itu mengingatkan kepada erupsi wedhus gembel-nya gunung Merapi. Namun bila sedahsyat apapun gumpalan awan panas Merapi, proses erupsi itu hanya berlangsung satu-dua bulan. Sebaliknya semburan lumpur Lapindo? Sampai kapan semburan itu akan berakhir, belum ada yang mampu menjawabnya dengan pasti. Semoga Tuhan segera memberi solusi permasalahan lumpur maut tersebut hingga tidak timbul ketidakmenentuan nasib korban yang semakin berlarut-larut.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s