PKS dan PSK


LHIKita semua tentu paham dengan pemberitaan mengenai kasus suap impor daging sapi yang melibatkan seorang pucuk pimpinan partai. KPK dengan pendalaman dan petunjuk indikasi bukti awal berhasil menangkap transaksi suap di sebuah hotel besar. Yang lebih menghebohkan di samping transaksional dengan uang, dalam kasus tersebut juga ada unsur gratifikasi dengan mengumpankan perempuan muda. Lalu apa hubungan antara perempuan muda dengan sapi ya?

Kenapa kok yang diumpankan di hotel itu bukan sapi betina? Kan sama-sama putih dan mulusnya. Kalau sapi yang dibawa masuk ke kamar hotel, menurut saya itu baru berita super luar biasa! Tapi ya itu terlampau mengada-ada lah Kang?

Kita mungkin masih memiliki keterbatasn informasi tentang siapa si perempuan muda yang konon masih berstatus mahasiswi tersebut, termasuk kejelasan kasus tersebut secara utuh. Apapun profesinya, namun tidaklah terlalu mengada-ada dan salah jika ia dipersamakan dengan seorang PSK. Nah uniknya kenapa PKS kesandung PSK? Bukan semata-mata karena penggunaan huruf P-S-K dan P-K-S yang memiliki kesamaan unsur, tetapi bukankah partai putih ini menjargonkan diri sebagai partai yang islamis dan mengusung tinggi-tinggi nilai kejujuran serta akhlakul karimah?

Sedari jaman kerajaan dengan sistem feodalistik sekalipun, perempuan sudah banyak dijadikan alat lobi dan diplomasi. Di masa kerajaan, para adipati atau raja bawahan seringkali memberikan upeti berupa persembahan wanita dan kencana, di luar upeti wajib yang berupa bulubekti hasil bumi. Wanita-wanita itu sengaja diumpankan untuk dijadikan selir oleh para raja. Urusan putri persembahan ini bisa jadi karena memang murni atas inisiatif pejabat bawahan yang ingin mencari muka di hadapan raja, namun tidak sedikit pula yang terjadi karena memang sifat raja yang ber-hidung belang atau ber-mata keranjang.

Dalam konsep sebuah kerajaan monarkhi murni, raja adalah pusat segala kekuasaan. Semua benda yang berada di dalam wilayah kerajaan adalah mutlak menjadi milik dan penguasaan sang raja. Apakah itu berwujud tanah, emas, maupun para wanita. Wanita, menurut sistem ini dipersamakan nilainya dengan benda yang lain. Hal ini berarti bahwa apabila seorang raja menginginkan seorang perempuan, apakah ia masih lajang, janda, bahkan sudah menjadi istri seseorang, maka kehendak raja harus ditaati dan tidak boleh dilawan. Melawan kehendak raja adalah sebuah jalan kematian.

Kisah-kisah klasik di masa lampau mengenai nasib seorang wanita persembahan telah banyak dituturkan oleh para sejarawan maupun sastrawan. Kita semua barangkali sangat mengenal kisah Dara Petak dan Dara Jingga di masa awal berdirinya Majapahit, Roro Mendut di masa pemerintahan Raja Amangkurat Mataram, bahkan hingga kasus-kasus nikah siri para pejabat di jaman modern dewasa ini. Semua gambaran itu telah menunjukkan betapa sebenarnya sering dan banyak terjadi kasus perendahan terhadap martabat seorang wanita yang semestinya memiliki derajat, martabat, dan kehormatan yang sama atau sejajar dengan kaum pria. Pria dan wanita sama-sama diciptakan Tuhan ke muka bumi sebagai pelengkap keutuhan jiwa raga manusia.

Manusia hidup di dunia sesungguhnya sedang menjalankan lakon dan lelakon, peran dan peristiwa, dalam sebuah panggung kehidupan. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa godaan terberat dalam kehidupan bagi seorang pria ataupun menusia pada umumnya adalah berkaitan dengan harta, tahta dan wanita. Tidak terkecuali kisah petinggi PKS dengan kasus suap impor daging sapi-nya yang juga membawa-bawa seorang PSK. Kita hanya bisa berharap semoga aparat penegak hukum segera mengungkap kebenaran kasus ini. Yang bersalah ya jelas harus dijatuhi hukuman seberat-beratnya.

Partai merupakan salah satu alat demokrasi yang dibentuk sebagai sebuah kendaraan politik untuk mendapatkan kekuasaan.  Kekuasaan yang amanah akan dipergunakan oleh pemangkunya untuk melakukan pengabdian terhadap rakyat dan negara. Sebaliknya seorang penguasa yang mengkhianati amanat rakyat yang dipikul di pundaknya justru menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri dan mengambil keuntungan sebesar-besarnya bagi kepentingan pribadi, keluarga, kroni, partai dan golongannya. Maka penguasa yang kedua ini akan melakukan tindakan apapun, dengan menghalalkan segala macam cara, untuk meraih kekuasaan, mempertahankannya, jika mungkin mewariskannya kepada keluarga atau kroni-kroninya. Tindakan kolusi, korupsi, dan nepotisme seakan telah menjadi jalan hidup yang tidak lagi dirasakan sebagai sebuah kesalahan dan pelanggaran hukum. Kondisi seperti inilah yang telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dari kasus ini kita tentu saja bisa belajar bersama betapa syahwat kekuasaan bisa menjerumuskan manusia  menjadi serendah-rendahnya makhluk Tuhan. Harta, tahta, dan wanita dapat menghancurkan karir politik seorang petinggi partai yang telah dibangun sekian lama dengan upaya pencitraan yang sangat melelahkan. Di sini pulalah Tuhan membuktikan bahwa sedalam- dalamnya lautan masih bisa diukur, tetapi dalamnya hati seseorang siapa tahu? Kita jangan sampai tertipu lagi oleh pencitraan fisik yang palsu, penuh kebusukan dan kebohongan. Sudah saatnya rakyat belajar kritis terhadap apapun fenomena yang dihadapi di tengah kerasnya kehidupan saat ini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke PKS dan PSK

  1. Hamid Anwar berkata:

    Kupasan yang sangat mendalammm… terimakasih..

    Suka

  2. maemo berkata:

    judule menarik mas. Isine selalu dalem.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s