Kelirumologi: Antara Mesin ATM dan Mesin Tiket Kereta Api


Ticket Machine in JapanKejadian ini memang sudah hampir setahun berlalu. Namun demikian kekonyolan dan kelucuannya sungguh tiada akan pernah dapat terlupakan. Begini sedulur, pada waktu itu saya yang bocah ndeso bin nggunung ini mendapatkan kesempatan dolan-dolan ke negeri Jepang. Jelaslah bahwa saya tidak bisa berbahasa Jepang, apalagi menguasai tulisan kanji. Maka ketika di sana, saya merasakan seolah berada di sebuah planet yang tidak saya kenal. Mana utara, mana selatan, terlebih arah kiblat Mekkah, jelas saya ngebleng sama sekali. Jika pada saat mengnjungi suatu daerah baru, saya masih bisa membaca penunjuk arah di tepian jalan, maupun nama-nama jalan, toko, gedung dan berbagai tempat, maka di negeri yang bahkan di tempat umumpun sangat taat asas untuk menuliskan huruf kanji, jelas saya menjadi sangat bego. Yang saya lihat di tempat-tempat umum seolah hanya tempelan gambar-gambar kaligrafi kanji yang artistik tanpa arti kata dan bahasa.

Suatu saat, saya berkesempatan tinggal beberapa hari di kota Osaka yang terletak di sebelah selatan Tokyo. Kota ini sedikit unik dibandingkan Tokyo maupun kota-kota lain di negeri Sakura. Pada umumnya, termasuk di negeri kita, jika orang berjalan-jalan di tempat umum maka kita biasa memilih sisi kiri untuk berjalan. Namun justru di Osakalah, satu-satunya kota yang setahu saya masyarakatnya berjalan di sisi kanan. Lalu bagaimana jika sampeyan tetap ngeyel berjalan di sebelah kiri? Pastinya sampeyan akan ditabrak orang Jepang. Tidak hanya terhenti di situ, mungkin sampeyan akan merasa malu atu dipermalukan di depan publik karena mendapatkan celaan ataupun olokan dari orang banyak yang berlalu lalang. Ini barangkali sebuah bentuk sanksi moral yang tentu saja tidak ringan.

ATM in JapanPada suatu sore, saya bertekad ingin pergi ke suatu titik lain di kota Osaka dengan menggunakan transportasi kereta api. Sebelumnya tentu saya tidak lupa untuk membuka-buka peta dan menentukan rute perjalanan yang akan ditempuh. Stasiun kereta api terdepat waktu itu adalah Stasiun Omeda yang berada di bawah tanah. Dengan kode warna dan arah anak panah yang menunjukkan arah peron kereta, sebenarnya orang asing yang ingin bepergian dengan berkereta sangat-sangat terbantu. Namun karena semua petunjuk bertuliskan huruf kanji, maka rasa kurang percaya diri dan cemas tentu saja muncul dan menimbulkan rasa ragu. Akan tetapi saya tetap nekat pergi seorang diri.

Yang namanya stasiun bawah tanah di Osaka ternyata sangat penuh sesak dengan manusia yang berlalu lalang dengan bergegas dan berjalan cepat. Irama jalan wong Jogja yang alon-alon waton klakon, tentu akan sangat shock menghadapi orang Jepang berjalan di stasiun. Thok-thok….thok! demikian terdengar nyaring bunyi hak sepatu para manusia yang berjalan sangat cepat, bahkan setengah lari. Sebagai orang ketimuran yang mengutamakan rasa tepo sliro, tentu saja saya memilih jalan di tepian dan lebih mengutamakan untuk memberikan kesempatan orang lain untuk berlalu terlebih dahulu.  Hal ewuh-pekewuh ati inilah yang membuat jalan saya terhambat karena ada rasa takut-takut salah.

Ticket Machine in Japan2Akhirnya saya menemukan gerbang stasiun yang akan membawa ke tempat tujuan. Sekali lagi saya pastikan informasi kepada petugas keamanan yang tengah berjaga. Tentu saja saya lebih mengandalkan bahasa tarzan, alias gerak olah ungkapan bahasa tubuh, ketika berkomunikasi. “Is it true the line to Shinosaka station?” tanya saya kepada petugas. Sang petugas menjawab, “Yes, this way!”, sambil menunjukkan arah yang mesti saya pilih.

Untuk bisa naik kereta api, tentu saja saya membutuhkan tiket. Dari pengalaman pada saat naik kereta api beberapa hari sebelumnya bersama beberapa kawan, saya masih ingat bahwa tiket kereta dibeli dari loket mesin tiket yang bekerja secara otomatis. Saya melihat beberapa calon penumpang merubung sebuah mesin di pinggiran lorong. Akhirnya sayapun turut serta merubungi mesin tersebut. Satu per satu orang antri dengan rapi dan melakukan transaksi. Saya sengaja memilih antri di urutan terbelakang dengan maksud agar saya bisa menyaksikan orang-orang di depan saya melakukan langkah per langkah memencet tombol. Akhirnya tibalah giliran saya.

Sayapun segera beraksi menekan tombol-tombol tertentu sebagaimana yang saya ingat dari orang-orang depan antrian tadi. Namun gagal! Wuaduh….pikiran saya langsung buyar. Saya coba beberapa kali, tetapi tetap gagal. Celakanya mesin tersebut sama sekali tidak menyediakan pilihan informasi dan petunjuk langkah dalam tulisan latin dan berbahasa Inggris yang sedikit bisa menolong saya. Padahal seingat saya, waktu melihat kawan-kawan memainkan mesin tiket kereta beberapa hari sebelumnya saya ingat pasti ada menu pilihan penggunaan yang berbahasa Inggris dan menggunakan huruf latin. Kenapa ini berbeda? Saya jadi gugup bin penasaran. Daripada semakin salah tingkah dan takutnya memancing kecurigaan petugas keamanan, maka saya memilih untuk membatalkan transaksi dan sedikit menepi.

Train TicketRasa penasaran mendorong saya tetap ingin mencoba menggunakan mesin tiket tersebut. Sambil berdiri sedikit menjauh, saya memperhatikan orang lain yang kemudian datang dan akan menggunakan mesin tersebut. Akhirnya ada seorang ibu-ibu yang mendekat. Saya perhatikan langkah-langkah dia dengan lebih seksama karena tidak ingin ketinggalan satu langkahpun tahapan untuk membeli tiket. Namun kemudian saya menjadi heran.

Ibu-ibu yang saya perhatikan tersebut, di langkah awal justru memasukkan sebuah kartu ke slot yang tersedia. Ia kemudian memencet tombol-tombol tertentu dengan kode-kode tertentu. Beberapa langkah kemudian si mesin berbunyi………klerek, krek,krek,krek! Sayapun membayangkan selembar atau beberapa lembar tiket akan muncul dari slot keluaran mesin. Namun alangkah terkejutnya saya dengan apa yang terlihat waktu itu. Ternyata yang keluar justru bukannya tiket kereta api, tapi malah lembaran uang yen.  Wuaaaaduh, jagad dewa batara! Ternyata mesin yang saya sangka mesin tiket itu adalah mesin ATM untuk menarik uang tunai. Jebul-nya saya telah salah ngantri di mesin ATM! Semua gara-gara tulisan kanji yang tidak saya pahami! Sampeyan pernah punya pengalaman gagap literatur sebagaiman yang pernah saya alami tersebut?

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Kelirumologi: Antara Mesin ATM dan Mesin Tiket Kereta Api

  1. Maztrie Utroq berkata:

    Wakakakk…
    Aku asli ngguyu pas endinge iki Kanggg….
    Ealahhh, biasa ngantri ojeg Kb Nanas kok tekan nJepang ta ya yaa 🙂

    *aku malah rung tau weruh nJEpang ki kaya ngapa yaaa

    Suka

  2. Alid Abdul berkata:

    hahaha asli saya ngakak, tapi masak nggak baca tulisan ATM besar-besar ato BANK. klo saya waktu di Tokyo beli Suica Card utk naik kereta, jadi nggak perlu antri tinggal scan saja, deposit habis tinggal beli 🙂

    Orang Jepang nabrak, ah gak ah, mereka akan diam dan nunggu kita sadar sendiri kok haha, berkali-kali saya melanggar aturan tsb di Tokyo dan mereka nggak negur sama sekali, mereka diem saja meski mereka buru2

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s