Diantara si Thole atau si Bule


Nama sangat penting sebuah identitas bagi seseorang. Namalah yang membedakan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain dalam pergaulan sehari-hari. Meskipun sastrawan William Shakespeare mengatakan what’s  the name? (apalah arti sebuah nama?), namun bagi orang Jawa sebuah nama memiliki arti yang sangat mendalam. Ketika pertama kali hadir di muka bumi, seorang bayi diberikan nama sebagai sebuah peparab dan sekaligus doa pengharapan. Maka bersamaan dengan prosesi pemberian nama, dilakukanlah upacara selamatan lengkap dengan uba rampe jenang abang dan jenang putih.

Thole

Di dalam pergaulan sehari-hari di lingkungan masyarakat, di samping nama yang disandang atas pemberian orang tua, seringkali seseorang juga mendapatkan nama panggilan khusus dari teman-teman dekat, ataupun dari para tetangga. Nama panggilan inilah yang disebut sebagai peparab atau paraban, yang dapat diartikan sebagai nama alias. Misalnya seorang bocah yang sangat pandai bermain bola, di lingkungan dusunnya dipanggil Maradona, padahal nama aslinya Nurohmad. Ada juga Puji dipanggil Penjol, gara-gara kepalanya pernah penjol beberapa bulan karena kejatuhan palu pada saat bapaknya nukang memasang empyak.  Ada juga bocah kerdil yang sulit bertumbuh kembang dipanggil si Semut. Ada lagi nama Gembus, Wongso, Wiro, Gambul, Gendhut, Penceng, Kenceng, Bawor, Kedhek, bahkan Gudhel dan Genjik.

Di samping nama paraban, sesungguhnya lingkungan budaya ketimuran kita juga mengenal berbagai nama panggilan atau sapaan langsung terhadap seorang bocah. Ada si Butet bagi orang Batak. Ada Upik bagi orang Minang. Ada Enthong bagi orang Betawi. Ada Ujang bagi orang Sunda. Ada Thole, Gus, Nang, Ngger, Kulup, ataupun Nduk, dan Wuk untuk anak-anak di Jawa. Seringkali orang yang lebih dewasa menggunakan sapaan ini kepada para bocah, lebih lagi terhadap anak yang belum dikenal namanya. Nama sapaan inipun sudah menjadi semacam kode komunikasi yang menjadi bagian dari kebiasaan dan budaya masing-masing suku bangsa kita.

Keluarga kami yang relatif masih merupakan keluarga muda yang tengah memasuki pergulatan jaman modern ini tetap berupaya melestarikan sapaan bocah tersebut kepada anak kami. Semenjak kelahiran putra kami ke muka bumi, dalam berbagai kesempatan saya menggunakan kata ganti Ponang untuk anak laki-laki kami. Ponang sesungguhnya merupakan penggalan dari si ponang jabang bayi. Ponang berarti anak laki-laki. Adapung  jabang bayi sesungguhnya merupakan tembung saroja, salah satu jenis kata dalam khasanah bahasa Jawa. Tembung saroja merupakan gabungan dari dua buah kata yang dua-duanya memiliki arti yang sama. Tujuan penggabungan tersebut lebih sebagai uangkapan penegasan. Jadi jabang berarti bayi, bayi ya orok!

Di samping paraban si Ponang, dalam keseharian untuk memanggil si Ponang seringkali kami menggunakan sapaan Le ataupun Thole. Tidak terbatas menggunakannya di dalam lingkungan dalam rumah, kami menggunakan kata sapaan tersebut juga pada saat di luar rumah. Nah, kebetulan lingkungan tetangga sekitar tempat tinggal kami lebih banyak dihuni oleh kelompok masyarakat Betawi asli dan Sunda. Nah beberapa tetangga menjadi salah paham ketika menirukan sapaan Le untuk si Ponang menjadi Bule, maka terkenallah si Ponang sebagai si Bule. Bukan sekedar mengada-ada kenapa si Ponang dipanggil si Bule. Menurut para tetangga itu si Ponang memang memiliki pakulitan yang putih bersih sebagaimana orang bule. Tentu saja hal ini sedikit subyektif dikarenakan hanya dibandingkan dengan pakulitan-nya anak-anak sebaya di kampung tempat tinggal kami.

Yang lebih lucu, si Ponang malah justru balik bertanya kepada Bapaknya, kenapa dirinya dipanggil si Bule? Belum sempat dijawab, si Ponang menyimpulkan sendiri bahwa nenek-nenek yang tinggal di tepi kuburan kampung dan sering menyapanya si Bule bila ia kebetulan berjalan melintas, adalah si Nenek Bule! Padahal, nuwun sewu, nenek tersebut jelas sudah peot, keriput, dan tidak nampak kulitnya putih mulus selayaknya seorang bule yang sedang berwisata ke pulau Dewata.

Di samping itu, secara nalar othak-athik gathuknya, si Ponang yang belum begitu paham kenapa sering disapa Le atau Thole justru menghubungkan sapaan itu dengan hobinya yang suka makan ikan lele. Thole, Bule, Lele, nah klop bener dech ya? Namun, lebih dari itu semua, inilah bentuk keakraban budaya di kampung tempat tinggal kami sebagai bentuk penghayatan terhadap warisan nenek moyang dulu kala. Apakah Sampeyan juga memiliki nama paraban lain?

Ngisor Blimbing, 25 Januari 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Diantara si Thole atau si Bule

  1. ikhsan berkata:

    tapi ada benernya kata shakes peare, tetanggaku Namanya muhamad sidik sadeli agamanya kristen, sementara di twitter ada ustad terkenal namanya felix siaw.

    Suka

    • sang nanang berkata:

      nah ini dia yang nggak pas Kang…..
      Arab tidak mesti harus Islam. Islampun bukan Arab. Jadi jika ada orang memiliki nama dengan bahasa Arab, maka tidak harus ia menjadi orang Islam. Demikian juga orang Islam tidak harus menggunakan nama dengan bahasa Arab to?
      Orang asli Arab, kelahiran Arab, tetapi sejak lahir sudah Kristen, apakah kira2 namanya tidak menggunakan bahasa Arab? Yo tetep boso Arab.Bahkan orang Arab Kristen ketika menyebut Allah, yo nggak beda dengan wong Islam! (tidak seperti di tanah air kita yang jelas ada bedanya)

      Suka

  2. Agus Mulyadi berkata:

    “Gembus, Gendhut, Penceng, Bawor”, wah, kui jeneng araban’e ono kabeh ng kampungku kang….. hehehe.

    btw, Nama bapakku Mulgiyanto, tapi panggilannya Trimo, usut punya usut, ternyata pas kecil, bapakku ini ditinggal mati sama bapak (mbah), jadinya dipanggil trimo (nrimo alias menerima), Lha sedangkan ibu saya namanya Isrowiyah, tapi dipanggil Urip, lha ini soalnya dulu pas kecil pernah tenggelam di kolam, tapi bisa selamat dan hidup, jadinya dipanggil Urip (hidup)….

    Hmm, Memang kadang paraban itu menjadi penikmat cita rasa nama ya kang….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s