Wisata Simbah Vs Wisata Bocah


Sesuai dengan namanya, Gembiroloka memang dibangun sebagai tempat masyarakat untuk bergembira ria. Orang yang kurang paham dengan bahasa Jawa sangat mungkin mengira bahwa gembiroloka itu berarti kebun binatang. Padahal kata gembiroloka merupakan perpaduan dua kata dalam bahasa Jawa. Gembiro berarti gembira, riang, senang. Sedangkan loka memiliki arti tempat. Jadi Gembiroloka memang berarti tempat untuk bergembira. Namun demikian, pendapat sebagian orang yang mengartikan gembiroloka sebagai kebun binatang memang tidak sepenuhnya tanpa alasan karena memang Gembiroloka adalah nama kebun binatang yang berada di kota Gudeg, Yogyakarta.

Gembiro3

Kebun Binatang Gembiroloka menempati areal seluas lebih dari 20 ha di tepian sungai Gajah Wong. Wilayah ini berada di belahan timur Kota Yogyakarta dan termasuk di wilayah Kecamatan Umbulharjo. Tempat wisata ini berawal dari kersa Ngersa Dalem Hamengku Buwono IX yang ingin mewujudkan bonraja atau taman raja yang semula diperuntukkan khusus untuk keluarga raja,  agar bisa memberikan manfaat lebih luas terhadap masyarakat dengan membukanya untuk umum. Jika sampeyan mampir berkunjung ke Jogjakarta, tidak ada salahnya jika Gembiroloka sampeyan agenda sebagai salah satu tempat wisata yang dikunjungi.

Pada saat terjadi bencana alam gempa bumi dahsyat yang menimpa Jogjakarta pada akhir Mei 2006 silam, kawasan Gembiroloka termasuk jalur yang mengalami kerusakan sangat parah. Beberapa bagian taman dan tebing Kali Gajah Wong mengalami retakan dan longsoran. Namun kini, kebun binatang terbesar di DIY ini sudah hampir rampung pembenahannya. Gembiroloka tampil dengan suasana yang baru sesuai dengan dinamisasi keadaan dan jaman yang mau tidak mau harus disikapi secara positif untuk terus melakukan perbaikan. Di samping penataan-penataan fisik yang dilakukan, secara manajerial, kebun binatang ini juga melakukan reformasi diri terhadap budaya melayani penuh keramahtamahan termasuk penggunaan seragam baru untuk seluruh karyawan. Gembiroloka hadir dengan semangat baru untuk siap menyambut kedatangan wisatawan.

Gembiro1  Gembiro2

Di akhir bulan November itu, kami sekeluarga berkesempatan untuk anjangsana dan dolan ke Gembiroloka. Setelah seharian sebelumnya Jogja diguyur hujan seharian, Jum’at pagi itu sinar matahari cerah hangat menyambut hari baru. Pagi-pagi sekali, si Ponang memang sudah menagih janji untuk ke kebun binatang. Dua tahun yang lalu, sempat kami melewati jembatan Kali Gajah Wong, namun hanya sebatas mengamati sekawanan banteng dan kudanil di sudut utara kawasan Gembiroloka. Hari itu Tuhan sengaja mengabulkan angan-angan dan keinginan si Ponang.

Baru sekitar pukul 08.00 pagi kami memasuki area parkir Gembiroloka. Semula kami merasa sanksi apakah kebun binatang tersebut sudah buka di waktu sepagi itu, apalagi kami lihat parikiran motor maupun mobil masih tampak sangat lengang. Setelah mendapat kepastian banhwa loket karcis sudah dibuka dari juru parkir, kami segera merapat dan memasuki Gembiroloka melalui pintu gerbang utama di sisi timur. Awalnya kami merasa suasana masih sangat sepi. Ternyata dugaan kami tidak sepenuhnya benar. Di dalam area taman telah hadir beberapa rombongan yang juga ingin menikmati kesejukan hawa Gembiroloka yang teduh nan asri itu. Diantara rombongan itu, terdapat satu rombongan yang mendominasi suasana. Mereka terdiri dari puluhan orang, dan sebagian diantaranya ternyata masih anak kanak-kanak. Mereka memang siswa-siswi  dari sebuah TK di Kota Gede yang sedang melakukan pembelajaran lingkungan hidup untuk anak-anaknya. Mereka nampak sangat bergembira penuh canda tawa.

Gembiro4Memasuki bagian rute awal yang kami tempuh, kami sengaja mampir di musium lingkungan hidup. Di tempat ini pengunjung disuguhi dengan berbagai rupa binatang yang diawetkan, mulai dari kupu-kupu, kumbang, capung, jangkerik, serta aneka serangga yang lain. Di sini anak-anak juga dapat mengenal dan belajar lebih mendalam tentang tumbuhan dan konsep pelestarian lingkungan hidup.

Pengembaraan berlanjut ke lembah Kali Gajah Wong di bagian bawah. Setelah menuruni anak tangga dan melintasi jembatan, kami akan disuguhi hamparan danau buatan yang luas dengan sebuah “pulau” perahu di bagian tengah-tengahnya. Dengan berkeliling dari sisi kiri, kami melihat beberapa hewan penghuni kebun binatang, seperti orang hutan, siamang, gajah, komodo, buaya, singa, macan, aneka ikan, aneka binatang reptil, satwa burung dan unggas, hingga rusa dan burung merak. Terakhir mengunjungi tempat ini, saya masih duduk di bangku TK. Jadi kesempatan ini merupakan nostalgia tersendiri bagi diri saya pribadi.

Setelah puas berkeliling di sisi selatan danau buatan, si Ponang merengek untuk naik kapal rombongan di tengah danau. Dengan harga tiket Rp 10.000,- pengunjung dimanjakan dengan goyangan kapal wisata yang berkeliling di lautan tambak segoroyoso. Suasana sangat sumringah karena penuh dengan sorak-srai para bocah yang kegirangan digoyang ombak. Sekitar dua puluh menit menjelajah “samudra” pengunjung harus puas dan turun dari geladak kapal. Bagi yang ingin memacu adrenalin di atas danau, pengunjung dapat menyewa kapal super cepat yang hanya dinaiki empat-enam orang saja. Untuk kapal cepat yang satu ini, penumpang harus dilengkapi dengan baju pelampung untuk keamanan dan keselamatan. Dengan kecepatan sangat tinggi, kapal cepat ini mondar-mandir memecahkan keheningan lembah Gajah Wong.

Gembiro6Dengan penuh uyuk-uyukan rombongan para bocah, kami beralih kepada wahana kereta mobil yang berkeliling ke seluruh sudut tempat untuk mengantarkan pengunjung yang sekiranya malas atau lelah untuk berjalan kaki.  Nah justru di kereta ini lah suasana ramai dan gaduh didominasi oleh para simbah yang tengah berwisata. Setelah sempat ngobrol ngalor-ngidul dengan beberapa simbah putri, barulah kami tahu bahwa mereka adalah rombongan para ibu lanjut usia se-kota Yogyakarta yang tengah berwisata melepas kejenuhan rutinitas kehidupan. Mereka sengaja dihimpun oleh Dinas Sosial Kota Yogyakarta yang memprogramkan kegiatan-kegiatan anjangsana untuk menghibur para simbah putri.

Menurut salah seorang simbah, mereka sering diajak jalan-jalan. Pernah mereka diajak ke dalam lingkungan Kraton Kasultanan, ke Kaliurang, Kasongan, bahkan ke waduk Sermo. Meskipun sudah lanjut usia, masih banyak diantara par simbah itu yang masih aktif bekerja mencari nafkah. Bagi mereka usia bukanlah halangan untuk mencari nafkah. Mereka tidak ingin berpangku tangan dan menjadi beban ekonomi para anak cucunya. Raga boleh rapuh di usia senja, namun semangat berkarya senantiasa terpatri di dalam jiwa dengan gelora semangat muda yang masih menyala-nyala. Mereka terlihat sangat tulus menjalani setial jengkal jalan hidup yang telah dititahkan oleh Sing Maha Kuwasa.

Gembiro7  Gembiro5

Gembiroloka di pagi hingga siang itu memang luar biasa sumringahnya. Dua rombongan besar wakil dari generasi yang berbeda sedang bergembira ria. Satu dari generasi para bocah, dan satu rombongan yang lain terdiri para simbah. Hari itu seolah kita diingatkan bahwasanya roda jaman sedang berjalan memenuhi kewajibannya. Pagi datang segera berganti siang. Siang berganti senja dan senjapun diganti malam untuk kemudian pagi berikutnya datang menjelang. Waktu terus berjalan menjadi saksi sebuah pergantian babak perjalanan. Kelahiran, bayi, bocah, remaja, dewasa, tua renta dan maut adalah siklus kehidupan yang datang pergi silih berganti.

Daun tua menguning, layu, untuk kemudian gugur jatuh ke bumi. Namun di sisi lain, tunas-tunas mudapun bersemi mengisi dan menggantikan jejak pendahulunya. Inilah warna perubahan yang merupakan sebuah keniscayaan dunia. Dunia senantiasa dinamis dalam perubahan. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun selalu berganti. Tidak ada yang abadi di dunia, kecuali perubahan. Sekarang tinggal bagaimana setiap manusia memaknai perubahan yang setiap saat dialaminya untuk mengukirkan makna kehidupan karena di sanalah keabadian nama manusia akan dikenang dalam sejarah. Macan mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama besarnya.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Wisata Simbah Vs Wisata Bocah

  1. Agus Mulyadi berkata:

    Terakhir mrono pas TK? podo berarti mas, padahal pas makaryo nang Jogja, Bola-bali liwat ng ngarepe, malah sok tongkrong ng pinggiran kaline… (Kebangeten yo)

    Suka

    • sang nanang berkata:

      hal yang begitu itu yang seringkali membuat kita lebih tahu tentang sesuatu hal di tempat yang jauh, namun yang di dekat kita sendiri malah baru tahu setelah membaca informasi seperti ini….ya to?

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s