Request Sumbangan


HajatanManusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Satu sama lain tentu akan saling melengkapi dan membutuhkan. Ajaran agama, nilai moralitas, dan kearifan apapun yang ada di muka bumi ini senantiasa mengajarkan agar diantara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya saling tolong-menolong dalam menjalani kehidupan.  Si kuat menolong si lemah. Si pandai membantu si bodoh. Si kaya membantu si miskin. Si tua menyayangi si muda dan si muda menghormati si tua, demikian selanjutnya.

Hidup penuh keguyuban dan gotong royong sebenarnya adalah nilai atau watak yang telah diwariskan dari nenek moyang kita. Dalam kelompok masyarakat yang saling berdekatan dalam lingkup satu kampung misalnya, sikap satu sama lain saling membantu adalah sebuah kewajaran. Pada saat tetangga kita ada yang sakit, adalah hak bagi si sakit untuk dijenguk oleh tetangga lain yang sehat. Jika ada tetangga yang sedang kesripahan, mendapatkan kesedihan karena salah satu anggota keluarganya meninggal, maka sudah lazim tetangga yang lain akan takziah dan turut membantu segala hal yang terkait dengan pengurusan jenazah, mulai dari memandikan, mengkafankan, mensholatkan, hingga menguburkannya.

Hal yang sama juga akan dilakukan oleh para tetangga terhadap tetangganya yang sedang punya gawe ewuh atau hajatan, seperti qiqahan, khitanan, hingga pernikahan. Ibarat ringan sama dijinjing dan berat sama dipikul, itulah nilai kebersamaan dan kesamaan derajat diantara sesama manusia.

Khitanan merupakan ritual keagamaan yang bertujuan untuk mensucikan seorang anak laki-laki muslim yang akan segera memasuki usia akil baligh. Di samping tujuan mengamalkan ajaran agama, khitan diyakini secara medis, juga sangat berguna untuk mencegah berbagai penyakit. Adalah tradisi yang hidup di masyarakat kita bahwa setiap perubahan fase kehidupan senantiasa disertai dengan ritual selamatan. Selamatan dimaksudkan sebagai sebuah doa dan ikhtiar agar hajatan yang akan dilaksanakan dapat berlangsung dengan selamat dan tanpa ada halangan apapun, serta setelah itu kehidupan yang bersangkutan senantiasa menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Dasar pemikiran inilah yang kemudian menjelma menjadi tradisi hajatan khitanan yang “diramaikan” di masyarakat kita.

Hajatan khitanan di masa lalu biasa diselenggarakan secara besar-besaran. Di wilayah tepi Merapi tempat kelahiran sayapun hajatan khitanan biasa digelar dengan penuh gebyar disertai dengan nanggap pentas kesenian, seperti kobra siswa, jathilan, campur, kethoprak, hingga wayang kulit semalam suntuk. Hajatan menjadi momentum berkumpulnya segenap sanak saudara dan kerabat keluarga besar yang jauh lebih gayeng dibandingkan lebaran. Dikarenakan banyak keluarga yang akan berkumpul itulah, sang tuan rumah yang punya gawe biasanya merencanakan hajatannya dengan teliti. Mulai dari pembuatan undangan, persiapan tarub, selamatan atau kendurian, dan segala hal thethek-bengek yang membutuhkan banyak bantuan dari tetangga sekitar maupun keseluruhan kerabat.

Di sisi lain, para tetangga dan kerabat jauh maupun dekat yang mengetahui tetangganya akan punya gawe, merekapun dengan penuh suka rela siap untuk membantu dan memberikan dukungan dalam pelaksanaan hajatan. Bantuan ataupun dukungan tersebut dapat berwujud pikiran, tenaga, maupun harta benda kebutuhan hajatan. Di sinilah kemudian muncul tradisi nyumbang atau kondangan.

Dalam nyumbang hajatan seseorang, pada umumnya tidak ada batasan khusus mengenai besar kecilnya sumbangan yang harus diberikan. Hanya saja di masyarakat seakan ada konvensi tidak tertulis bahwa nyumbang kepada seseorang harus memenuhi kriteria kepantasan, tidak terlalu besar hingga memberatkan dan tidak terlalu kecil hingga terkesan basa-basi. Sumbangan diukur yang sedang-sedang saja. Adapun wujud dari sumbangan yang diberikan dapat berupa uang, beras, kelapa, minyak, telur, dan segala macam uba rambe yang dibutuhkan saat hajatan digelar. Catatan terpenting adalah semua berdasarkan kesanggupan dan batas keikhlasan masing-masing, lebih bersifat suka rela serta tanpa ada paksaan.

Desa mawa cara, negara mawa tata. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Lain daerah lain tradisi, adat istiadat dan kebudayaannya. Jika sebagaimana umumnya di masyarakat Jawa, tradisi sumbang menyumbang hajatan bersifat sukarela dan tanpa paksaan, tidak ada ruquest khusus dari pemangku hajatan, maka akan sangat terasa aneh jika tiba-tiba saja Mbok Wedok mendapatkan uleman kondangan dengan request untuk menyumbang minyak goreng dalam jumlah liter tertentu. Menurut keterangan tetangga yang ngulemi tersebut, keluarga kami sudah dianggap sebagai keluarga sendiri, bukan sekedar sebagai tetangga biasa. Maka menurut tradisi di kampung pinggiran ibukota ini, setiap kerabat dekat harus membawa sumbangan untuk kondangan berupa barang atau uba rampe yang dimintakan oleh si empunya gawe.

Sebagai sebuah tradisi atau adat yang berbeda, memang kita harus saling menghormati dan menghargai demi kepentingan harmonisasi hubungan sosial kemasyarakatan yang lebih utama. Namun yang sedikit membuat ganjalan di pikiran adalah apabila permintaan yang diajukan bersifat aneh-aneh dan tidak mempertimbangkan kemampuan ekonomi tetangga yang diulemi tersebut. Bagaimana sekiranya Sampeyan mendapat request sumbangan untuk urun wajik yang dibuat dari beras ketan sebanyak 5 kg. Bukan sekedar bahan mentah yang disetorkan untuk diolah di tempat shohibul hajat, namun yang dimintakan barang matengan-nya. Sudah yang dimintakan tersebut hanyalah tetangga yang kehidupan ekonominya pas-pasan, diminta beli beras ketan, diminta masak sendiri di rumahnya hingga berwujud wajik, untuk kemudian disetorkan matengan. Bagaimana dengan gas atau kayu bakar yang digunakan, gula jawa, kelapa dan segala bahan yang diperlukan? Belum lagi tenaga dan waktu yang harus dicurahkan. Masih mending kalau yang di-request orang yang berkecukupan uang sehingga tinggal beli matengan di pasar, lha ini tetangga yang pas-pasan je! Kasus ini hanyalah sebuah penggalan cerita dari curhatan tetangga sebelah. Bagaimana menurut Sampeyan?

Ngisor Blimbing, 5 Januari 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Request Sumbangan

  1. hazainfo berkata:

    betul-betul, guyup rukun adalah ciri khas budaya kita semua, yuk ikutan lomba di http://artikel.ha-za.info/

    Suka

  2. tomi berkata:

    ya dilema itu mas.. kayak buah simalakama..
    tp harusnya yg nyuruh itu harus sadar untuk melihat kemampuan tetangga yang disuruh itu emang dari keluarga yg cukup atau pas-pasan. kasihan jg nek nyuruh yg pas-pasan ekonomiinya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s