Masjid Laksamana Cheng Ho Pasuruan


ChengHoo1

Siapa yang belum pernah mendengar keperkasaan Laksamana Cheng Hoo? Penjelajah samudera dari negeri Tiongkok itu konon memimpin lebih dari 200.000 prajurit laut yang diperlengkapi dengan kapal layar besar dan senjata meriam. Dialah duta sekaligus penghubung tali persahabatan dan diplomatik antara Tiongkok dengan negeri-negeri di kawasan Asia Tenggara, termasuk Nusantara kala itu. Tidak hanya itu saja, Cheng Hoo juga dikenal sebagai seorang penganut agama Islam yang turut berdakwah menyebarkan agama Islam di penjuru Nusantara.

Jejak perjalanan Laksmana Cheng Hoo yang terbesar barangkali adalah kelenteng Cheng Hoo di kota Semarang. Laksamana Cheng Hoo atau dikenal juga sebagai Sam Poo Kong pada tahun 1410 dan 1416 dengan segenap armadanya berhasil mendarat di Semarang. Selain menjadi utusan Kaisar Yung Lo untuk mengunjungi raja Majapahit, ia juga bertujuan untuk menyebarkan agama Islam.

Sisa jejak di Semarang tersebut masih bisa disaksikan saat ini. Bahkan hingga kini, masyarakat Tionghoa di kota tersebut masih terus merayakan tradisi Imlek dan Cap Go Meh dengan pawai karnaval yang sangat meriah dari beberapa titik petilasan sang laksamana. Sedikit tradisi yang terpengaruh oleh warisan Cheng Hoo termasuk juga barangkali tradisi dugderan menjelang bulan puasa tiba.

ChengHoo4 ChengHoo3

Tidak hanya di Semarang, Cheng Hoo juga banyak meninggalkan jejak sejarah. Di Surabaya terdapat sebuah masjid yang diberi nama Muhammad Cheng Hoo. Masjid yang diresmikan penggunaannya pada 13 Oktober 2002 ini berlokasi di komplek gedung serba guna Pembina Imam Tauhid Islam (PITI) Jawa Timur di jalan Gading No.2, atau tepat di belakang TMP Kusuma Bangsa.

Bergeser ke selatan dari Surabaya, di tepi jalan utama yang menghubungkan Surabaya dan Malang juga terdapat Masjid Muhammad Cheng Hoo. Lokasi masjid ini berada di sisi barat Jalan Raya Surabaya-Malang, tepat bersebelahan dengan pasar buah Pandaan. Masjid dengan arsitektur bergaya Tiongkok ini didominasi oleh warna merah menyala yang akan membawa pengunjung kepada situasi di negeri tirai bambu. Letak masjid yang strategis menjadikan masjid ini selalu ramai dikunjungi para musafir yang kebetulan sedang menempuh perjalanan.

Tidak begitu jelas kenapa masjid ini dibangun dengan gaya arsitektur China dan mengambil nama Muhammad Cheng Hoo, namun keberadaan masjid ini jelas sebagai sebuah gambaran betapa akulturasi budaya antara Islam, Jawa, dan Tiongkok telah berlangsung semenjak ribuan tahun silam dan masih bertahan hingga di masa kini. Islam sebagai agama yang merahmati lingkungan benar-benar telah menjadi benang pengikat antar suku, bangsa, bahkan budaya. Tidak ada lagi barat, tidak ada lagi timur, karena semua telah bersatu padu dalam tali damai Islam.

ChengHoo2

Masjid Muhmmad Cheng Hoo Pasuruan diresmikan penggunaannya pada tanggal 27 Juni 2008 oleh Bupati Pasuruan H. Jusbakir Aldjusfri. Menempati areal yang cukup luas, serta memiliki pelataran masjid yang lebar menjadikan masjid ini sangat elok dipandang dari beberapa sudut dengan nuansa yang berbeda. Bangunan masjid terdiri atas dua lantai dimana lantai atas difungsikan sebagai tempat sholat. Adapun lantai bawah bangunan masjid difungsikan untuk kantor dan kegiatan pengajian maupun sosial kemasyarakatan.

Sebagaimana kebanyakan masjid di pulau Jawa, Masjid Muhammad Cheng Hoo Pasuruan juga dilengkapi dengan bedug dan kentongan. Alat pemanggil dan penanda datangnya waktu sholat ini nampak anggun tergantung di sudut masjid sisi kiri. Lingkungan masjid yang asri dan kondisi bangunan yang terjaga bersih dan rapi menjadikan para pengunjung akan dibuat sangat betah untuk singgah dan melepas lelah seakan enggan untuk beranjak pergi. Namun sebagai masjid di pinggir jalur jalan padat yang banyak dilalui kendaraan antar lintas daerah, posisi masjid ini sangat strategis untuk bersembahyang sekaligus memulihkan tenaga, untuk kemudian meneruskan perjalanan kembali.

Selain beristirahat untuk menunaikan sholat, para pengunjung memiliki kesempatan untuk menikmati atau berbelanja aneka rupa buah-buah dan makanan khas daerah setempat yang dijajakan di Pasar Buah Pandaan, tepat di sebelah selatan masjid. Jadi jangan sampai lupa, bagi sampeyan yang melintas di daerah ini untuk menyempatkan diri mampir di Masjid Muhammad Cheng Hoo.

Lukisan Cheng Hoo diambil dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Masjid Laksamana Cheng Ho Pasuruan

  1. ikhsan berkata:

    Masih jd tanda tanya kok bisa Cheng Ho dari Negri yg mayoritas penduduknya bukan muslim, tp dia yg muslim bisa jadi Laksamana dan jd kepercayaan kaisar. Dan Kalau dia muslim kenapa di Semarang yg di bangun Klenteng bukan Masjid.

    Suka

    • sang nanang berkata:

      kalo yang membangun klentheng di Semarang itu sepertinya bukan Cheng Hoo sendiri, tetapi para penganut Khong Hu Cu yang juga menganggapnya sebagai dewa…

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s