Kado Hari Ibu


ISTRI-ISTRI NIKAH SIRI

Akhir tahun ini, berbagai media termasuk media sosial banyak dipenuhi informasi dan diskusi mengenai kasus nikah siri Bupati Aceng “Purwaceng” Fikri dari Garut. Sudah diketahui secara umum bahwasanya sang Bupati telah menceraikan istri yang dinikahinya secara siri “hanya dengan sms”. Lebih tambah kontroversial lagi ternyata proses perceraian itu dilakukan hanya berselang setelah 4 hari akad nikah. Dari sanalah cerita istri siri ini mengalir dengan deras dan menimbulkan pro-kontra yang berkepanjangan diantara anggota masyarakat umum. Bahkan saat ini telah terbentuk Tim Pansus DPRD Garut yang tengah terus mencari bukti dan kesaksian terhadap “kenakalan-kenakalan” Aceng Purwaceng yang lainnya. Hasil investigasi ini bisa jadi akan menjadi dasar yang sangat kuat bagi DPRD setempat untuk melayangkan mosi tidak percaya yang akan mengarah kepada lengsernya sang Bupati dari jabatannya.

Jika Aceng Purwaceng menembus dunia media dengan kisah kontroversial nikah sirinya, di wilayah kota Magelang juga tidak mau ketinggalan. Sepinang dibelah dua, kasus yang menyeret Wakil Walikota kita itupun terkait dengan kehidupan rumah tangganya. Berawal dari pelaporan istri Wawali ke Polresta Magelang, bergulirlah gosip dan obrolan kasus KDRT yang dilakukan Pak Wawali. Bahkan kini status hukum Pak Wawali sudah menjadi tersangka.

Sebenarnya apa yang tengah terjadi dengan masyarakat kita? Seberapa tersisanyakah moralitas di tengah masyarakat kita? Kenapa kasus-kasus rumah tangga menjadi mencuat dan muncul ke permukaan publik dengan sangat vulgarnya? Aib keluarga seolah menjadi bahan infotainment yang sangat membanggakan untuk dibuka blak-blakan kepada khalayak umum. Apakah lembaga pernikahan sudah tidak sesakral dahulu lagi dan begitu mudahnya orang melecehkannya? Siapa yang kemudian paling dirugikan dan menjadi korban keadaan? Tiada akan pernah habis pertanyaan-pertanyaan sejenis untuk dilontarkan.

Seorang istri sesungguhnya merupakan pendamping suami. Orang Jawa menyebut pasangan suami atau istri sebagai garwa. Garwa memiliki jarwa dhosok, sigaraning nyawa atau belahan jiwa. Suami dan istri merupakan kesatuan jiwa yang manunggal dan tidak dapat dipisah-pisahkan semenjak akad nikah diikrarkan hingga maut mencabut nyawa, bahkan hingga kehidupan di akhirat kelak. Pasangan lelaki dan perempuan yang telah mengikrarkan janji sehidup semati di hadapan penghulu, mestinya bisa memahami makna dan arti dari ikrar suci tersebut. Mahligai rumah tangga dibentuk dalam rangka mengikuti sunnah nabi dan menggapai ridla dari Allah SWT.

Rumah tangga  merupakan kesatuan suami, istri dan anak-anaknya ataupun anggota keluarga yang lainnya. Ikatan keluarga yang harmonis merupakan modal dasar bagi terbentuknya masyarakat, bangsa dan negara yang tentram, rukun, guyub makmur, penuh kedamaian. Jika unsur terkecil bangsa yang bernama keluarga tumbuh dengan harmonis, maka bangsapun akan menjadi bangsa yang harmonis. Dan salah satu unsur yang memerankan posisi strategis terwujudnya keharmonisan itu adalah peranan seorang istri.

Wanita adalah manusia utuh yang memiliki hak asasi yang setara sebagaimana seorang laki-laki. Dalam bahasa lain, wanita disebut perempuan. Perempuan memiliki akar kata empu, mandapatkan awalan pe jadilah ia perempuan. Empu adalah seorang yang memilki kemampuan untuk menggembleng, menempa, dan kemudian membentuk bilah keris yang memiliki pamor dan daya kesaktian. Oleh karena itu seorang perempuan memiliki peran untuk mencetak bibit-bibit manusia unggul yang kelak akan dilahirkan melalui rahimnya.

Semenjak usia dini, seorang perempuan harus dipersiapkan secara khusus untuk mengemban peran dan tugas mulianya. Ibu memiliki peran yang sangat strategis untuk membekali dan mendidik anak perempuannya untuk kelak dapat menjadi istri yang shalikhah dan mampu menjadi ibu yang baik dalam mendidik anak-anak generasi penerusnya. Nah seorang perempuan yang shalikhah, yang baik, tentu saja sudah digariskan untuk mendapatkan jodoh atau suami yang baik pula. Lelaki yang baik, perempuan yang baik, sebaiknya pula ketika meresmikan hubungan persuami-istrian juga dilakukan dengan cara yang baik sesuai dengan tuntunan agama dan ketentuan hukum yang telah ditetapkan oleh negara.

Nikah siri memang masih kontroversial. Di dalam kalangan para ulamapun masih terjadi silang pendapat. Namun demikian, jika ada cara yang lebih baik dan menjamin hak-hak serta kewajiban yang lebih jelas yang terlindungi hukum, kenapa harus nikah siri? Nikah siri, sebagaimana dilakukan Bupati Aceng Purwaceng, biasanya dilakukan karena ada latar belakang permasalahan-permasalahan yang kemudian kelak akan menjadi bibit-bibit permasalahan yang lebih kompleks dan ruwet. Dalam lembaga nikah siripun, jaminan hak seorang istri hingga anak-anak yang kelak dilahirkan akan sangat lemah di mata hukum. Perempuan dan anak-anaklah yang lagi-lagi akan menjadi korban dari lembaga pernikahan siri.

Nikah siri sebagaimana yang dilakukan Bupati Aceng Purwaceng, seolah hanya menjadi lembaga pelampiasan nafsu sesaat. Dengan modal harta, pangkat dan kedudukan, seolah sang Bupati hanya ingin memetik perawan hijau yang masih belum sepenuhnya memasuki alam kedewasaan. Celakanya lagi, kok ya keluarga besar si perempuan juga merelakannya. Apakah hanya dengan “sogokan” uang untuk umrah dan sebagian untuk biaya masuk kuliah, mereka rela “menjual” anak gadisnya? Dalam hal ini, kasus yang terjadi sangat mirip dengan pernikahan siri Syekh Puji dari Semarang.

Peran seorang istri di jaman globalisasi teknologi informasi ini sangat tidak ringan. Tantangan rongrongan moral terhadap anak-anak dan remaja kita dari internet juga sangat kompleks. Internet hadir bagaikan sebilah mata pedang yang memiliki sisi tajam dan tumpulnya. Internet bisa berdayaguna namun bisa juga berdaya membunuh peradaban. Benteng terhadap itu semua harus dibangun semenjak di rumah tangga. Meskipun suami juga memiliki peran yang sangat penting, namun seorang istripun juga memiliki posisi serta peran yang tak kalah pentingnya. Dengan demikian dibutuhkan sebuah lembaga rumah tangga yang kuat, kokoh, dan legal di mata hukum. Apa jadinya ibu-ibu dari generasi penerus bangsa ini, jika mereka memulai langkah besar dalam proses mencetak generasi unggul justru dari pintu gerbang nikah siri? Duhai perempuan, jangan pernah memilih untuk menempuh nikah siri. Jika ingin serius berumah tangga, lakukan secara syariat maupun ketentuan hukum yang telah diatur oleh negara guna melindungi hak-hak asasi setiap warga negara.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Kado Hari Ibu

  1. Nasib pak Joko masih lebih baik daripada Purwaceng, Masyarakat lebih Fokus ke Aceng daripada kasusnya Pak Wawali Magelang, termasuk warga Magelang sendiri.

    Suka

    • sang nanang berkata:

      jelas beda kelas lah Kang! Hal itu juga menjadi baromeneter bahwa Magelang masih tersembunyi di rimba raya, dan tidak bisa menjadi hot issue….

      Suka

  2. Sawali Tuhusetya berkata:

    repot juga kalau perempuan hanya diberi label “isteri kelas dua” akibat nikah siri itu. kalau memang niatnya bener, kenapa mesti pakai jalan “siri”?

    Suka

    • sang nanang berkata:

      memang terkadang kita-kita sendiri yang menggali masalah, kemudian stress sendiri….dikasih pilihan yang terbaik, masih melirik pilihan lain yang lebih riskan, piye to?

      Suka

  3. emyfa berkata:

    istri -biasanya- jadi penentu kesuksesan seseorang walo dia cuman di’balik layar’

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s