Glonggong – Sebuah Novel Berlatar Perang Diponegoro


GlonggongMendengar kata glonggong, pertama kali yang terbersit di pikiran saya adalah sapi glonggongan. Lebih dari lima belas tahun silam, seorang teman pernah berkisah tentang teknik meminumkan air ke mulut seekor sapi yang akan disembelih. Tujuannya tidak lain untuk meningkatkan kadar air dalam tubuh sapi, termasuk pada dagingnya. Walhasil bobot sapi dan dagingnya akan meningkat dengan tajam karena si sapi kembo dengan air. Adapun glonggong yang beberapa waktu lalu saya baca dari sebuah novel ternyata bermakna lain. Glonggong rupanya istilah untuk pelepah daun pepaya yang di masyarakat tempat tinggal saya di Merapi, disebut sebagai blombong.

Alkisah pada awal abad XIX, seiring dengan masa pendudukan Nusantara oleh bangsa Inggris di bawah Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Raffles, meletuslah sebuah kraman, kudeta, atau pemberontakan terhadap kekuasaan Kanjeng Sultan HB di Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat.  Kraman tersebut dimpimpin oleh seorang perwira menengah yang bernama Ki Rangga. Tindakan kraman ini merupakan bentuk perlawanan terhadap kelakukan para ningrat di lingkaran istana yang tidak lagi taat pada laku utama, gemar berfoya-foya, bahkan menindas rakyat. Semua terjadi karena pengaruh dari Kompeni VOC dan para anteknya.

Pemberontakan Ki Rangga gagal. Para pengikutnya bercerai-berai dan banyak yang dibunuh. Mereka yang tertangkap hidup dijebloskan di penjara Wiragunan seumur hidup. Salah satu tahanan itu bernama Ki Sena. Ki Sena mempunyai istri bernama Rara Wahyu Ratnaningsih dan berputra Raden Danukusumo. Nasib istri seorang prajurit yang telah dicap sebagai pengkhianat memang amat tragis. Dengan penuh teka-teki dan tanda tanya, penuh harap dan cemas menantikan kejelasan kabar tentang suaminya tercinta.

Ternyata kabar baik yang ditunggu tiada jua datang, hingga rasa putus asa dan lara jiwa menjadikan istri Ki Sena menanggung duka nestapa sangat mendalam. Di tengah ketidakjelasan nasib, datanglah Den Mas Suwanda memperistri Rara Wahyu Ratnaningsih. Akhirnya bersama dengan Danukusumo ia tinggal di ndalem Kasuwandan dekat wilayah Tegalrejo.

Meskipun mendapatkan suami yang juga seorang ningrat, tidaklah membuat Den Rara mudah melupakan suaminya yang pertama. Rasa sedih dan nelangsa menjadikan Den Rara menjadi pendiam dan lebih sering mengurung diri di dalam bilik pribadinya. Keseharian waktu hanya dihabiskannya dengan merenung dan rengeng-rengeng nembang mocopat. Di sisi lain Den Mas Suwanda lebih sering bertugas di sekitar loji residen sehingga waktu keberadaanya di ndalem Suwandan tidak menentu dan tidak pernah bisa dipastikan.

Kedua hal inilah yang menjadikan Danukusumo terlantar tanpa curahan kasih sayang sebagaimana mestinya seorang bocah yang tengah tumbuh berkembang. Ia menjadi terasing bagi orang-orang di sekitarnya. Hanya suami istri Pak dan Mbok Trimo sang pengasuh setianya yang senantiasa berusaha menghibur. Terdorong oleh naluri seorang bocah, Danukusumo sering keluar dari ndalem Suwandan dan bermain dengan bocah-bocah dusun yang lain. Diantara kawan sepermainan yang paling dekat adalah Suto, anak dari seorang guru ngaji bernama Kiai Ngali.

Diantara sekian permainan yang dimainkan para bocah itu adalah perang-perangan. Perang-perangan yang dilakukan bukan sembarang perang. Mereka perang menggunakan senjata pedang. Pedang mereka bukan sembarang pedang-pedangan. Pedang mereka terbuat dari pelepah daun pepaya yang sudah menguning. Itulah pedang glonggong.

Masing-masing pendekar glonggong berperang menggunakan glonggong-nya. Satu sama lain harus menyerang lawan dengan memukulkan glonggong-nya pada bagian tubuh lawan. Larangan sasaran yang tidak boleh diserang adalah bagian muka, serta bagian tubuh dari perut hingga pangkal lutut. Apabila seorang pemain terkena pukulan, maka ia harus menjatuhkan tubuhnya di manapun saat ia terkena pukulan dan berpura-pura mati. Sungguh sial apabila seorang pendekar glonggong terkena pukulan saat berdiri di atas comberan atau bahkan di atas tlethong sapi atau kuda. Tanpa kompromi ia harus menjatuhkan diri dan berlumuran lumpur atau tlethong tersebut. Barang siapa curang, juri akan menyatakannya sebagai pihak yang tidak jantan dan harus mengaku kalah terhadap lawannya.

Danu sangat menyukai permainan glonggong. Ia sedari kecil sudah bergabung dengan pemain yang lebih besar. Seorang pemain cilik masih dianggap sebagai pupuk bawang atau bawang kothong, alias pemain yang belum serius. Dari pemain bawang kothong si bocah cilik akan meningkat peringkatnya untuk kemudian bisa sejajar sebagai pemain glonggong yang sungguhan.

Ketangkasan dan kecerdikan Danukusumo memainkan glonggong berawal dari latihan kerasnya dengan Suto. Suto anak Kiai Ngali adalah sahabat karib Danu. Ia selalu telaten mengajari Danu. Kebongsoran tubuh Suto menjadikan ia kurang lincah dalam bergerak dan menghindar dari serangan lawan, terlebih serangan cepat dan mendadak. Dari kelemahan Suto inilah Danu mengembangkan teknik ketangkasan dan kelincahan serta kecepatan gerak. Tidak hanya sampai di situ, Danu melengkapi ketrampilannya dengan gerakan kombinasi tangan kirinya yang cerdik mengecoh lawan. Walhasil, Danu berkembang menjadi remaja pendekar glonggong yang selalu menangan dalam beradu pedang. Lama-kelamaan Danu lebih terkenal dengan sebutan Glonggong.

Hidup Glonggong tidaklah seindah masa kecilnya bermain glonggong. Sekian lama sang ibu lara jiwa akhirnya kedua ibu beranak tersebut dipaksa lengser dari ndalem Suwandan. Hanya berdua dengan ibunya, Glonggong berkembang menjadi remaja, kemudian pemuda, yang harus bekerja keras menghidupi diri dan ibunya. Dengan modal ayam babon dan jago yang dikirim Mbok Trimo, Glonggong menjadi pedagang telur di pasar Tegalrejo. Meski keadaan jiwa sang ibu semakin lara, namun ia menginginkan setiap hari dapat berendam, mandi, sambil mocopatan di sendhang Tegalrejo tepat di belakang ndalem Suwandan. Merasa hanya ibunya satu-satunya keluarganya yang tersisa, Glonggong menggendong ibunya setiap hari pulang pergi ke sendhang Tegalrejo melintasi kali Winongo.

Denmas Suwanda merasa sangat terganggu dengan keberadaan Glonggong yang menggendong ibunya yang gila melintas di pekarangan ndalem Suwandan. Dengan berbagai cara, Denmas Suwanda mengancam Glonggong. Bahkan konflik semakin berlarut-larut dengan kisah hubungan Rara Endang, Raden Mas Surya, dan Prayitna, sementara Glonggong secara tak sengaja turut terhanyut dalam persoalan para putra priyayi tersebut. Glonggong dan ibunya sering mendapatkan perlakuan teror dari Prayitna. Puncak dari kemelut itu adalah terbakarnya rumah Glonggong yang kemudian merenggut nyawa ibunya.

Glonggong tinggallah sebatang kara yang tidak jelas nasib dan tujuan hidupnya. Atas kebaikan hati Surya, sahabatnya, Glonggong diangkat sebagai abdi Denmas Pringgawinata di ndalem Pringgawinatan. Priyayi yang satu ini ternyata secara diam-diam mendukung perjuangan Pangeran Aria Diponegoro, salah satu putra Hamengku Buwono III yang memilih hidup terpisah dari lingkungan kemewahan istana karena tidak setuju dengan ulah kerabatnya yang telah menjual harga diri mereka sebagai anak bangsa yang merdeka.

 

Keadaan kedhaton semakin kacau balau oleh pengaruh Kompeni. Kekacauan itu berpuncak dengan meletusnya Perang Jawa. Glonggong kemudian menjadi pengikut Pangeran Diponegoro yang sangat setia. Dengan permainan pedang Glonggong yang terbuat dari besi, ia terkenal sebagai pendekar Glonggong. Dengan ketangkasannya ia menjadi pengawal handal yang sering ditugaskan untuk mengirimkan barang amunisi dan logistik perang, maupun harta benda sumbangan untuk pasukan Diponegoro.

Bersamaan dengan pengembaraan dalam rangka menjalankan tugas atas nama perlawanan terhadap penjajah Kompeni, Glonggong juga berusaha mencari keberadaan ayah kandungnya dan saudara-saudarinya. Kenyataan membenturkan kepada pengalaman pahit dan sakit. Keceriaan ketika mengetahui bahwa ia memiliki seorang kakak perempuan harus ditelan pahit dengan kenyataan bahwa kakaknya ternyata seorang gundik majikannya sendiri. Perang semakin tidak menentu. Satu per satu kekuatan Diponegoro semakin diperlemah dengan pengkhianatan-pengkhianatan oleh orang-orang kepercayaan sang pangeran.

Pada suatu saat, Glonggong bertugas mengawal harta sumbangan para pangeran ke arah Semarang. Di tengah perjalanan ia dibegal oleh para antek Kompeni. Tidak hanya terluka parah, bahkan beberapa timah panas melumpuhkan Glonggong hingga beberapa bulan. Setelah sembuh dari luka-lukanya, Glonggong mengembara untuk menemukan kembali harta yang hilang. Ia bertekad menemukan harta tersebut dan mengembalikannya kepada Pangeran Diponegoro.

Dengan perjalanan yang berliku panjang, ia terdampar kembali di ndalem Suwandan. Bahkan di rumah itu pula ia berhasil menemukan kembali harta yang pernah dirampas dari pengawalannya. Rupanya Denmas Suwandan semenjak semula adalah antek dan telik sandi Kompeni. Bahkan ia jugalah yang sangat berperan menjebloskan Ki Sena, ayah kandung Glonggong, ke penjara Wiragunan.

Perlawanan Kanjeng Pangeran Diponegoro semakin diperlemah. Satu per satu pengikutnya berkhianat atau menyerah takhluk kepada Kompeni dan para anteknya. Sampai akhirnya Kompeni membujuk sang pangeran untuk berunding di Magelang. Di tengah kerumunan ratusan manusia yang menyaksikan jalannya perundingan, Glonggong membawa sekandil harta perjuangan. Ia tidak dapat secara langsung sowan menghadap Kanjeng Pangeran. Hanya dari jauh ia dapat melihat sang pangeran hingga akhirnya ribuan pelor berhamburan tidak karuan. Suasana kacau balau dan kerumunan massa tunggang langgang tinggal gelanggang. Saat itulah detik penangkapan Kanjeng Pangeran Diponegoro, saat berakhirnya Perang Jawa, dan saat terakhir Glonggong dapat melihat junjungannya.

Kisah novel berlatar sejarah Perang Jawa ini dikemas sangat apik oleh Junaedy Setiyono. Ia seorang pengajar di Universitas Muhammadiyah Purworejo. Novel ini bisa jadi merupakan novel pertama yang muncul dari Purworejo, sebuah kota kabupaten di sisi barat pegunungan Menoreh. Pengangkatan konflik antar para priyayi dan ningrat di sekitar lingkungan kedhaton Kasultanan merupakan bumbu cerita yang sangat menarik untuk diperdalam. Pertentangan lahir dan batin diantara para tokoh pelakunya merupakan gambaran perang besar yang akan senantiasa abadi, antara kebajikan dan kebatilan, antara yang hak dan yang batil, antara budi dan nafsu, dan antara keadilan dan kelaliman. Silakan baca novel selengkapnya.

Ngisor Blimbing, 28 Januari 2012

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

13 Balasan ke Glonggong – Sebuah Novel Berlatar Perang Diponegoro

  1. Muh Nahdhi Ahsan berkata:

    Jadi Denmas Suwanda itu ibaratnya musuh bebuyutan Glonggong.

    Suka

  2. Agus Mulyadi berkata:

    agak Oot, nek ng kampungku glonggong ki sok ge dolanan cah cilik ge gawe plembungan sabun mas, plembungane mantep nek nganggo glonggong, luwih gedhi mbangane nganggo sedotan…..

    Suka

  3. Agus Mulyadi berkata:

    rodo OOT, nek ng desaku, glonggong yo senengane ge gawe dolanan cah cilik, tapi ora ge pedang-pedangan mas, namung ge gawe plembungan sabun,

    Suka

  4. soewoeng berkata:

    dadi kelingan pas muter muter makassar hehehehe

    Suka

    • sang nanang berkata:

      oya ya, sempat sedikit memperbincangkannya, termasuk Bende Mataram dan Api di Bukit Menoreh….obrolan wong jadul yang tidak lagi dipahami anak muda masa kini

      Suka

  5. dododidiot berkata:

    novelnya bisa didapatkan dimana? penjual?
    gramedia? pecinan? toko buku jaya?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s