Kesan dan Kenangan untuk Kang Sumux


HapsoroDunia memang semakin panas. Para ahli mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh adanya pemanasan global. Bukan saja hanya faktor eksternal di luar diri manusia, justru manusia memberikan sumbangan terbesar terjadinya hal tersebut dengan emisi gas rumah kacanya, penggundulan hutan, dan segala bentuk perusakan lingkungan hidup lainnya. Setiap ulah manusia memang akan kembali kepada manusia itu sendiri. Apabila ulah kebaikan yang dilakukan, maka kebaikan pulalah yang kemudian akan diraih. Akan tetapi jika keburukan atau perusakan yang dilakukan manusia, maka keburukan dan kerusakan jualah yang akan dituai manusia.

Suasana bumi yang semakin panas sudah pasti menyebabkan manusia merasa lebih gerah, bahkan seringkali sampai keringatan. Kegerahan badan memang sudah sewajarnya bila kemudian mengeluarkan keringat sebagai kosekuensi penyeimbangan internal tubuh manusia. Hal itu jelas sudah menjadi sunatullah yang tidak akan mengganggu metablisme sistem di dalam tubuh dan kesehatan manusia. Nah yang ciloko mencit adalah bila sumuk tetapi tidak keringatan! Sumuk, tetapi ora kringeten!

Sumuk ora kringeten bisa saja terjadi karena sudah saking kebangeten-nya panas yang dirasakan manusia, tidak saja dari segi fisik tetapi justru lebih banyak dipengaruhi faktor psikis dan psikologis. Bayangkan panasnya kota seperti Jakarta, panas tidak saja membuat orang kringeten semata. Panas bisa membuat orang lebih mudah emosional dan tersinggung. Hal ini bisa berlanjut dengan saling gesekan diantara manusia akibat terjadinya salah paham maupun menurutkan hawa nafsu, serta amarah hati. Alam sudah terdegradasi. Lingkungan sudah rusak dan tidak lagi seramah sebagaimana sebelumnya kepada manusia. Suasana sumuk menjadi ora kringeten!

Saya tidak tahu persis apakah latar belakang di atas yang kemudian menjadi inspirasi bagi seorang teman, yang sudah cukup lumayan saya kenal ini, untuk  mengambil peparab atau jatidiri sebagai Sumux Ora Kringeten di dunia maya. Setelah saling intip-mengintip perkenalan melalui saling kunjung blog, pada suatu malam kopdaran di Pizza Huts-nya dekat Sarinah, muncullah sesosok pria berambut gondrong bin kriting. Dialah yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Moesjoem alias Kang Zumux.

BHI

Usut punya usut, ternyata Kang Zumux ini memang sudah sekian tahun mendalami dan menekuni disiplin ilmu yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan hidup. Ditambah lagi, dia memang bekerja sebagai salah seorang aktivis yang sangat getol melakukan aksi-aksi advokasi pembelaan terhadap lingkungan hidup. Konon dia pernah berkiprah di Greenpeace Indonesia, Yayasan Telapak, serta Indonesia Forest Wacth. Kiprah Kang Zumux banyak tercermin melalui berbagai postingan yang fokus terhadap isu lingkungan hidup.

Pertemuan dengan Kang Zumux berlanjut beberapa kali melalui cakrukan-nya warga BHI setiap Jum’at Malem Sabtu yang dulu rutin digelar. Kang Zumux yang bertempat tinggal dengan keluarga kecilnya di Bogor, seringkali harus nebeng Ndoro Kakung ataupun Paman Tyo pada saat bubaran cakrukan hingga Cawang untuk kemudian meneruskan perjalanan ke Kota Hujan. Kang Zumux termasuk sering membawa cerita yang mengarahkan isu diskusi teman-teman BHI menjurus kepada tema kepedulian lingkungan. Maka tidaklah mengherankan bila pernah digelar muktamar blogger yang mengangkat tema cinta kepada wit-witan alias pepohonan.

Hingga kemudian saya berpindah tempat tinggal di pinggiran Tangerang, dan cakrukan warga BHI sedikit mengendor gelarannya, maka praktis saya menjadi jarang berjumpa dengan Kang Zumux. Terakhir sempat sedikit banyak ngobrol dengannya secara langsung pada saat Pesta Blogger II di Kementerian Ristek, akhir Oktober 2008. Namun demikian, interaksi lewat halaman blog masih terus berlanjut.

KPC Perdana

Memasuki tahun 2009, setiap hari Jum’at saya justru mendapatkan sms ajakan untuk mulung sampah bareng di Kali Ciliwung yang dipandegani oleh Komunitas Peduli Ciliwung. Ketika kemudian hal itu saya konfirmasikan kepada Kang Bahtiar, barulah terang ternyata tokoh di balik KPC ini tidak lain dan tidak bukan adalah Kang Zumux. Dia memang merasa sangat prihatin dengan kondisi Kali Ciliwung yang mengalir di sekitar tempat tinggalnya. Kali, semestinya memiliki fungsi yang sangat vital bagi kelangsungan hidup manusia. Tetapi manusia justru berulah dengan merusak daerah resapan di bagian hulu dan membuang sampah sembarangan ke badan sungai di sisi hilir. Akibatnya kelestarian ekosistem sungai terganggu. Air baku untuk kebutuhan hidup manusia menjadi berkurang dan tak jarang Ciliwung memicu banjir kiriman di Ibukota Jakarta. Atas dorongan itulah kemudian Kang Zumux menggalang gerakan kepedulian terhadap Kali Ciliwung di wilayah Bogor.

Krentek hati memang sekali-sekali sangat ingin turut bergabung mulung di Kali Ciliwung bersama Kang Zumux dan KPC-nya. Namun kok ndilalah yang namanya niat juga hanya terhenti sebatas niat di hati dan hingga saat ini diriku belum pernah sama sekali bergabung, meski sekedar ngombyongi kegiatan mulung Ciliwung. Hingga sekitar 40-an hari yang lalu, saya mendapatkan informasi bahwa Kang Zumux mangkat ke haribaan-Nya akibat serangan jantung. Rasa nyesek, tak percaya dan ngeman sayang seribu sayang, benarkah kabar yang saya terima tersebut. Setelah sempat mencari kepastian kepada beberapa teman, ternyata memang benar bahwa aktivis lingkungan yang pernah saya kenal tersebut telah meninggalkan Ciliwung untuk selama-lamanya.

Kini, di malam ke-40 kepergianmu Kang Sumux, dirikupun tidak dapat turut bergabung memanjatkan tahlil untuk keselamatanmu yang digelar oleh Indonesian Forest Wacth. Namun demikian, sudah pasti diriku akan senantiasa mendoakan perjalanan abadimu di alam baka. Semoga semua cita-cita dan kepedulianmu terhadap Ciliwung, terhadap hutan Indonesia, terhadap kelestarian lingkungan hidup yang lebih luas dapat diteruskan oleh kawan-kawan dan generasi yang akan datang. Perjuangan memang penuh liku dan jalan yang teramat sangat panjang. Namun selayaknya sebagai manusia, kita memang hanya sekedar berusaha semaksimalnya sebelum akhirnya Tuhan sendirilah yang menentukan hasil akhirnya. Selamat jalan Kang Zumux, damailah di sisi Tuhan Yang Menguasai Alam Semesta Raya.

Ngisor Blimbing, 1 Desember 2012

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Blogger dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kesan dan Kenangan untuk Kang Sumux

  1. bahtiar berkata:

    selamat jalan mas hapsoro …
    cita-cita jenengan tetap kami tularkan di lingkungan kami beraktifitas

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s