Kedaulatan Bahasa Indonesia di Negeri Sendiri


Negara kita secara politik memang sudah lebih dari 67 tahun merdeka, semenjak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Perjuangan merebut kemerdekaan kemudian berganti dengan perjuangan untuk mengisi kemerdekaan yang selanjutnya lebih dikenal sebagai pembangunan. Salah satu bidang yang sangat penting dalam proses pembangunan tersebut adalah kebudayaan yang diantaranya berkaitan erat dengan pengembangan dan pembinaan bahasa, dalam hal ini bahasa Indonesia.

Secara historis, peran bahasa Indonesia sangat penting sebagai alat pemersatu semua suku bangsa yang ada di penjuru Nusantara. Sebagai embrio bahasa Indonesia, bahasa Melayu sebenarnya sudah mulai dipergunakan semenjak negeri ini masih terdiri atas kerajaan-kerajaan, sebagai bahasa pengantar untuk saling berkomunikasi diantara para pedagang Nusantara. Keberagaman suku bangsa dengan masing-masing bahasa daerahnya, menjadikan perlu adanya suatu bahasa penghubung untuk saling berinteraksi. Peran inilah yang diemban oleh bahasa Melayu yang kemudian berkembang menjadi bahasa Indonesia yang kita kenal hingga saat ini.

Di tengah era perjuangan dan pergulatan anak bangsa untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan kolonialisme Belanda, peran bahasa Indonesia berkembang menjadi bahasa perjuangan. Puncaknya adalah diikrarkannya Sumpah Pemuda dalam Kongres Pemuda Indonesia II pada tanggal 28 Oktober 1928. Dalam kesempatan tersebut seluruh pemuda anak bangsa menyatakan janji bahwa mereka mengakui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Inilah tonggak sejarah keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa kita.

Selepas Indonesia merdeka, bahasa Indonesia secara resmi dijadikan sebagai bahasa nasional sekaligus bahasa resmi kenegaraan. Keberadaan fungsi bahasa tersebut secara legal formal bahkan diatur di dalam Undang-undang Dasar 1945 Pasal 36. Lebih lanjut telah diundangkan juga Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara. Di dalam undang-undang tersebut ditegaskan bahwa bahasa Indonesia merupakan manifestasi kebudayaan yang berakar dalam keragaman budaya, dan kesamaan dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan NKRI.

Bahasa Indonesia merupakan jati diri bangsa, kebanggaan nasional, dan menjadi sarana pemersatu berbagai suku bangsa, sekaligus sarana komunikasi antardaerah dan antar budaya daerah. Sebagai bahasa resmi negara, bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa resmi kenegaraan, pengantar pendidikan, komunikasi tingkat nasional, pengembangan kebudayaan nasional, transaksi dan dokumentasi niaga, serta sarana pengembangan dan pemanfaatam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan bahasa media massa.

Globalisasi jaman merupakan sebuah keniscayaan yang tidak terelakkan. Dunia menjadi sedemikian terbuka dan seolah tanpas batasan fisik lagi. Infrastruktur perhubungan telah sedemikian maju dalam mendukung mobilitas manusia dari satu negara ke negara lain, dari satu benua ke benua lain, dan dari satu wilayah bumi ke bagian wilayah bumi yang lainnya. Demikian halnya infrastruktur komunikasi jarak jauh, seperti televisi, jaringan satelit dan internet telah menembus batasan ruang dan waktu secara lebih revolusioner. Dunia seolah menjadi sedemikian sempit, hanya sebatas di layar televisi atau monitor kumputer.

Kondisi demikian jelas telah meningkatkan intensitas hubungan antar manusia, tidak saja hanya yang sebangsa, namun sudah menembus antar bangsa dan negara. Interaksi yang terjadi tentu turut melibatkan interaksi budaya dan adat istiadat, termasuk bahasa dan kebahasaan. Antar satu bahasa dengan bahasa yang lain terjadi hubungan timbal balik karena penggunaan bahasa dalam pergaulan dunia yang semakin meluas. Satu dan lain bahasa saling mempengaruhi, baik dalam hal penyerapan, maupun akulturasi bahasa. Bahasa asing, seperti Inggris, Arab, Mandarin, Jepang ataupun yang lainnya banyak yang diserap menjadi bahasa Indonesia. Hal ini tentu saja menunjukkan adanya dinamika bahasa, sekaligus pengkayaan kosa kata.

Di sisi lain, adanya pengaruh bahasa asing terkadang menghilangkan titik pijak diantara sebagian penutur bahasa Indonesia. Dalam penggunaan bahasa Indonesia untuk berinteraksi sehari-hari, seringkali seseorang mencampuradukkan beberapa bahasa asing dalam penggunaan bahasa Indonesia. Penggunaan maupun penyerapan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia tentu saja harus tunduk dan taat kepada kaidah pembentukan kata dan ideom baku, sehingga tidak mneimbulkan kesalahan dalam pengucapan maupun penulisan sebuah kata.

Tidak dipungkiri kemajuan media komunikasi seringkali menjadikan tercampuraduknya beragam bahasa dalam penggunaan sehari-hari. Pada kalangan tertentu, pencampuradukan penggunaan istilah asing bahkan disengaja oleh seorang penutur bahasa untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih berkelas, intelek, gaya dan modern. Kelompok ini bisa jadi merasa rendah diri jika harus menggunakan bahasa Indonesia menurut kaidah yang benar. Banyak sekali contoh penggunaan bahasa asing untuk penamaan mall, toko, hingga produk barang dan jasa dengan mengesampingkan istilah padanannya dalam bahasa Indonesia.

Demikian halnya di kalangan terpelajar yang pernah mengenyam pendidikan, terlebih yang pernah menikmati pendidikan di luar negeri, seringkali kita temukan penggunaan kata meeting, nge-date, breakfast, dinner, attachment, bigboss, daddy, finish, security, playgroup, busway dan masih banyak contoh kata yang lainnya. Hal ini tidak saja hanya terjadi dengan bahasa Inggris, tetapi terjadi pula dengan bahasa Arab, German, China, Jepang, Italia, dan lain-lainnya. Tidak terhenti dalam komunikasi sehari-hari, bahkan ada kalangan tertentu yang lebih mantap memberikan nama anak-anaknya dengan model nama-nama asing. Bukan berarti hal itu tidak boleh karena memang itu bahkan menjadi bagian dari hak asasi dan kebebasan seseorang. Akan tetapi jika kita berpikir untuk kepentingan bangsa yang lebih besar, hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap dinamika bahasa Indonesia.

Penggunaan kata-kata asing yang telah memiliki padanan dalam Bahasa Indonesia sangat dimungkinkan akan mendegradasi makna kata itu sendiri. Bahkan lambat laun mungkin kita merasa rendah diri dan tidak percaya diri untuk tidak menggunakan kata-kata asing, meskipun di negeri sendiri. Segala hal yang berbau lokal akan dianggapnya sebagai hal yang kuno, bahkan kampungan. Sebaliknya setiap hal yang berasal dari luar negeri dianggap lebih modern, maju, dan beradab. Jika hal ini sampai terjadi, maka hilanglah kedaulatan bahasa Indonesia di negeri sendiri. Runtuhnya kedaulatan bahasa akan meruntuhkan pula jati diri bangsa kita, dan jika hal demikian terus terjadi maka sesungguhnya kita telah dijajah oleh bahasa, budaya, dan bangsa asing. Akankah kita membiarkannya dengan berdiam diri? Marilah kita kembali bangga berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Gambar diambil dari sini dan sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , , , . Tandai permalink.

16 Balasan ke Kedaulatan Bahasa Indonesia di Negeri Sendiri

  1. penggunaan kata2 asing setiap hari mungkin biar di bilang Intelek ya mas 🙂

    Suka

  2. dobelden berkata:

    gara2 sok intelek si mandra di putus si munaroh #cuplikan Si Doel Anak Sekolahan 😀

    Suka

  3. Wirawiri berkata:

    Jualan untuk bangsa sendiri saja senangnya menggunakan bahasa asing. Priben?

    Suka

  4. Ely Meyer berkata:

    memang penting ya bahasa Indonesia itu

    bagaimana kabarnya ? lama ya tak saling bertukar kata ? 🙂

    Suka

  5. Muh Nahdhi Ahsan berkata:

    Istilah online sepadang dengan daring (dalam jaringan), tetapi orang masih lebih familiar dengan online meski sebenarnya sudah tahu bahwa dalam Bahasa Indonesia dapat menggunakan istilah daring. Pemilihan kata untuk mengungkapkan sesuatu tak bisa lepas dari sumbernya, terlebih untuk istilah-istilah baru.

    Suka

  6. Sawali Tuhusetya berkata:

    masuknya pengaruh bahasa asing agaknya mustahil dhindari, mas nanang. lebih2 setelah masuk pada pusaran global. bahkan, menurut hemat saya, kata2 asing yang sudah memasyarakat tdk perlu repot2 dicari padanannya kalau kenyataannya padanan kata itu justru terasa lebih asing ketimbang kata2 serapan asing itu sendiri.

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Sangat benar, globalisasi merupakan sebuah keniscayaan bagi terjadinya pembauran antar bahasa. Mungkin Pusat Bahasa bisa memberikan panduan mengenai kata-kata serapan yang kita padankan dengan istilah kita ataupun yang diadopsi. Hal ini penting agar bahasa bisa berkembang dengan baik dan tidak liar, di samping untuk meneguhkan identitas kita sebagai sebuah bangsa berdaulat di bidang bahasa.

      Suka

    • Agus Mulyadi berkata:

      Setuju sekali pak Sawali, Jikalau memang kata asing itu sudah familiar dan mudah, lebih baik tak usah dipahami padanannya, dan juga sebaliknya, Kalo ada padanan yang lebih familiar dan lebih mudah, ya mendingan diganti. Tapi kok saya merasa hal ini sering kali dihiraukan ya, terlebih untuk istilah yang berbau keagamaan (yang biasanya diserap dari bahasa arab).

      Misalnya, pengumuman dari Departemen agama yang bunyinya seperti ini…
      “”Berdasarkan hisab dan rukyat yang kami lakukan, hilal telah tampak sekian derajat di atas ufuk, maka 1 Syawal jatuh pada esok hari”, terlihat benar seolah-olah kata-kata hisab, rukyat, hilal, dan ufuk tidak boleh digantikan, mungkin biar kesannya “sok ngerti agama” kali ya, padahal kan jelas kata-kata tadi bisa dicari padananya, bisa tho pengumuman itu diganti menjadi ”Berdasarkan perhitungan dan penglihatan yang kami lakukan, bulan sabit telah tampak sekian derajat di atas cakrawala, maka 1 Syawal jatuh pada esok hari.” saya yakin, Kalimat yang kedua lebih mudah untuk dimengerti oleh masyarakat (bahkan yang belum pernah menjamah Al-Quran sekalipun)

      Yah, memang penerapan bahasa itu harus melihat sikon ya…. Biar tepat, jelas, benar, dan tanpa mengurangi esensinya…

      Suka

  7. Sawali Tuhusetya berkata:

    sungguh sedih ketika sekarang ini begitu marak bahasa “alay” yang suka mengganti ejaan dengan lafal anak2 balita, seperti cius miapah, enelan, atau cungguh.

    Suka

    • sang nanang berkata:

      memang bahasa adalah kesepakatan para penuturnya, tetapi mestinya balai bahasa atau badan bahasa terus intensif mengawal perkembangannya, dan kita semuapun sedapat mungkin mengacu kepada acuan baku

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s