Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah


Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional kita. Semenjak diikrarkannya Sumpah Pemuda, bahasa Indonesia disepakati sebagai bahasa pemersatu semua suku bangsa yang ada di wilayah pendudukan Hindia Belanda. Keberadaan berbagai suku bangsa dengan beragam bahasa daerahnya masing-masing menjadikan bangsa kita memerlukan bahasa nasional yang dapat menjembatani komunikasi diantara sesama anak bangsa. Bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu dipilih sebagai bahasa pemersatu tersebut.

Sebagai bahasa pemersatu, bahasa Indonesia memiliki posisi dan peran yang sangat sentral dalam rangka membangkitkan semangat nasionalisme para tokoh pergerakan nasional untuk mencapai kemerdekaan. Dengan bahasa Indonesia, komunikasi diantara organisasi kepemudaan maupun pergerakan nasional menjadi lebih efektif dan lebur tanpa kendala batasan bahasa daerah yang lebih bersifat kesukuan dan berlaku dalam cakupan wilayah yang terbatas. Bahasa Indonesia mendorong para anak bangsa untuk mengatasi batas-batas primordialisme kesukuan menjadi lebih mengutamakan bangsa di atas suku bangsa. Itulah semangat nasionalisme!

Setelah bangsa Indonesia berhasil lepas dari belenggu penjajahan dengan diproklamasikannya Negara Kesatuan Republik Indonesia, bahasa Indonesia memiliki peran yang lebih luas sebagai bahasa resmi negara. Dalam kedudukan sebagai bahasa resmi negara, bahasa Indonesia menjadi bahasa formal yang digunakan dalam urusan kepemerintahan hingga sebagai bahasa pengantar di dunia pendidikan. Anak sekolah di taman kanak-kanak hingga mahasiswa di bangku kuliah mempergunakan bahasa Indonesia untuk mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan.

Di tengah laju globalisasi dewasa ini, dunia bergerak sedemikian cepat meninggalkan batas-batas tradisi. Bahasa Indonesia juga mengalami dinamika perkembangan sesuai pergerakan roda jaman. Banyak pengkayaan kosa kata dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa lokal maupun internasional. Pergaulan dan pembauran diantara anak bangsa yang berasal dari beragam suku dan bahasa turut memperkaya khasanah kosa kata maupun ideom dalam bahasa Indonesia.

Di kalangan masyarakat urban atau perkotaan, termasuk di kalangan intelektual, bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa komunikasi keseharian. Bahkan di tengah masyarakat perkotaan yang relatif lebih heterogen kompisisi penduduknya, bahasa Indonesia memiliki peran sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Tidak hanya di lingkungan formal, di dalam rumah tangga generasi terpelajar masa kini bahkan bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa ibu. Anak-anak di perkotaan lebih banyak diajari berbahasa Indonesia semenjak usia bayi. Anak kota, terlebih di kota besar seperti Jakarta, seakan sudah tidak lagi mengenal bahasa daerah yang pernah digunakan oleh bapak-ibu, kakek-nenek, dan moyang mereka di masa lalu. Bahasa daerah menjadi semakin terpinggirkan dan hanya menjadi nomor sekian setelah bahasa Indonesia. Apakah hal ini sudah tepat?

Keberadaan sebuah bahasa lokal atau bahasa daerah sangat erat dengan eksistensi suku bangsa yang melahirkan dan menggunakan bahasa tersebut. Bahasa menjadi unsur pendukung utama tradisi dan adat istiadat. Bahasa juga menjadi unsur pembentuk sastra, seni, kebudayaan, hingga peradaban sebuah suku bangsa. Bahasa daerah dipergunakan dalam berbagai upacara adat, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Seperti apakah sebenarnya kedudukan bahasa daerah kita terhadap bahasa Indonesia?

Sebagaimana telah ditetapkan di dalam Pasal 36 UUD Tahun 1945, bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional. Namun demikian di penjelasan dirumuskan bahwa di daerah-daerah yang memiliki bahasa sendiri, yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik-baik (misalnya bahasa Jawa, Sunda, Madura, dsb.) bahasa-bahasa itu akan dihormati dan dipelihara juga oleh negara. Bahasa-bahasa daerah itupun merupakan bagian pembentuk kebudayaan Indonesia yang hidup dengan dinamis.

Bahasa daerah pada saat ini lebih banyak dipergunakan oleh penduduk suku bersangkutan yang kebanyakan bertempat tinggal di daerah-daerah pedalaman, ataupun kota-kota kecil, serta daerah urban. Kelestarian, perkembangan, dan pertumbuhan bahasa daerah sangat tergantung dari komitmen para penutur atau pengguna bahasa tersebut untuk senantiasa secara sukarela mempergunakan bahasanya dalam pergaulan kehidupan sehari-hari. Jika penutur suatu bahasa daerah masih berjumlah banyak, dan merekapun menurunkan bahasa daerah yang dikuasainya kepada anak-anak dan generasi remaja, maka kelestarian bahasa yang bersangkutan akan lebih terjamin dalam jangka panjang. Sebaliknya, jikalau penutur suatu bahasa daerah semakin berkurang dan tidak ada upaya regenerasi kepada generai muda, maka sangat besar kemungkinan secara perlahan-lahan akan terjadi gejala degradasi bahasa yang mengarah kepada musnahnya suatu bahasa daerah.

Bahasa daerah adalah unsur pembentuk budaya daerah dan sekaligus budaya nasional. Apabila satu per satu bahasa pendukung budaya nasional musnah, maka lambat laun pilar penyangga budaya nasionalpun akan roboh dan hal ini berarti kebudayaan nasional juga mengalami ancaman yang sangat serius. Apakah jadinya sebuah bangsa yang tidak lagi memiliki kebudayaannya? Bangsa kita akan terjebak menjadi bangsa tanpa kepribadian. Hal ini jelas akan memperlemah tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negara ini akan menjadi negara yang gagal (the fail state). Dengan demikian bahasa daerah maupun bahasa nasional memiliki peran yang sangat penting bagi tegak berdirinya negara kita. Oleh karena itu, di samping penguasaan bahasa nasional maupun internasional dalam rangka menghadapi globalisasi percaturan global, maka setiap anak bangsa harus sadar untuk turut melestarikan bahasa lokal alias bahasa daerah. Caranya tidaklah terlalu sulit, mari kita kembali bangga menggunakan bahasa daerah di samping bahasa Indonesia.

Gambar diambil dari sini dan sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah

  1. HALAMAN PUTIH berkata:

    Betul kang, di keluarga saya pemakaian dua bahasa saya lakukan pada anak saya (bahasa Jawa dan Indonesia) sehingga ia nantinya tetap bisa berbahasa Indonesia tanpa melupakan bahasa Jawa.

    Suka

    • sang nanang berkata:

      siip Kang memang harus demikian, nek bahasa Indonesia relatif mudah dipelajari dan banyak kesempatan untuk mempraktekkannya di sekolah…lha nek bahasa daerah, kalau bukan kita siapa lagi yang akan nguri-uri ya kan?

      Suka

  2. dobelden berkata:

    inget cerita seorang teman, orang-orang papua itu dipedalaman saja sudah terbiasa berbahasa indonesia, jadi ketika ada tamu jauh mereka sudah bisa berkomunikasi dengan bahasa indonesia (walau gaya dan logat daerah).

    di sunda sendiri bahasa sunda sudah mulai terpinggirkan, anak2 kecil / remaja sekarang sudah mulai “malu” menggunakan bahasa ibu mereka, ini sudah darurat sebenarnya, karena saya pernah dengar bahwa dosen sastra jawa UGM saja ambil s2/s3 sastra jawanya di BELANDA 😀

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Jaman memang sudah terbolak-balik, yang orang luar belajar tentang diri kita sementara kita malah melupakan apa yang telah kita miliki.
      Kalau soal orang belajar tentang Jawa ke Belanda, itu terkait bahwa di sana sudah dibuka jurusan javanologi semenjak mereka mulai menjajah tanah Jawa. Mereka membuka jurusan itu dalam rangka membekali calon gupermen mereka yang akan bekerja di Hindia Belanda (tentu saja untuk menakhlukkan rakyat lokal melalui pendekatan kultural maupun militer).
      Bahkan BRM Dorojatun yang kemudian menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono IX juga lulusan javanologi dari Belanda.

      Suka

  3. Sawali Tuhusetya berkata:

    Iya nih, Mas Nanang. Sebagai masyarakat dwibahasa, antara bahasa daerah dan bahasa nasional idealnya bisa terus hidup berdampingan. dan saya yakin keduanya akan terus hidup sepanjang para pemangku budayanya tdk kehilangan kepedulian.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s