Bahasa dan Olah Rasa


Bahasa merupakan hasil evolusi kebudayaan manusia yang berfungsi sebagai alat komunikasi diantara sesama manusia. Bahasa mempermudah seseorang dalam mengungkap isi pikirannya untuk dipahami dan dimengerti oleh lawan bicaranya. Apakah fungsi bahasa hanya sekedar sebagai alat komunikasi saja? Bagaimana pula dengan bahasa Indonesia?

Para leluhur bangsa Jawa menggagas sebuah konsep pemikiran terkait bahasa yang tertuang dalam suatu paribasa “Ajining dhiri ana ing lati, ajining raga ana ing busana, lan ajining bangsa ana ing basa”. Maksud dari paribasa atau peribahasa tersebut kurang lebih, kemuliaan pribadi seseorang terletak pada lidahnya (kejujurannya), kemulian tubuh terletak dari pakaian yang dikenakannya, sedangkan kemulian sebuah bangsa terletak pada bahasa yang dipergunakannya.

Lidah memang tidak bertulang,  tetapi betapa lidah dapat mengeluarkan ucapan yang jauh melebihi tajamnya pedang. Ucapan yang lembut, penuh kasih sayang, dan disampaikan dengan tutur sapa yang santun, tentu sangat sejuk didengar dan diresapi siapapun pendengarnya, serta membawa suasana kedamaian dan kententraman penuh keakraban. Sebaliknya, ucapan yang keras, kasar, ketus, apalagi berangasan, dapat membangkitkan emosi dan menyebabkan kesalahpahaman yang bisa berujung kepada pertikaian serta pertengkaran.

Pemilihan pengungkapan kata melalui ucapan yang keluar dari lidah manusia tidak terlepas dari faktor penggunaan bahasa yang dilakukan oleh pembicara. Penggunaan bahasa yang dimaksud paling tidak meliputi pemilihan kosa kata dan cara pengungkapan rangkaian kata atau kalimat yang diucapkan. Setiap bahasa memiliki jutaan perbendaharaan kata, termasuk kata-kata berbeda namun merujuk kepada arti yang sama (sinonim). Hal ini memberikan peluang pengguna bahasa untuk memilih penggunaan kata-kata yang tepat, sesuai konteks ruang dan waktu penggunaan yang tepat pula. Konteks ruang dan waktu yang dimaksudkan terkait dengan kepada siapa, kapan, dan dimana kita berkomunikasi.

Pengungkapan kata dalam bahasa pada saat kita berkomunikasi dengan teman akrab kita dan dalam situasi santai, tentu harus berbeda pada saat kita bicara dengan orang tua, pemimpin, atau dalam suasana pertemuan maupun komunikasi formal. Dalam pertemuan atau komunikasi formal, kita harus memilih penggunaan dan pengungkapan bahasa yang sopan, halus, dan resmi. Sementara dalam suasana komunikasi yang non formal, kita lebih bebas dalam penggunaan bahasa, meskipun bukan berarti bebas tanpa batasan, seperti penggunaan kata-kata kotor, caci-maki, apalagi teriakan-teriakan ketus.

Penggunaan bahasa dalam situasi apapun seharusnya tetap mengindahkan pemilihan kata dan cara pengungkapan yang baik, sehingga sopan-santun dalam berkomunikasi tetap diterapkan.  Hal ini sangat terkait dengan ungkapan “ajining dhiri ana ing lati” sebagaimana telah disinggung di atas. Bahasa Jawa mengenal tegas soal sopan-santun atau unggah-ungguh dalam berbahasa. Penggunaan dan pengungkapan bahasa dibedakan dalam beberapa tingkatan kehalusan bahasa, sehingga dikenal bahasa Jawa ngoko (paling rendah), krama madya (menengah), dan krama inggil (paling halus).

Strata bahasa dalam bahasa Jawa sesungguhnya memandu penggunaan bahasa sesuai dengan konteks ruang dan waktu yang paling tepat. Di samping itu, penggunaan bahasa juga menunjukkan kepada rasa penghormatan, sopan-santun, diantara yang lebih muda kepada yang lebih tua, diantara orang awam kepada para pemimpinnya, termasuk diantara siswa dengan gurunya.

Pembiasaan penggunaan kata-kata yang halus (krama inggil) ternyata secara langsung maupun tidak langsung juga membentuk kepribadian dan tingkah laku yang lebih halus dan sopan. Sebaliknya kata-kata kasar dan tidak sopan lebih sering dipergunakan oleh orang rendahan, ataupun dalam suatu kondisi marah yang berlebihan. Seseorang yang terbiasa menggunakan kata-kata halus, bahkan dalam kondisi marah tetap masih menggunakan kosa-kata yang terpilih, bahkan dalam puncak kemarahan justru orang itu memilih untuk diam agar pertikaian tidak berkepanjangan, sambil mendinginkan hati dan pikiran agar emosi dapat segera dikendalikan. Dalam fungsi seperti inilah sebenarnya bahasa sangat terkait erat dengan penggemblengan jiwa dan olah rasa. Bahasa yang halus, lembut, penuh sopan-santun akan membentuk jiwa dan rasa yang halus pula.

Ibarat pemancar gelombang atau energy, seseorang yang bertutur bahasa halus ibarat memancarkan aura energi positif ke lingkungan sekitarnya. Energi positif tersebut akan menjadikan suasana penuh keteduhan dan ketentraman yang bisa dirasakan oleh si pembicara dan orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya penggunaan kata-kata kotor dan penuh luapan emosi, ibarat seseorang sedang memancarkan energi negatif yang memancaing orang lain untuk menanggapinya secara emosional dan negatif pula.

Fungsi bahasa dalam olah rasa sebagaimana dicontohkan melalui bahasa Jawa di atas, sebenarnya juga berlaku untuk semua jenis bahasa di dunia, termasuk bahasa Indonesia. Meskipun tidak memiliki tingkatan bahasa sebagaimana bahasa Jawa, dalam bahasa Indonesia terdapat banyak pilihan penggunaan kosa kata yang menunjukkan kehalusan penggunaannya. Sebagai contoh kata-kata gue, ane, aku, saya, kami, memberikan peluang penggunaan dalam konteks ruang dan waktu yang paling tepat. Dalam pergaulan sesama teman, kata “gue” dapat dipergunakan untuk merujuk kepada orang pertama. Akan tetapi ketika seseorang berbicara kepada atasan atau dalam suatu forum rapat resmi, atau dalam memberikan kata sambutan, tentu saja penggunaan kata “gue” tidak tepat. Pemaksaan penggunaan kata dalam kondisi yang tidak tepat akan menimbulkan gejolak rasa, bahkan muncul penilaian ketidak-sopanan, kurang ajar, atau mungkin rasa tidak suka. Bayangkan seandainya seorang presiden menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan sidang paripurna dewan dengan menggunakan kata gue dan loe?

Bahasa adalah cerminan jiwa dan rasa. Pergunakanlah bahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan. Ingatlah “ajining bangsa ana ing basa”,  kehormatan suatu bangsa dapat dilihat dari bagaimana warga Negara menggunakan bahasanya. Kehormatan bangsa Indonesia salah satunya juga ditentukan dari penggunaan bahasa Indonesia, khususnya oleh warga Negara Indonesia, secara baik dan benar.

Referensi Gambar dari sini dan sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Bahasa dan Olah Rasa

  1. Sawali Tuhusetya berkata:

    tulisan yang sangat mencerahkan, mas nanang. saya sepakat banget dengan isi tulisan ini. semoga harapan utk menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar dalam hidup keseharian bisa terwujud.

    Suka

  2. giewahyudi berkata:

    Iya, Mas. Bahasa tidak hanya sekedar alat komunikasi, tapi sudah menjadi sebuah cermin diri dari setiap orang. Orang yang menghormati suatu bahasa tentu ia akan dihormati orang lain.

    Suka

  3. damae wardani berkata:

    iya, baru sadar kalau damae sendiri sebenernya belum maksimal melestarikan bahasa sendiri. nice posting, 🙂

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Langkah awal memang kita harus menyadari kelemahan dan kekurang kita dalam berbahasa. Langkah selanjutnya ya kita berusaha belajar terus untuk menjadi lebih baik. Bukankah belajar sesuatu yang harus terus dilakukan sepanjang umur di kandung badan?

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s