Pesona Kawah Tangkuban Perahu


Kisah cinta terlarang antara Sangkuriang dan Nyi Dayang Sumbi meninggalkan keberadaan gunung Tangkuban Perahu. Danau luas nan indah yang dilengkapi dengan kapal pesiar yang megah, gagal diselesaikan secara tuntas dalam satu malam suntuk oleh Sangkuriang atas tipu muslihat Dayang Sumbi yang memang tidak menginginkan keberhasilan kekasih sekaligus putra kandungnya untuk menikahi dirinya. Dengan kemarahan yang sangat memuncak, Sangkuriang menendang kapal pesiar megahnya hingga terbalik dan membatu menjadi sebuah gunung. Gunung yang memang terlihat dari Bandung laksana kapal terbalik itulah yang kini dikenang sebagai gunung Tangkuban Perahu.

Tangkuban Perahu menjulang tinggi kurang lebih 25 km di sebelah utara kota Bandung. Gunung Tangkuban Parahu mempunyai ketinggian sekitar 2.084 meter. Bentuk puncak gunung ini adalah stratovulcano dengan pusat erupsi yang berpindah-pindah. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letusan kebanyakan adalah lava dan sulfur. Adapun mineral yang dikeluarkan adalah sulfur belerang, serta mineral yang dikeluarkan saat gunung tidak aktif adalah uap belerang. Suhu rata-rata hariannya adalah 17 oC pada siang hari dan 2 oC pada malam hari. Kondisi inilah yang menjadikan alam Tangkuban Perahu sangat sejuk dan menjadi idaman para pengunjung yang rata-rata berasal dari daerah perkotaan yang sudah sangat sumpek dan panas.

Menelusuri kota Lembang di Kabupaten Bandung Barat, Tangkuban Perahu dapat dicapai melalui jalur Lembang-Subang sejauh sekitar 10 km atau 30 menit perjalanan kendaraan bermotor. Perjalanan akan sangat menyejukkan mata dan hati karena suguhan pemandangan kawasan ladang sayur-mayur yang menghijau di tepian jalan. Selepas daerah Cikole, pengunjung akan disuguhi panorama pohon pinus yang berjajar rapi di kanan-kiri jalan membentuk pagar betis hutan hijau yang sangat rindang. Inilah kemewahan yang sangat sulit ditemui di kawasan perkotaan.

Selepas perjalanan 7 km dari Lembang akan dijumpai percabangan jalan, sebelah kanan menuju pemandian air panas Ciater di Subang, dan sisi kiri menuju kawasan Taman Wisata Alam Tangkuban Perahu. Jalan sisi kiri ini mulai lebih menanjak dan berkelak-kelok dengan sudut yang semakin tajam. Namun demikian, jalan berliku dan menanjak seakan tidak terasa berat karena kondisi jalan beraspal yang halus nan mulus. Setelah beberapa saat, pengunjung akan menemukan gapura pintu masuk kawasan Tangkuban Perahu. Di sinilah pengunjung harus membeli tiket masuk seharga Rp. 15.000,00 per orang. Di sekitar gapura ini nampak beberapa kawanan kera liar menyambut setiap tamu yang datang dengan keramahannya untuk sekedar meminta kacang ataupun pisang rebus dari pengunjung.

Menyusuri jalan naik dan menanjak, pengunjung akan menikmati sensasi bau belarang yang semakin lama akan semakin terasa menyengat hidung. Beberapa waktu sebelumnya, Tangkuban Perahu baru mengalami fase peningkatan aktivitas magma di dasar kawahnya sehingga sempat menyandang status waspada dan terpaksa ditutup beberapa hari untuk kunjungan wisatawan. Kini status gunung ini sudah kembali aktif normal, sehingga para wisatawanpun dapat mengunjunginya seperti biasanya.

Tak seberapa lama menapaki jalanan menanjak tajam, deretan parkiran di sisi kawah Ratu akan segera menghamparkan pemandangan bibir kawah maha luas nan dalam yang dipagari ribuan pengunjung di sepanjang sisi tepiannya. Inilah pesona keindahan gunung Tangkuban Perahu. Wisatawan yang berkunjung ke obyek ini berasal dari berbagai daerah di sekitar Bandung, seperti Jakarta, Indramayu, Cirebon, hingga provinsi lain semisal Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan ada yang dari Kalimantan dan Maluku. Tak ketinggalan para turis asing turut mengagumi anugerah alam yang indah ini. Pada saat saya ke sana, banyak rombongan dari China, Jepang, India dan beberapa turis Eropa dan Australia. Pesona Tangkuban Perahu memang sudah mendunia.

Sebagai kawasan wisata yang konsisten untuk menjamu para tamu dengan “sapta pesonanya”, Taman Wisata Alam Tangkuban Perahu telah melengkapi diri dengan berbagai fasilitas penunjang, mulai dari parkiran yang luas untuk mobil maupun motor, gardu pandang, pusat infomasi, sarana MCK, kawasan souvenir dan oleh-oleh khas, serta masjid untuk ibadah ummat Islam. Aneka souvenir khas Tangkuban Perahu yang dapat dibawa oleh wisatawan diantara aneka kaos, slayer, selendang, jaket, baju hangat, syal dengan hiasan lukisan khas Tangkuban Perahu. Anda juga bisa membeli aneka ragam hasil kerajinan batu-batuan berupa tasbih, kalung, cincin, gelang, bahkan dijual juga bermacam senjata tradisional, seperti golok dan kujang.

Sebagai daerah tujuan wisata yang terkenal, Tangkuban Perahu memang sangat mempesona. Pesona tersebut sedikit ternoda oleh ketiadaan akses transportasi umum yang murah dan memadai. Bagi Anda, para backpaker yang ingin menuju ke sana menggunakan kendaraan umum, maka Anda harus siap dengan ketidakjelasan informasi dan tarif yang tidak murah. Dari Lembang, nampaknya tidak ada trayek khusus yang melayani jalur Lembang – Tangkuban Perahu. Dari Lembang, kita dapat naik omprengan plat hitam jurusan Lembang – Subang yang siap mengantarkan penumpang hingga tempat wisata. Akan tetapi standar tarif yang tidak jelas mengharuskan kita mesti sangat hati-hati dan berani menawar harga yang ditawarkan. Untuk sekali perjalanan, setiap penumpang ditarik 50 – 60 ribu rupiah dengan iming-iming sudah lengkap dengan tiket masuk. Di samping naik omprengan, Anda juga bisa naik angkot warna kuning jurusan Cikole dengan sistem tarif yang tidak jauh berbeda.

Bisa naik ke kawah Tangkuban Perahu dengan kendaraan umum, lalu bagaimana Anda turun kembali? Ada omprengan yang menawarkan paket pulang-pergi dengan menunggui pengunjung hingga usai menikmati pemandangan Tangkuban Perahu. Jika Anda memilih untuk sekali jalan saja, maka di parkiran biasanya juga banyak omprengan yang ngetem menunggu “mangsa”. Sekali turun, penumpang akan dikenakan tarif “taksi” 70 ribu untuk sampai di Lembang. Tawar-menawar? Jangan harap mereka akan bergeming. Mau tidak mau, suka tidak suka akhirnya pengunjung harus nurut sistem mereka.

Sungguh disayangkan memang, tujuan wisata setenar Tangkuban Perahu tidak mampu memberikan kenyaman bagi pendatang perseorangan atau rombongan kecil. Apakah untuk datang ke Tangkuban Perahu harus menggunakan kendaraan pribadi atau dalam rombongan besar? Nampaknya pihak pemerintah daerah maupun pengelola wisata harus sungguh-sungguh memikirkan pemecahan penyediaan sarana transportasi umum yang menjangkau hingga kawasan wisata dengan tarif yang terjangkau. Semua rakyat, kaya dan miskin, sama-sama memiliki hak untuk menikmati pesona Tangkuban Perahu yang telah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa.

Di luar pengetahuan masyarakat pada umumnya, ternyata kawasan Tangkuban Perahu sudah tidak lagi berada di wilayah kota Bandung, Kabupaten Bandung, maupun Kabupaten Bandung Barat. Kawasan Tangkuban Perahu, secara administrasi, ternyata sebagian besar justru sudah berada di wilayah Kabupaten Subang. Namun apa boleh dikata, kesalah-kaprahan pemahaman umum memang sulit untuk diluruskan. Hal yang sama terjadi pula dengan candi Borobudur di Magelang yang dianggap berada di Jogjakarta, maupun kawasan Dieng yang sebagian wilayahnya berada di Kabupaten Banjarnegara tetapi masyarakat lebih meyakininya berada di Kabupaten Wonosobo.

Ngisor Blimbing, 3 Oktober 2012

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Pesona Kawah Tangkuban Perahu

  1. menarik sekali ceritanya mas 🙂

    Suka

  2. Ping balik: Probolinggo Miliki Bromo, Bentar, dan Bremi | makanenak.info

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s