New Normal Nggege Mangsa


Corona pancen durung gelem lunga apa maneh sirna. Gara-gara corona, ibadah Ramadhan sarwa keganggu. Ora ana tarawehan jamaah ing masjid. Ora ana tadarusan, santapan rohani, utawa kuliah subuh. Amarga corona, rencana mudhik dadi wurung. Riaya Idul Fitri wae dibelani ora sholat ning lapangan utawa mesjid. Sholat Ied sak khotbahe kepeksa dileksanani uga ana ing ngomah. Intine apa-apa diayahi ing ngomah. Ya bocah-bocah sing kudu sinau lan sekolah ing ngomah. Ya sing tuwa uga kerja seko ngomah. Kelebu uga ibadah ana ing ngomah. Kabeh jalaran saka corona mau.

Yen sekawit corona teka, akeh negara-negara kang langsung ngayahi lockdown. Lockdown mono tegese mbatesi sakabehing perkara utawa pengawean ing njaba omah, ora entuk lelungan, kalebu jalur lelunggan seko lan menyang manca negara uga ditutup. Wigatine lockdown kabeh penggawean kang ora gegayutan karo upaya ngendaleni dan mbrantas corona dilarang. Samubarang bab kan bisa njalari nyebar utawa nulare virus corona sak bisa-bisane kudu diendani. Rong wulan telung wulan sakwisa negara-negara mau nglesaknani lockdown, negara-negara iku saiki wis ngrasakake mudhune penularan corona kepara wis ana sing nglekasi penguripan kanthi tatanan anyar utawa kang kasebut new normal. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Jawa | Tag , , , | 1 Komentar

Andai Tetap Mudik (5)


UJUNG: TRADISI JALIN SILATURAHMI

Inti dari mudik tentu ber-Idul Fitri itu sendiri. Sedangkan inti daripada intinya Idul Fitri adalah saling bermaafan. Dalam rangka saling memaafkan inilah kemudian dilakukan saling berkunjung satu sama lain, antar tetangga juga antar kerabat yang tinggal di tempat lain bisa hanya antar dusun, antar desa, antar kecamatan, bahkan antar kabupaten atau provinsi. Dari dimensi tradisi dan nilai kearifan lokal di daerah kami, ujung menjadi wahana untuk saling bermaafan di Hari Lebaran.

Tahun ini tidak bisa mudik karena corona. Tidak mudik, otomatis tidak bisa ber-ujung ria sebagaimana biasanya. Kemajuan teknologi komunikasi menjadi alternatif untuk tetap saling bermaafan dari jarak jauh. Namun demikian hal tersebut sangat terbatas kami lakukan hanya dengan keluarga inti semata. Sanak saudara lain, terlebih dengan para simbah sepuh yang tak terjangkau teknologi mutakhir ataupun dengan sanak saudara yang tinggal di pelosok dan tidak terjangkau dengan sinyal dan lain sebagainya, praktis kami sama sekali tidak bersilaturahmi dan bermaafaan tahun ini. Bagi kami, ujung tetap tidak bisa dilakukan dari jarak jauh ataupun cara virtual. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Selamat Idul Fitri 1441 H


Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Andai Tetap Mudik (4)


TAKBIRAN LEBARAN

Momentum paling membahagiakan bagi kami selaku ummat muslim adalah menyambut hari suci Hari Idul Fitri. Sebagaimana diceramahkan banyak ulama, bahwa ada dua kegembiraan bagi seorang muslim yang menunaikan ibadah puasa, satu pada saat ia berbuka di setiap petang dan satu lagi pada saat berhari raya. Maka momentum malam jelang Idul Fitri dengan takbirannya menjadi puncak kebahagiaan. Ada rasa syukur atas nikmat telah menunaikan ibadah Ramadhan dengan baik dan juga atas nikmat umur panjang masih berjumpa kembali dengan hari raya.

Adalah wujud kegembiraan seorang muslim dalam menyambut Idul Fitri dengan mengumandangkan kalimah takbir, tahmid, dan tahlil. Allahuakbar, allahuakbar, allahuakbar. Laaila ha ilallahu wallahu akbar. Allahuakbar walillahilham. Takbiran, demikian aktivitas tersebut dinamakan. Takbiran dikumandangkan semenjak matahari terbenam hingga pelaksanaan sholat Idul Fitri di keesokan paginya.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Andai Tetap Mudik (3)


BESRIK, BEBERSIH MAKAM,  ZIARAH KUBUR LELUHUR

Mudi ke kampung halaman jelas bukan urusan beridul fitri semata. Ibarat kata sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau dilampaui. Demikian, saat pulang mudik Lebaran juga sekaligus melakukan beberapa rangkaian hal. Satu diantaranya adalah besrik atau bebersih makam sekaligus ziarah kubur kepada leluhur.

Adalah sebuah kelaziman orang-orang tua kami, silsilah leluhur senantiasa digethok-tularkan alias diceritakan langsung melalui penuturan lisan, bahkan diwasiatkan kepada anak cucu. Urutan siapa ayah-ibu berikut saudara kandung seayah-seibunya sudah pasti wajib diketahui. Mereka adalah para pakdhe-budhe dan paklik-bulik kami. Selanjutnya urutan ke samping dari ayah-ibu yaitu para sepupu ayah-ibu. Tak lain di jalur ini kamipun diajarkan untuk menyebutnya deretan pakdhe-budhe, juga paklik-bulik. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Andai Tetap Mudik (2)


MEMET ALIAS MEMANEN IKAN

Rumah kami di kampung halaman memang berada di lingkungan pedesaan. Secara kebetulan pula rumah tersebut berada di sudut dusun yang dibatasi dua batang anak sungai yang bertemu di pojok pekarangan belakang rumah. Kebun dan pekarangan di samping dan belakang rumah masih cukup luas. Di samping masih menyisakan beberapa rumpun bambu betung dan apus, tepat di tepian kali orang tua kami juga memiliki sepetak empang atau kolam ikan.

Kolam ikan yang kami miliki sebenarnya hanyalah sekedar kolam ikan kelangenan keluarga, terutama almarhum Bapak. Disebut kolam ikan kelangenan karena memang ikan yang kami pelihara lebih sebagai hiburan atau hobi, dan bukan dipelihara untuk dipanen rutin ataupun dijual hasilnya. Ikan di kolam kami khusus dipanen untuk menyambut Idul Fitri. Hal ini seolah menjadi tradisi unik di keluarga kami maupun pada keluarga lain tetangga kami yang juga memiliki kolam ikan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Alam | Tag , | Meninggalkan komentar

Lebaran Rasa Corona: Andai Tetap Mudik (1)


RERESIK BIN BEBERSIH RUMAH PUSAKA

Mudik terpaksa ditunda gegara corona. Sejatinya rasa kangen kampung halaman, rasa rindu ayah-ibu, rasa ingin bertemu itu sungguh nyata. Hari-hari penghujung Ramadhan seperti ini belum pernah sekalipun tidak ditakhirkan di kampung halaman. Merantau lebih dari 17 tahun belum pernah sekalipun berlebaran di tanah rantau. Mudik setiap lebaran telah menjadi sebuah keharusan. Desa tercinta senantiasa memanggil untuk berpulan saat Idul Fitri.

Mudik bukan saja keingin kami di rantau semata. Ayah-ibu, kakek-nenek, pakdhe-mbokdhe, paklik-bulik, juga sanak kerabat lain pasti berharap dapat berjumpa di hari raya. Bukan hanya soal perjumpaan itu semata, mudik juga merupakan rangkaian agenda untuk melakukan banyak hal terkait rumah pusaka kami. Rumah dimana kami lahir dan dibesarkan, rumah dimana kami berangkat dan senantiasa menjadi tempat kembali. Rumah istana bagi jiwa-jiwa kami dan kakak-adik yang sebagian diantaranya sudah tidak lagi tinggal bersama oran tua. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Indonesia Terserah


Duh alahiyung. Ampun Gusti! Lelakon apa ini, corona belum reda melanda masyarakat justru semakin abai terhadap protokol kesehatan. Memang seribu satu alasan yang ketemu nalar bisa dimaklumi sebagai argumentasi. Namun segala arumentasi tersebut seharusnya kalah prioritas dibandingkan keselamatan nyama, keselamatan jiwa dan raga manusia. Tanpa kecuali, tanpa kompromi!

Saat-saat awal corona tidak terelakkan lagi, kita taat untuk tetap di ruma ajah. Stay at home. Seminggu, dua minggu, sebulan, hingga lebih dari dua bulan ini kita sami’na wa atho’na dengan anjuran para pemimpin. Bekerja dari rumah, belajar di rumah, juga beribadahpun juga di rumah ajah. Meski demikian tidak dipungkiri tetap ada saudara-saudara kita yang tidak bisa tetap di ruma ajah. Mungkin karena tugas atau pekerjaan. Mungkin juga karena desakan kebutuhan. Saya tetap berprasangka baik, hanya segelintir yang karena cuek dan tidak mau tahu dengan corona. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , | Meninggalkan komentar

Lamunan Mudik Lebaran Kampung Halaman


Semenjak usia bocah, sesuatu yang paling menggembirakan dan selalu ditunggu itu bernama Lebaran. Kami lebih akrab menyebut bakda (bada) atau riaya untuk Hari Raya Idul Fitri. Idul Fitri hari suci. Hari istimewa selepas selama sebulan penuh ummat Islam menjalankan rangkaian iabdah di bulan suci Ramadhan. Ya puasa itu sendiri. Ya tarawihannya, ya tadarusannya, takjilannya, kuliah tujuh menit, kuliah Subuh. Juga zakat fitrahnya tak ketinggalan. Puncaknya sudah pasti malam takbiran dan sholat Ied yang dilanjut tradisi ujung, silatirahmi dengan tetangga kanan-kiri sedusun, juga kerabat sanak saudara.

Bagi kami kaum perantauan, momentum Lebaran adalah momentum istimewa untuk mudi ke kampung halaman. Tidak hanya sekedar tradisi, mudik bahkan telah menjadi semacam ‘ritual wajib’. Bagaimanapun saat untuk berkumpul dengan keluarga besar di tanah kelahiran adalah sebuah anugerah nikmat yang sungguh indah. Tahun ini adalah tahun corona. Gara-gara si corona ini, maka hasrat dan keinginan untuk mudik terpaksa harus ditangguhkan sementara waktu. Virus Covid-19 yang sangat mudah menular dan menyebar rupanya tidak mengenal libur di masa Lebaran. Bagaimanapun kami harus sadar untuk bersabar demi kesehatan dan kebaikan kita bersama. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | 2 Komentar

Kidung Tarawihan Ramadhan


Anyekseni ingsung saktuhune mboten wonten Pangerang, ingkang sinembah, kelawan sakbenere ing ndalem ujude, aning Allah.

Anyekseni ingsung saktuhune, Kanjeng Nabi Muhammad iku utusane Allah.

Kawulane Allah kang rama Raden Abdullah, kang ibu Dewi Aminah, ingkang dzahir wonten Mekah, jumeneng rasul wonten Mekah.

Pindah ning Medina, gerah ning Medinah, seda ning Medinah, sinareaken ning Medinah. Bangsane bangsa Arab, bangsa rasul, bangsa Quraisy.

Monggo lurr……. Kidung Tarawihan Ramadhan

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , , , | Meninggalkan komentar