Duka Cita Keluarga Besar


Innalillah wainna ilaihi roji’un. Duka cita terdalam keluarga kami atas dipanggilnya orang tua kami, simbah kakung kami, Bpk Sudiman Edi Setiawan, BE pada Ahad, 10 November 2019 pukul 02.00 WIB dini hari.

Almarhum telah dikembumikan di Pemakaman Dusun Kronggahan, Desa Polengan, Kec. Srumbung, Kab. Magelang, Jawa Tengah, pada Ahad, 10 November 2019 pukul 08.00 WIB.

Semoga segala amal ibadah almarhum diterima di sisiNya, segala dosa dan khilaf diberikan ampunan, dilapangkan kuburnya, dilancarkan jalan menuju surganya. Segenap keluarga besar yang ditinggal senantiasa diberikan ketabahan dan kesabaran, serta senantiasa dapat melanjutnya segala cita-cita almarhum.

Orang baik tak bisa mati. Karena kebaikan lebih kuat daripada kematian (EAN)

Kulon Balairung, 14 November 2019

Iklan
Dipublikasi di Jagad Keluarga | Tag , | 3 Komentar

Amanat Nyunggi Wakul


Pesan rakyat untuk pemimpin dan wakil rakyat yang baru dilantik. Wakil rakyat adalah bagian terpilih dari sekumpulan rakyat sebagai penyambung lidah, penyampai aspirasi dan kepentingan rakyat secara keseluruhan. Demikian halnya para pemimpin rakyat, baik yang duduk di struktural birokrasi maupun sosial kemasyakatan adalah manusia terpilih untuk memikirkan nasib warganya. Mereka semuanya adalah pengemban amanat rakyat.

Mereka, wakil dan pemimpin rakyat adalah anak kandung rakyat. Mereka lahir dari rakyat yang memberikan mandat kekuasaan bagi kesejahteraan bersama. Rakyat dan pemimpin adalah kesatuan yang harus manunggal, tidak boleh terpisahkan satu sama lain. Rakyat adalah pemimpin yang sejati, sedangkan wakil dan pemimpin rakyat hanyalah pemegang titipan kepemimpinan sejati tersebut. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , | Meninggalkan komentar

Negoro Tan Keno Sirno


Berdasarkan komitmen politik bangsa Indonesia pasca penjajahan Belanda dan Jepang, Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi satu-satunya wadah politik untuk mencapapai tujuan masyarakat adil makmur lahir dan batin. Politik menurut Aristoteles merupakan kata turunan dari kata polis, negara kota dalam masa Yunani dan Romawi Kuno. Politik mengacu kepada tindakan luhur dalam rangka mengangkat harkat dan martabat hidup warga polis.


Politik di Nusantara memang terus berjalan mengikuti cakra manggilingannya sang waktu. Menurut catatan sejarah yang terlacak, masa terbentuknya suatu sistem pemerintahan ditandai dengan kelahiran Kutai Kertanegara, kemudian berlanjut dengan Tarumanegara, Mataram Kuno, Sriwijaya, Majapahit, Pajajaran, Demak, Pajang, hingga Mataram Surakarta dan Yogyakarta.
Selepas lepas dari belenggu penjajahan selama lebih tiga setengah abad, maka mayoritas anak bangsa kemudian menginginkan bentuk negara kesatuan sebagai wadah perjuangan menjadi bangsa yang sejajar dengan bangsa lain di dunia. Sistem pemerintahan dan ketatanegaraan Republik Indonesia tentu berbeda dengan sistem kerajaan. Dalam sebuah negara republik, kekuasaan tertinggi terletak pada kedaulatan rakyat. Rakyatlah penguasa tertinggi sebuah negara.
Sesuai perkembangan lebih lanjut yang tidak memungkinkan setiap warga untuk duduk di dalam pemerintahan, maka dibutuhkan segelintir rakyat terpilih untuk duduk memegang kekuasaan, baik sebagai wakil rakyat maupun pelaksana roda pemerintahan. Dan untuk mewujudkan hal tersebut di atas kemudian dipilihlah demokrasi sebagai sarana dan jalan.
Enam puluh empat tahun lebih negeri ini telah berdiri. Pemerintahanpun satu persatu memegang tampuk kekuasaan. Mulai Soekarno, Suharto, Gus Dur, Megawati, Soesilo Bambang Yudhoyono, dan saat ini Joko Widodo memegang tongkat estafet kepemimpinan nasional. Periode kepemerintahanpun telah dibedakan menjadi Orde Lama, Orde Baru, dan yang paling muda Orde Reformasi.
Orde Reformasi merupakan gerakan moral yang pada awalnya dipelopori oleh mahasiswa dan kekuatan komponen rakyat yang lain, untuk melakukan koreksi terhadap penyimpangan-penyimpangan yang menyengsarakan rakyat. Kolusi, korupsi dan nepotisme adalah penyakit akut yang menyebabkan tidak tegaknya hukum, penyalahgunaan kekuasaan, dan berujung tidak adanya keadilan dan kemakmuran, yang semakin sulit dirasakan rakyat. Dua puluh satu tahun lebih masa reformasi berjalan. Adakah kemajuan signifikan yang bisa dirasakan oleh rakyat? Jelas jawabannya masih sangat jauh.
Suksesi kekuasan kembali berlangsung melalui pemilihan presiden secara langsung. Joko Widodo kembali terpilih untuk memimpin pemerintahan. Setelah berpasangan dengan Jusuf Kalla dalam masa pemerintahan sebelumnya, kini Ma’ruf Amien menjadi wakil presiden yang baru.
Lepas dari kontrovesial proses pemilu yang mengharu biru dengan perseteruan tak berkesudahan antara golongan kampret dan golongan cebong, institusi negara justru dirasa semakin kabur, abstrak, bahkan hilang alias sirna. Alih-alih para elit terpilih yang duduk di rumah dewan maupun pucuk pimpinan pemerintahan semakin mendengarkan aspirasi para konstituennya, fakta mempertontonkan bancakan kekuasaan, bagi-bagi jabatan. Rakyat kembali bertanya, apakah negoro ono, ataukah negoro nono negoro sirno?
Negoro ono maksudnya adalah sebuah sistem ketatanegaraan yang eksis menjalankan fungsinya dalam rangka mengangkat harkat dan martabat hidup rakyat melalui serangkaian program pembangunan guna mewujudkan kemakmuran dan keadilan bagi segenap rakyat. Sedangkan negoro nono, atau negoro sirno adalah hilangnya sendi-sendi fungsi kenegaraan. Negara hanya menjadi simbolisasi kekuasaan yang dimanfaatkan oleh segelintir elit penguasa untuk tujuan kelompok dan golongannya sendiri.
Bila kita sedikit cermat melihat komposisi kekuasaan di parlemen yang notabene penjelmaan dari wakil rakyat dan pembagian kekuasaan di dalam pemerintahan, sangat jelas nuansa dagang sapi. Nampaknya gelar “blantik” kembali layak disandangkan kepada para elit politik di negeri ini. Jangankan memikirkan kepentingan rakyat, yang diutamakan adalah kepentingan partainya masing-masing.
Bagaimana drama penyeleleksian calon menteri oleh Presiden Joko Widodo meskipun konon ingin mengutamakan para professional di bidangnya, namun dalam “ketidakberdayaan” justru semua partai ingin dirangkul untuk berbagi-bagi kekuasaannya. Yang terasa paling tidak masuk akal justru dirangkulnya partai yang sedari awal berada di sisi seberang saat kontestasi pilihan presiden yang lalu. Pihak yang semestinya berposisi sebagai oposisi justru digandeng untuk berkoalisi. Alasan yang bisa ditebak adalah upaya untuk mengamankan kekuasaan dengan adanya mayoritas tunggal di parlemen. Bukankah ini sebenarnya kembali kepada paradigma Orde Baru?
Demikian halnya dengan partai-partai di parlemen. Hampir semua partai tanpa tedeng aling-aling dan rasa malu mengusulkan nama A, nama B untuk menjadi kandidat menteri. Akhirnya roman bagi-bagi kursi tergelar sehingga lebih mengharu-birukan suasana politik yang semakin panas bergulir mirip reality show di tivi. Adakah proses audisi atau fit and proper test benar-benar berlangsung obyektif, sehingga bisa mendapatkan kader menteri yang profesional, ataukah teknik blantik masih dipraktekkan? Apakah memang transparansi proses demokrasi harus berlangsung telanjang, sehingga semua orang menjadi berdebar-debar dan berharap-harap cemas akan siapa yang akan duduk di kekuasaan?
Kalau semua partai berlomba-lomba mengejar jabatan di pemerintahan, lantas siapa yang mewakili rakyat? Manakala semua perwakilan partai mendapatkan jatah untuk duduk di pemerintahan, lantas siapa yang akan mengontrol jalannya pemerintahan? Apakah benar kader partai yang duduk di pemerintahan itu nantinya akan benar-benar melepaskan baju kepertaiannya untuk secara bersungguh-sungguh berdiri di atas semua golongan dengan adil? Demikian halnya dengan para wakil rakyat di parlemen, apakah mereka akan kritis terhadap setiap kebijakan pemerintah yang melanggar kepentingan rakyat, sementara mayoritas partai di parlemen menjadi pendukung pemerintah?
Ini jelas akal-akalan politik yang tengik. Rakyat kembali dibohongi dengan terang-terangan. Bila prinsip-prinsip ketatanegaraaan telah diabaikan demi jabatan dan kekuasaan, apakah mungkin sendi-sendi sebuah negara masih bisa kokoh berdiri? Adakah demokrasi hanyalah ilusi? Bila demikian halnya, apakah masih bisa dikatakan negoro ono? Lalu siapakah yang harus mengembalikan perimbangan kekuasaan antara pemerintah dan wakil rakyat?
Bila demikian halnya yang terjadi, kita tidak bisa lagi mempercayakan mekanisme check and balance dari wakil rakyat yang terhormat, maka mau tidak mau komponen rakyat harus memerankan peran tersebut. Kelompok-kelompok studi independen harus lebih diintensifkan, mahasiswa, ormas, dan LSM harus bangkit kembali mengontrol setiap kebijakan pemerintah. Intinya bahwa setiap komponan masyarakat madani harus memerankan fungsi-fungsi kritisnya kepada kebijakan yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Hanya dengan cara demikian negoro bisa ono, eksis memerankan fungsinya. Dan negoro tan keno sirno, negara tidak boleh sirna bila rakyat ingin berdaulat di negaranya sendiri. Rakyat harus berposisi sebagai oposisi! Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Keluarga | Tag , , | Meninggalkan komentar

Tari Soreng: Dari Arya Penangsang Hingga Sumpah Pemuda


Sumpah! Sumpah merupakan kebulatan tekad seseorang. Sumpah bisa menjadi energi pendorong yang sungguh luar biasa dalam rangka menggapai sebuah keinginan atau cita-cita. Mapatih Gajah Mada bersumpah, seluruh penjuru Kepulauan Nusantara bersatu di bawah panji Negeri Wilwatika Majapahit. Kita tentu sangat paham dengan Sumpah Palapa. Bangsa kita mengenal varian sumpah, diantaranya sumpah pocong, sumpah tanah, sumpah darah, dan lain sebagainya.

Di kalasenjanya Kasultanan Demak Bintoro hingga masa awal Pemerintahan Sultan Hadiwijaya di Pajang, seorang Arya Penangsang bersumpah menuntut balas atas kematian orang tuanya, bahkan juga atas tahta Demak. Sejarah selanjutya mencatat dengan gagah berani ia mengobarkan perlawanan dari Kadipaten Jipang Panolan. Ia seorang ksatria sejati sehingga detik-detik kematiannya sungguh heroik. Dengan usus terurai akibat tusukan tombak Kyai Plered andalan Sutawijaya, ia gugur dengan gagah setelah Keris Pusaka Setan Kober yang ia hunus justru memotong-motong ususnya sendiri yang terlanjur terburai. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Semarak Pawai Hari Santri ala Kampung Kami


Hari kemarin masih Hari Ahad alias Minggu. Hiruk-pikuk dan desas-desus dari para bocah di kampung kami riuh-rendah memperbincangkan akan adanya sebuah pawai. Tak kalah semangat anak-anak kami yang sekedar “numpang” ngaji setiap sore di pesantren sebelah turut kasak-kusuk. Sedari pagi hari, si Ponang sudah minta izin untuk turut pawai. Bahkan semenjak malam selepas menghadiri acara pentas badut di pesantren, si Noni juga sudah semangat empat lima untuk mengikuti pawai di Minggu sore.

Saya sendiri malah termangu. Jan-jane, sebenarnya, ini ada mau ada ramai-ramai apaan sich. Tahun Baru Muharram sudah lewat jauh. Agustusan, lha saat ini bulan Oktober. Kesaktian Pancasila, sudah lewat. Mauludan, sepertinya masih bulan depan. Terus pawai dalam rangka apa? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Ngisor Blimbing | Tag , , | Meninggalkan komentar

Tata Titik Keseimbangannya Tuhan


Sekiranya kita menerima pendapatan tiga padahal kualitas ataupun kuantitas pekerjaan kita sebenarnya layak untuk menerima lima juta atau lebih, maka kelebihan jasa yang tidak terbayarkan tersebut pasti akan diganti dengan kesehatan jiwa raga, ketentraman keluarga, anak-anak yang sholih-sholihah, panenan yang berlimpah, segala macam kemudahan setiap urusan dan lain sebagainya. Yakinlah hitungan kelebihan kerja keras kita sebagai amal jariyah ataupun shodakoh kepada perusahaan, kepada bos, bahkan mungkin kepada negara. Hal ini tentu saja terlepas dari pahala yang akan kita panen kelak di alam keabadian.

Sebaliknya, sekiranya kita menerima gaji sepuluh juta, padahal kualitas ataupun kuantitas kerja kita seharusnya hanya dihargai dengan nilai yang lebih rendah, maka kelebihan bayar yang kita terima itupun tidak akan pernah luput dari perhitungan-Nya. Badan yang sakit-sakitan, keluarga yang tidak tentram, anak-anak yang tak berbakti, kesulitan-kesulitan dalam berbagai urusan ataupun bentuk yang lain, yakinlah akan menimpa kehidupan kita. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , | Meninggalkan komentar

Kisah Bocah Kualat di Festival Teater Anak 2019


Syahrun, sebut saja demikian namanya. Ia seorang anak yatim dan hanya tinggal berdua dengan emaknya yang janda. Siang malam sang emak berusaha mengasuh dan mendidik anaknya semata wayang. Namun ketidaklengkapan asuhan orang tua menjadikan Syahrun sering berulah. Ia bahkan telah mendapatan gelar sebagai anak yang nakal di kampungnya.

Suatu sore, matahari telah condong di ufuk barat. Musim kemarau yang panjang telah menjadikan siang hari senantiasa terik dan menjadikan kerongkongan setiap orang kehausan yang luar biasa. Selepas bermain bersama dengan beberapa temannya, Syahrunpun meras kehausan. Dilihatnya dahan pohon manga sebelah rumahnya tengah berbuah dengan sangat rimbunnya. Buah manga berkulit semburat kuning yang telah matang tersebut seolah melambai mengajak siapapun yang melihat untuk memetik dan menikmati kesegaran buahnya. Syahrunpun tergoda. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , | Meninggalkan komentar

Man in the Middle Attack


Man in the middle attack. Secara harfiah syah-syah saja ungkapan tersebut diartikan orang di tengah yang melakukan serangan. Memang sedikit mirip dengan istilah yang populer di dunia sepak bola, penyerang tengah. Bukankah demikian? Mungkin juga sih pelaku penyerangan yang menusuk Pak Wiranto kemarin disebut sebagai orang di tengah kerumunan yang melakukan penyerangan.

Man in the middle attack di dunia maya, khususnya pada penerapan jaringan komputer, merupakan istilah yang umum digunakan. Dalam suatu proses komunikasi data, sangat dimungkian ada pihak lain di luar pengirim dan penerima data yang melakukan penyadapan data atau informasi. Jika hanya menyadap saja, maka ia termasuk man in the middle attacker yang pasif. Namun jika tindakan yang dilakukan tidak hanya terhenti pada penyadapan, bahkan lebih jauh ia melakukan modifikasi, perubahan, pemalsuan, bahkan perusakan data, maka ia tergolong attacker aktif. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , | Meninggalkan komentar

KC Edisi Oktober 2019


Monggo dihadiri bersama-sama.

Datang, duduk, lesehan, gratis dan barokah. Insya Allah.

Mukadimah lengkap, silakan disimak di sini.

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Terima Kasih Pak Habibie


Entah kesan apa yang terlintas tentang sosok intelektual yang satu ini. Setelah sebulan lalu turut khidmat menyimak warta kepulangannya kea lam keabadian, akhir pekan lalu si Ponang sempat dolan ke Puspiptek Serpong. Puspiptek, Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, merupakan sebuah kawasan pusat penelitian terpadu sebagai ibukotanya ilmu pengetahuan Indonesia karya pemikiran Mr. Crack.

Di remang malam jelang ujian tengah semester, asyik berdiam di bawah temaram lampu ruang dalam. Bukannya belajar mempersiapkan diri menempuh ujian di keesokan harinya, e lha kok malah khusuk merangkai bayang sang tokoh. Terima kasih Pak Habibie. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , | Meninggalkan komentar