Shopping Murah Meriah di Pasar Chatuchak Bangkok


By si “Ponang” Radya

Di hari Sabtu pagi, kami menyempatkan diri untuk berbelanja di Chatuchak market. Chatuchak market merupakan surga belanja di kota Bangkok. Pasar Chatuchak juga dikenal sebagai pasar JJ. Pasar Chatuchak buka pada hari weekand saja. Oleh karena itu, kita hanya dapat mengunjungi Pasar Chatuchak pada hari Sabtu dan Minggu saja.

Pada hari biasa pasar juga buka, tetapi pasarnya hanya beberapa toko saja yang buka. Pasar Chatuchak terletak di sebelah utara Kota Bangkok, tepatnya di distrik Chatuchak. Pasar Chatuchak juga berdekatan dengan Chatuchak Park, Bang Sue station, dan juga terminal bus Mo Chit. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Kisah si Ponang Belanja di Talad Neon Market Bangkok


By si “Ponang” Radya,

Haloo teman-teman, kembali lagi di Si Ponang Wodpress.com. Kali ini saya akan menceritakan  pengalaman saya berbelanja di Talad Neon Market. Talad Neon merupakan salah satu pasar malam terbesar di  Kota Bangkok. Talad Neon Market terletak di Phetchaburi Rd, Makkasan. Untuk ke sana, kita dapat naik bus dengan nomor 536, 140, 62, dan masih banyak lagi.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Corona Ambyar


Geger corona! Gegara corona dengan virus covid-19nya, kehidupan di segala bidang seakan mobrak-mabrik. Tidak ada angin tidak ada badai, semua aktivitas keseharian harus dihentikan. Belajar di rumah, bekerja dari rumah, bahkan beribadah juga di rumah. Istilah social distancing dan juga lockdown demikian populer hari-hari ini. Semua gegara corona.

Si Noni telah lebih dari tiga tahun sekolah di PAUD hingga TK. Bulan-bulan ini menjadi bulan-bulan akhir studinya di taman kanak-kanak sebelum di pertengahan Juli nanti menapaki sekolah di bangku SD. Beberapa agenda untuk siswa tahap akhir sudah tertata tarik-tarik. Salah satu diantaranya lomba anak-anak di Pantai Ancol yang semestinya dua pekan silam dilaksanakan. Sudah lelah berlatih, sudah bersabar menanti hari H, elha dalah lha kok semuanya harus batal karena corona datang. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , | Meninggalkan komentar

Corona Time: Saat Yang Berharga Bagi Keluarga


CORONA TIME: QUALITY OR JUST QUANTITY TIME FOR OUR FAMILY

Tiba-tiba harus sekolah di rumah, harus bekerja di rumah, bahkan harus beribadah di rumah. Jika pada hari-hari sebelumnya kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan beraktivitas di luar rumah, hari-hari ini kita justru diarahkan untuk lebih banyak diam diri dan beraktivitas di dalam rumah. Social distancing, demikian istilah keren yang hari-hari ini tengah kita lakukan. Hal ini tak lain dan tak bukan karena mewabahnya Corona atau virus Covid-19.

Corona. Awalnya virus ini merebak di kota Wuhan, Negeri Tiongkok. Tiba-tiba negeri kita juga benar-benar kedatangan tamu virus tak diundang yang masih sangat misterius ini. Tidak hanya datang, saat berpamit pulang ia bahkan telah merenggut beberapa nyawa dari saudara-saudari kita. Hari-hari ini kita menerima warta semakin bertambah luasnya penyebaran virus yang menyerang imunitas manusia ini. Tidak hanya pasien yang terkonfirmasi positif mengidap Corona, korban meninggal duniapun semakin bertambah. Tidak hanya di negeri kita, namun fenomena ini terjadi di seluruh penjuru dunia. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Hikayat Cendol Dawet


Alkisah, sohibul hikayat Muhammad Ainun Nadjib pernah berkisah tentang hikayat seorang penjual cendol. Diceritakan Kiai Hamam Ja’far di Pesantren Pabelan akan kedatangan tamu agung dari Negeri Gajah Putih. Kedatangan tamu itu dalam rangka lebih mempererat persahabatan dan memupuk semangat toleransi diantara dua insan yang berbeda keyakinan.

Sebagai ulama karismatik yang memegang teguh nilai tradisi, maka Sang Kiai ingin menyuguhi tamunya dengan suguhan khas daerah. Maka semenjak hari pertama kedatangan tamunya sudah tersusun menu hidangan mulai dari gethuk, growol, wajik, lemper, sengkulun , ongol-ongol, dan sagon. Dan sebagai pelepas dahaga yang menemani pacitan tersebut akan disuguhi dengan legen, dawet ayu, dan sudah pasti wedang jahe. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Tokoh | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Al Corona Madrasatul ‘Ula


Al corona madrasatul ‘ula. Ungkapan ini mungkin memang baru kali ini kita dengar. Al corona adalah sekolah utama. Al corona madrasatul ‘ula memang bisa dikaitkan dengan sangat erat dengan ungkapan al ummu madrasatul ‘ula, ibu adalah sekolah yang utama bagi anak-anaknya. Hari-hari ini kita memang tengah disibukkan pikiran kita, akal kita, hati kita, batin kita, bahkan jiwa dan raga kita dengan kehadiran virus Covid-19. Virus Covid-19, datang tak diundang namun bisa jadi pulang dengan membawa kematian kita. Ngeri-ngeri sedap ya?

Virus Corona alias Covid-19 merupakan novel virus. Virus baru yang baru muncul dan belum pernah dikenal sebelumnya. Saking tidak atau belum dikenal inilah, Covid-19 menghadirkan teror kecemasan, bahkan rasa ketakutan yang sungguh luar biasa. Ibarat berkebalikan dengan ungkapan tak kenal maka tak sayang, demikian halnya dengan Corona virus ini. Jangankan sayang, kenalpun belum. Jangankan kenal, sekedar tahupun belum. Ilmu dan pengetahuan kita mengenai tamu tak diundang yang satu ini memang harus diakui masih serba minim. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , | Meninggalkan komentar

Rick Dari Corona


Rick dari Corona. karya WS Rendra.

Di Queens Plaza
di stasiun trem bawah tanah
ada tulisan di satu temboknya:
“Rick dari Corona telah di sini.
Di mana engkau, Betsy?”

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Lockdown Corona dan Memaknai Kembali Makna Rumah


Tidak dipungkiri hotnews bin headline bin viral pemberitaan sebulan-dua bulan ini adalah perihal virus Corona. Varian virus baru yang pertama diidentifikasi di Wuhan, Negeri Tirai Bambu, benar-benar telah tiba dan hadir di negara kita. Akhir pekan ini menjadi titik babak baru penanganan pandemi Corona di negeri ini. Setelah pemerintah Kota Solo mendeklarasikan KLB Corona setela salah satu warganya meninggal akibat Corona, Pemprov DKI Jakarta tak berselang menetapkan untuk menutup sementara waktu obyek wisata di ibukota. Kebijakan ini disusul dengan meliburkan sekolah-sekolah selama dua minggu ke depan. Kebijakan semacam ini kemudian menggelombang diumumkan di berbagai daerah.

Berita mengejutkan di malam akhir pekan mewartakan salah seorang Menteri dinyatakan positif terjangkit Covid-19. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Presiden Jokowipun merilis kebijakan guna menghimbau masyarakat untuk bekerja di rumah, belajar di rumah, bahkan beribadah di rumah. Kebijakan ini bertujuan untuk meminimalisir interaksi antar warga yang sangat berpotensi menjadi wahana penyebaran atau penularan virus Corona. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , | Meninggalkan komentar

Kenduri Cinta Edisi Maret 2020


Monggo dihadiri bersama-sama. Datang, duduk, lesehan, gratis dan barokah. Insya Allah.

Mukadimah lengkap, monggo di mari.

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Daffa dan Sepeda


Gambar di bawah ini beberapa hari lalu sempat saya posting di halaman FB. Cerita yang tertangkap dengan latar hujan yang mengiringi si Daffa saat mencuci sepedanya adalah sambil mencuci sepeda berhujan ria. Bisa juga tujuan si bocah yang sebenarnya bukan mencuci sepedanya namun justru berhujan rianya. Maklum namanya juga bocah. Hujan adalah sebuah kemewahan untuk dinikmati sebagai bagian dari dunia permainan. Berhujan ria adalah bermain ria. Bukankah demikian?

Tentu hal tersebut di atas tidak sama sekali salah. Namun demikian, di balik sebuah foto atau gambar Daffa dan sepeda sesungguhnya ada latar cerita yang tidak kalah menariknya.

Daffa, anak kelas 2 sekolah dasar. Sekolahnya memang hanya di tetangga dusun yang hanya berjarak tak lebih dari 1 km. Pulang-pergi sekolah memang ia seringkali diantar jemput. Seringnya barengan maknya yang sekaligus berangkat mengajar di sebuah Mts yang sejalur. Kadangpun diantar oleh Mbah Utinya yang seorang pensiunan guru. Dulu saat masih hidup, Mbah Kakungnya juga sering mengantar. Maklum si Daffa baru kelas 2 sekolah dasar itu tadi. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , | Meninggalkan komentar