Guyub Rukun HUT Ke 10 Paguyuban Wong Magelang Jabodetabek


Guyub bermakna rukun dalam kebersamaan dan bersama dalam kerukunan. Spirit inilah yang menjadi jiwa dan ruh sebuah paguyuban. Sebagai makhluk sosial yang memiliki kecenderungan untuk senantiasa berkumpul dengan sesamanya, paguyuban hadir sebagai salah satu wadah berkumpul tersebut. Ada berbagai kesamaan yang menjadi latar berkumpul manusia dalam sebuah paguyuban. Ada yang dipersamakan oleh profesi, pekerjaan, bahkan dengan sesama kampung halaman dan tanah rantau. Demikian halnya dengan Paguyuban Wong Magelang di wilayah Jabodetabek.

Terbentuk pada 4 Oktober 2008, Paguyuban Wong Magelang Jabodetabek atau dikenal pula sebagai PW MGL pada saat ini menginjak usia 10 tahun. Salah satu organisasi putra daerah yang mewadahi para perantau asal Kabupaten dan Kota Magelang ini, PW MGL salama ini fokus dalam menjalin komunikasi dan silaturahmi antar warga perantauan. Dari silaturahmi tersebut telah banyak tercetus dan terlaksana berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, mulai dari silaturahim rutin, bakti sosial, santunan yatim-piatu serta kaum duafa, bantuan kemanusiaan, hingga mudik lebaran secara gratis. Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Jagad Magelangan | Tag , , | Meninggalkan komentar

Agenda Festival Tlatah Bocah XII Tahun 2018


Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Sumbang-Menyumbang Berujung Hutang-Piutang


Orang hidup tentu tidak bisa terlepas dari kebutuhan hidup. Orang hidup perlu pangan. Orang hidup perlu sandang. Orang hidup perlu papan, serta segala macam kebutuhan hidup lainnya. Tentu saja untuk memenuhi setiap kebutuhan hidup manusia diperlukan uang. Tanpa harus menjadikan uang sebagai segala-galanya dalam hidup, uang kita yakini dan akui bersama sebagai hal yang penting dalam kehidupan kita. Tidak ada kebutuhan hidup yang didapatkan dengan cuma – cuma. Ibarat kata tidak ada yang gratis di dunia ini. Setiap hal sebagai bagian dari kebutuhan hidup manusia memerlukan nilai penukar yang berimbang. Dan itulah fungsi dan guna uang.

Untuk memiliki uang orang harus bekerja. Dengan bekerja, orang memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Uang biasa diidentikkan sebagai penghasilan dari suatu kerja yang dilakukan. Penghasilan yang didapatkan inilah yang selanjutnya dibelanjakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup. Kebutuhan yang semakin banyak semestinya diimbangi dengan jumlah penghasilan yang semakin meningkat pula. Namun demikian hal tersebut tentu tidak senantiasa berlaku ataupun terjadi sebagaimana keinginan manusia. Seringkali, atau bahkan selalu, peningkatan kebutuhan jauh lebih besar dibandingkan dengan peningkatan penghasilan kita. Akibatnya ada kesenjangan yang semakin lebar antara penghasilan dan kebutuhan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Antara Bumi dan Manusia


Bumi adalah bagian alam semesta raya sebagai tempat hidup kita. Bumi adalah makhluk ciptaan Tuhan. Demikian halnya dengan manusia. Bumi tercipta terlebih dahulu dibandingkan manusia. Setelah kejadian maha dahsyat sebagai titik awal keberadaan ruang dan waktu yang disebut sebagai big bang, tergelarlah langit dengan segala bintang-gemintang, gugusan tata surya, matahari, bumi, bulan, planet-planet dan segala isi ruang angkasa lainnya. Segala macam rupa bakteri, virus, jamur, tumbuhan segera dikembangkan untuk menghuni waktu dan ruang yang baru diedarkan tersebut. Menyusul kemudian binatang dan hewan-hewan.

Setelah semesta tergelar lengkap, termasuk segala rupa tumbuhan dan binatang, barulah manusia dihadirkan sebagai makhluk-Nya yang terakhir. Manusia dicipta sebagai puncak kreativitas penciptaan Tuhan. Setelah alam terhampar, Tuhan menitahkan adanya satu makhluk hidup untuk meng-khalifahinya. Meskipun mendapatkan kesangsian dan protes dari iblis bahwasanya manusia hanya akan menumpahkan darah dan menebarkan kerusakan di alam semesta, namun Tuhan tetap pada keputusan untuk mengutus manusia ke bumi. Manusia dititahkan-Nya untuk mengemban amanah sebagai kalifatullah fil ardzi, pemimpin di muka bumi. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Alam | Tag , , | Meninggalkan komentar

Kenduri Cinta Edisi Oktober 2018


Monggo dihadiri bersama-sama.

Datang, duduk, lesehan, gratis dan barokah. Insya Allah. Mukadimah lengkap, silakan disimak di sini.

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Apakah Kena Pukul di Goa Pindul?


Sudah hampir satu dasa warsa desa Gelaran menjadi tenar. Desa kecil di sisi utara Kota Wonosari, Gunung Kidul tersebut di kala itu diketahui memiliki potensi goa yang masih terpendam namun belum dikembangkan dengan semestinya. Ketika sentuhan terhadap goa itu dimulai, mulailah ketenaran goa tersebut mulai tersohor. Goa dengan aliran sungai di dalamnya inilah yang kini terkenal sebagai Goa Pindul.

Nama Goa Pindul sendiri tentu menyimpan kisah legenda yang hingga kini masihsecara turun-temurun diwariskan antar generasi di desa tersebut melalui kisah dongeng. Konon pada jaman dahulu kala, tersebutlah seorang pangeran bangsawan dari suatu kerajaan ternama. Ia memiliki putra sebagai hasil hubungan gelap dengan seorang gadis di suatu dusun. Untuk menyelamatkan nama baik dari sang bangsawan, bayi mungil tanpa dosa yang baru terlahir itu dibuang dengan cara dihanyutkan pada aliran air yang masuk ke dalam sebuah goa. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Alam | Tag , , | 4 Komentar

Back to Tradition, Back to Traditional Games


Tradisi sebenarnya mengacu kepada suatu perbuatan yang dilakukan secara sadar dan berulang ulang. Tidak saja dilakukan secara individu,  perbuatan berulang itu dilakukan dalam suatu kelompok, bahkan satu kelompok masyarakat yang lebih luas. Tradisi ataupun tradisional sama sekali tidak ada hubungannya dengan sesuatu yang kuno melawan sesuatu yang baru, sesuatu yang ndeso dengan yang modern. Sekali lagi tradisi dan tradisional berhubungan dengan keberulangan suatu perbuatan.

 

Diantara salah satu yang berkaitan dengan tradisi yang telah lahir dan mandarah daging di kalangan leluhur serta pendahulu kita adalah permainan tradisional. Siapa yang masih ingat dengan gobak sodor, petak umpet, jamuran, benthik, betengan, sudamanda, egrang, engsreng, bakiak, lompat tali atau karet, dakon, dan segudang puluhan bahkan ratusan jenis permainan tradisional yang lainnya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , | Meninggalkan komentar

Festival Tlatah Bocah XII Segera Digelar


Dengan mengusung tema “Holobis Kuntul Baris“, Festival Tlatah Bocah XII Tahun 2018 siap digelar. Tlatah berarti wilayah, daerah, wadah, maupun wahana. Tlatah bocah merupakan pagelaran dalam rangka memberikan ruang apresiasi bagi pengembangan minat dan bakat anak-anak, khususnya dalam bidang seni dan budaya. Tlatah bocah, dari semua untuk anak-anak kita.

Diinisiasi oleh Komunitas Rumah Pelangi yang melakukan pendampingan terhadap anak-anak lereng Merapi di pengungsian berkenaan dengan peristiwa erupsi Merapi pada tahun 2006, Festival Tlatah Bocah tahun ini merupakan perhelatan untuk ke dua belas kalinya dengan tema holobis kuntul baris. Holobis kuntul baris merupakan sebuah tekat, semangat, spirit, dan keinginan untuk bersatu, menyatu, dan berpadu. Holobis kuntul baris secara sederhana semakna kata dengan gotong royong.  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar