Dilema Fullday School SD Panglima


Sudah sejak tiga tahun silam si Ponang duduk di bangku SD Panunggangan 5, Ya, saat ini ia berada di kelas 4. SD Panunggangan 5 biasa disingkat sebagai SD Panglima. SD ini berada satu halaman dengan SD 11 dan berlokasi di belakang Kantor Kelurahan Panunggangan, Kota Tangerang. Dengan demikian, secara geografis, SD ini masih berada di pinggiran ibukota Jakarta.

Letak SD Panglima yang masih sangat dekat dengan ibukota negara ternyata tidak secara otomatis menjadikannya sebagai sekolah dasar yang memiliki infrastruktur bangunan yang memadai. Pada saat ini SD Panglima memiliki enam ruang kelas. Namun demikian jumlah siswa di SD tersebut tercatat 12 kelas, masing-masing kelas 1 hingga kelas 6 secara paralel. Dengan keterbatasan ruang kelas tersebut, maka siswa masuk sekolah dibagi ke dalam tiga shift waktu. Ada yang masuk pukul 07.00 pagi, ada yang jam 10.00, dan shift terakhir masuk pada jam 13.00. Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , | Meninggalkan komentar

Geografi Peta Buta


Awal perkenalan saya dengan istilah geografi dimulai di bangku SMP, kurang lebih 27 tahun silam. Meskipun demikian, berkenaan dengan ruang lingkup mataeri pelajaran geografi, seperti peta bumi, nama-nama daerah, nama kota, negara, hasil tambang, fasilitas penting dan lain sebagainya sebenarnya sudah mulai diperkenalkan semenjak di bangku SD melalui pelarajan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Geografi, menilik asal-usul istilahnya berasal dari bahasa Yunani. Kata geografi terbentuk dari dua kata, yaitu geos dan graphy. Geos bermakna bumi. Adapun graphy berarti gambar. Geografi dapat dipahami sebagai cabang ilmu pengetahuan yang memberikan gambaran mengenai bumi. Ya lapisan kerak di dalam bumi, permukaan bumi dengan daratannya, kepulauannya, lautannya, gunung dan lembahnya, bahkan hingga ruang dan isi ruang di atas permukaan bumi atau kolong langit. Tentu saja dengan segala fenomena yang terkait dengan semua hal tersebut. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Spirit Merdeka, Spirit Yang Maha Kuasa


Manusia dicipta Tuhan dengan merdeka. Akan mencipta ataupun tidak mencipta manusia, Tuhan senantiasa merdeka dalam ke-Maha Merdekaan-Nya. Karena itu, rasa merdeka dari Sang Maha Merdeka juga tertiup ke dalam setiap ruh manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya. Kemerdekaan adalah hak asasi yang kemudian melekat semenjak manusia hadir di alam ruh, terlahir, hidup, bahkan hingga sampai kepada ajalnya. Semua manusia pada dasarnya memiliki kemerdekaan.

Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , | Meninggalkan komentar

Asian Youth Day


Hari itu saya memang kangsenan dengan Pakdhe Blontank untuk sekalian nyangking pesenan Blontea dari beberapa kolega di ibukota. Sehubungan Pakdhe ada acara di Jogja Expo Center, alias JEC, maka sayapun memerlukan diri untuk menyamperinya di sana.

Sedari pagi hari Jogja memang terlindung awan. Hal itu justru menjadikan cuaca tidak begitu terik. Ketika menjelang tengah hari saya tiba di kawasan JEC, nampang puluhan bus pariwisata tengah memasuki depan pintu utama JEC. Dari bus tersebut kemudian turun ratusan penumpang yang rata-rata terdiri anak remaja dan muda-mudi. Sedari baliho raksasa di pintu pagar hingga lobbi utama memang terpampang tulisan besar Asian Youth Day.

Asian Youth Day? Ha? Apa ada to Asian Youth Day. Saya sendiri cukup surprise ketika pertama kali mendapati tulisan di berbagai baliho, umbul-umbul dan spanduk yang tersebar di area JEC mengabarkan gelaran Asian Youth Day. Kita memang memiliki Hari Sumpah Pemuda yang dapat diidentikkan sebagai Indonesian Youth Day. Namun Asian Youth Day, sepertinya sebagian diantara kita belum pernah mendengarnya. Hari Pemuda Asia. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Tuhan Lepas Tangan


Emha Ainun Nadjib

Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah Beliau berpesan: “Jangan meminta jabatan. Sebab kalau Engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.

Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.

Artikel selengkapnya dapat disimak pada link berikutĀ caknun.com

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Rundown Agenda Festival Lima Gunung XVI Tahun 2017


Monggo dipun rawuhi sesarengan…..

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Kemegahan Payung Agung di Masjid Agung Jateng


Sejarah awal mula Kota Semarang tidak terlepas dari Kerajaan Demak maupun Kanjeng Sunan Kalijaga. Adipati Pandanaran yang merupakan salah seorang murid Kanjeng Sunan Kalijaga, di samping mendapat tugas untuk membangun Semarang sebagai kota pelabuhan utama untuk mendukung Demak, juga mengemban misi untuk menyebarkan agama Islam di wilayah yang dulunya bernama Bergota. Dengan demikian ajaran Islam tentu sudah mengakar kuat dalam adat maupun tradisi masyarakat Semarang hingga saat ini. Kita bisa menyebut dugderan, kisah Cheng Ho, hingga beberapa masjid bersejarah.

Akar dan tradisi pengaruh Islam yang kuat di Semarang salah satunya ditandai dengan keberadaan beberapa masjid yang bersejarah. Masjid Agung Semarang, atau dikenal pula sebagai Masjid Kauman Semarang, konon merupakan masjid tertua di Kota Atlas tersebut. Selanjutnya di masa pemerintahan Gubernur Soepardjo Roestam, di lingkar Simpang Lima berdiri pula Masjid Agung Baiturahman. Kini, seiring perkembangan Islam yang juga semakin marak di Semarang, masyarakat Semarang memiliki Masjid Agung Jawa Tengah di daerah Gayamsari. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Reuni Sastrawan-Sastrawati Nuklir Indonesia


Dua puluh tahun bukanlah masa yang pendek untuk suatu perkenalan. Ya, di pertengahan tahun 1996 kami ber-kurang-lebih 40 pemuda-pemudi dipersatukan dalam satu lembaga pendidikan yang berada di sisi utara RSUP Sardjito, hanya beberapa penggal tombak dari bibir Kali Code. Sehubungan dengan posisi padhepokan kami yang berada pada kontur permukaan tanah yang lebih rendah daripada bangunan lain di sekitarnya, maka beberapa almamater menyebutnya sebagai Kampus Ledhok. Di sanalah para cantrik maupun santri calon sastrawan-sastrawati nuklir tanah air menjalani masa penempaan.

Kumpulan kami cukup merepresentasikan warna-warni pelangi Nusantara yang menciptakan mozaik keindahan hidup, bahkan hingga di masa kini setelah sekian lama kami lulus nyantrik. Untuk menyebut beberapa nama daerah asal-usul diantara kami seperguruan ada yang dari Aceh, Medan, Padang, Bangka, Lampung, Tangerang, Jakarta, Bogor, Bandung, Cirebon, Kuningan, Cilacap, Kebumen, Magelang, Semarang, Pati, Salatiga, Wonogiri, Kulon Progo, Gunung Kidul, Jogja, Surabaya, Gresik, Malang, Kediri, Banjarmasin, Manado, Ambon, hingga Tanah Papua. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Raya | Tag , | Meninggalkan komentar