Rundown Agenda Festival Lima Gunung XVI Tahun 2017


Monggo dipun rawuhi sesarengan…..

Iklan
Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Kemegahan Payung Agung di Masjid Agung Jateng


Sejarah awal mula Kota Semarang tidak terlepas dari Kerajaan Demak maupun Kanjeng Sunan Kalijaga. Adipati Pandanaran yang merupakan salah seorang murid Kanjeng Sunan Kalijaga, di samping mendapat tugas untuk membangun Semarang sebagai kota pelabuhan utama untuk mendukung Demak, juga mengemban misi untuk menyebarkan agama Islam di wilayah yang dulunya bernama Bergota. Dengan demikian ajaran Islam tentu sudah mengakar kuat dalam adat maupun tradisi masyarakat Semarang hingga saat ini. Kita bisa menyebut dugderan, kisah Cheng Ho, hingga beberapa masjid bersejarah.

Akar dan tradisi pengaruh Islam yang kuat di Semarang salah satunya ditandai dengan keberadaan beberapa masjid yang bersejarah. Masjid Agung Semarang, atau dikenal pula sebagai Masjid Kauman Semarang, konon merupakan masjid tertua di Kota Atlas tersebut. Selanjutnya di masa pemerintahan Gubernur Soepardjo Roestam, di lingkar Simpang Lima berdiri pula Masjid Agung Baiturahman. Kini, seiring perkembangan Islam yang juga semakin marak di Semarang, masyarakat Semarang memiliki Masjid Agung Jawa Tengah di daerah Gayamsari. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Reuni Sastrawan-Sastrawati Nuklir Indonesia


Dua puluh tahun bukanlah masa yang pendek untuk suatu perkenalan. Ya, di pertengahan tahun 1996 kami ber-kurang-lebih 40 pemuda-pemudi dipersatukan dalam satu lembaga pendidikan yang berada di sisi utara RSUP Sardjito, hanya beberapa penggal tombak dari bibir Kali Code. Sehubungan dengan posisi padhepokan kami yang berada pada kontur permukaan tanah yang lebih rendah daripada bangunan lain di sekitarnya, maka beberapa almamater menyebutnya sebagai Kampus Ledhok. Di sanalah para cantrik maupun santri calon sastrawan-sastrawati nuklir tanah air menjalani masa penempaan.

Kumpulan kami cukup merepresentasikan warna-warni pelangi Nusantara yang menciptakan mozaik keindahan hidup, bahkan hingga di masa kini setelah sekian lama kami lulus nyantrik. Untuk menyebut beberapa nama daerah asal-usul diantara kami seperguruan ada yang dari Aceh, Medan, Padang, Bangka, Lampung, Tangerang, Jakarta, Bogor, Bandung, Cirebon, Kuningan, Cilacap, Kebumen, Magelang, Semarang, Pati, Salatiga, Wonogiri, Kulon Progo, Gunung Kidul, Jogja, Surabaya, Gresik, Malang, Kediri, Banjarmasin, Manado, Ambon, hingga Tanah Papua. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Raya | Tag , | Meninggalkan komentar

Harapan Kepada Anak Zaman


Nak, jauh sebelum dirimu dihadirkan menjadi amanat Tuhan di keluarga kecil kita, bahkan sebelum Bapakmu yang lemah ini dipertemukan dengan Ibumu, terngiang di bawah kesadaran alam pikiran Bapakmu ini tentang sebuah harapan jauh di masa depan. Bumi akan terus berotasi dan berevolusi menjalani takdir atas penciptaannya. Roda zaman akan berputar, dan generasi akan terus berganti. Muda menjadi tua. Tua menjadi renta. Daun layu berguguran, dan tunas-tunas muda tumbuh bersemi.

Kesadaran bahwa hidup harus berjalan, estafet tegaknya peradaban manusia harus dipersiapkan untuk diberikan kepada generasi penerus, maka Bapak tanamkan benih kehidupan. Bapak sirami benih tersebut dengan doa, berharap akan kemurahan limpahan berkah dari Tuhan. Tumbuhlah tumbuh pohon kehidupan. Mekar-mekarlah bunga harapan masa depan. Itulah gambaran anak di mata seorang Bapak. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Festival Lima Gunung XVI Tahun 2017


“MARI GOBLOK BARENG”

Tema “Mari Goblok Bareng” memang menggelitik. Orang yang sedikit ilmu pengetahuannya dibilang goblok. Orang yang tidak begitu mengikuti tren perkembangan disebut goblok. Demikianpun orang yang melakukan kecerobohan juga dikatakan goblok. Orang jujur yang tidak mau diajak oleh teman-teman di sekitar kantornya juga dikatakan goblok oleh beberapa kelompok orang lain. Ternyata urain dan ungkapan tenteng kegoblokan tidaklah sesempit yang kita pikirkan selama ini. Kata goblok memiliki dimensi yang sangat luas maknanya, terlebih lagi jika dilihat dari berbagai disiplin analisis, mulai bahasa, sosial-budaya, psikologi, sosiologi, bahkan sekedar ilmu othak-athik gathuk.

Seiring dengan wolak-waliking jaman edan, terminologi goblok juga bisa jadi kebolak-balik dalam penerapannya. Profesor yang jujur dan tidak mau korupsi, dapat saja dikatakan goblog oleh para kroni koruptor di lingkungannya. Anggota dewan yang terhormat yang tidak benar-benar secara tulis mewakili kepentingan rakyat syah saja bagi rakyat untuk menyebutnya goblok. Aparatur pemerintah yang tidak menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadinya juga sangat harus kita katakan goblok. Bahkan kita tidak jarang mengatakan seseorang sebagai “pintar sekali” padahal yang kita maksudkan justru “sangat goblok”. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Lelaki Enam Jaman di Masjid Kauman


Sebut saja lelaki yang akan kita bicarakan sebagai Mbah Dinomo. Kakek kelahiran 90 tahun yang silam itu masih tampak segar bugar. Khusus hari-hari dan malam-malam di sepanjang Ramadhan lalu, ia sengaja turun gunung dari kampungnya di Gunung Kidul untuk ber-ramadhan di Masjid Gede Keraton Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat. Saya berkesempatan berbincang panjang lebar dengannya, selepas sholat Maghrib di serambi masjid yang sangat bersejarah di jantung Kota Jogja itu.

Bukan sekedar sebuah kebetulan jika Mbah Dinomo ingin ber-ramadhan secara penuh di Masjid Gede Kasultanan. Sembilan puluh tahun silam, ia dilahirkan di lingkungan kampung Kauman, sebuah kawasan yang tepat berada di sisi barat Masjid Gede yang disebut pula sebagai Masjid Kauman. Ia lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Kedua orang tuanya konon para pekerja pembatik yang menumpang hidup pada seorang juragan yang terpandang di masa itu. Ia adalah generasi yang dilahirkan pada masa paruh akhir pemerintahan kolonial di tanah air. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Tokoh | Tag , , | Meninggalkan komentar

Taman Wisata Kopeng, Antara Semarang dan Magelang


Kopeng ibarat Puncak bagi Jakarta. Jika masyarakat Jakarta ngadem di akhir pekan ke Puncak, maka masyarakat Semarang ngadem ke Kopeng. Begitu kira-kira ungkapan untuk menggambarkan Kopeng bagi pembaca yang belum mengenal Kopeng. Kopeng merupakan suatu hamparan kawasan berpagar kaki Gunung Telomoyo dan Gunung Merbabu. Meskipun secara administrasi wilayah Kopeng merupakan bagian dari Kabupaten Semarang, namun orang lebih mengenal Kopeng sebagai bagian Salatiga ataupun Magelang.

Keberadaan wilayah Kopeng pada ketinggian lebih dari 1000 meter dari permukaan laut sudah pasti menjadikan kawasan ini senantiasa berhawa sejuk. Dengan wilayah bentang alam yang subur, Kopeng semenjak di masa lalu merupakan daerah penghasil produk pertanian dan holtikultura. Sayur-mayur, mulai dari kol, sawi, cabai, seledri, loncang, kacang panjang, tomat, terong, pare, dan lain sebagainya banyak dihasilkan daerah ini. Demikian halnya dengan berbagai jenis tanaman hias dan bebungaan juga menjadi komoditas penting daerah ini.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Hari Pertama Masuk Sekolah


Sekian puluh tahun, saya termasuk orang yang mengamati fenomena di setiap pertengahan bulan Juli. Pertengahan Juli, senantiasa identik dengan permulaan tahun ajaran baru. Tentu saja rutinitas tahunan ini hanya berlaku untuk institusi pendidikan formal, mulai tingkat TK, SD, SLTP, hingga SLTA. Tahun ajaran baru tentu menjadi sesuatu yang cukup mendebarkan bagi siswa baru yang baru untuk pertama kalinya memasuki sekolah baru.

Terkait dengan sekolah baru, bagi anak-anak di jaman saya, meskipun cukup mendebarkan bagi diri kami mengenai seperti apa guru-guru kami nantinya, teman baru yang lain, bagaimana model dan pola pembelajarannya, dan lain sebagainya. Namun kami menjalaninya saja dan akhirnya mampu melaluinya. Di masa kami, peran orang tua di hari pertama masuk sekolah boleh dibilang tidaklah menonjol. Kami pergi sekolah sendiri, atau kalau yang memiliki teman satu sekolah di jenjang sebelumnya, ya bersama teman-teman. Tidak ada pemandangan orang tua mengantarkan anak di hari pertama masuk sekolah. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Magelangan | Tag , , | Meninggalkan komentar