Berkunjung ke Bandung


Bandung merupakan salah satu kota yang pernah menjadi tempat persinggahan perjalanan hidup saya. Setidaknya 2,5 tahun menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi yang ada di Kota Kembang tersebut telah menerbitkan banyak kisah dan kenangan. Tidak berlebihan jika kemudian pada momentum tertentu, saya berkeinginan untuk berbagi kisah dan kenangan tersebut dengan keluarga, terutama anak-anak.

Meskipun Bandung hanya berjarak 3 jam perjalanan kereta api dari Jakarta, namun keterbatasan pilihan akses angkutan umum yang nyaman bin cepat (tepat waktu) membatasi bahkan menunda setiap rencana kepergian kami ke Bandung. Nah, secara kebetulan libur hari Pemilu minggu lalu berderetan dengan tanggal merah Hari Raya Paskah. Kamipun secara kompak kemudian meliburkan diri untuk secara khusus tetirah alias berkunjung ke kota yang juga berjuluk Paris van Java tersebut. Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Dimensi Kebarokahan dalam Hidup


Meskipun tidak selalu, dalam setiap ungkapan doa pengharapan kita mendambakan kebarokahan. Kebarokahan atau keberkahan seolah menjadi pelengkap atau bahkan penyempurna sesuatu yang diungkapkan melalui doa tersebut. Ketika mengenangkan umur, kita berharap umur panjang yang barokah. Apabila kita tengah ataupun telah selesai menuntut ilmu di bangku pendidikan, kita sudah pasti mengharapkan ilmu yang bermanfaat dan barokah. Saat memohon rejeki halal, kitapun melengkapinya dengan rejeki yang halal dan barokah. Sejatinya apakah makna di balik kata barokah atau berkah tersebut?

Dalam sebuah uraian tausiah pada acara haflah attasyakkur lil ikhtitam di Pondok Pesantren Nurul Falah, Tegalrandu, Magelang pekan lalu, Gus Yusuf mengungkapkan, “ Para santri didik untuk menjadi manusia utama yang memiliki kecerdasan dan ilmu yang barokah. Ilmu yang barokah adalah ilmu yang mendorong pemiliknya untuk lebih taat dalam bertakarub kepada Allah. Dengan ilmu yang dimiliki, orang jadi lebih ringan untuk beribadah, lebih ringan dalam sholatnya, lebih enteng dalam berjamaah, dan lain sebagainya. Intinya ilmu yang barokah mendorong untuk lebih beriman, lebih bertakwa, lebi ikhsan, dan lebih dekat dengan Gusti Allah.” Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , , | Meninggalkan komentar

Korupsi Candu Kehidupan: Ungkapan Seorang Novel Baswedan


Korupsi kita yakini sebagai penghancur utama sendi peradaban. Krisis moralitas yang tak berkesudahan di negeri ini sangat erat keitannya dengan mentalitas koruptif. Tidak hanya di kalangan pejabat tinggi, pejabatan rendahan, pengusaha, hingga warga biasa tidak sedikit yang melakukan tindakan korupsi. Tindakan korupsi bisa berkaitan dengan suap-menyuap, sogok-menyogok, mark-up anggaran, nyunat dana yang turun, penggelapan. Intinya berpangkal dari tindakan ketidakjujuran.

Pemilu merupakan kesempatan warga negara untuk menggunakan hak guna mendapatkan pemimpin dan wakil rakyat yang bersih, jujur, dan bebas dari tindakan korupsi. Dalam beberapa kesempatan kampanye, beberapa calon ataupun partai politik tentu ada yang mengangkat dan memberikan janji-janji untuk memberantas korupsi di negeri ini. Namun demikian, secara tampak nyata bin wela-wela ketok mencolok mata, ada pula tidak sedikit partai yang mencalonkan tokoh-tokoh kotor yang bahkan pernah secara nyata dan terbukti secara hukum pernah melakukan tindakan rasuah. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Mengenangkan 10 Tahun Komunitas Pendekar Tidar


Roda waktu memang sebuah keniscayaan. Rasanya baru kemarin, wajah-wajah polos nan apa adanya sebagaimana terpampang pada beberapa rekaman foto di bawah ini bertemu, bertaut saudara, berkumpul ria dalam tali persahabatan, bahkan persaudaraan. Teriring waktu, perjalanan hidup menggariskan kami menapaki jalan nasib yang beragam. Ada yang masih istikomah bermukin di kampung masing-masing. Namun sebagian besar diantara kami kini menjalani hidup di tanah perantauan.

Seingat saya perjumpaan itu berawal di hari Sabtu. Tepat dua hari pasca pesta akbar demokrasi, Pemilu 2009. Hari tersebut sangat kebetulan berbarengan dengan momentum rame-rame Grebeg Gethuk di Alun-alun Kota Magelang dalam rangka HUT Magelang ke-1103. Kami yang sebelumnya sebatas bertegur sapa di dunia maya melalui jagad blog, hari itu benar-benar bermuwajjahah. Sebuah luapan kegembiaraan yang terasa tiada tara. Sebuah kenikmatan nan luar biasa yang selalu kami syukuri dan kenangkan hingga di hari ini. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Blogger | Tag , | 5 Komentar

Kenduri Cinta Edisi April 2019


Monggo dihadiri bersama-sama. Datang, duduk, lesehan, gratis dan barokah. Insya Allah. Mukadimah lengkap, segera rilis.

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Anak Old Anak Now


Jaman memang berubah. Roda waktu terus berputar dan tak mungkin putar balik ke belakang. Namun rentang waktu senantiasa terhubung antara masa lalu dan masa kini. Antara yang dulu dan yang sekarang. Antara jaman old dan tentu saja jaman now. Ada semacam mata rantai yang tidak akan terputus. Seolah hal itu sudah merupakan keniscayaan jaman.

Masa lalu bisa terentang semenjak jaman detik pertama alam semesta diciptakan dan dibentangkan. Masa jutaan tahun silam di saat dinosaurus atau mamut hadir di muka bumi. Jaman Syailendra, Sanjaya, Mpu Sindok, Kediri, Kahuripan, Jenggala, Singosari, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram juga masa lalu. Pun masa lalu juga bisa terletak di seper sekian juta detik sebelum tulisan ini diketikkan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Keluarga | Tag , , | 4 Komentar

Jangan Lompong, Sayur Organik Sepanjang Masa


Tatkala salah seorang mengunggah “buntil” di halaman sosial medianya, saya menjadi ingat  dengan lompong, saudara karib dari sayur berbahan godhong lumbu alias daun talas. Selain sebagai tanaman umbi-umbian yang hasil utama umbinya merupakan sumber karbohidrat, talas memiliki beberapa varian sayuran dari bagian-bagian tubuhnya. Ada daun talas yang dibuat sayur buntil.  Ada batang daun yang disayur lompong. Ada pula pangkal umbi muda, seumumnya talas bogor  yang dikonsumsi sebagai sayur.

Terkhusus daun talas dan lompong, dua bagian tanaman talas ini di masa lalu dianggap sebagai bahan yang tidak berkelas sama sekali. Suatu keluarga yang mengkonsumsi sayur dari daun talas ataupun lompong bisa disebut sebagai keluarga yang kurang mampu. Terlebih khusus lagi perihal jangan lompong. Bahkan sering ada ungkapan untuk anak yang kurang pintar dan hanya bisa plompangplompong atau plonga-plonga alias sering bengong “dituduh” karena kebanyakan mengkonsumi sayur lompong. Tentu dikarenakan keterpaksaan dalam keseharian yang kurang mampu. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , | Meninggalkan komentar

Kenari Mencari Kasih Ibu Sejati


Nini Kenari terlahir sebagai yatim piatu semenjak lahir. Kasih dan anugerah Tuhan mengirimkan kepadanya Ni Emban, seekor kucing putih kembang telon yang memeliharanya semenjak bayi. Kenaripun tumbuh menjadi bocah gadis sebagaimana teman-teman sebayanya dalam asuhan “ibunya” yang tidak sewajarnya.

Naluri seorang bocah tentu saja mendorong Kenari untuk mencari ibu kandungnya. Dengan berat hati ia berpisah dengan Ni Emban untuk berkelana menemukan ibu sejatinya. Dalam pengelanaan yang sangat panjang, berbagai rintangan dan cobaan dijalani oleh Kenari. Adalah atas bimbingan Tuhan, Kenari menjalani berbagai pengalaman hidup yang sungguh sangat berarti. Ia benar-benar merasakan limpahan Maha Kasihnya Tuhan yang telah menghadirkan rasa cinta dan kasih sayang sejati dari berbagai Ibu Dewi yang dijumpainya dalam perjalanan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Sastra | Tag , , | Meninggalkan komentar

Bermain Keliling Dunia


Sebagian orang menganggap bahwa dunia tidak selebar daun kelor. Anggapan ini secara tidak langsung menyatakan bahwa dunia maha luas. Di sisi lain, dengan kemajuan teknologi komunikasi saat ini, setiap saat setiap waktu kita dapat mengetahui segala macam kejadian di belahan dunia melalui media komunikasi. Ada tivi, dan yang lebih canggih tentunya ya internet. Nah kalau sudah merasakan komunikasi antar manusia dari berbagai penjuru dunia yang berlangsung sangat cepat, kita merasa betapa dunia semakin sempit. Ruang dan waktu seolah terlipat-lipat dan dapat kita genggam di tangan melalui smartphone yang semakin canggih.

Dengan semakin derasnya informasi dari penjuru dunia yang dapat kita akses setiap hari langsung maupun tidak langsung bisa jadi secara naluriah membentuk suatu keinginan dari kebanyakan orang untuk bisa mengenal dunia secara langsung. Ya, berkeliling dunia! Siapa yang tidak ingin mengunjungi berbagai negara. Jalan-jalan ke luar negeri untuk tamasya, melanjutkan studi, atau mungkin mencari kerja. Bukan berarti kita tidak cinta tanah air atau luntur jiwa nasionalisme terhadap negeri tercinta, namun sekali-kali ke luar negeri akan sangat membuka wawasan dan pengalaman kita. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , , | 2 Komentar

Hidup Tanpa Hutang. Mungkinkah?


Sejak masih usia sekolah dasar saya senantiasa tergiang ungkapan Dai Sejuta Ummat KH Zainuddin MZ. “Hutang membuat hidup orang tidak tenang. Di siang hari hutang membuat seseorang yang berhutang takut ketemu orang. Adapun ketika malam tiba, hutang membuat orang tidak bisa tidur nyenyak, “ demikian pesannya dalam beberapa kesempatan ceramahnya.

Memang benar adanya bahwa manusia tidak akan pernah dapat mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya tanpa bantuan orang lain. Secara kodrat, manusia memang makhluk sosial. Ia tidak akan lepas dari orang lain sebagai bagian dari anggota masyarakat yang saling berinteraksi. Saling membutuhkan, saling bergantung, dan saling bantu-membantu menjadi suatu konsekuensi interaksi sosial tersebut. Hal ini juga menyangkut soal utang-piutang. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag | Meninggalkan komentar