Lorong Waktu dari Masa Lalu


Ah bicara soal waktu, manusia memang selalu akan ketinggalan. Sepertinya kemarin, ternyata sudah berlalu lebih dari sepuluh tahun silam. Terasa baru minggu lalu, elha kok jebul sudah dua windu yang lalu. Lorong waktu senantiasa menghubungkan sisi-sisi ruang rindu di masa lalu. Adakah Panjenengan juga mencermati hal demikian?

 

Lorong waktu bias jadi sekedar sebuah imajinasi makna sebuah kata kias. Tetapi lorong waktu juga menjadi istilah magis bagi kami, sekelompok perantau ibukota yang pernah numpang tinggal di bilangan Tanah Abang.  Ya, sebuah lorong sempit sekira hanya selebar 50 cm itu menjadi jalur keseharian kami. Tiap pagi, petang, bahkan malam kami senantiasa melintasinya. Sebuah lorong sempit yang menjadi jalur tembus antara Jalan Kebun Kacang I dan II. Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , , | 1 Komentar

Nonton Janthilan


Pada siang hari, selepas tiba di rumah Mbah Kakung, saya diajak Daffa menonton janthilan. Akhirnya kamipun berangkat. Saya menonton janthilan di Dusun Larangan. Saya menonton janthilan bersama Daffa, Nadya, dan Bulik. Perjalanan dari Dusun Kronggahan ke Dusun Larangan tidak begitu lama. Di jalan udaranya sangat dingin. Di jalan kami melihat petani yang sedang membajak sawahnya dengan kerbau.

Setibanya di Dusun Larangan, Bulik langsung memarkir motor. Ternyata di sana sudah banyak orang. Kami segera mencari tempat untuk menonton. Setibanya di tempat untuk menonton, ternyata pertunjukannya segera dimulai. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , , , | 1 Komentar

Teh Hangat Empat Puluh Ribu


“Tidak saya sangka, ternyata harga teh hangatnya senilai Rp. 40.000 rupiah. Wah ternyata harganya mahal juga ya!” kenang si Ponang.

Pada hari Minggu jam tujuh pagi, saya sudah berangkat ke bandara. Saya berangkat ke bandara karena saya ingin pergi ke Kota Yogyakarta. Saya berangkat ke bandara naik grab-car. Saya naik grab-car dari Masjid Al Mubarok sampai Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , , | 2 Komentar

Anak-anak dan Masjid Kita


Sekiranya anak-anak jaman now ditanya, siapa atau apakah yang paling dekat dengan keseharian mereka? Mungkin sama sekali tidak akan berlebihan jika jawaban di urutan pertama adalah gadget. Mungkin juga ada variasi jawaban, seperti orang tua, guru, teman sekolah, dan lainnya. Adakah jawaban trasendental bagi anak jaman now dengan menjawab Tuhan? Bisa jadi Tuhan terlampau abstrak bagi kebanyakan anak jaman now. Benarkah demikian?

Seandainya jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas adalah sebuah kebenaran jaman now, maka sebagai ummat Islam yang merupakan warga dari sebuah negara dengan mayoritas penduduk muslim kita tentu menjadi sangat prihatin. Kemajuan teknologi informasi melalui gadget yang digenggam setiap saat dan dimanapun bisa jadi telah menggeser pola ketergantungan anak jaman now kepada sesuatu hal. Alih-alih meyakini dan percaya kepada Tuhan Yang Maha Gaib, anak jaman now akan lebih yakin dengan benda yang ada di genggaman mereka. Suatu material yang nyata, hadir secara riil, menghibur, mendatangkan kesenangan, dan banyak memudahkan urusan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , | Meninggalkan komentar

Kenduri Cinta Edisi April 2018


Monggo dihadiri bersama-sama…..  

Datang, duduk, lesehan, gratis dan barokah. Insya Allah.

Mukadimah lengkap, silakan disimak di sini.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Isra’ Mi’raj di Dua Tanggal


 

Khusus bagi ummat Islam, mengenal bahkan hafal dengan setiap hari besar agama Islam adalah sebuah kewajaran belaka. Sebagaimana diajarkan oleh para guru, ustadz, dan kyai, peristiwa Isra’Mi’raj selalu diperingati setiap tanggal 27 Rajab.

Adalah perbedaan pola perhitungan tahun Hijriyah dibandingkan dengan tahun masehi, dimana tahun Hijriyah mendasarkan perhitungannya kepada kalarevolusi bulan terhadap bumi, menjadikan tahun Hijriyah lebih pendek dibandingkan tahun Masehi. Tahun Hijriyah  berumur kurang lebih 354 hari. Dengan demikian tanggal Hijriyah selalu maju lebih awal dengan 11 hari dibandingkan tanggal Masehi. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag | Meninggalkan komentar

Pesona Air Mancur Menari di Taman Sri Baduga


Sabtu sore di sebuah pusat kota. Tidak di sebuah alun-alun, namun tidak pula di sebuah pusat perbelanjaan. Kerumuan ribuan orang saling berbaris antri bersama. Jalanan di kawasan itu sengaja disterilkan dari kendaraan apapun. Bukan mau demo ataupun antri sembako. Herannya pemandangan demikian senantiasa terjadi hanya khusus di Sabtu sore malam Minggu.

Orang-orang yang berbaris itu nampak melingkari sebuah tembok tinggi di sisi kiri jalan. Pada beberapa sisi tembok, secara teratur terdapat pilar dan relung yang ditengahnya ada figur tokoh-tokoh pewayangan dalam guratan patung wayang golek. Tembok itu mirip tembok sebuah keraton, namun di dalam tembok itu dijajari pepohonan yang cukup tinggi dan lebat. Sekelebat dari beberapa teralis pintu yang terkunci, di tengah lingkaran tembok tinggi tersebut terbentang sebuah telaga luas. Ada beberapa patung macan putih yang menyemburkan air dari dalam mulutnya. Orang-orang menyebut tempat itu sebagai Taman Air Sri Baduga. Tepat di salah satu pusat Kota Purwakarta, Jawa Barat. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , | 4 Komentar

Hati dan Hati-Hati


Pernah seorang bijak bernasehat, “Berhati-hatilah dengan hati. Berhati-hati semenjak di hati, karena bias jadi dari hati tumbuh sebuah pikiran. Berhati-hatilah dengan pikiran, dari sekian pikiran bisa jadi muncul menjadi ucapan. Berhati-hatilah dengan ucapan, karena dari sekian ucapan bisa menjadi tindakan dan perbuatan. Demikian seterusnya, pokoknya berhati-hatilah selalu.” Kenapa apa-apa, dimana-mana, kapanpun, dengan siapapun kita perlu selalu berhati-hati?

Kunci kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk Tuhan yang lainnya adalah anugerah pikiran yang menumbuhkan kecerdasan. Dengan pikiran dan kecerdasan itulah manusia kemudian memiliki cipta, rasa dan karsa yang mengkristal sebagai budaya dan peradaban. Manusia ada karena berpikir. Manusia ada karena berbudaya. Manusia ada karena berperadaban. Jika demikian halnya, lalu dimanakah posisi hati pada dimensi pikiran, budaya, dan peradaban manusia itu? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , , | Meninggalkan komentar