Satrya Gunung: Kesatrya Anak-anak Gunung Merapi


Satrya, sudah pasti yang dimaksudkan adalah satria atau kesatria. Satrya merupakan sosok manusia yang digambarkan memiliki perilaku utama. Mungkin ia gagah dari sisi fisiknya. Mungkin ia sakti, memiliki aji jaya kawijayan, ataupun berpusaka ampuh. Mungkin ia pandai dengan segudang ilmu kepintaran. Mungkin pula ia seorang darah biru putra bangsawan. Namun lebih daripada itu semua, seorang satrya adalah manusia paripurna utama. Segala pemikiran, perkataan, perbuatan, dan perjuangannya dilakukan atas nama darma kepada sesama, kepada negara, kepada dunia alam semesta raya, bahkan kepada Tuhan.

Satrya mungkin bisa disepadankan dengan sosok patriot atau pahlawan. Ia, seolah sudah meniadakan keinginan, kepentingan, dan cita-cita pribadinya. Kepentingan sesama, negara, dan agama terletak jauh lebih tinggi di atas kepentingan diri pribadinya. Kita bisa menyebut beberapa tokoh sebagai kesatrya. Para Pandawa merupakan kesatrya utama di dunia pewayangan. Airlangga, Gadjah Mada, Pati Unus, Sultan Agung adalah beberapa nama kesatrya dari kerajaan-kerajaan Nusantara di masa silam. Ada pula Pattimura, Diponegoro, Hasanuddin, hingga Jenderal Sudirman kita yakini pula sebagai kesatrya negara kita. Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Sablon Kreatif ala Komunitas Oemah Daon


Masih berbagi serpih kisah dari Festival Tlatah Bocah XII Tahun 2018 di Desa Sumber, Kabupaten Magelang. Begitu pagi menjelang siang, banyak anak-anak telah berkumpul di Pendopo Balai Desa Sumber, tempat berbagai workshop digelar. Di tengah pendopo, anak-anak perempuan berseragam Pramuka coklat muda coklat tua sudah asyik dengan seni kerajinan hias temple berbahan tisu. Di sudut yang lain, serombongan peserta tengah tenggelam dengan praktik theraphy healing yang diajarkan. Ada pula sekelompok bapak-bapak dan ibu-ibu yang tengah menunggu petugas untuk mengurus pembuatan dokumen kependudukan, seperti KTP, KK, atau akta kelahiran. Rangkain kegiatan pada dua hari puncak Festival Tlatah Bocah XII memang beragam.

Di tengah keriuhan anak-anak yang tengah asyik dengan beberapa workshop tadi, datang dua orang dengan seperangkat tas barang bawaan. Tampang kedua orang tersebut cukup nganeh-anehi, bahkan terkesan medeni. Bagaimana tidak medeni bin sangar coba, yang satu berambut panjang, gimbal, bertindik lagi. Ia bertopi anyam bamboo warna coklat muda. Satunya meskipun rambutnya tidak gondrong, tetapi bertato dan bergiwang di telinganya. Melihat tamang keduanya, saya langsung teringat kelompok anak-anak punk yang sering ngamen ataupun meminta-minta di perempatan lampu merah. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , , , , | 2 Komentar

Ndayak Grasak: Tari Kreasi Berbasis Alam Lokal


Manusia dan alam adalah dua entitas yang tidak pernah bisa dipisahkan. Manusia memiliki ketergantungan yang sangat tinggi dengan alam. Manusia tidak akan dapat hidup tanpa tanah, air, udara, matahari, tetumbuhan, maupun hewan-hewan. Setiap unsur alam merupakan bagian kelengkapan hidup yang mutlak harus ada untuk menunjang kehidupan manusia. Bayangkan manusia tanpa matahari.  Dunia menjadi gelap. Tidak ada fotosintesa pada tetumbuhan hijau. Tidak ada makanan bagi manusia, tidak ada oksigen untuk bernafas. Akibatnya tentu sangat fatal, manusia mati dan akhirnya punah dari peradaban sejarah.

Seni Ndayakan atau disebut juga seni Topeng Ireng merupakan kesenian khas yang tumbuh dan berkembang di wilayah Kabupaten Magelang. Seni tari khas yang memadukan topeng bermahkota atau tutup kepala dari bulu-bulu panjang nan warna-warni ala suku Dayak di Kalimantan maupun suku Indian di pedalaman Amerika. Gerakan energik yang dilakukan oleh sepasukan penari dalam formasi baris-berbaris menjadikan Ndayakan mirip dengan seni Kobra Siswa. Demikian halnya perihal gamelan dan syair-syair pengiring, sedikit banyak terdapat kemiripan. Selain tutup kepala berbulu, wajah dihias selayaknya topeng yang menyamarkan wajah asli si penari, para pemain Ndayakan di kedua kakinya dipasang puluhan kerincing atau klinthing yang menimbulkan bunyi gemerincing. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Gangsingan Bambu dan Dunia Anak Merapi


Hari baru beranjak dari pagi ke siang. ­Sejumlah anak-anak yang masih berpakaian seragam Pramuka maupun batik, nampak merapat ke Pendopo Balai Desa Sumber. Di pendopo itu telah ada beberapa lingkaran kecil anak-anak yang telah datang lebih dulu. Hari itu merupakan hari pertama rangkaian puncak Festival Tlatah Bocah XII yang digelar di Sanggar Bangun Budaya dan Balai Desa Sumber. Khusus di Pendopo Balai Desa Sumber, digelar berbagai workshop atau pelatihan khusus untuk anak-anak.

Di saat kedatangan kami, tak berselang seberapa lama juga datang seorang pemuda berambut gondrong dan berkaca mata. Sedikit ngobrol perkenalan dengannya, ia bernama Mas Krisna. Berbeda dengan saya yang datang hanya ingin sekedar ngombyongi, Mas Krisna membawa sejumlah properti dan barang untuk membuka stand bagi anak-anak. Rupanya ia di acara pagi itu sengaja membawa banyak buku untuk dibaca anak-anak yang hadir di pendopo. Ada banyak buku yang kemudian digelar di atas sebuah tikar sederhana. Ada buku dongeng anak-anak. Ada majalah anak-anak. Ada pula berbagai buku pengenalan teknologi sebagai sarana edukasi untuk anak-anak. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Artspiration: Sinau Bareng Cak Nun Kiai Kanjeng at Balairung UGM


Gambar | Posted on by | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Anak-anak Berjiwa Gajah Mada Sumpah Palapa


Anak-anak adalah pemilik masa depan peradaban dunia. Ia adalah benih yang senantiasa bertumbuh dan berkembang. Memiliki karakter yang kuat, memiliki jati diri yang tangguh, memiliki budi bekerti yang luhur, intinya memiliki segala prasyarat manusia paripurna. Terkait dengan memelihara dan memupuk benih tersebut agar kelak di saat dewasanya dapat mengemban misi kemanusiaan dengan sebaik baiknya, tentu merupakan tugas dan tanggung jawab manusia dewasa di sekitarnya. Orang tua, keluarga terdekat, dan masyarakat sekitar sangat menentukan hal tersebut.

Seni dapat menjadi salah satu alternatif sarana untuk memelihara dan menumbuhkembangkan karakter, jati diri, budi pekerti dan segala bekal yang harus dimiliki anak-anak kita. Dengan seni anak-anak berlatih berbagai hal. Menempa kedisiplinan, ketekunan, dan ketrampilan. Menjalin kerja sama dengan orang lain, mengutamakan kebersamaan, taat kepada aturan dan sistem, berpadu dalam kesatuan. Bersama, kebersamaan, satu, kesatuan, persatuan, inilah pilar spirit dan semangat gotong royong yang menggelora. Adakah ruh semangat-semangat tersebut terekspresikan dalam foto anak-anak saat pentas seni di atas. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Blogger Obor Blarak


Obor blarak. Ah,mana ada lagi di jaman yang serba teknologi elektronik saat ini. Kalaupun kita perlu berpegian di gelap malam, tokh sudah ada lampu senter. Bahkan jika kita bepegian jarak jauh dan berkendara, tentu kendaraan tersebut sudah dilengkapi dengan lampu penerang yang memadai. Mana ada lagi orang butuh oncor? Obor tradisional dari tabung ruas bambu berbahan bakar minyak tanah itu. Terlebih obor blarak.

Mungkin diantara pembaca sudah lupa atau bahkan sama sekali tidak paham dengan obor blarak. Lha di acara pembukaan ASIAN GAMES yang lalu saja, obor yang diarak sudah berbahan bakar gas. Sama-sama menyalakan api, tetapi esesnsi dan gengsinya sungguh sangat jauh berbeda. Obor blarak sudah tentu obor yang memancarkan api dengan bahan bakar blarak. Blarak sendiri merupakan daun kelapa yang sudah mengering. Beberapa batang blarak dulu biasa diikat segenggaman tangan dan disulutkan pada pada ujung atasnya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Blogger | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Menara Eifel Kreasi Bambu Anak Kampung


Ada Menara Eifel di kaki Gunung Merapi! Hah, sungguhkah. Ngelindur kali ya yang ngomong demikian. Anak sekolah dasarpun tentu paham bahwa Eifel merupakan sebuah menara besi di Paris, Negeri Perancis. Eifel sudah menjadi landmark bagi Kota Paris. Eifel adalah simbol dari modernitas dan kemajuan Paris yang mengungguli kota-kota lain di Eropa pada masanya. Bahkan hingga saat ini, Paris dengan Eifelnya masih tetap menjadi ikon mercusuar kemajuan peradaban dunia.

Sebagai sebuah kota terkemuka di Eropa, Paris dengan Eifelnya bagi para turis atau traveler merupakan destinasi petualangan yang diimpikan. Belum dikatakan sebagai traveler kelas dunia jika belum pernah mengunjungi ikon destinasi wisata dunia, sebagaimana Eifel. Bagi sebagian kalangan masyarakat kita yang pada umumnya berpiknik di negeri sendiri saja belum komplit, belum pernah ke luar negeri sama sekali, Eifel di Paris mungkin hanya sebuah khayalan yang entah seumur hidup dapat teraih atau tidak. Tentu faktor utama jelas karena berat di ongkos alias biaya transportasi dan akomodasi yang ngaudubilah mahalnya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , , | 2 Komentar