Gigi Tanggal Dua


Tanggal yang saya tuliskan ini tidak berkaitan dengan kalender. Tanggal dengan makna lain dapat diartikan lepas. Peristiwa inilah yang baru-baru ini dialami oleh Noni Nadya, putri sewayang kami. Tepat di awal bulan dan penghujung bulan November silam, peristiwa tersebut terjadi. Memang sih tanggal sengaja dicabut dan bukan tanggal oleh sebab yang lain. Namun baru hari-hari ini kami jadi kepikiran sesuatu hal. Tentang makna gigi yang tanggal!

Tanggalnya gigi si Noni memang sebuah kesengajaan. Meskipun masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, kebetulan giginya rapi dan utuh. Tidak ada yang griwing ataupun berlubang. Tidak pernah pula ia mengeluhkan sakit gigi. Secara buliknya yang kebetulan seorang perawat gigi senantiasa memberikan pengajaran perawatan dan kebersihan organ mulut dan gigi dengan baik serta sangat mengena. Jadilah memang si Noni tergolong sebagai anak yang rajin menggosok gigi dan tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan minuman yang terlalu manis. So what gigi mesti dicabut segala? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag | Meninggalkan komentar

Nikmat Yang Selalu Terlupakan


Secara sederhana, hidup yang enak adalah hidup yang penuh berlimpah kenikmatan. Badan sehat adalah nikmat. Kerja lancer dan karir terus menanjak adalah kenikmatan. Anak-anak yang penurut dan pintar adalah kenikmatan. Mata bisa melihat, telinga bisa mendengar, lidah bisa berucap, hidung bisa bernafas, semua adalah kenikmatan. Rasa damai dan hati yang tentram juga nikmat. Nafas adalah nikmat. Semua yang berkenaan dengan hidup kita sejatinya adalah kenikmatan-kenikmatan yang dilimpahkan Sang Pemberi Nikmat, Tuhan Yang Maha Kasih Maha Penyayang. Maka nikmat manalagi yang bisa kita dustakan?

Dalam beberapa waktu akhir-akhir ini, Tuhan tengah menunjukkan kepada diri kami pribadi berbagai peristiwa yang sungguh bermakna untuk berkaca tentang kenikmatan. Orang tua kami yang dipanggil keharibaanNya melalui lantaran tidak bisa buang air besar air kecil adalah salah satu pembelajaran tentang nikmat yang luar biasa. Dalam keseharian, kita mungkin berpikir bahwa mekanisme buang air besar buang air kecil adalah sebuah hukum alam yang terjadi secara alamiah. Kita seringkali melupakan bahwa di balik hukum alam senantiasa ada campur tangan Yang Maha Kuasa. Sepandai apapun seseorang, sekaya apapun dia, secanggih apapun alat dan teknologi yang dimiliki manusia, ternyata tidak akan sama sekali dapat membantu saat Tuhan menentukan seseorang tidak bisa buang air besar air kecil. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag | Meninggalkan komentar

Sepeda Pagi Keliling Kota Solo


Catatan jalan-jalan dua tahun silam By Si Ponang

Setiap hari di hotel, saya meminjam sepeda. Di hari pertama bersepeda, yaitu hari Minggu. Di hari Minggu saya bangun pagi. Setelah bangun, saya dan bapak turun ke Lantai 1. Setibanya di Lantai 1, saya langsung berjalan ke pintu keluar. Setibanya di pintu keluar, saya langsung melihat sepeda. Saya memilih sepeda gandeng.

Bapak langsung menghampiri pelayan yang ada. Ternyata harus menandatangani sebuah kertas. Yang ditulis di surat mengisikan nama pengguna, nomor telepon, alamat rumah dan banyak lagi. Setelah menandatangani surat perjanjian, Pak Pelayan langsung membuka kunci sepeda yang disimpan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , , | Meninggalkan komentar

Buku Kebijakan Nasional Pengangkutan Zat Radioaktif


Kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir dalam bentuk penggunaan zat radioaktif di tanah air terus mengalami peningkatan, baik untuk tujuan penelitian dan pengembangan serta rekayasa, maupun penerapan di bidang kesehatan, industri dan pertanian. Penggunaan zat radioaktif tidak terlepas dari dukungan kegiatan pengangkutan zat radioaktif. 

Truck icons flat set with logistics radioactive materials food international transport isolated vector illustration

Mengingat dan mempertimbangkan potensi risiko bahaya radiasi yang menyertai zat radioaktif pada saat melewati area publik, setiap pemangku kepentingan yang terkait perlu memiliki pemahaman yang mendalam mengenai kebijakan nasional yang menggariskan ketentuan dan persyaratan pengangkutan zat radioaktif dengan mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Sastra | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Ayah: Antara Keteladanan dan Kepahlawanan


Dua minggu terasa tak ada dorongan untuk menulis. Dua pekan tepat, keluarga besar kami ditinggalkan ayah kami tercinta. Hari Sabtu dan Minggu di minggu ke dua bulan November yang lalu merupakan saat yang sungguh berat untuk kami jalani. Masa dimana almarhum ayah kami dalam kondisi kritis pasca operasi hingga akhir hayatnya menghadap Sang Maha Pemilik Hidup. Meskipun merasa tidak percaya dengan takdir ini, namun kamipun harus mengikhlaskan kepergian aya kami tercinta teriring doa semoga segala amal ibadah dan kebaikannya diterima di sisiNya, segala dosa dan kekhilafan diberikan ampunan, ditempatkan di sisiNya yang mulia, dan kamipun segenap keluarga dapat meneruskan segala cita-cita mulianya.

Sabtu itu bertepatan dengan 12 Rabi’ul awwal 1421 H, hari bersejarah yang senantiasa diperingati sebagai Hari Maulud Nabi. Hari kelahiran sekaligus wafatnya junjungan ummat muslim seluruh dunia, Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sehari semalaman, ayahanda dalam kondisi tanpa sadar pasca menjalani operasi. Muhammad adalah suri teladan terbaik bagi setiap individu muslim. Muhammad adalah uswahtun khasanah, manusia paripurna dengan keluhuran akhlaknya yang tiada tercela. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Keluarga | Tag , , | Meninggalkan komentar

Duka Cita Keluarga Besar


Innalillah wainna ilaihi roji’un. Duka cita terdalam keluarga kami atas dipanggilnya orang tua kami, simbah kakung kami, Bpk Sudiman Edi Setiawan, BE pada Ahad, 10 November 2019 pukul 02.00 WIB dini hari.

Almarhum telah dikembumikan di Pemakaman Dusun Kronggahan, Desa Polengan, Kec. Srumbung, Kab. Magelang, Jawa Tengah, pada Ahad, 10 November 2019 pukul 08.00 WIB.

Semoga segala amal ibadah almarhum diterima di sisiNya, segala dosa dan khilaf diberikan ampunan, dilapangkan kuburnya, dilancarkan jalan menuju surganya. Segenap keluarga besar yang ditinggal senantiasa diberikan ketabahan dan kesabaran, serta senantiasa dapat melanjutnya segala cita-cita almarhum.

Orang baik tak bisa mati. Karena kebaikan lebih kuat daripada kematian (EAN)

Kulon Balairung, 14 November 2019

Dipublikasi di Jagad Keluarga | Tag , | 4 Komentar

Amanat Nyunggi Wakul


Pesan rakyat untuk pemimpin dan wakil rakyat yang baru dilantik. Wakil rakyat adalah bagian terpilih dari sekumpulan rakyat sebagai penyambung lidah, penyampai aspirasi dan kepentingan rakyat secara keseluruhan. Demikian halnya para pemimpin rakyat, baik yang duduk di struktural birokrasi maupun sosial kemasyakatan adalah manusia terpilih untuk memikirkan nasib warganya. Mereka semuanya adalah pengemban amanat rakyat.

Mereka, wakil dan pemimpin rakyat adalah anak kandung rakyat. Mereka lahir dari rakyat yang memberikan mandat kekuasaan bagi kesejahteraan bersama. Rakyat dan pemimpin adalah kesatuan yang harus manunggal, tidak boleh terpisahkan satu sama lain. Rakyat adalah pemimpin yang sejati, sedangkan wakil dan pemimpin rakyat hanyalah pemegang titipan kepemimpinan sejati tersebut. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , | Meninggalkan komentar

Negoro Tan Keno Sirno


Berdasarkan komitmen politik bangsa Indonesia pasca penjajahan Belanda dan Jepang, Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi satu-satunya wadah politik untuk mencapapai tujuan masyarakat adil makmur lahir dan batin. Politik menurut Aristoteles merupakan kata turunan dari kata polis, negara kota dalam masa Yunani dan Romawi Kuno. Politik mengacu kepada tindakan luhur dalam rangka mengangkat harkat dan martabat hidup warga polis.


Politik di Nusantara memang terus berjalan mengikuti cakra manggilingannya sang waktu. Menurut catatan sejarah yang terlacak, masa terbentuknya suatu sistem pemerintahan ditandai dengan kelahiran Kutai Kertanegara, kemudian berlanjut dengan Tarumanegara, Mataram Kuno, Sriwijaya, Majapahit, Pajajaran, Demak, Pajang, hingga Mataram Surakarta dan Yogyakarta.
Selepas lepas dari belenggu penjajahan selama lebih tiga setengah abad, maka mayoritas anak bangsa kemudian menginginkan bentuk negara kesatuan sebagai wadah perjuangan menjadi bangsa yang sejajar dengan bangsa lain di dunia. Sistem pemerintahan dan ketatanegaraan Republik Indonesia tentu berbeda dengan sistem kerajaan. Dalam sebuah negara republik, kekuasaan tertinggi terletak pada kedaulatan rakyat. Rakyatlah penguasa tertinggi sebuah negara.
Sesuai perkembangan lebih lanjut yang tidak memungkinkan setiap warga untuk duduk di dalam pemerintahan, maka dibutuhkan segelintir rakyat terpilih untuk duduk memegang kekuasaan, baik sebagai wakil rakyat maupun pelaksana roda pemerintahan. Dan untuk mewujudkan hal tersebut di atas kemudian dipilihlah demokrasi sebagai sarana dan jalan.
Enam puluh empat tahun lebih negeri ini telah berdiri. Pemerintahanpun satu persatu memegang tampuk kekuasaan. Mulai Soekarno, Suharto, Gus Dur, Megawati, Soesilo Bambang Yudhoyono, dan saat ini Joko Widodo memegang tongkat estafet kepemimpinan nasional. Periode kepemerintahanpun telah dibedakan menjadi Orde Lama, Orde Baru, dan yang paling muda Orde Reformasi.
Orde Reformasi merupakan gerakan moral yang pada awalnya dipelopori oleh mahasiswa dan kekuatan komponen rakyat yang lain, untuk melakukan koreksi terhadap penyimpangan-penyimpangan yang menyengsarakan rakyat. Kolusi, korupsi dan nepotisme adalah penyakit akut yang menyebabkan tidak tegaknya hukum, penyalahgunaan kekuasaan, dan berujung tidak adanya keadilan dan kemakmuran, yang semakin sulit dirasakan rakyat. Dua puluh satu tahun lebih masa reformasi berjalan. Adakah kemajuan signifikan yang bisa dirasakan oleh rakyat? Jelas jawabannya masih sangat jauh.
Suksesi kekuasan kembali berlangsung melalui pemilihan presiden secara langsung. Joko Widodo kembali terpilih untuk memimpin pemerintahan. Setelah berpasangan dengan Jusuf Kalla dalam masa pemerintahan sebelumnya, kini Ma’ruf Amien menjadi wakil presiden yang baru.
Lepas dari kontrovesial proses pemilu yang mengharu biru dengan perseteruan tak berkesudahan antara golongan kampret dan golongan cebong, institusi negara justru dirasa semakin kabur, abstrak, bahkan hilang alias sirna. Alih-alih para elit terpilih yang duduk di rumah dewan maupun pucuk pimpinan pemerintahan semakin mendengarkan aspirasi para konstituennya, fakta mempertontonkan bancakan kekuasaan, bagi-bagi jabatan. Rakyat kembali bertanya, apakah negoro ono, ataukah negoro nono negoro sirno?
Negoro ono maksudnya adalah sebuah sistem ketatanegaraan yang eksis menjalankan fungsinya dalam rangka mengangkat harkat dan martabat hidup rakyat melalui serangkaian program pembangunan guna mewujudkan kemakmuran dan keadilan bagi segenap rakyat. Sedangkan negoro nono, atau negoro sirno adalah hilangnya sendi-sendi fungsi kenegaraan. Negara hanya menjadi simbolisasi kekuasaan yang dimanfaatkan oleh segelintir elit penguasa untuk tujuan kelompok dan golongannya sendiri.
Bila kita sedikit cermat melihat komposisi kekuasaan di parlemen yang notabene penjelmaan dari wakil rakyat dan pembagian kekuasaan di dalam pemerintahan, sangat jelas nuansa dagang sapi. Nampaknya gelar “blantik” kembali layak disandangkan kepada para elit politik di negeri ini. Jangankan memikirkan kepentingan rakyat, yang diutamakan adalah kepentingan partainya masing-masing.
Bagaimana drama penyeleleksian calon menteri oleh Presiden Joko Widodo meskipun konon ingin mengutamakan para professional di bidangnya, namun dalam “ketidakberdayaan” justru semua partai ingin dirangkul untuk berbagi-bagi kekuasaannya. Yang terasa paling tidak masuk akal justru dirangkulnya partai yang sedari awal berada di sisi seberang saat kontestasi pilihan presiden yang lalu. Pihak yang semestinya berposisi sebagai oposisi justru digandeng untuk berkoalisi. Alasan yang bisa ditebak adalah upaya untuk mengamankan kekuasaan dengan adanya mayoritas tunggal di parlemen. Bukankah ini sebenarnya kembali kepada paradigma Orde Baru?
Demikian halnya dengan partai-partai di parlemen. Hampir semua partai tanpa tedeng aling-aling dan rasa malu mengusulkan nama A, nama B untuk menjadi kandidat menteri. Akhirnya roman bagi-bagi kursi tergelar sehingga lebih mengharu-birukan suasana politik yang semakin panas bergulir mirip reality show di tivi. Adakah proses audisi atau fit and proper test benar-benar berlangsung obyektif, sehingga bisa mendapatkan kader menteri yang profesional, ataukah teknik blantik masih dipraktekkan? Apakah memang transparansi proses demokrasi harus berlangsung telanjang, sehingga semua orang menjadi berdebar-debar dan berharap-harap cemas akan siapa yang akan duduk di kekuasaan?
Kalau semua partai berlomba-lomba mengejar jabatan di pemerintahan, lantas siapa yang mewakili rakyat? Manakala semua perwakilan partai mendapatkan jatah untuk duduk di pemerintahan, lantas siapa yang akan mengontrol jalannya pemerintahan? Apakah benar kader partai yang duduk di pemerintahan itu nantinya akan benar-benar melepaskan baju kepertaiannya untuk secara bersungguh-sungguh berdiri di atas semua golongan dengan adil? Demikian halnya dengan para wakil rakyat di parlemen, apakah mereka akan kritis terhadap setiap kebijakan pemerintah yang melanggar kepentingan rakyat, sementara mayoritas partai di parlemen menjadi pendukung pemerintah?
Ini jelas akal-akalan politik yang tengik. Rakyat kembali dibohongi dengan terang-terangan. Bila prinsip-prinsip ketatanegaraaan telah diabaikan demi jabatan dan kekuasaan, apakah mungkin sendi-sendi sebuah negara masih bisa kokoh berdiri? Adakah demokrasi hanyalah ilusi? Bila demikian halnya, apakah masih bisa dikatakan negoro ono? Lalu siapakah yang harus mengembalikan perimbangan kekuasaan antara pemerintah dan wakil rakyat?
Bila demikian halnya yang terjadi, kita tidak bisa lagi mempercayakan mekanisme check and balance dari wakil rakyat yang terhormat, maka mau tidak mau komponen rakyat harus memerankan peran tersebut. Kelompok-kelompok studi independen harus lebih diintensifkan, mahasiswa, ormas, dan LSM harus bangkit kembali mengontrol setiap kebijakan pemerintah. Intinya bahwa setiap komponan masyarakat madani harus memerankan fungsi-fungsi kritisnya kepada kebijakan yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Hanya dengan cara demikian negoro bisa ono, eksis memerankan fungsinya. Dan negoro tan keno sirno, negara tidak boleh sirna bila rakyat ingin berdaulat di negaranya sendiri. Rakyat harus berposisi sebagai oposisi! Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Keluarga | Tag , , | Meninggalkan komentar

Tari Soreng: Dari Arya Penangsang Hingga Sumpah Pemuda


Sumpah! Sumpah merupakan kebulatan tekad seseorang. Sumpah bisa menjadi energi pendorong yang sungguh luar biasa dalam rangka menggapai sebuah keinginan atau cita-cita. Mapatih Gajah Mada bersumpah, seluruh penjuru Kepulauan Nusantara bersatu di bawah panji Negeri Wilwatika Majapahit. Kita tentu sangat paham dengan Sumpah Palapa. Bangsa kita mengenal varian sumpah, diantaranya sumpah pocong, sumpah tanah, sumpah darah, dan lain sebagainya.

Di kalasenjanya Kasultanan Demak Bintoro hingga masa awal Pemerintahan Sultan Hadiwijaya di Pajang, seorang Arya Penangsang bersumpah menuntut balas atas kematian orang tuanya, bahkan juga atas tahta Demak. Sejarah selanjutya mencatat dengan gagah berani ia mengobarkan perlawanan dari Kadipaten Jipang Panolan. Ia seorang ksatria sejati sehingga detik-detik kematiannya sungguh heroik. Dengan usus terurai akibat tusukan tombak Kyai Plered andalan Sutawijaya, ia gugur dengan gagah setelah Keris Pusaka Setan Kober yang ia hunus justru memotong-motong ususnya sendiri yang terlanjur terburai. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Semarak Pawai Hari Santri ala Kampung Kami


Hari kemarin masih Hari Ahad alias Minggu. Hiruk-pikuk dan desas-desus dari para bocah di kampung kami riuh-rendah memperbincangkan akan adanya sebuah pawai. Tak kalah semangat anak-anak kami yang sekedar “numpang” ngaji setiap sore di pesantren sebelah turut kasak-kusuk. Sedari pagi hari, si Ponang sudah minta izin untuk turut pawai. Bahkan semenjak malam selepas menghadiri acara pentas badut di pesantren, si Noni juga sudah semangat empat lima untuk mengikuti pawai di Minggu sore.

Saya sendiri malah termangu. Jan-jane, sebenarnya, ini ada mau ada ramai-ramai apaan sich. Tahun Baru Muharram sudah lewat jauh. Agustusan, lha saat ini bulan Oktober. Kesaktian Pancasila, sudah lewat. Mauludan, sepertinya masih bulan depan. Terus pawai dalam rangka apa? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Ngisor Blimbing | Tag , , | Meninggalkan komentar