Masjid Utara Mirota Kampus


Masjid merupakan sarana yang vital bagi ummat muslim. Terlebih bagi kaum lelaki muslim yang diwajibkan untuk melaksanakan sholat fardzu lima waktu dengan berjamaah, masjid merupakan tempat yang semestinya paling banyak disambangi setiap harinya.

 

Di lingkungan Kampus Mbulaksumur, sebelum keberadaan Masjid Kampus sebenarnya sudah ada dan banyak masjid ataupun mushola di hamper di setiap fakultas atau jurusan. Di samping itu keberadaan beberapa masjid kampung yang ada di pinggiran lingkar kampus juga sangat mendukung ibadah jamaah muslim. Salah satu masjid yang saya maksudkan adalah Masjid Al Hasanah. Masjid ini berlokasi di sisi utara Mirota Kampus, tepat berada di samping KFC perempatan lampur merah Mirota Kampus. Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Grojogan Sewu dan Tawangmangu Masa Kini


Sebagaimana halnya Yogyakarta yang memiliki hubungan spiritual mistik dengan Gunung Merapi, maka demikian halnya Surakarta dengan Gunung Lawu. Jika di lereng Merapi ada tempat tetirah berhawa sejuk dengan pesona pemandangan khas alam gunungnya bernama Kaliurang, maka di lereng Lawu ada kawasan Tawangmangu. Tawangmangu merupakan tempat wisata sekaligus peristirahatan semenjak jaman kolonial semasa dengan kejayaan Kasunanan dan Mangkunegaran Surakarta.

Secara tekstur topografi, sebuah gunung biasanya memiliki banyak sumber mata air.  Kemiringan struktur lereng gunung yang tajam kemudian mengalirkan air dari mata air tersebut ke dalam celah-celah sungai-sungai berdinding tinggi nan terjal. Pergerakan lempeng struktur batuan lereng gunung karena gerakan akibat aktivitas gempa vulkanik maupun pergeseran tektonik kemudian banyak menghadirkan patahan tajam yang apabila bersilangan dengan arah aliran sungai akan menghadirkan sebuah air terjun, Grojogan Sewu merupakan air terjun tertinggi dan paling terkenal di lereng Gunung Lawu. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Kenduri Cinta Edisi Desember 2017


Monggo dihadiri bersama-sama. Datang, duduk, lesehan, gratis dan barokah. Insya Allah. Mukadimah lengkap, silakan disimak di sini.

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Candi Sukuh: Piramidanya Bangsa Nusantara


Pernah sampeyan melihat foto situs kuno peninggalan Bangsa Maya di Meksico ataupun dari Bangsa Inca di Peru? Yups, benar sekali. Candi berbentuk piramida. Berbeda dengan piramida peninggalan Bangsa Mesir dan piramida yag ada di Benua Amerika, candi piramida yang ada tersebut terpotong alias papak di bagian puncaknya. Demikian halnya fungsinya bukan untuk pemakaman raja, melainkan sebagai tempat pemujaan.

Sebagai bagian dari anak bangsa Nusantara, kita sangat bangga mewarisi banyak sekali situs dan bangun candi yang sangat bersejarah. Dan diantara sekian ribu situs bangunan candi yang ada, ternyata ada beberapa diantaranya yang memiliki kemiripan dengan piramida dari Bangsa Maya-Inca tadi. Serius Kang? Emang ada candi kita yang berbentuk piramida? Jawabnya yes, ada dan masih dapat kita saksikan hingga di hari ini. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , , , , | 4 Komentar

Taman Jurug Tepi Bengawan Solo


Bengawan Solo dengan ketenangan aliran airnya paling pas dinikmati dari tepiannya di sekitar Taman Jurug. Taman Jurug yang  berada di pinggiran sisi timur Kota Solo memang tepat berada di tepian Bengawan Solo. Selayaknya taman rekreasi yang lain, Taman Jurug memang menjadi tempat bagi masyarakat Surakarta dan sekitarnya untuk menikmati suasana kerindangan dan kesejukan sebuah taman kota. Dalam perkembangan beberapa koleksi satwa juga ditempatkan di taman tersebut, sehingga Taman Jurug juga mendapat julukan sebagai Kebun Binatang  Surakarta.

Berbincang mengenai Taman Jurug, ada sebuah tembang yang mengisahkan keasyikan Taman Jurug. Selayaknya sebuah taman yang seringkali lebih menjadi ajang bagi kaum muda dan mudi untuk beranjangsana, bersenda-gurau, bahkan menyelami dunia asmara. Ungkapan keindahan Taman Jurug yang tepat berada di tepian aliran Bengawan Solo dipadu dengan semangat muda-mudi untuk mengikat janji sehidup-semati. Jadilah sebuah ungkapan lirik yang benar-benar jangkep alias lengkap, mencakup sisi dimensi dunia fisik maupun alam kebatinan anak manusia. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , | Meninggalkan komentar

Candi Cetho, Candi Tertinggi di Lereng Gunung Lawu


Cetho artinya jelas, terang benderang, wela-wela ketok mata. Ibarat pepatah becik ketitik, ala ketara. Yang benar dan hak kelihatan kebenaran dan hekekatnya. Yang salah dan batil kelihatan kesalahan dan kebatilannya. Ketika manusia moksa untuk meninggalkan hakekat kedununiawiannya, maka ia akan mencapai dalan padhang, jalan terang, untuk menuju hekekat kehidupan ialah Tuhan Semesta Seru Sekalian Alam.

Kata cetho, kemudian terwakili sebagai kompleks sebuah candi bercorak Hindu sangat mewakili hakekat peristiwa moksa. Moksa, berpisahnya jiwa dari raga seseorang untuk mencapai alam kelanggengan, alam abadi di swargaloka. Di Candi Cetho inilah diyakini banyak orang sebagai petilasan terakhir Sang Maharaja Wilwatikta terakhir Prabu Brawijaya V dan beberapa pengikut setianya moksa untuk mencapai nirwana. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , , , | 3 Komentar

Taman Gesang Yang Merana


Kita semua tentu sepakat dan tidak perlu berdebat untuk mengatakan Mbah Gesang sebagai sosok yang sangat merepresentasikan local genius-nya Kota Solo sebagai The Spirit of Java. Melalui lirik langgam Bengawan Solo yang pelan mendayu-dayu laksana aliran Kali Bengawan Solo di musim kemarau, ia benar-benar telah menghinotis anak manusia. Gambaran Solo seakan terkumandang sangat nyata lewat lagu berirama keroncong tersebut. Di samping digemari di seantero Nusantara, konon lagu tersebut sangat tenar di Negeri Matahari Terbit, Jepang.

Atas hubungan sejarah di masa Perang Dunia II dimana negeri kita sempat dijajah Bangsa Jepang, banyak tokoh-tokoh tentara maupun pejabat sipil Jepang yang kala itu berada di negeri kita gandrung dengan kelembutan nada dan lirik tembang Bengawan Solo karya Mbah Gesang. Kenangan indah tersebut terbawa hingga ke alam modern saat ini. Tidak sedikit para veteran Jepang yang hingga kini masih hidup sangat lanyah menembangkan lagunya Mbah Gesang. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Dikejar Semar-Petruk Jelang Taman Jurug


Apa yang Sampeyan rasakan ketika berkendara di jalan raya tiba-tiba saja ada yang mengejar dan meneriaki untuk berhenti? Kaget? Deg-degan? Marah? Takut? Atau mungkin malah penasaran dengan maksud dan tujuan sang pengejar kita?

Hari itu selepas pagi. Ketika menyusur ujung Jalan Juanda di Kota Surakarta, tiba-tiba ada dua motor menyalip. Satu orang diantara penumpangnya berteriak. Saya sedikit kaget dengan tampang dan blegernya. Mukanya bercat putih dari campuran gamping. Bibirnya njlethet dan terkesan ndlower tak selayaknya bibir orang normal. Sasat mata saya tidak akan pernah dengar sosok suburnya, terlebih ukuran bokongnya yang hangudubilah itu. Tidak lain saya sangat yakin. Dialah sosok Kiai Semar, tetua panakawan yang menjadi pengasuh para Pangeran Pandawa Lima. Jadi Kiai Semar mudhun kembali ke marcapada? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Tokoh | Tag , , , , | Meninggalkan komentar