Boncikdamber: Boncengan Cantik nan Unik dari Ember Bekas


Budikdamber, alias budidaya lele dalam ember, demikian tenar nan viral. Namun bagaimana dengan Boncikdamber? Mungkin diantara pembaca baru mendengar kali ini ya? Melalui tulisan ini, kami ingin memperkenalkan sebuah inovasi kreasi baru yang bernama Boncikdamber ini. Simak terus ya kawan.

Boncikdamber sebenar kependekan dari boncengan cantik nan unik dari ember bekas. Jadi terang kan bahwa antara Budikdamber dan Boncikdamber memiliki kesamaan. Ya, keduanya sama-sama mempergunakan bahan dasar ember. Hanya saja fungsi atau kegunaan diantara keduanya sungguh berbeda. Satu untuk pemeliharaan ikan lele. Sedangkan yang ke dua digunakan sebagai boncengan atau bagasi di sepeda.

Sepeda di masa pandemi kembali menemukan momentum trend kembali. Ketika sekian lama warga masyarakat membatasi diri ataupun dibatasi oleh aturan untuk bepergian keluar rumah, tak mengherankan jika tiba pula masa atau titik jenuh. Masyarakat setidaknya ingin berolah raga di akhir pekan. Demi menjaga jarak di kala berolah raga, sepeda kemudian menjadi pilihan logis. Bahkan dengan sepeda kita bisa berolah raga sekaligus bepergian sedikit jauh dari rumah atau tempat tinggal kita. Dengan sedikit berkelana inilah rasa jenuh setelah sekian bulan lebih banyak di rumah mendapatkan penyalurannya.

Bersepeda di akhir pekan, baik saat pagi maupun sore hari sungguh mengasyikkan. Olah raga sepeda dapat dilakukan sendirin, bersama keluarga ataupun berombongan dengan sahabat, teman, juga tetangga kanan kiri rumah kita. Trend bersepeda secara berombongan begitu digandrungi banyak orang saat ini. Di sisi lain tak kalah sedikit pesepeda yang ingin bersepeda ria dengan seluruh anggota keluarga. Sekiranya semua anggota keluarga sudah dewasa, atau setidaknya anak-anak dan usia remaja tentu tidak begitu menjadi persoalan. Namun jika masih ada anggota keluarga yang masih usia balita bisa jadi hal tersebut mengurungkan niat bapak atau ibu untuk turut bersepada.

Sebenarnya bersepeda ria dengan si buah hati sungguh mengasyikkan dan menjadi dambaan setiap keluarga. Bagaimanapun sebuah keluarga tentu ingin senantiasa menikmati momentum kebahagiaan dan kegembiraan secara bersama-sama, termasuk saat bersepeda ria. Bersepeda dengan si Kecil sesungguhnya bukan persoalan besar. Kita tinggal melengkapi sepeda kita dengan sebuah boncengan anak. Bisa model boncengan yang dipasang di depan ataupun di belakang. Banyak model dan pilihan boncengan. Masalahnya harga sebuah boncengan untuk anak-anak tidak murah dan seringkali kurang terjangkau bagi kebanyakan keluarga menengah dan bawah. Di masa trend sepeda saat ini bisa jadi harganya di kisaran antara 300 hingga 500 ribu rupiah. Kemudian haruskah kita mengurungkan keasyikan sepedaan ria dengan memboncengkan si Kecil? Lalu bagaimana solusinya?

Boncikdamber bisa jadi menjadi alternatif solusi. Ide awal dari Boncikdamber juga berkenaan dengan masalah mahalnya harga boncengan anak yang saya hadapi sekitar dua setengah tahun yang lalu. Saat itu si Kecil sudah berusia 4 tahunan. Biasanya di setiap sepedaan akhir pekan semenjak usia 1 tahun ia selalu kami ajak. Awalnya kami memiliki sebuah boncengan yang kami gantungkan di stang sepeda. Namun seiring perkembangan badan dan pertambahan usia si Kecil, pantatnya tidak lagi muat di boncengan tersebut. Kamipun mulai melirik untuk membeli boncengan anak berukuran lebih besar untuk dipasang di sisi belakang.

Di saat menimang-nimang, menimbang-nimbang harga boncengan sepeda, kebetulan pas ember di rumah pecah. Mempertimbangkan harga boncengan anak yang mahal justru tercetus ide untuk mengkreasikan ember bekas tersebut sebagai boncengan sepeda untuk si Kecil. Pada bagian sisi ember yang pecah, sisi tersebut kami potong dengan bentuk tertentu sesuai kebutuhan duduk ataupun posisi anak saat duduk membonceng. Pada bagian dasar ember kami lubangi empat titik untuk memasang sekrup. Sisi bawah ember kemudian kami lekatkan pada sebidang papan sebagai landasan. Ember beserta papan landasan tersebut selanjutnya kami satukan dengan boncengan besi yang sebelumnya memang sudah terpasang. Jadilah Boncikdamber, boncengan cantik nan unik dari ember bekas.

Sekiranya kita kurang percaya diri keberadaan ember yang terekspose, kita bisa membuat suatu cover atau sarung boncengan dari kain. Kain dengan motif yang lucu nan cantik bisa kita pola dan jahit menyesuaikan bentuk ember. Pada satu sisi bisa dijahit dan dipasang kolor yang mengkaitkan kain dengan kuat. Untuk menambah kenyamanan si Kecil saat duduk, boncengan bisa dilengkapi dengan bantal, busa atau lipatan kain agar terasa empuk.

Hayo masih lebih seneng sepedaan dengan teman dan tetangga atau dengan si Kecil. Momentum saat si Kecil sepedaan dengan ayah bundanya tentu akan menjadi kenangan abadi sepanjang masa. Monggo jangan ragu untuk bersama mencoba berkreasi dengan ember bekas menjadi Boncikdamber.  Boncengan cantik nan unik dari ember bekas. Murah meriah bin kreatif bukan? Gimana Saudara?

Ngisor Blimbing, 10 Juli 2020

Dipublikasi di Jagad Keluarga | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Zonasi Melelahkan Hati


Zonasi, istilah yang senantiasa menghangat di awal Tahun Ajaran Baru. Beberapa tahun terakhir pemerintah telah menerapkan sistem penerimaan siswa baru dari tingkat TK, SD. SMP, hingga SMA melalui sistem zonasi. Adapun untuk tahun ini, bersamaan dengan pandemo corona, sistem zonasi yang diterapkan tanpa disertai dan melibatkan nilai ujian nasional. Sebagaimana kita ketahui, berkenaan dengan pandemi corona, Mendikbud langsung memutuskan penghapusan ujian nasional.

Sistem penerimaan siswa baru dengan zonasi alamat tinggal di sekitar linkungan sekolah sejatinya bukan hal yang baru. Setidaknya di tingkat TK dan SD, semenjak masa Orba dengan keberadaan SD Inpresnya yang merata di setiap desa atau kelurahan, senantiasa diisi oleh anak usia sekolah di desa yang bersangkutan. Anak-anak usian SD tidak perlu bersekolah jauh karena di desanya terdapat SD dengan daya tampung yang memadai. Keberhasilan program keluarga berencana (KB), bahkan banyak SD yang harus diregrup karena semakin berkurangnya murid baru. Demi efisiensi dan efektivitas pelaksanaan pendidikan, dua atau tiga sekolah sigabung menjadi satu. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , | Meninggalkan komentar

Bijak dan Beradab dengan Bekas Makhluk Bernyawa


Pernah menyaksikan bangkai tikus di tengah jalan? Apa yang dirasa tatkala melihat pemandangan tersebut? Jijik, bau, merasa terganggu, atau?

Pemandangan bangkai tikus yang sengaja dibuang orang di tengah jalan bukan pemandangan yang aneh. Entah dengan cara logika pikir yang mana, orang dengan semena-mena membuang bagkai di tengah jalan. Merusak pandangan, menimbulkan bau tak sedap, mengotori jalanan, mengundang bibit penyakit, dan apa lagi coba? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag | Meninggalkan komentar

Lulus Tanpa Ujian


Menapaki sebuah tangga kehidupan. Setapak demi setapak anak tangga harus dilewati. Untuk menapak anak tangga yang lebih tinggi sejatinya tidaklah mudah. Akan selalu ada prasyarat yang harus dipenuhi. Tak jarang prasyarat tersebut berupa sebuah proses penentuan yang bernama ujian. Hidup bagaikan menapaki satu ujian ke ujian berikutnya. Dengan serangkaian ujian, manusia memetik pengetahuan dan pengalaman.

Demikian halnya dengan proses pendewasaan hidup yang bernama pendidikan. Wabilkhusus pendidikan formal di lembaga sekolah, ujian menjadi penentu tolak ukur keberhasilan siswa dalam menempuh pembelajaran. Entah dianggap benar atau salah, entah dipandang tepat atau tidak, entah dirasa perlu atau tidak, namun sebagian dari generasi kita jelas merupakan produk sistem pendidikan dengan ujian yang menentukan seseorang naik kelas atau tidak, bahkan seseorang lulus sekolah atau tidak. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , | Meninggalkan komentar

Burung Pipit Peliharaan


Manusia pada kodratnya ingin hidup berdampingan atau bahkan bersahabat dengan nakhluk Tuhan yang lain, termasuk dengan binatang. Hal ini tentu saja juga berlaku dengan anak-anak kita. Merekapun secara naluri sangat menyukai binatang. Memelihara binatang peliharaan untuk anak-anak akan sangat banyak manfaatnya bagi tumbuh-kembang mereka. Tidak perlu banyak contoh, pada tulisan ini saya ketengahnya tentang anak-anak kami yang sedang gandrung dengan burut pipit.

Si Noni, justru yang sudah semenjak lama ingin memelihara burung pipit. Demekian hamster kesayangannya mati dan meninggalkan sangkar kosong, ia sudah langsung ingin menggantinya dengan burung pipit. Waktu sangkarnya belum kosong malah sering ada abang-abang penjaja burung pipit yang berkeliling dengan sepeda lewat di depan rumah. Si Noni juga sebelumnya sudah sering memperhatikan penjual burung pipit di sudut taman anak. Nah pas jelang corona merebak Maret lalu, rasa ingin memelihara burung pipit itu demikian menggebu. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , , | Meninggalkan komentar

Ranah Bocah, Rumah Ramah Bocah


Masa bocah merupakan penggal rentang masa yang sungguh menentukan perjalanan hidup seseorang. Masa bocah menjadi titik pijak awal seseorang untuk mulai mengenal dan menjelajah dunia. Ya di dalam dunia alam pikir, maupun dunia nyata atau alam fisik. Salah satu cara seorang bocah dapat mengenal dan menjelajah dunia ya dengan dolan lan dolanan, dengan main, bermain, dan permainan.

Jaman memang terus berputar. Sebuah keniscayaan bahwasanya waktu terus melaju. Dolanan atau macam permainan yang dimainkan oleh para bocah dari masa ke masa tentu senantiasa berubah, senantiasa berkembang, bahkan senantiasa berganti mengikuti tuntutan jaman. Di masa lalu, para bocah dalam melakukan permainannya lebih didominasi dengan berbagai permainan tradisional yang masih lebih bersifat fisik. Di masa kini, dimana teknologi sudah sedemikian berkembang dan perangkat canggih seperti smartphone telah menjadi pegangan bocah semenjak balita, tidak mengherankan jika para bocah seringkali lebih asyik dengan berbagai permainan online alias game online. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

New Normal Nggege Mangsa


Corona pancen durung gelem lunga, apa maneh sirna. Gara-gara corona, ibadah Ramadhan sarwa keganggu. Ora ana tarawehan jamaah ing masjid. Ora ana tadarusan, santapan rohani, utawa kuliah subuh. Amarga corona, rencana mudhik dadi wurung. Riaya Idul Fitri wae dibelani ora sholat ning lapangan utawa mesjid. Sholat Ied sak khotbahe kepeksa dileksanani uga ana ing ngomah. Intine apa-apa diayahi ing ngomah. Ya bocah-bocah sing kudu sinau lan sekolah ing ngomah. Ya sing tuwa uga kerja seko ngomah. Kelebu uga ibadah ana ing ngomah. Kabeh jalaran saka corona mau.

Yen sekawit corona teka, akeh negara-negara liyane kang langsung ngayahi lockdown. Lockdown mono tegese mbatesi sakabehing perkara utawa penggawean ing njaba omah, ora entuk lelungan, kalebu jalur lelungan seko lan menyang manca negara uga ditutup. Wigatine lockdown kabeh penggawean kang ora gegayutan karo upaya ngendaleni dan mbrantas corona dilarang. Samubarang bab kang bisa njalari nyebar utawa nulare virus corona sak bisa-bisane kudu diendani. Rong wulan telung wulan sakwise negara-negara mau nglesaknani lockdown, negara-negara iku saiki wis ngrasakake mudhune penularan corona. Kepara malah wis ana negara sing nglekasi penguripan kanthi tatanan anyar utawa kang kasebut new normal. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Jawa | Tag , , , | 6 Komentar

Andai Tetap Mudik (5)


UJUNG: TRADISI JALIN SILATURAHMI

Inti dari mudik tentu ber-Idul Fitri itu sendiri. Sedangkan inti daripada intinya Idul Fitri adalah saling bermaafan. Dalam rangka saling memaafkan inilah kemudian dilakukan saling berkunjung satu sama lain, antar tetangga juga antar kerabat yang tinggal di tempat lain bisa hanya antar dusun, antar desa, antar kecamatan, bahkan antar kabupaten atau provinsi. Dari dimensi tradisi dan nilai kearifan lokal di daerah kami, ujung menjadi wahana untuk saling bermaafan di Hari Lebaran.

Tahun ini tidak bisa mudik karena corona. Tidak mudik, otomatis tidak bisa ber-ujung ria sebagaimana biasanya. Kemajuan teknologi komunikasi menjadi alternatif untuk tetap saling bermaafan dari jarak jauh. Namun demikian hal tersebut sangat terbatas kami lakukan hanya dengan keluarga inti semata. Sanak saudara lain, terlebih dengan para simbah sepuh yang tak terjangkau teknologi mutakhir ataupun dengan sanak saudara yang tinggal di pelosok dan tidak terjangkau dengan sinyal dan lain sebagainya, praktis kami sama sekali tidak bersilaturahmi dan bermaafaan tahun ini. Bagi kami, ujung tetap tidak bisa dilakukan dari jarak jauh ataupun cara virtual. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Selamat Idul Fitri 1441 H


Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Andai Tetap Mudik (4)


TAKBIRAN LEBARAN

Momentum paling membahagiakan bagi kami selaku ummat muslim adalah menyambut hari suci Hari Idul Fitri. Sebagaimana diceramahkan banyak ulama, bahwa ada dua kegembiraan bagi seorang muslim yang menunaikan ibadah puasa, satu pada saat ia berbuka di setiap petang dan satu lagi pada saat berhari raya. Maka momentum malam jelang Idul Fitri dengan takbirannya menjadi puncak kebahagiaan. Ada rasa syukur atas nikmat telah menunaikan ibadah Ramadhan dengan baik dan juga atas nikmat umur panjang masih berjumpa kembali dengan hari raya.

Adalah wujud kegembiraan seorang muslim dalam menyambut Idul Fitri dengan mengumandangkan kalimah takbir, tahmid, dan tahlil. Allahuakbar, allahuakbar, allahuakbar. Laaila ha ilallahu wallahu akbar. Allahuakbar walillahilham. Takbiran, demikian aktivitas tersebut dinamakan. Takbiran dikumandangkan semenjak matahari terbenam hingga pelaksanaan sholat Idul Fitri di keesokan paginya.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar