Cancut Tali Wanda


Wayahe….wayahe! Wayahe cancut tali wanda. Wayahe bermakna telah tiba saatnya. Adapun cancut tali wanda memiliki arti ajakan bersama untuk bersiaga, bersiap, bergegas, bahkan juga waspada karena situasi dan kondisi telah mengharuskan untuk bersikap atau bertindak. Cancut tali wanda dapat dimaknai jauh lebih luas untuk segala macam kondisi. Bisa dilakukan sebagai sebuah tindakan pencegahan dan antisipasi. Pun cancut tali wanda juga bisa dilakukan dalam ketersegeraan untuk mengantisipasi sebauh kejadian yang sudah di depan mata, bahkan baru saja kejadian.

Menghadapi tantangan globalisasi dimana persaingan bebas semakin tidak terhindarkan lagi, kita harus bersikap cancut tali wanda. Tidak lagi banyak berwacana dan berteori muluk-muluk. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus segera giat belajar, giat bekerja, giat berusaha, giat dalam segala apapun untuk mempertahankan hidup. Inilah makna cancut tali wanda secara umum. Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Manusia Nilai Manusia Harta Manusia Istana


Manusia yang manakah kita? Sebuah pertanyaan retoris yang tidak mudah dijawab oleh masing-masing pribadi. Ada beragam dimensi yang dimiliki setiap individu manusia. Ada bermacam cara pandang untuk mengidentifikasi sifat atau karakter seseorang. Menarik saat menyimak ungkapan Cak Nun yang melakukan pendekatan karakteristik manusia sebagai manusia nilai, manusia harta dan manusia istana. Hal tersebut diungkapkan salah satunya pada saat pemberian ijazah maiyah kepada tiga tokoh penyair, Taufik Ismail, Sutardjo Calzoum Bachri, dan Iman Budi Santosa.

Manusia nilai merupakan sosok pribadi yang taat berkarya dalam rangka menegakkan nilai-nilai luhur yang dimiliki dalam kesejarahan antropoligis manusia atau masyarakat. Nilai kebajikan, nilai kebenaran, nilai kejujuran, nilai keindahan, nilai keagamaan, bahkan nilai kemanusiaan itu sendiri. Mereka adalah segolongan orang yang meyakini, menghayati, dan mempraktikkan setiap nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai luhur tersebut dapat berasal dari sumber manapun. Agama, tata susila, tradisi dan adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan dari setiap kebijaksanaan apapun dari setiap proses yang terbimbing oleh-Nya. Mereka adalah manusia yang telah lulus menyandang sebagai manusia sejati. Mereka sangat tahu bagaimana menempatkan dunia dan akhirat, memposisikan harta dan martabat, antara jasmani dan rohani, antara jiwa dan raga, antara apapun yang berdimensi material dan spiritual. Mereka berdiri di atas semua itu. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Bajrangi Bhaijaan, Film Kemanusiaan Lintas Batas Konflik


India dan Pakistan, dua negara sekandung yang masih berseteru. Perbedaan pandangan hidup dan keyakinan telah menggariskan mereka berpisah sebagai dua negara. Sekian tahun berjalan luka lama belum juga hilang. Konflik di tingkat elit seringkali memicu insiden di perbatasan. Masing-masing pihak membentengi perbatasannya dengan kawat berduri, berlistrik pula. Berlintas batas di kedua negara harus melalui serangkaian prosedur pemeriksaan yang sungguh ketat. Kedua belah pihak seolah tenggelam dalam perang tertutup yang tidak berkesudahan.

Namun apakah kondisi demikian harus senantiasa demikian? Tetapi apakah selamanya mereka kemudian harus terus saling bermusuhan? Tidak adakah jalan diplomasi yang membawa kedua belah pihak dalam persahabatan dan kedamaian? Tidak adakah akar darah dan sejarah yang dulu pernah mempersatukan mereka ketika terlahir sebagai sebuah negara yang bersatu, kelak akan tumbuh kembali? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Wayahe, Tenan!


Gambar | Posted on by | Tag , | Meninggalkan komentar

Kenduri Cinta Edisi Agustus 2019


Monggo dihadiri bersama-sama. Datang, duduk, lesehan, gratis dan barokah. Insya Allah. Mukadimah lengkap, monggo di mari.

 

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , | 2 Komentar

Menyegarkan Kembali Ingatan kepada Diponegoro


Sebagai putra kelahiran Magelang, saya, demikian pula dengan anak saya, sudah semenjak kecil mengenang sebuah sosok patung perkasa di sudut Alun-alun Kota Magelang. Sesosok berjubah putih dengan pancaran kesucian jiwa. Seorang panglima perang yang sungguh-sungguh dalam berperang dan berjuang melawan penjajahan. Dia yang semenjak kecil meninggalkan kenikmatan dunia istana untuk lebih memilih hidup sederhana di tengah dan bersama rakyat biasa. Dialah pengobar Perang Jawa yang sungguh menyejarah. Dialah Pangerang Diponegoro.

Keberadaan patung Pangeran Diponegoro di pusat Kota Magelang bukan tanpa alasan yang mendasar. Sejarah mencatat Magelang sebagai ibukota pemerintahan Karesidenan Kedu menjadi tempat perundingan bersejarah yang mengakhiri Perang Jawa yang telah berlangsung lima tahun. Di samping itu, sebagai salah satu area medan perjuangan Diponegoro, sudah pasti sangat banyak warga sekitar Magelang yang merupakan anak turun para pengikut setia Sang Pangeran. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , , , | 2 Komentar

Kawah Rengganis: Perpaduan Air Terjun, Air Hangat, dan Air Belerang


Tidak ada yang menyangsikan bahwa negeri Indonesia berada di ring of fire. Ratusan, bahkan ribuan, gunung beradi berderet di sepanjang wilayah negara kita. Salah satu segmen ring of fire tersebut adalah gugusan Gunung Patuha di wilayah Bandung Selatan. Di samping Kawah Putihnya yang tersohor, kawasan Patuha juga memiliki beberapa titik kawah yang lain. Salah satunya adalah Kawah Rengganis.

Kawah Rengganis berada di sisi selatan Situ Patenggang. Dari arah Bandung, kawah ini berada di jalur Jalan Raya Ciwidey – Rancabali. Sepanjang jalur menuju Kawah Rengganis terhambar ribuan hektar tanaman teh yang menghijau. Hawa udara yang dingin nan segar berpadu dengan hijau alam menghadirkan nuansa kesejukan bagi jiwa dan raga siapapun insan yang tengah melintasinya. Kawasan ini menjadi tujuan refreshing paling favorit di wilayah Bandung Selatan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Alam | Tag , , , | 2 Komentar

Elang Garuda Gunung Merapi


Tepat di bibir Kawah Ratu Gunung Tangkuban Perahu terdapat dua ikon binatang. Seekor maung atau macan, alias harimau. Satunya lagi berupa seekor burung elang, atau ada pula yang menegaskannya sebagai garuda. Maung belang berwarna kuning tentu dalam keyakinan masyarakat Parahyangan adalah personifikasi dari Ranghyang Prabhu Siliwangi, raja termasyur dari Kerajaan Pajajaran. Adapun elang atau garuda dulunya merupakan spesies endemic burung yang berhabitat di seputaran puncak gunung. Bagi sebuah gunung berapi, elang garuda juga menjadi burung yang seringkali memberikan sasmita atau pertanda yang berkenaan dengan peningkatan aktivitas kegunungapian.

Kejadian erupsi Gunung Tangkuban Perahu dua hari lalu mengingatkan saya kepada kisah Pak Isharyanto saat pembukaan Festival Lima Gunung ke XVIII bulan lalu berkenaan dengan burung elang garuda dalam kepercayaan masyarakat di kaki Gunung Merapi. Gunung Merapi merupakan gunung berai aling aktif di dunia. Dibandingkan dengan erupsi Tangkuba Perahu yang membubungkan tinggi kolom asap sekitar 200-an meter, Merapi dalam kondisi Siaga II saat inipun biasa meluncurkan awan panas hingga radius dua kilometer. Lalu apa hubungan antara elang garuda dengan aktivitas sebuah gunung berapi sebagaimana Gunung Merapi? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Festival Cisadane 2019


Gambar | Posted on by | Tag , , | 1 Komentar

Menulis di Atas Tulisan


Menulis di atas tulisan? Haneh numpuk-numpuk hurufnya! Haneh ruwet bin nggak bisa dibaca tulisannya! Sebentar Lur! Tentu maksudnya nggak seperti itu nggih! Ungkapan tersebut tentu bukanlah ungkapan yang wantah alias denotatif. Terlebih jika hal tersebut dituturkan oleh seorang Presiden Puisi Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri. Sudah pasti ada maksud tersirat yang teramat dalam dan mungkin tidak pernah dipikirkan oleh kalangan masyarakat awam puisi, seperti kita-kita

Oke. Ketika berlangsung malam penganugerahan Ijazah Maiyah saat Kenduri Cinta awal bulan ini, Bang Tardji ditanya, “Darimana mendapatkan inspirasi untuk menulis puisi?” Bagaimanapun nama Sutardji dengan ribuan karya puisi yang unik dengan bobot sastra yang luar biasa tentu menarik untuk diungkap bagaimana proses kreatif yang dijalani. Apakah ia mendapatkan wisik kata-kata dari langit? Bagaimana ia memilih kata, merangkai satu sama lain, menyusunnya menjadi kalimat dan bait-bait yang kaya makna? Ada keindahan puisi, namun yang terlebih penting lagi adalah pesan-pesan mendalam di dalamnya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , | Meninggalkan komentar