Kenduri Cinta Edisi Desember 2016


kc-des-2016

Monggo merapat dan hadirilah. Gratis, Lesehan, dan Barokah.

Mukadimah Kenduri Cinta Edisi Desember 2016, dipersilakan.

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Kisah Pilu Seorang Ibu


Sore itu cuaca sedikit mendung sebagaimana hari-hari sebelumnya. Dengan segala berat hati, saya harus melangkahkan kaki untuk meninggalkan kampung halaman tercinta. Rasa berat hati itu terasa semakin berat mengingat baru beberapa hari sebelumnya kami kehilangan nenek kami tercinta. Namun bagaimanapun roda hidup harus terus berlanjut. Sehingga demi tanggung jawab pekerjaan, mau tidak mau raga ini harus kembali ke tanah rantau yang sudah menanti.

Dengan berbagai pertimbangan dan juga kesempatan yang ada, saya menggunakan bus antar kota antar provinsi untuk kembali menyambangi ibu kota. Tentu saja saya lepas landas dari Terminal Drs. Prayitno Muntilan. Kebetulan di malam sebelumnya saya juga sudah titip weling memesan tiket bus kepada salah seorang kerabat yang kebetulan turut menghadiri tahlilan nenek kami. Dengan demikian, tentu saja saya naik bus berangkat dari agen bus di Terminal Muntilan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , | Meninggalkan komentar

Kerukunan Beragama Ala Desa


Petang selepas Maghrib itu langit mencurahkan air hujan dengan sangat lebatnya. Hujan sedikit reda selepas sembahyang Isya’. Namun demikian hujan deras lebat masih menyisakan gerimis miwis yang sedemikian panjang.

Malam itu adalah malam ke dua kepergian Biyung Tuwo Hardjo Pawiro. Sebagaimana tradisi yang hidup di kampung kami, maka hingga di hari ke tiga dari meninggalnya seseorang, semua kaum kerabat dan tetangga berkumpul untuk memanjatkan doa bersama. Acara semacam itu biasa disebut slametan atau tahlilan, atau ada juga yang mengistilahkan yasinan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , | Meninggalkan komentar

Makar wal Makaryo


Semenjak beberapa minggu silam, beberapa diskusi di stasiun tivi yang menghadirkan aparat keamanan tidak hanya satu-dua kali melemparkan isu adanya gerakan makar. Makar sendiri merupakan gerakan untuk menggulingkan pemerintahan yang syah. Makar biasanya dilakukan dengan suatu upaya paksa. Dengan demikian si pelaku tindakan makar, tentu saja memiliki pengaruh, massa, maupun kekuatan untuk memaksa penguasa turun tahta. Salah satu contoh perbuatan makar adalah tindakan kudeta oleh militer di beberapa negara tetangga.

makaryo

Dalam sebuah diskusi di tivi, seorang pakar militer dan pertahanan, isu akan adanya gerakan makar di masa Pemerintahan Presiden Jokowi yang dikait-kaitkan aksi damai 411 maupun 212 hari ini tidak memiliki alasan yang kuat. Dalam kondisi sosial politik saat ini, hanya beberapa pihak yang dapat melakukan perebutan kekuasaan atau kudeta, yaitu Kostrad, Kopassus, dan Kodam Jaya. Kita semua paham bahwa ketiga kesatuan militer tersebut saat ini dalam konsolidasi yang solid, satu garis ketaatan komando di bawah Panglima TNI. Sehingga isu makar dalam bentuk kudeta militer tidaklah mungkin terjadi secara teori. Lalu siapa yang mau makar? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Biyung Tuwo Hardjo Pawiro


biyung1Perempuan tua itu kami sebut sebagai Biyung. Biyung berarti ibu. Memang perempuan tua itu bukan ibu kami. Dia adalah nenek, ibu dari ibu kami para cucunya. Seharusnya kami menyebutnya sebagai biyung tuwo, artinya nenek. Mungkin hanya sekedar memperpendek sebutan biyung tuwo sehingga kami lebih sering memanggilnya hanya dengan Biyung saja.

Biyung kami bernama kecil Dalmi. Ia anak ke dua dari Simbah Buyut Mangunredjo, cikal bakal atau pendiri Dusun Mangunan atau Mangunsari. Ia adik langsung dari Biyung Sarinten. Biyung Dalmi menikah dengan Simbah Kakung Hardjo Pawiro dari Karanglo. Dengan demikian di masa tuanya, Biyung Dalmi lebih sering disapa sebagai Mbah Hardjo Pawiro putri. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Tokoh | Tag , , , , , , , , | 2 Komentar

Salah Kaprah Minta Naik Upah


Kantong UangUang? Siapa sih orangnya yang tidak butuh uang? Uang adalah sarana penting untuk mencukupi berbagai kebutuhan hidup kita. Mau makan-minum, butuh uang! Mau sekolah, pakai uang! Mau periksa kesehatan ke dokter, tentu saja pakai uang. Mau beli ini beli itu, sudah pasti tidak bisa tanpa uang. Uang seolah telah menjadi kebutuhan paling primer bagi manusia. Bahkan banyak diantara manusia yang terlanjur kebablasan menuhankan uang. Maka kita mungkin pernah mendengar ungkapan “Keuangan Yang Maha Esa”. Seolah uang bisa mewujudkan apapun keianginan manusia. Masalah apapun bisa diselesaikan dengan uang.

Karena semua orang butuh uang, maka motivasi utama ketika orang bekerja adalah mencari uang. Para pegawai pemerintah rajin ke kantor, karena uang. Para pedagang ke pasar, cari uang. Petani menanam padi, palawija, sayur mayur dalam rangka mencari uang. Demikian halnya para buruh pabrik berpeluh keringat siang-malam juga demi uang. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Malioboro dan Makna Sumbu Imajiner Kota Yogyakarta


Sebagaimana jargonnya sebagai Kota Istimewa, menurut saya Jogja memang Istimewa! Setidaknya bagi saya pribadi, Jogja telah menorehkan sebagian sejarah hidup selama kurang lebih delapan tahun saya melewatkan waktu untuk ngangsu kawruh alias studi di kota yang dijuluki sebagai Kota Pelajar tersebut.

malioboro1

Bicara mengenai Jogja, tentu tidak bisa lepas dari Keraton Kasultanan dan Malioboro. Keraton Kasultanan merupakan cikal bakal keberadaan Jogja. Kota Jogja dibangun tatkala terjadi Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 yang memisahkan Dinasti Mataram Islam ke dalam dua trah penguasa, Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat. Semenjak saat itulah Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I membangun hutan beringan menjadi Jogjakarta.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar