Saat Subuh di Gerbang Sebuah Masjid


Tidak harus Ka’bah rumah Allah di muka bumi ini. Masjidpun merupakan rumah Allah. Masjid, mushola, surau, langgar, atau apapun sebutan lokalnya terhampar di berbagai titik tempat di permukaan bumi ini. Hal ini merupakan satu penegasan bahwa untuk menghadap Tuhan, untuk mendekat kepada Tuhan, manusia tidak perlu jauh-jauh pergi ke tempat yang terkhususkan. Dimanapun dan kapanpun manusia dapat langsung secara intens berdekatan dengan Tuhannya. Bahkan dalam setiap denyut nadi dan darah, di sana pula Tuhan bersemayam.

Masjid adalah perlambang ajaran agama Islam. Masjid menjadi pusat dan poros kegiatan ummat muslim. Sehari dalam lima waktu, ummat muslim laki-laki bahkan dikhususkan untu senantiasa memakmurkan masjid dengan sholat berjamaah. Dengan demikian setiap saat, setiap waktu, sepanjang masa, masjid semestinya menjadi tempat yang senantiasa terbuka. Bahkan bagi ummat non-muslim sekalipun dalam rangka mengenal atau mempelajari ajaran Islam. Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | Meninggalkan komentar

Rejeki Takkan Kemana


Slametan, kenduri, ataupun bancakan masih mentradisi di lingkungan tempat tinggal kami. Semalam atas undangan dari salah seorang tetangga, saya dan si Ponang mengikuti acara selamatan di rumah salah satu warga. Ketika pulang, masing-masing dari kami diberilah berkatan alias paket bancakan. Berhubung salah seorang tetangga yang lain tidak berkesempatan turut hadir, maka setiba di rumah si Ponang saya suruh memberikan berkatan bagiannya kepada tetangga tersebut. Tidak berselang hingga sepuluh menit ada seseorang mengetuk pintu. Lha dalah, lha kok dari shohibul slametan mengirimkan lagi satu paket berkatan. Seolah Tuhan memang sedang bercanda, melepas satu untuk berbagi kok langsung diganti barang yang sama. Kontan lagi tanpa ditunda-tunda.

Sebagaimana jodoh dan maut, rejeki memang di tangan Tuhan. Meskipun manusia wajib berikhtiar, namun hasil akhir tetap ditangan-Nya. Soal kejadian berbagi bancakan berbalas bancakan ini, terus terang kami jadi berpikir dan merenung. Mungkin sebelum kami berangkat ke acara slametan tetangga kami tersebut, para malaikat memang sudah menulis keputusan bahwa dikarenakan yang berangkat dua orang maka masing-masing akan membawa berkatan satu-satu. Namun demikian sebagai orang yang masih paham tentang unggah-ungguh, tata krama dan sopan-santun, kami sadar betul bahwa tidak selayaknya kami ndobel paket bancakan. Maka sedari awal saya weling, wanti-wanti, berpesan sangat serius kepada si Ponang agar nantinya ketika pulang tidak usah turut membawa jatah bancakan. Biarlah orang lain atau keluarga yang lain lebih banyak lagi yang kebagian. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Rumah Masa Depan Gerbong Tua di Stasiun Purwakarta


Manusia meninggal dimakamkan di tanah pekuburan. Plesetan dari sebuah judul film seri di TVRI di masa jayanya, tanah pekuburan ataupun pemakaman mendapat julukan rumah masa depan. Entah setujua atau tidak, namun faktanya bahwa idiom rumah masa depan yang dipersamakan dengan kuburan sudah menjadi kesepahaman bersama. Tanpa perlu disepakati pada kongres Bahasa Indonesia, rumah masa depan ya tidak salah jika diartikan sebagai kuburan. Demikian kira-kira.

Jika manusia meninggal dikubur, bagaimana dengan makhluk yang bernama gerbong kereta api? Masak ya gerbong yang super panjang itu dikubur pula sebagaimana manusia? Kita tentu sangat sulit untuk bisa membayangkan jika ada kuburan gerbong kereta api. Mungkin akan timbul banyak pertanyaan, seperti apa prosesi penguburannya? Seberapa panjang galian liang lahatnya? Seberapa luas tanah pemakaman untuk puluhan, ratusan, bahkan ribuan almarhum wa almarhummah gerbong-gerbong di suatu negara? Terus bagaimana dengan batu nisannya? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , | 3 Komentar

Legenda Asal-usul Barongsai


Al kisah sebuah dongeng dari Negeri Tirai Bambu semasa Dinasti Qing. Terdapatlah sebuah desa yang makmur nan tenteram. Sebagian penduduk di desa tersebut merupakan petani. Melalui usaha mereka bercocok tanam, dipanenlah berbagai macam bahan pangan. Mulai dari padi, sayuran dan tanama palawija mereka hasilkan. Tanah yang subur disertai dengan kerja yang tekun membawa desa dalam kemakmuran.

Kedamaian dan kententraman desa tersebut terusik oleh kehadiran seekor monster jahat (nian). Di malam purnama monster itu seringkali muncul dan melampiaskan rasa laparnya. Pertama-tama hanya hewan ternak dan binatang yang menjadi buruan makanannya. Namun lama-kelamaan, di samping karena semakin langkanya binatang dan rasa jenuh yang melanda, nian tersebut nekad memangsa manusia. Hal tersebut menimbulkan ketakutan yang luar biasa di kalangan warga desa. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , | Meninggalkan komentar

Pilkada Paling Unik: Pilkada Kembar Kandidat di Kab Magelang


Saya mungkin termasuk orang yang sudah jenuh dengan urusan politik di negeri ini. Namun tidak ada salahnya pula jika sekali-kali menuliskan postingan mengenai pesta politik yang kini tengah marak di beberapa daerah. Bukan soal intrik politik dan segala macam tipu muslihatnya, tetapi ini soal keunikan yang perlu dicatat dengan baik. Anak-anak jaman old, bisa jadi akan menyebutnya sebagai “aneh bin ajaib”, atau bias juga “aneh bin nyata”.

Andaikata surat suara dalam pencoblosan Calon Bupati Magelang periode 2018-2023 ini tidak disertai dengan gambar calon bupati peserta pemilihan, bias jadi pemilih akan salah memberikan suaranya. Harusnya memilih calon yang didukungnya, namun pada kenyataannya justru memberikan suara kepada calon yang tidak didukungnya. Dan sangat kebetulan juga karena calon yang bertanding pada kontestasi kali ini hanya dua pasangan. Lalu apa pasalnya bisa terjadi kemungkinan salah memberikan suara? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Magelangan | Tag , | Meninggalkan komentar

Demokrasi ala Kampung Kami


Demokrasi biasa dipahami dengan berbagai versi dan persepsi. Di tingkat kelompok masyarakat tertetu, sebagaimana di kampong kami, pemilihan pemimpin lingkungan adalah wujud sebuah demokrasi. Tidak dengan musyawarah mufakat untuk mencari sosok pimpinan RT, di lingkungan kami diadakan pemilihan Ketua RT secara langsung yang diikuti oleh seluruh warga yang memiliki hak pilih secara syah.

Seakan tidak mau kalah dengan gegap gempitanya pemilihan kepala daerah, baik di tingkat kabupaten, kota, ataupun provinsi pada tahun ini, kampong kami khususnya di lingkungan RT 04 mendahului perayaan pesta demokrasi. Sehubungan dengan berakhirnya masa jabatan pemangku Ketua RT yang lama, maka diselenggarakannlah pemilihan Ketua RT yang baru untuk masa bakti 2018-2021. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Ngisor Blimbing | Tag , | Meninggalkan komentar

Jembatan Gantung Pelangi dari Tegal


Sebagaimana pada lereng dan kaki gunung pada umumnya, Gunung Slamet di sisi utara yang merupakan wilayah Kabupaten Tegal juga memiliki banyak sekali sumber mata air. Mata air-mata air tersebut menjadi sumber aliran dari berbagai sungai yang ada. Salah satu sungai terbesar yang berhulu di Gunung Slamet yang terdapat di wilayah Tegal adalah Kali Gung.

Kali Gung merupakan kependekan dari Kali Agung. Disebut agung, alias besar, tentu saja dikarenakan dari segi aliran airnya, lebar dan panjang sungai kali tersebut merupakan yang terbesar di sisi utara Gunung Slamet. Kali Gung lebih istimewa lagi dikarenakan kebanyakan dari mata air di hulunya merupakan sumber mata air panas alami yang meliputi daerah Guci dan sekitarnya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , | Meninggalkan komentar

Kenduri Cinta Edisi Februari 2018


Monggo dihadiri bersama-sama. Datang, duduk, lesehan, gratis dan barokah. Insya Allah. Mukadimah lengkap, silakan disimak di sini.

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , | 1 Komentar