Marhaban Ya Ramadhan


Maha Suci Engkau wahai zat yang telah mempertemukan kembali hamba dengan Bulan Ramadhan. Bulan suci yang penuh semarak dengan berbagai kegiatan kebersamaan. Mulai ngangklang alias membangunkan warga untuk bersiap sahur di dini hari. Subuh berjamaah lengkap dengan kuliah  Subuhnya. Kemudian jalan-jalan menyusuri jalanan beraspal di desa kami sambil menyambut fajar dalam keceriaan canda muda-mudi.

Ketika matahari semakin tinggi menjelang siang, para bocah biasa berombongan pergi memancing. Menyusur kali dengan grojokan ataupun mungkin bendungan-bendungan kecil tempat ikan kotes dan wader berkumpul. Memancing adalah kegiatan pengisi waktu yang paling efektif untuk menunggu saaat Dzuhur tiba. Tengah hari kami mandi demi menyegarkan tubuh yang sedikit melemah namun sekaligus bersiap untuk Dzuhur berjamaah. Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Bom Kampung Melayu, Takut Puasa Terus Bunuh Diri


Ada bom lagi? Dulu, lebih dari dua dasa warsa silam, kita tidak pernah percaya ada bom di tanah air. Bom seolah sekedar menjadi takhayul yang tidak mungkin meledak di bumi dengan penduduk yang terkenal ramah, sopan, serta penuh rasa kasih sayang sesama manusia ini. Namun hari-hari ini, bom hampir muncul setiap saat. Baru beberapa bulan berselang, sudah ada lagi ledakan bom. Terakhir baru saja terjadi semalam. Ya, bom di Kampung Melayu, Jakarta, telah kembali membangkitkan keprihatinan bersama.

Sebuah peristiwa menghentak tentu saja menjadi bahan berita yang sangat “seksi” bagi dunia media massa. Tidak hanya hanya koran dan tivi, media sosialpun dipenuhi dengan berita seputar kejadian bom Kampung Melayu. Tak mengherankan jika pembicaraan mengenai peristiwa tragis semalam menjadi buah bibir hampir semua orang, bahkan termasuk para bocah di kampung tempat tinggal kami. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , | Meninggalkan komentar

Padusan Ala Warga Urban Jakarta


Ramadhan adalah bulan suci. Dalam rangka menyambut bulan suci, kita pasti juga sepakat untuk menyambutnya dengan bersuci diri. Tentu tidak hanya sekedar bersuci secara lahiriah, tetapi yang paling urgen adalah menyiapkan bersuci diri mulai dari pikiran, lisan, hingga perbuatan. Terkait dengan bersuci badan dalam menyambut Ramadhan, sebagian masyarakat kita memiliki tradisi yang dikenal sebagai padusan.

Padusan dalam khasanah bahasa Jawa berasal dari kata adus. Adus berarti mandi. Dengan demikian padusan mengacu kepada kegiatan bersuci dengan cara mandi besar. Dulu ketika di lingkungan kita sungai masih bersih dan jernih, kita beramai-ramai padusan di sepanjang aliran sungai. Ada pula yang padusan dengan mandi di sendang, di telaga, di belik atau mata air, pada air terjun, bahkan di tepian pantai. Ya, padusan dilakukan di tempat pemandian umum, secara terbuka, dan bersama-sama. Kebersamaan inilah yang senantiasa menjadi ruh hampir di setiap tradisi yang lestari di negeri kita. Meskipun tentu tempat mandi para lelaki dan perempuan dipisah tempat. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Ngampon Delapan Tahun Silam


Remang malam di latar foto berikut adalah punggung Gunung Sumbing. Seingat saya waktu itu sekitar bulan Sya’ban, malam-malam menjelang Ramadhan sebagaimana hari-hari ini. Kami bersama-sama dengan kumpulan remaja setempat dan tentu saja lengkap dengan kaum bapak-ibunya tengah rehat selepas menggelar ritual untuk meresmikan sebuah perpustakaan desa yang teramat sederhana. Sebuah gerakan kecil yang dirintis atas kerja sama PMII Cabang Magelang, Pattiro Regional Magelang,  dan Komunitas Blogger Pendekar Tidar. Ya, itulah rekaman mengenai Ngampon. Sebuah dusun di ujung kaki Sumbing.

Adalah tekad kuat Kang Rojiun yang waktu itu sangat menggebu-gebu untuk merintis sebuah perpustakaan bagi warga desanya yang tergolong tinggal di daerah terpencil. Gayungpun bersambut ketika kami berkumpul di Alun-alun Magelang. Dengan tenaga dan kemampuan seadanya, kamipun turut menyingsingkan lengan baju untuk bersama-sama menggalang pengumpulan buku-buku bekas yang tentu saja masih layak baca. Dan dalam sebuah pengajian sederhana, malam itu diresmikanlah Perpustakaan Ulil Albab oleh pamong setempat. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Blogger | Tag , , , , , | 2 Komentar

Kenangan Asyiknya Nyadran


Bulan Sya’ban dalam khasanah budaya masyarakat Jawa dikenal sebagai Bulan Ruwah. Kata ruwah sendiri mengadaptasi kata arwah, yang bisa dimaknai sebagai ruh para leluhur atau nenek-moyang. Dalam rangka birul walidain atau kebaktian untuk mendoakan arwah kaum kerabat kita yang telah meninggal yang merupakan salah satu amal jariyah yang tidak akan pernah putus aliran pahalanya, maka diselenggarakanlah tradisi sadranan atau nyadran.

Nyadran sendiri diyakini berasal dari kata sraddha, salah satu ritual ummat Hindu untuk mendoakan dan mengenang jasa para leluhur yang telah meninggal. Tercatat Ratu Majapahit Tribuana Tunggadewi menyelenggarakan upacara sraddha untuk mengenang arwah sang ibunda tercinta, Dewi Gayatri yang merupakan permaisuri Raja Kertarajasa Jayawardhana atau Raden Wijaya, pendiri dinasti Majapahit. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , | Meninggalkan komentar

Berlomba Sambut Ramadhan


Ramadhan akan segera tiba. Waktu satu minggu bukanlah waktu yang lama. Ya, seminggu lagi kita akan dipertemukan lagi dengan bulan mulia, bulan suci Ramadhan. Saya jadi teringat nasehat dari para ustadz dan penceramah, “Barang siapa ummat Islam yang tidak bergembira akan kedatangan Ramadhan, maka ia bukan termasuk dari golongannya ummat Nabi Muhammad SAW.”

Sudah tentu dikarenakan kita ingin tergolong sebagai ummatnya Nabi Muhammad, kita bergembira menyambut Ramadhan. Kegembiraan tersebut seringkali kita ungkapkan dalam kalimat Marhaban Ya Ramadhan. Nah kalau kita benar-benar bergembira atas datangnya Ramadhan tahun ini, adakah persiapan-persiapan yang sudah kita lakukan? Ataukah kita hanya sampai pada ungkapan Marhaban Ya Ramadhan tanpa ada tindakan-tindakan nyata yang kita lakukan? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , | Meninggalkan komentar

Geger Ransomware WannaCry


Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelip. Dunia maya tergunjang, dunia nyata turut berguncang. Geger dunia maya terbawa-bawa hingga dunia nyata. Guncangan dunia maya benar-benar mengguncang dunia nyata. Maya dan nyata menjadi tidak berbeda. Maya menjadi nyata, dan nyatapun menjadi seolah maya. Sungguh tidak bisa dibayangkan di benak orang awam semacam saya. Semua terkait geger Ransomware WannaCry yang telah dua-tiga hari ini mengguncang kedamaian masyarakat modern yang sudah sangat sedemikian bergantung pada makhluk yang bernama ïnternet.

Berbeda dengan hari Senin pada rutinitas awal pekan sebelum-sebelumnya, kemarin pagi telah mendapatkan woro-woro penting dari pengelola jaringan komunikasi data di pabrik tempat saya mburuh jadi tukang ketik. Inti saripati dari woro-woro tersebut apalagi jika tidak berkenaan dengan menjalarnya wabah menular bernama Ransomware WannaCry tadi. Begini kira-kira bunyi pesan penting tersebut: Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag | Meninggalkan komentar

Pesona Car Freeday Kota Surakarta


Pagi itu bertepatan dengann hari Minggu. Matahari belum lagi menampakkan sinarnya secara penuh. Dengan sebuah sepeda, saya memulai gowes dari titik Jalan Gajah Mada tepat di sisi Museum Pers Nasional. Sejurus kemudian sayapun tiba di pertigaan yang menghubungkan Jalan Slamet Riyadi, jalan protokol di jantung Kota Surakarta. So pasti, berkenaan pagi itu adalah Minggu pagi maka di ruas jalan yang saya tuju tidak ada satupun kendaraan bermotor yang diperkenankan melintas. Ya, Minggu pagi adalah momen car freeday sebagaimana telah banyak digelar di kota-kota lainnya.

Kali itu adalah kala ketiga kalinya saya mengunjungi car freeday Kota Solo. Dulu, lebih dari tujuh tahun silam, car freeday masih merupakan trend dan fenomena baru. Kala itu baru segelintir kota yang menggelar car free day di setiap Minggu pagi. Salah satunya, ya Kota Solo itu. Pertengahan Mei 2010, bersamaan dengan gelaran kumpul blogger bertajuk SOLO: Sharing Online Lan Offline, Minggu pagi kami diusuguhkan untuk turut menikmati car freeday yang memang baru berlangsung beberapa kali di Kota Solo. Tentu saja, masa itu masih masa pemerintahan Walikota Joko Widodo yang kini menjabat Presiden RI. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar