Resah Gelisah Masalah Sekolah


Ilmu pengetahuan dan teknologi diyakini,  bahkan telah banyak terbukti, menjadi salah satu factor penunjang kesuksesan seseorang. Sekolah merupakan tempat menuntut ilmu secara formal. Semakin tinggi jenjang Pendidikan seseorang, peluang teraihnya kehidupan masa depan yang lebih baik juga semakin terbuka. Tentu saja di luar teori mainstream ini ada pula jalan kesuksesan seseorang yang diraih dengan nasib baik atau keberuntunga. Namun bagaimanapun, kecakapan seseorang terkait dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki dapat dipandang sebagai sebuah ikhtiar manusia untuk “mengkondisikan” takdirnya.

Urusan mencari sekolah akhir-akhir ini menjadi perbincangan yang cukup hangat, bahkan semakin memanas. Pemberlakuan penerimaaan peserta didik baru dengan sistem zonasi untuk sekolah negeri menjadi biang keroknya. Belum meratanya keberadaan suatu sekolah di berbagai daerah menjadi faktor utama kekisruhan system zonasi. Sistem tersebut seolah menafikan keberadaan anak-anak pintar yang kurang beruntung karena tinggal di daerah yang kemana-mana jauh dari sekolahan. Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , | Meninggalkan komentar

Lebaran Yang Tak Lebar-Lebar


Lebaran memang lebar betul. Karena dimensi lebar betul itu, lebaran menjadi memiliki makna yang luas. Saking luasnya, jika semakin digali dan terus digali maknanya maka lebaran menjadi tak lebar-lebar, tak berkesudahan. Barangkali karena urusan rutin tahunan yang satu inilah, kami sempat vakum dari dunia online di blog ini. Setidaknya dua minggu lebih kami lebih mendalami makna lebaran pada tataran offline.

Lebaran bagi warga kampung seperti kami, paling identic dengan tradisi ujung. Ujung adalah istilah silaturahmi di Hari Lebaran, khususnya di daerah selingkaran Magelang Raya. Di Hari Lebaran itu kami benar-benar saling membuka hati lebar-lebar. Satu sama lain saling berendah hati untuk meminta maaf dan memberi maaf, saling maaf-memaafkan. Wabil khusus pada kesempatan tersebut yang muda lebih diutamakan untuk sowan, menghadap kepada yang lebih tua. Kepada orang tua, mertua, simbah kakek-nenek, simbah buyut, mbah canggah, bahkan kepada pakde, bude, paklik, bulik, juga guru-guru atau siapapun yang kita tuakan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Mudik, Titik Balik Siklus Kehidupan


Setinggi-tingginya bagau terbang, hinggap juga di kubangan. Begitulah petuah dalam pepatah yang pernah kita dengar. Maksudnya bahwa sejauh-jauhnya manusia merantau, pasti suatu saat ia akan kembali juga ke kampung halamannya. Mudik, dalam konteks berlebaran, ber-Hari Raya Idhul Fitri di negeri inipun, pastinya tidak terlepas dari konotasi bagau terbang tinggi yang hinggap lagi itu.

Sumber gambar dari sini.

Menjelang lebaran, beribu-ribu, bahkan jutaan anak bangsa berbondong-bondong untuk mudik ke kampung halamannya masing-masing. Aliran manusia dari kota-kota pusat urban menyebar merata ke pelosok-pelosok desa dan kampung yang sebelumnya serasa mati tiada berpenghuni. Kota dengan segala modernitas dan kemajuannya, untuk sementara waktu ditinggalkan dan dilupakan untuk sebuah nostalgia masa lalu. Biaya, waktu, tenaga, bahkan jiwa dan raga rela dikorbankan demi meraih sesuatu yang “udik” dalam kegiatan mudik. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Mudik, Bali Ndesa Nglebur Dosa


Idhul Fitri serasa baru berlalu kemarin hari. Hari-hari ini tak terasa kita akan segera menjumpai kembali Hari Raya Idhul Fitri di tahun ini. Dunia memang sebuah cakra manggilingan, roda waktu yang senantiasa bergulir, berputar, menapaki sebuah siklus kehidupan dari sebuah penggalan periode waktu menuju ke penggalan periode waktu yang lain. Kemarin berganti hari ini. Hari ini akan berganti hari esok. Hari esokpun akan berganti dengan lusa, demikian seterusnya. Begitulah suratan takdir dan sunatullah-Nya.

Ramadhan adalah bulan suci dimana manusia membersihkan diri dari segala noda dan dosa. Hari-hari ummat muslim di bulan tersebut senantiasa diwarnai berbagai aktivitas amalan ibadah. Puasa sudah pasti menjadi inti ibadah di bulan Ramadhan. Di luar amalan wajib tersebut terdapat banyak sekali amalan-amalan sunnah yang memiliki keutamaan. Mulai dari sholat tarawih atau qiyamul lail, tadarus Al Qur’an, dzikir, i’tiqaf, hingga memperbanyak infaq, sedekah dan amal jariyah, serta zakat. Meskipun pada umumnya setiap amalan ibadah memiliki dimensi kepedulian sosial kepada sesama hidup, akan tetapi ada pula ibadah yang lebih bersifat privat antara seorang abdillah, hamba Allah, dengan Allah SWT sendiri. Dengan kata lain, amalan ibadah yang dilakukan lebih berdimensi hablum minnallah. Antara seorang hamba dengan khalik-Nya.

Di samping dimensi kemakhlukan manusia terhadap Allah SWT, manusia sesungguhnya juga eksis berdampingan dengan manusia lain di dunia. Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa terlepas dari peranan dan bantuan manusia lain dalam menjalani aktivitas kehidupannya. Dalam berinteraksi antar sesama manusia tersebut, tentu saja manusia senantiasa bersanding dengan kesalahan, kealpaan, dan kekhilafan. Selain menabur kebajikan dan kebaikan, manusia juga acap kali menanam noda dan dosa terhadap sesamanya, baik secara sengaja maupun karena sebuah kekhilafan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Sosok Kuncung Marincung di Film Aladin


 Arabian night alias kehidupan malamnya dunia Arab. Bukan kehidupan malam tanda kutip lho ya. Lebih tepatnya the arabian night is imagination story from Arabic. Semacam seribu satu dongeng anak ala Timur Tengah. Dan sudah pasti diantara kisah dongeng yang tersohor dari tanah Arab, ya Jin Aladdin.

Jin Aladdin. Saya sendiri semenjak kecil seringkali salah kaprah. Jin yang hidup ribuan tahun di dalam sebuah lampu ajaib, saya kira namanya Jin Aladdin. Justru Jin Aladdin merupakan dua sosok perwujudan yang tak sama. Jin ya si jin itu sendiri. Sedangkan Aladdin justru nama seorang pemuda gelandangan yang mendapatkan lampu ajaib dan kemudian menjadi tuan dari si Jin Timur Tengah. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , | Meninggalkan komentar

Perempatan Sarinah Nan Bersejarah


Menjejaki tepi jalanan di perempatan Sarinah, tak salah jika membayangkan perempatan yang sama di Ginza, Tokyo. Sama berada di pusat ibukota negara. Sama-sama berada di kawasan bisnis dan pusat perbelanjaan yang siang malam tak pernah tidur. Sebuah titik perempatan dengan silang penyeberangan pejalan kaki yang sungguh sangat sibuk. Kini penyeberangan zebra cross hitam putih, putih hitam itu lebih trend disebut sebagai pelican crossing.

Perempatan Sarinah dengan sudut-sudut Menara Sarinah, Menara Cakrawala, Gedung Jaya, dan Gedung Bawaslu, bukanlah tempat asing bagi kami.  Dulu, sekitar enam belas tahun silam ketika pertama kali merantau ke belantara ibukota Jakarta, tidak jauh dari titik perempatan itulah kantor berada. Demikian hal dengan tempat tinggal sebagai “kontraktor” di Ndalem Bu Ageng Kebun Kacang II juga masih di seputaran perempatan Sarinah. Jadilah dapat dikatakan setiap hari senantiasa lalu-lalang di simpul tersebut. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , | Meninggalkan komentar

Halte Unik, Halte Ramah Anak dengan Ayunan nan Asyik


Halte merupakan sarana pemberhentian kendaraan umum. Keberadaan halte tentu saja dalam rangka ketertiban lalu lintas agar kendaraan umum seperti angkot atau bus tidak berhenti secara sembarangan. Dengan adanya halte, kendaraan umum tidak menaikkan dan menurunkan penumpang seenak udelnya sendiri. Demikian halnya dengan para calon penumpang kendaran tersebut tidak menyetop kendaraan umum di sembarang tempat yang bisa berujung mengganggu kelancaran lalu lintas atau kemacetan.

Meningkatnya jumlah kendaraan pribadi menjadikan tingkat kepadatan lalu lintas semakin tinggi. Tidak di kota besar, di kota kecilpun saat ini sudah menjadi kelaziman adanya kemacetan lalu lintas di jalur-jalur utama, terutama pada jam-jam sibuk. Di sisi lain keberadaan angkutan atau kendaraan umum kini justru semakin terpinggirkan. Persentase warga masyarakat yang masih mau mengguna sarana transportasi umum dari hari ke hari semakin berkurang. Hal ini menyebabkan kompleksitas penguraian masalah kemacetan lalu lintas menjadi semakin jauh panggang daripada api. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Ritme Tarawih di Masjid Merdeka Masa Kini


Kali ini kesempatan kali pertama dapat kembali turut tarawih Ramadhan di Masjid Merdeka. Masjid kebanggaan masyarakat muslim ibukota, banhkan Indonesia. Kali ini terasa lebih istimewa dikarenakan pertama kali pula bertarawih di masjid yang diarsitekturi seorang Katholik ini, tarawihan satu keluarga utuh. Terutama kali ini merupakan pengalaman pertama kali bagi anak-anak kami, Radya dan Nadya.

Dulu tatkala pertama kali kecemplung di ibukota dan tinggal di bilangan Tanah Abang, hampir di setiap malam Ramadhan menyempatkan diri untuk turut tarawihan di Masjid Merdeka ini. Meskipun bacaan suratnya panjang dan menjadikan durasi waktu tarawih 11 rakaat lama, namun menyimak dan mendengarkan para imam yang fasih dan hafiz Qur’an menjadi sensasi kenikmatan tersendiri. Mungkin juga waktu itu benar-benar tidak memiliki tanggungan hal lain sehingga waktu terasa longgar. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , | Meninggalkan komentar

Kuda Besi Kuda Rejeki Sepanjang Hari


Kuda merupakan binatang kendara yang sangat dekat dengan manusia. Semenjak jaman baheula, kuda sudah menjadi sarana transportasi yang handal. Hewan perkasa ini tidak minum bensin ataupun solar, ia hanya minum air murni. Demikianpun soal makanan, ia hanya membutuhkan rumput hijau nan segar. Namun demikian kuda menjadi simbol kekuatan, keperkasaan, kejantanan. Bahkan peralatan mesin modernpun dinyatakan kekuatan dalam satuan kekuatan kuda ( horse power). Tentu kita kemudian menjadi sangat maklum kenapa sepeda motorpun disebut sebagai kuda besi.

Selain sebagai tunggangan langsung, bagi anak-anak, kuda mungkin identik dengan andong, delman, saldo, bendi, atau istilah yang serupa di banyak daerah. Di masa sekolah kanak-kanak mungkin sebagian besar diantara kita sangat menghayati lagu pada hari minggu kuturut ayah ke kota. Imajinasi seorang dibawa berkembara bersama keluarga naik delman istimewa. Digambarkan pula bagaimana asyiknya duduk di depan di samping pak kusir yang sedang bekerja, mengendali kuda supaya baik jalannya. Tuk, tik, tak, tik, tukpun terdengar mengirama indah di hati. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , | Meninggalkan komentar

Uniknya Pasar Mengambangnya Lembang


Jika Keraton Surakarta memiliki Taman Balai Kambang, maka Keraton Yogyakarta memiliki Taman Sarinya. Jika negeri Astina memiliki pesanggrahan Balai Sigala-gala, maka Kerajaan Tumapel memiliki Taman Baboci. Jika ummat Islam di Makassar memiliki masjid apung di tepiann Pantai Losari, ummat Hidhu di Bali pun memiliki Pura Taman Ayun yang bersemayam di tengah hamparan bunga Padma. Kali ini memang sedang ingin membahas serba-serbi taman air.

Air adalah sumber kehidupan. Segala macam rupa budaya dan peradaban manusia terlahir serta berkembang di tempat-tempat yang berdekatan dengan air. Mesir Kuno degan Sungai Nilnya, Mesopotamia dengan Eufrat-Tigrisnya, India dengan Gangganya, Homo Soloensis di tepian Bengawan Solo, masyarakat Bangkok dengan Menam-Chao Phrayanya, masyarakat Banjar dengan Baritonya, Palembang dengan Musinya, dan lain sebagainya. Bagaimana dengan Bandung? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , , , , , | 2 Komentar